John Hersey: Kekuatan Emosi dan Hasrat Menulis Novel
Dorongan untuk menulis The Wall muncul dari pemandangan sejumlah kamp di Eropa Timur ketika aku sedang bekerja sebagai koresponden di Moskow untuk majalah Time
BY ADDI M IDHAM
Aku pikir
dorongan pertama datang dari emosi yang dalam. Mungkin saja kemarahan, mungkin
saja semacam kegairahan. Aku menyadari dalam dunia nyata di sekitarku sesuatu
yang merangsang emosi semacam itu, dan kemudian emosi itu seperti menciptakan
gambar-gambar di pikiranku yang menuntunku kepada sebuah cerita. [1]
Untuk
memberimu contoh, dorongan untuk menulis The
Wall muncul dari pemandangan sejumlah kamp di Eropa Timur ketika aku sedang
bekerja sebagai koresponden di Moskow untuk majalah Time. Kami pertama tiba di Estonia, dan disana kami melihat sebuah
kamp dimana Jerman telah memerintahkan untuk membunuh semua orang sebelum
mereka pergi; mereka melakukannya dengan cara yang kasar dan kejam, menyuruh
para tahanan membangun tumpukan kayu bakar mereka sendiri sebelum menembaknya. [2]
Selanjutnya
kami pergi ke Polandia, dan meskipun perang telah menjadikan kampung Yahudi itu
benar-benar runtuh, kami melihat beberapa kamp dimana hal yang sama terjadi,
orang Jerman telah diperintahkan untuk membunuh semua orang. Dalam setiap
kasus, terdapat sejumlah kecil orang yang selamat untuk diajak bicara. Ini
terjadi sewaktu Barat belum terlalu paham tentang Holocaust; ada sejumlah rumor yang kabur tentang kamp-kamp itu,
tetapi kami tidak mempunyai gambaran yang jelas tentangnya.
Untuk
melihat tubuh-tubuh itu, untuk mendengar dari orang yang selamat, menciptakan
sebuah suasana horor dan kemarahan dalam diriku yang membuatku ingin menulis.
Awalnya aku berpikir untuk menulis tentang salah satu kamp seperti Auschwitz,
dan aku melakukan banyak riset tentang itu; lalu tampak bagiku, di kemudian
hari, bahwa kehidupan di kampung-kampung Yahudi setidaknya mirip seperti
kehidupan nyata untuk kurun waktu yang lama, dan jadilah, kupikir, lebih baik
dibuatkan sebuah novel. Tetapi, adalah perasaan putus asa, takut, kemarahan
yang aku rasakan menyaksikan kamp-kamp itu yang mendorongku untuk mulai
mengerjakannya.
[1] John
Richard Hersey adalah seorang penulis dan jurnalis Amerika. Ia dianggap sebagai
salah satu praktisi awal dari apa yang disebut Jurnalisme Baru, di mana teknik
bercerita fiksi diadaptasi ke dalam reportase non-fiksi.
[2] Letter form
the Editor: Majalah The Paris Review (2018) secara ekslusif menerbitkan The Writer’s Chapbook, sebuah jilid buku yang berisi intisari-intisari dari rentetan wawancara
dengan pengarang-pengarang yang muncul di majalah tersebut sejak tahun 1953.
Apa yang ditulis kemudian adalah diskusi-diskusi para pengarang tentang proses
awal dari dunia kreatif dan menulis mereka, pengecambahan sebuah puisi, atau
sebuah karya fiksi. “Inspirasi” menjadi garis besar dalam rangkuman dari
intisari pemikiran para pengarang dunia tentang proses kreatif dan bagaimana
mereka menulis pada mulanya. Galeri Buku Jakarta memuat lebih utuh Inspirasi
pengarang dunia ini dalam buku “Memikirkan Kata” (2019)
Enim sed consequatur voluptas dolor eligendi id. Repellendus est non voluptatem ad aliquam vel ad. Est officiis maiores dolor quia recusandae.