Stephen Spender: Mengapa Aku Menulis Puisi
Gagasan lainnya adalah milik Paul Valery, apa yang dia sebut une ligne donnee, bahwa kau diberikan satu baris dan kau mencoba mengikuti petunjuk ini, menghasilkan keseluruhan sajak dari baris itu.
BY ADDI M IDHAM
Terdapat
dua teori tentang inspirasi.[1]
Salah satunya bahwa puisi dapat benar-benar didiktekan padamu, seperti yang
terjadi pada William Blake. Kau berada dalam suasana halusinasi, dan kau
mendengar sebuah suara atau bahkan kau sedang berkomunikasi dengan sesuatu di
luar dirimu, seperti sajak baru milik James Merril, yang dia katakan didiktekan
melalui papan Ouija oleh Auden dan orang-orang lain. [2]
Gagasan
lainnya adalah milik Paul Valery, apa yang dia sebut une ligne donnee, bahwa kau diberikan satu baris dan kau mencoba
mengikuti petunjuk ini, menghasilkan keseluruhan sajak dari baris itu.
Pengalamanku sendiri adalah bahwa sebuah ritme atau sesuatu muncul di kepalaku
yang kurasakan harus kulakukan, aku harus menuliskannya, menciptakannya.
Contohnya, aku ingat sedang melihat ke luar jendela di atas kereta dan menyaksikan sebuah pemandangan industrial, pabrik-pabrik, tumpukan ampas bijih, dan baris itu muncul di kepalaku: “Sebuah bahasa tentang daging dan mawar-mawar.” Latar belakang pemikiran ini adalah bahwa pemandangan industrial itu merupakan sebuah bahasa, yang orang ciptakan dari alam, perbedaan mencolok dari alam dan industrial, ”A language of flesh and roses.”
Persoalan dengan sajaknya adalah
bagaimana mempertemukan koneksi ini, mencoba mengingat kembali apa yang
sebenarnya kau pikirkan pada saat itu, dan mencoba untuk menciptakan ulang hal
itu. Jika aku memikirkan sebuah sajak, aku mungkin saja menghabiskan enam bulan
menulis, tapi apa yang benar-benar kucoba lakukan adalah mengingat apa yang
kupikirkan pada saat itu.
[1] Sir
Stephen Harold Spender CBE adalah seorang penyair, novelis, dan esais Inggris
yang karyanya berfokus pada tema-tema ketidakadilan sosial dan perjuangan
kelas. Ia diangkat sebagai Konsultan Penyair Laureat AS untuk Perpustakaan
Kongres pada tahun 1965.
[2] Letter form
the Editor: Majalah The Paris Review (2018) secara ekslusif menerbitkan The Writer’s Chapbook, sebuah jilid buku yang berisi intisari-intisari dari rentetan wawancara
dengan pengarang-pengarang yang muncul di majalah tersebut sejak tahun 1953.
Apa yang ditulis kemudian adalah diskusi-diskusi para pengarang tentang proses
awal dari dunia kreatif dan menulis mereka, pengecambahan sebuah puisi, atau
sebuah karya fiksi. “Inspirasi” menjadi garis besar dalam rangkuman dari
intisari pemikiran para pengarang dunia tentang proses kreatif dan bagaimana
mereka menulis pada mulanya. Galeri Buku Jakarta memuat lebih utuh Inspirasi
pengarang dunia ini dalam buku “Memikirkan Kata” (2019)
Enim sed consequatur voluptas dolor eligendi id. Repellendus est non voluptatem ad aliquam vel ad. Est officiis maiores dolor quia recusandae.