"Puisi dan kota. Di hari ini. Panas dan wabah. Ada apa? Kota yang dibangun oleh banyak suku bangsa, menjadi performance utama dari representasi bagaimana Indonesia dibentuk. Jakarta belum punya pengalaman untuk membaca kegagalan-kegagalannya sendiri sebagai evaluasi kota atas pusat perubahan yang dijalaninya. Apakah puisi bisa digunakan sebagai cara melihat politik warga negara berdasarkan institusi kota?"
Penyair
Penyair
Kurator & Penyair Tamu
Afrizal Malna, Sabiq Carebesth, Saras Dewi, Aan Mansyur, Damhuri Muhammad, Sarah Monica, Lucia Priandarini, Mutia Sukma, Hamdy Salad.