John Hersey: Kekuatan Emosi dan Hasrat Menulis Novel

John Hersey

INSPIRASI
July 24, 2026

John Hersey: Kekuatan Emosi dan Hasrat Menulis Novel

Dorongan untuk menulis The Wall muncul dari pemandangan sejumlah kamp di Eropa Timur ketika aku sedang bekerja sebagai koresponden di Moskow untuk majalah Time


Foto Penulis BY ADDI M IDHAM

Aku pikir dorongan pertama datang dari emosi yang dalam. Mungkin saja kemarahan, mungkin saja semacam kegairahan. Aku menyadari dalam dunia nyata di sekitarku sesuatu yang merangsang emosi semacam itu, dan kemudian emosi itu seperti menciptakan gambar-gambar di pikiranku yang menuntunku kepada sebuah cerita. [1]

Untuk memberimu contoh, dorongan untuk menulis The Wall muncul dari pemandangan sejumlah kamp di Eropa Timur ketika aku sedang bekerja sebagai koresponden di Moskow untuk majalah Time. Kami pertama tiba di Estonia, dan disana kami melihat sebuah kamp dimana Jerman telah memerintahkan untuk membunuh semua orang sebelum mereka pergi; mereka melakukannya dengan cara yang kasar dan kejam, menyuruh para tahanan membangun tumpukan kayu bakar mereka sendiri sebelum menembaknya. [2]

Selanjutnya kami pergi ke Polandia, dan meskipun perang telah menjadikan kampung Yahudi itu benar-benar runtuh, kami melihat beberapa kamp dimana hal yang sama terjadi, orang Jerman telah diperintahkan untuk membunuh semua orang. Dalam setiap kasus, terdapat sejumlah kecil orang yang selamat untuk diajak bicara. Ini terjadi sewaktu Barat belum terlalu paham tentang Holocaust; ada sejumlah rumor yang kabur tentang kamp-kamp itu, tetapi kami tidak mempunyai gambaran yang jelas tentangnya.

Untuk melihat tubuh-tubuh itu, untuk mendengar dari orang yang selamat, menciptakan sebuah suasana horor dan kemarahan dalam diriku yang membuatku ingin menulis. Awalnya aku berpikir untuk menulis tentang salah satu kamp seperti Auschwitz, dan aku melakukan banyak riset tentang itu; lalu tampak bagiku, di kemudian hari, bahwa kehidupan di kampung-kampung Yahudi setidaknya mirip seperti kehidupan nyata untuk kurun waktu yang lama, dan jadilah, kupikir, lebih baik dibuatkan sebuah novel. Tetapi, adalah perasaan putus asa, takut, kemarahan yang aku rasakan menyaksikan kamp-kamp itu yang mendorongku untuk mulai mengerjakannya.

 


[1] John Richard Hersey adalah seorang penulis dan jurnalis Amerika. Ia dianggap sebagai salah satu praktisi awal dari apa yang disebut Jurnalisme Baru, di mana teknik bercerita fiksi diadaptasi ke dalam reportase non-fiksi.

[2] Letter form the Editor: Majalah The Paris Review (2018) secara ekslusif menerbitkan The Writer’s Chapbook, sebuah jilid buku yang berisi intisari-intisari dari rentetan wawancara dengan pengarang-pengarang yang muncul di majalah tersebut sejak tahun 1953. Apa yang ditulis kemudian adalah diskusi-diskusi para pengarang tentang proses awal dari dunia kreatif dan menulis mereka, pengecambahan sebuah puisi, atau sebuah karya fiksi. “Inspirasi” menjadi garis besar dalam rangkuman dari intisari pemikiran para pengarang dunia tentang proses kreatif dan bagaimana mereka menulis pada mulanya. Galeri Buku Jakarta memuat lebih utuh Inspirasi pengarang dunia ini dalam buku “Memikirkan Kata” (2019)

 

Addi M Idham
ADDI M IDHAM

Enim sed consequatur voluptas dolor eligendi id. Repellendus est non voluptatem ad aliquam vel ad. Est officiis maiores dolor quia recusandae.