Stanley Kunitz: Puisi Sempurna di Kepala, Bahasa Merusaknya
Puisi yang ada di dalam kepala selalu sempurna. Penolakan dimulai ketika kau berusaha mengonversinya ke dalam bahasa.
BY MARLINA SOPIANA
Apa yang
mencetuskan “King of the River,” aku
mengingat, adalah sebuah laporan singkat di majalah Time terkait sejumlah riset baru tentang proses penuaan salmon
penghuni samudera Pasifik.[1]
Aku menulis puisinya di Provincetown pada suatu musim gugur-musim kesukaanku
untuk menulis. [2]
Baris
pertamanya datang padaku dengan sintaksis tertentu dan klausa-klausa yang
menggantung, sebuah pergerakan berputar-putar. Sisanya seperti mengalir,
mungkin karena aku tak pernah berada jauh dari dunia mahluk hidup. Sebagian
dari perasaan-perasaan terdalamku berkaitan dengan tumbuhan dan hewan. Pada
waktu-waktu burukku mereka telah menopangku. Ini mungkin saja ada kaitannya
bahwa aku mengalami sebuah kegembiraan yang ganjil saat menghadapi kenyataan
yang tak menyenangkan sebagai mahluk mortal, proses yang tak terelakkan dari
pembusukan diriku. Mungkin aku telah berhasil “menjarakkan” takdirku-salmon itu
menjalani sekarat untukku.
Sebuah
puisi memiliki rahasia-rahasia yang pengarangnya tak ketahui. Ia menjadi hidup
dan memiliki keinginannya sendiri. Ia bisa saja berlanjut dengan cara yang
berbeda-menuju kebinasaan, pengunduran, teror, keputusasaan-dan kau masih akan
tetap mengklaimnya. Valery mengatakan bahwa puisi merupakan sebuah bahasa di
dalam bahasa. Ia juga merupakan bahasa di luar bahasa, sebuah meta
perantara-yaitu, metabolis, metaforis, metamorfis. Karya seorang penyair yang
dikumpulkan adalah bukunya atas perubahan-perubahan. Meditasi-meditasi hebat
atas kematian memiliki sebuah keakbaran yang ganjil. Kukira itu muncul dari
kesadaran, bahkan di permulaan, bahwa mereka belum selesai dengan
perubahan-perubahan mereka.
Puisi yang
ada di dalam kepala selalu sempurna. Penolakan dimulai ketika kau berusaha
mengonversinya ke dalam bahasa. Bahasa itu sendiri merupakan semacam penolakan
terhadap aliran murni diri. Solusinya adalah dengan menjadi bahasa itu sendiri.
Kau tidak dapat menulis sebuah sajak sampai kau mengenai ritmenya. Ritme itu
tidak hanya milik subjek materilnya, ia milik dunia dalam dirimu, dan pada saat
mereka tersangkut terjadi sebuah lompatan kuantum energi. Kau bisa berkedara di
atas ritme itu, ia akan membawamu ke sebuah tempat yang asing. Keesokan paginya
kau melihat halaman itu dan merasa bingung bagaimana itu terjadi. Kau harus
melampaui semua kefasihanmu dan kemurahan dan pembelaan dirimu di kala siang.
[1] Stanley
Jasspon Kunitz adalah seorang penyair Amerika. Ia diangkat sebagai Konsultan
Penyair Laureat untuk Perpustakaan Kongres sebanyak dua kali, pertama pada
tahun 1974 dan kemudian lagi pada tahun 2000.
[2] Letter form
the Editor: Majalah The Paris Review (2018) secara ekslusif menerbitkan The Writer’s Chapbook, sebuah jilid buku yang berisi intisari-intisari dari rentetan wawancara
dengan pengarang-pengarang yang muncul di majalah tersebut sejak tahun 1953.
Apa yang ditulis kemudian adalah diskusi-diskusi para pengarang tentang proses
awal dari dunia kreatif dan menulis mereka, pengecambahan sebuah puisi, atau
sebuah karya fiksi. “Inspirasi” menjadi garis besar dalam rangkuman dari
intisari pemikiran para pengarang dunia tentang proses kreatif dan bagaimana
mereka menulis pada mulanya. Galeri Buku Jakarta memuat lebih utuh Inspirasi
pengarang dunia ini dalam buku “Memikirkan Kata” (2019)
Neque laborum est voluptas nihil nesciunt voluptas. Officia nisi quia dolorem nisi praesentium ut debitis. Repellendus deleniti in quia at eveniet dolorem sequi eius.