Katherine Anne Porter: Ide Tak Terbentuk Tiba-tiba, Ia Mengendap Lama
Ya, mereka mendesakku untuk datang dan bermain kartu. Tetapi aku sangat yain, karena aku tahu waktunya telah tiba untuk menulis cerita itu, dan aku harus menulisnya.
BY MARLINA SOPIANA
Kenyataannya adalah sepanjang hidupku aku tak pernah menulis sebuah cerita yang tidak mempunyai fondasi yang sangat kuat dalam pengalaman nyata manusia—pengalaman orang lain seringnya, tetapi sebuah pengalaman yang menjadi milikku dengan mendengarkan ceritanya, dengan menyaksikan peristiwanya, dengan mendengar hanya satu kata mungkin. Itu tak masalah, hanya mengambil sedikit-sebuah benih kecil. Lalu ia berakar, dan ia tumbuh. Ia merupakan benda organis.[1]
Cerita itu
[“Flowering Judas”] telah berada dalam pikiranku selama bertahun-tahun, tumbuh
dari sebuah peristiwa kecil yang terjadi di Mexico. Ia membentuk dan mewujud di
kepalaku, hingga suatu malam aku cukup putus asa-orang-orang selalu mudah
bersosialiasi, dan aku juga mudah bersosialisasi, dan jika aku tinggal di
sekeliling teman-temanku…Ya, mereka mendesakku untuk datang dan bermain kartu.
Tetapi aku sangat yain, karena aku tahu waktunya telah tiba untuk menulis
cerita itu, dan aku harus menulisnya.
Sesuatu
yang kulihat saat aku melewati sebuah jendela suatu sore. Seorang gadis yang
kukenal memintaku untuk masuk dan duduk dengannya, karena seorang lelaki akan
datang menemuinya, dan dia merasa sedikit takut kepada lelaki itu. Dan selagi
aku melewati pekarangan, melewati pohon Yudas yang sedang berbunga, aku melirik
ke jendela dan di sana lah dia duduk dengan sebuah buku terbuka di pangkuannya,
dan ada seorang laki-laki gemuk yang besar duduk di sebelahnya. Saat itu, aku
dan Marry berteman, kami berdua gadis Amerika yang hidup dalam situasi
revolusi. Dia mengajar di sebuah sekolah Indian, dan aku mengajar dansa pada
gadis-gadis di sekolah teknik di kota Meksiko. Dan kami memiliki masa yang sangat
aneh saat itu. Masa itu terdengar skeptis jadi aku mulai melihat dengan
pandangan yang skeptis tentang sejumlah besar pemimpin-pemimpin yang
revolusioner-oh, ide itu baik-baik saja, tapi banyak orang salah
menempatkannya.
Dan saat
aku melihat melalui jendela pada sore itu, aku melihat sesuatu di wajah Mary,
sesuatu dalam sikapnya, sesuatu dalam keseluruhan situasi itu, yang
menghasilkan sebuah kegemparan di pikiranku. Karena sebelum saat itu aku tak
benar-benar mengerti bahwa dia tak mampu menjaga dirinya sendiri, karena dia
tak mampu menghadapi keadaan alaminya dan takut akan segala hal.
Aku tak
tahu mengapa aku melihatnya. Aku tidak percaya pada intuisi. Saat kau tiba-tiba
mendapatkan kilatan persepsi, itu hanya otakmu bekerja lebih cepat dari
biasanya. Tapi kau telah siap mengetahui hal itu untuk waktu yang lama, dan
saat itu muncul, kau merasa kau memang selalu mengetahuinya.[2]
[1] Katherine
Anne Porter adalah seorang jurnalis, penulis esai, penulis cerita pendek,
novelis, penyair, dan aktivis politik Amerika. Novelnya yang berjudul Ship of
Fools (1962) menjadi novel terlaris di Amerika Serikat pada tahun itu, tetapi
cerita pendeknya menerima pujian kritis yang jauh lebih besar.
[2] Letter form
the Editor: Majalah The Paris Review (2018) secara ekslusif menerbitkan The Writer’s Chapbook, sebuah jilid buku yang berisi intisari-intisari dari rentetan wawancara
dengan pengarang-pengarang yang muncul di majalah tersebut sejak tahun 1953.
Apa yang ditulis kemudian adalah diskusi-diskusi para pengarang tentang proses
awal dari dunia kreatif dan menulis mereka, pengecambahan sebuah puisi, atau
sebuah karya fiksi. “Inspirasi” menjadi garis besar dalam rangkuman dari
intisari pemikiran para pengarang dunia tentang proses kreatif dan bagaimana
mereka menulis pada mulanya. Galeri Buku Jakarta memuat lebih utuh Inspirasi
pengarang dunia ini dalam buku “Memikirkan Kata” (2019)
Neque laborum est voluptas nihil nesciunt voluptas. Officia nisi quia dolorem nisi praesentium ut debitis. Repellendus deleniti in quia at eveniet dolorem sequi eius.