James Merrill: Isi Kepala Penyair Saat Menenun Kata
Aku mencoba untuk berhenti, menjauh dari halamannya, ke arah dapur untuk sekadar mengaduk dan mengasinkan yang memberikan kesempatan pada kata-kata untuk merapikan diri mereka sendiri.
BY MARLINA SOPIANA
Tak peduli
kau berada di mejamu atau tidak saat sebuah sajak sedang dikerjakan, bukankah
ada pusaran arus yang terus menerus berputar di kepalamu?[1]
Jika cukup
kuat segala jenis reruntuhan kapal tersedot ke arahnya, seberapa selektif sulit
diputuskan pada saat itu. Aku mencoba untuk berhenti, menjauh dari halamannya,
ke arah dapur untuk sekadar mengaduk dan mengasinkan yang memberikan kesempatan
pada kata-kata untuk merapikan diri mereka sendiri di balik punggungku. Akan
tetapi benar-benar tak ada jalan untuk melarikan diri, kecuali mungkin minuman
pada gelas ketiga.[2]
Pada
hari-hari “biasa”, hari-hari di saat kau tidak memiliki apa pun di pembakaran,
mungkin saja aman untuk mengatakan kau sama sekali bukan penyair: lebih seperti
seorang dokter di pesta makan malam, hanya merupakan tamu lainnya sampai
penjamunya merosot ke lantai atau sampai pager kecilnya mati. Kebanyakan dari
sinyal-sinyal itu merupakan peringatan yang keliru-hanya saja mereka tidak.
Bahasa adalah perantaramu.
Kau bisa
saja sedang berbicara atau menulis surat, dan muncullah sebuah observasi,
sebuah “bunyi kalimat” yang kau sukai. Ia tidak harus kalimatmu sendiri. Dan
itu tidak akan menjadikan sebuah sajak, atau cocok dimasukkan ke dalamnya.
Tetapi peradangan yang diberikan padamu-dan inilah, aku berani mengatakan, yang
membedakan dirimu dari “warga biasa”-mengingatkanmu bahwa kau harus
berhati-hati, bahwa kau memiliki suatu kondisi yang perlu dijaga…
[1] Letter form the Editor: Majalah The Paris Review (2018) secara ekslusif menerbitkan The Writer’s Chapbook, sebuah jilid buku yang berisi intisari-intisari dari rentetan wawancara dengan pengarang-pengarang yang muncul di majalah tersebut sejak tahun 1953. Apa yang ditulis kemudian adalah diskusi-diskusi para pengarang tentang proses awal dari dunia kreatif dan menulis mereka, pengecambahan sebuah puisi, atau sebuah karya fiksi. “Inspirasi” menjadi garis besar dalam rangkuman dari intisari pemikiran para pengarang dunia tentang proses kreatif dan bagaimana mereka menulis pada mulanya. Galeri Buku Jakarta memuat lebih utuh Inspirasi pengarang dunia ini dalam buku “Memikirkan Kata” (2019)
[2] James
Ingram Merrill adalah seorang penyair Amerika. Ia dianugerahi Penghargaan
Pulitzer untuk puisi pada tahun 1977 untuk Divine Comedies.
Neque laborum est voluptas nihil nesciunt voluptas. Officia nisi quia dolorem nisi praesentium ut debitis. Repellendus deleniti in quia at eveniet dolorem sequi eius.