William Faulkner: Aku Tak Pernah Mengenal Inspirasi
Kucoba menceritakannya lagi, kisah yang sama melalui kacamata saudara laki-laki yang lain. Masih belum terasa benar. Aku menceritakannya lagi untuk ketiga kali melalui kacamata saudara laki-laki ketiga. Masih juga belum tepat.
BY MARLINA SOPIANA
The
Sound and Fury dimulai dengan sebuah gambaran mental. Aku tidak
menyadarinya saat itu bahwa gambaran itu memiliki makna simbolis. Gambar itu
adalah kursi berlumpur dari laci milik seorang gadis kecil yang terbuat dari
kayu pohon pir, di mana dia bisa melihat melalui sebuah jendela tempat di mana
pemakaman neneknya dilaksanakan dan melaporkan kepada saudara laki-lakinya di
bawah sana. Ketika aku menjelaskan siapa mereka dan apa yang mereka sedang
lakukan dan mengapa celana gadis itu jadi berlumpur, aku menyadari bahwa tidak
mugkin memasukkan semua itu ke dalam sebuah cerita pendek dan bahwa itu akan
menjadi sebuah buku. [1]
Dan
kemudian aku menyadari simbol pada celana yang terkena tanah, dan bayangan itu
digantikan dengan seorang gadis yatim piatu menuruni saluran hujan untuk kabur
dari satu-satunya rumah yang dia miliki, di mana dia tak pernah ditawarkan
cinta atau kasih sayang atau pengertian.
Neque laborum est voluptas nihil nesciunt voluptas. Officia nisi quia dolorem nisi praesentium ut debitis. Repellendus deleniti in quia at eveniet dolorem sequi eius.