John Ashbery: Ide Sering Muncul dengan Cara Misterius
Aku seorang yang yakin pada kebetulan-kebetulan yang tak disengaja. Penutup sajakku yang berjudul “Clepsydra,” dua baris terakhir, datang dari sebuah buku catatan yang kusimpan beberapa tahun sebelumnya, selama kunjungan pertamaku ke Italia.
BY GALERI BUKU JAKARTA
Sebuah ide bisa saja datang padaku, sesuatu yang sangat banal-sebagai contoh, tidakkah aneh rasanya untuk dapat berbicara dan berpikir pada saat yang sama? Itu bisa menjadi ide untuk sebuah puisi. Atau bisa saja kata-kata atau frasa-frasa tertentu menarik perhatianku dengan sebuah makna yang tidak kusadari sebelumnya. Begitu juga, aku sering menyimpan sesuatu yang kudengar orang lain ucapkan, di jalan misalnya. Tiba-tiba saja sesuatu menetapkan dirinya dalam aliran yang berputar dalam diriku dan tampak mempunyai signifikansi.[1]
Sebenarnya, ada sebuah contoh soal itu dalam sajak
ini, “Whar is Poetry.” Di sebuah toko buku aku tak sengaja mendengar seorang
bocah laki-laki mengatakan baris terakhir ini pada seorang gadis: “It might
give us– what? – some flower soon?” Aku tidak tahu apa konteksnya, tapi secara
tak terduga itu terasa seperti jalan untuk menutup sajakku.
Aku seorang yang yakin pada kebetulan-kebetulan yang
tak disengaja. Penutup sajakku yang berjudul “Clepsydra,” dua baris terakhir,
datang dari sebuah buku catatan yang kusimpan beberapa tahun sebelumnya, selama
kunjungan pertamaku ke Italia. Sesungguhnya aku menulis beberapa sajak selama
aku bepergian, yang mana tak biasa kulakukan, tetapi saat itu aku sangat
bersemangat atas kunjungan pertamaku disana. Hingga beberapa tahun kemudian,
ketika aku sedang berusaha menutup “Clepsydra” dan merasa sangat gugup, aku
tiba-tiba saja membuka buku catatan itu dan memenukan kedua baris itu yang
telah benar-benar kulupakan; “while morning is still and before the body/ Is
changed by the faces of evening.” Mereka benar-benar apa yang kubutuhkan saat
itu.
Tapi tak teralu penting seperti apa contoh tunggal
ini. Seringkali aku akan mencatat ide-ide dan frasa-frasa, dan kemudian ketika
aku siap untuk menulis aku tidak dapat menemukannya. Tapi itu pun tak membuat
banyak perbedaan, karena apapun yang muncul pada saat itu akan memiliki
kualitas yang sama. Apapun yang ada disana dapat tergantikan.
Sebenarnya, seringkali saat merevisi aku akan
menghilangkan ide yang merupakan penggagas awalnya. Kukira aku lebih tertarik
pada pergerakan di antara ide-ide daripada ide-ide itu sendiri, cara sebuah ide
bergerak dari satu titik ke titik yang lain ketimbang tujuannya atau asal
mulanya.
[1] Letter form the Editor: Majalah
The Paris Review (2018) secara ekslusif menerbitkan The
Writer’s Chapbook, sebuah jilid buku yang berisi intisari-intisari dari
rentetan wawancara dengan pengarang-pengarang yang muncul di majalah tersebut
sejak tahun 1953. Apa yang ditulis kemudian adalah diskusi-diskusi para
pengarang tentang proses awal dari dunia kreatif dan menulis mereka,
pengecambahan sebuah puisi, atau sebuah karya fiksi. “Inspirasi” menjadi garis
besar dalam rangkuman dari intisari pemikiran para pengarang dunia tentang
proses kreatif dan bagaimana mereka menulis pada mulanya.
Galeri Buku Jakarta selalu memiliki misi ganda: untuk mempromosikan penulis yang paling menarik dan untuk mendukung pembaca yang ambisius dan ingin tahu. Kisah-kisah itu penting dan membawa para pembaca pada kedalaman dan kebermaknaan.