Stanley Kunitz: Puisi Sempurna di Kepala, Bahasa Merusaknya

Stanley Kunitz

INSPIRASI
July 25, 2026

Stanley Kunitz: Puisi Sempurna di Kepala, Bahasa Merusaknya

Puisi yang ada di dalam kepala selalu sempurna. Penolakan dimulai ketika kau berusaha mengonversinya ke dalam bahasa.


Foto Penulis BY MARLINA SOPIANA

Apa yang mencetuskan “King of the River,” aku mengingat, adalah sebuah laporan singkat di majalah Time terkait sejumlah riset baru tentang proses penuaan salmon penghuni samudera Pasifik.[1] Aku menulis puisinya di Provincetown pada suatu musim gugur-musim kesukaanku untuk menulis. [2]

Baris pertamanya datang padaku dengan sintaksis tertentu dan klausa-klausa yang menggantung, sebuah pergerakan berputar-putar. Sisanya seperti mengalir, mungkin karena aku tak pernah berada jauh dari dunia mahluk hidup. Sebagian dari perasaan-perasaan terdalamku berkaitan dengan tumbuhan dan hewan. Pada waktu-waktu burukku mereka telah menopangku. Ini mungkin saja ada kaitannya bahwa aku mengalami sebuah kegembiraan yang ganjil saat menghadapi kenyataan yang tak menyenangkan sebagai mahluk mortal, proses yang tak terelakkan dari pembusukan diriku. Mungkin aku telah berhasil “menjarakkan” takdirku-salmon itu menjalani sekarat untukku.

Sebuah puisi memiliki rahasia-rahasia yang pengarangnya tak ketahui. Ia menjadi hidup dan memiliki keinginannya sendiri. Ia bisa saja berlanjut dengan cara yang berbeda-menuju kebinasaan, pengunduran, teror, keputusasaan-dan kau masih akan tetap mengklaimnya. Valery mengatakan bahwa puisi merupakan sebuah bahasa di dalam bahasa. Ia juga merupakan bahasa di luar bahasa, sebuah meta perantara-yaitu, metabolis, metaforis, metamorfis. Karya seorang penyair yang dikumpulkan adalah bukunya atas perubahan-perubahan. Meditasi-meditasi hebat atas kematian memiliki sebuah keakbaran yang ganjil. Kukira itu muncul dari kesadaran, bahkan di permulaan, bahwa mereka belum selesai dengan perubahan-perubahan mereka.

Puisi yang ada di dalam kepala selalu sempurna. Penolakan dimulai ketika kau berusaha mengonversinya ke dalam bahasa. Bahasa itu sendiri merupakan semacam penolakan terhadap aliran murni diri. Solusinya adalah dengan menjadi bahasa itu sendiri. Kau tidak dapat menulis sebuah sajak sampai kau mengenai ritmenya. Ritme itu tidak hanya milik subjek materilnya, ia milik dunia dalam dirimu, dan pada saat mereka tersangkut terjadi sebuah lompatan kuantum energi. Kau bisa berkedara di atas ritme itu, ia akan membawamu ke sebuah tempat yang asing. Keesokan paginya kau melihat halaman itu dan merasa bingung bagaimana itu terjadi. Kau harus melampaui semua kefasihanmu dan kemurahan dan pembelaan dirimu di kala siang.



[1] Stanley Jasspon Kunitz adalah seorang penyair Amerika. Ia diangkat sebagai Konsultan Penyair Laureat untuk Perpustakaan Kongres sebanyak dua kali, pertama pada tahun 1974 dan kemudian lagi pada tahun 2000.

[2] Letter form the Editor: Majalah The Paris Review (2018) secara ekslusif menerbitkan The Writer’s Chapbook, sebuah jilid buku yang berisi intisari-intisari dari rentetan wawancara dengan pengarang-pengarang yang muncul di majalah tersebut sejak tahun 1953. Apa yang ditulis kemudian adalah diskusi-diskusi para pengarang tentang proses awal dari dunia kreatif dan menulis mereka, pengecambahan sebuah puisi, atau sebuah karya fiksi. “Inspirasi” menjadi garis besar dalam rangkuman dari intisari pemikiran para pengarang dunia tentang proses kreatif dan bagaimana mereka menulis pada mulanya. Galeri Buku Jakarta memuat lebih utuh Inspirasi pengarang dunia ini dalam buku “Memikirkan Kata” (2019)

 

Marlina Sopiana
MARLINA SOPIANA

Neque laborum est voluptas nihil nesciunt voluptas. Officia nisi quia dolorem nisi praesentium ut debitis. Repellendus deleniti in quia at eveniet dolorem sequi eius.