Joyce Cary: Yang Dipikirkan Novelis Saat Memikirkan Ide Novel
Pada saat-saat seperti itu aku sering membuat catatan. Tapi aku tidak melakukannya-dan aku melupakan seluruh peristiwa itu.
BY ADDI M IDHAM
Seringkali aku tidak mengetahui asal mulanya. Belakangan aku mempunyai pengalaman aneh yang memberiku pandangan sekilas atas prosesnya, sesuatu yang tak pernah kusangka. Aku sedang berkeliling Manhattan menaiki kapal uap dengan seorang teman dari Amerika, Elizabeth Lawrence dari majalah Harper. Dan aku menyadari seorang gadis duduk sendirian di ujung lain geladak-seorang gadis berusia kira-kira tiga puluh tahun, mengenakan rok yang lusuh. Dia sedang menikmati kesendiriannya. Sebuah ekspresi yang bagus, dengan dahi yang berkerut, kerutan yang banyak sekali. Aku mengatakan pada temanku, “Aku dapat menulis tentang gadis itu-menurutmu dia itu siapa?” Elizabeth mengatakan bahwa mungkin saja gadis itu seorang guru yang sedang berlibur, dan menanyakanku mengapa aku ingin menulis tentang gadis itu. [1]
Aku
menjawab sebenarnya aku tak tahu-aku membayangkan gadis itu seorang yang peka
dan cerdas, dan mengalami kesulitan karenanya. Mempunyai hidup yang sulit
tetapi juga menghasilkan sesuatu darinya. Pada saat-saat seperti itu aku sering
membuat catatan. Tapi aku tidak melakukannya-dan aku melupakan seluruh
peristiwa itu. Lalu, kira-kira tiga minggu setelah itu, di San Fransisco, aku
bangun di tengah malam, kupikir, dengan sebuah cerita dikepalaku.
Aku membuat
uraian ceritanya saat itu juga-cerita itu tentang seorang gadis Inggris di
negerinya-sebuah dongeng Inggris murni. Hari berikutnya sebuah pertemuan
dibatalkan dan aku memiliki sehari penuh yang kosong. Aku menemukan catatanku
dan menuliskan ceritanya-itu adalah peristiwa-peristiwa utama dan sejumlah
garis penghubung. Beberapa hari kemudian, di dalam pesawat-waktu yang ideal
untuk menulis-aku mulai mengerjakannya, merapikannya, dan aku berpikir, ada apa
dengan kerutan-kerutan di wajah itu, itu ketiga kalinya mereka muncul. Dan aku
tiba-tiba tersadar bahwa pahlawan Inggrisku adalah gadis di atas kapal
Manhattan. Entah bagaimana dia masuk ke dalam alam bawah sadarku, dan muncul
kembali dengan sebuah cerita yang utuh.[2]
[1] Arthur
Joyce Lunel Cary, yang dikenal sebagai Joyce Cary, adalah seorang novelis dan
pejabat kolonial Inggris-Irlandia. Novel-novelnya yang paling terkenal antara
lain Mister Johnson dan The Horse's Mouth.
[2] Letter form the Editor:
Majalah
The Paris Review (2018) secara ekslusif
menerbitkan The
Writer’s Chapbook, sebuah jilid buku yang berisi intisari-intisari
dari rentetan wawancara dengan pengarang-pengarang yang muncul di majalah
tersebut sejak tahun 1953. Apa yang ditulis kemudian adalah diskusi-diskusi
para pengarang tentang proses awal dari dunia kreatif dan menulis mereka,
pengecambahan sebuah puisi, atau sebuah karya fiksi. “Inspirasi” menjadi garis
besar dalam rangkuman dari intisari pemikiran para pengarang dunia tentang
proses kreatif dan bagaimana mereka menulis pada mulanya.
Enim sed consequatur voluptas dolor eligendi id. Repellendus est non voluptatem ad aliquam vel ad. Est officiis maiores dolor quia recusandae.