William Maxwell: Mengapa Aku Berhenti Menulis Sajak

William Maxwell

INSPIRASI
July 25, 2026

William Maxwell: Mengapa Aku Berhenti Menulis Sajak

Prosanya mengambil bentuk fiksi karena aku menyukai kisah-kisah dan tak memiliki genggaman yang terlalu kuat atas ide-ide.


Foto Penulis BY ADDI M IDHAM

Saat aku berada di Harvard aku sempat mengenal Robert Fitzgerald, dan aku sering memperlihatkan sajak-sajakku padanya. Meskipun pada kenyataannya aku lebih tua darinya—aku seorang mahasiswa master dan dia saat itu mahasiswa tingkat dua—aku memiliki penghormatan yang besar padanya. Dia berpendidikan lebih baik dariku, dan berpendirian kuat, dan dia membenci apa pun yang bukan kualitas utama. [1]

Suatu hari dia membaca sajakku dan kemudian melihat ke arahku, lebih seperti caramu memandang anak kecil yang membawa masalah, dan dia mengatakan, “Kenapa kau tidak menulis prosa saja?” Aku sangat gembira bahwa dia berpikir aku mampu menulis apa pun itu yang baru kuperlihatkan dan menulis prosa-seolah dia memberikanku izin untuk mencoba. Prosanya mengambil bentuk fiksi karena aku menyukai kisah-kisah dan tak memiliki genggaman yang terlalu kuat atas ide-ide.[2]

 


[1] William Keepers Maxwell Jr. adalah seorang editor, novelis, penulis cerita pendek, esais, penulis buku anak-anak, dan penulis memoar asal Amerika. Ia menjabat sebagai editor fiksi di The New Yorker dari tahun 1936 hingga 1975. Sebagai editor yang berdedikasi kepada para penulisnya, Maxwell menjadi mentor dan orang kepercayaan bagi banyak penulis.

[2] Letter form the Editor: Majalah The Paris Review (2018) secara ekslusif menerbitkan The Writer’s Chapbook, sebuah jilid buku yang berisi intisari-intisari dari rentetan wawancara dengan pengarang-pengarang yang muncul di majalah tersebut sejak tahun 1953. Apa yang ditulis kemudian adalah diskusi-diskusi para pengarang tentang proses awal dari dunia kreatif dan menulis mereka, pengecambahan sebuah puisi, atau sebuah karya fiksi. “Inspirasi” menjadi garis besar dalam rangkuman dari intisari pemikiran para pengarang dunia tentang proses kreatif dan bagaimana mereka menulis pada mulanya. Galeri Buku Jakarta memuat lebih utuh Inspirasi pengarang dunia ini dalam buku “Memikirkan Kata” (2019)

Addi M Idham
ADDI M IDHAM

Enim sed consequatur voluptas dolor eligendi id. Repellendus est non voluptatem ad aliquam vel ad. Est officiis maiores dolor quia recusandae.