John Berryman: Puisi Selalu Menemukan Jalannya Sendiri

Foto oleh Mark Kauffman/The LIFE Picture Collection via Getty Images.

INSPIRASI
July 24, 2026

John Berryman: Puisi Selalu Menemukan Jalannya Sendiri

Lebih jauh, baris-baris itu tidak mempunyai kemiripan dengan bait manapun yang pernah kutulis seumur hidupku, dan lebih jauh lagi, subjeknya sama sekali baru, benar-benar dan hanya tentang diriku sendiri. Tak ada yang lain. Sebuah subjek dimana aku adalah seorang ahlinya. Tak ada seorang pun yang bisa membantahku.


Foto Penulis BY MARLINA SOPIANA

Pertanyaan yang muncul setelah The Dream Songs adalah bilamana aku akan berusaha menulis sebuah puisi yang panjang lagi, dan kupikir itu tidak mungkin, jadi aku tidak berharap untuk menulis bait-bait lagi.

Tapi tiba-tiba suatu hari di musim dingin tahun lalu aku menuliskan satu baris: “I fell in love with a girl.” Aku memerhatikannya, dan aku tak dapat menemukan ada yang salah dengan baris itu. Aku berpikir, “Sial, hal itu nyata” Aku merasa, seperti seorang temanku mengatakan, “merasa nyaman dengan hal itu.” Dan aku memerhatikannya sampai aku memikirkan sebuah baris kedua, dan kemudian baris ketiga, dan kemudian baris keempat, dan jadilah sebuah stanza. Tak berima. Dan semakin kuperhatikan, semakin aku menyukainya, jadi aku menulis stanza kedua. Dan kemudian aku menulis lebih banyak stanza, dan tahukah kau? Aku memliki sebuah lirik sajak, dan itu sangat bagus. Aku tak pernah tahu aku memilikinya dalam diriku! Jadi, ketika hari berikutnya aku menggubah sebuah stanza, mengubah beragam baris, disana sini, tapi segera setelahnya hal itu terlihat klasik.[1]

Seklasik salah satu dari puisi-puisi Rubaiyat-tanpa keniscayaan rima dan matra, tetapi dengan keniscayaan-keniscayaannya sendiri. Kukira itu sebagus puisi-puisi awalku, dan beberapa dari mereka sangatlah bagus; kebanyakan dari mereka tidak, tapi beberapa memang bagus. Lebih jauh, baris-baris itu tidak mempunyai kemiripan dengan bait manapun yang pernah kutulis seumur hidupku, dan lebih jauh lagi, subjeknya sama sekali baru, benar-benar dan hanya tentang diriku sendiri. Tak ada yang lain. Sebuah subjek dimana aku adalah seorang ahlinya. Tak ada seorang pun yang bisa membantahku.[2]

Aku percaya dengan teguh atas otoritas dari pembelajaran. Alasan mengapa Milton merupakan penyair terbesar Inggris kecuali untuk Shakespeare adalah karena otoritas dari pembelajarannya. Aku sarjana di bidang-bidang tertentu, tetapi subjek yang aku mempunyai otoritas penuh atasnya adalah diriku, jadi aku menghapus semua kepura-puraan dan mulai bekerja. Dalam lima atau enam minggu aku memiliki sesuatu yang tampak jelas sebagai sebuah buku berjudul Love & Fame.

Aku memiliki dua puluh empat puisi dan bersiap untuk mencetaknya, tetapi mereka semua sangat aneh, sangat tidak mirip karya-karyaku sebelumnya, karena itu aku merasa sedikit khawatir. Aku mendapat dorongan dari satu atau dua teman, tapi aku masih tak tahu apa yang harus dilakukan.

Aku sebelumnya sudah mengirimkan puisi pertama kepada Arthur Crook di Times Literary Supplement. Dia senang membacanya dan mengirimkanku sebuah contoh cetakan. Aku, sebaliknya, merasa senang bahwa dia menyukainya, jadi aku mengoreksi contoh cetakannya dan mengirimkannya lima puisi lagi-Aku tidak ingin puisi itu tampil sendirian. Jadi dia mencetak keenamnya, yang mengisi satu halaman penuh-sangat indah secara tipografi-dan ini semakin membesarkan hati.

Tapi aku masih tak yakin. Sementara itu, aku sedang berada di rumah sakit. Aku seorang pencemas. Aku telah kehilangan sembilan belas pon dalam lima minggu dan minum-minum banyak sekali-satu quart per hari. Jadi aku meminta penerbitku di New York, Giroux, mengkopi selusin salinan, yang aku kirimkan kepada teman-temanku diseluruh negeri untuk mendapatkan opini mereka. Itu adalah hal yang aneh untuk dilakukan-Aku tak pernah mendengar orang lain melakukannya-tapi aku melakukannya, mencari penguatan diri, konfirmasi, menginginkan kritik, dan seterusnya, dan aku mendapat sejumlah kritik yang sangat baik. Dick Wilbur memilih “Shirley & Auden”, salah satu lirik yang paling penting di bagian pertama-beberapa sajak yang lain begitu ringan, dan yang lainnya sangat ambisius- dan menjadikannya sengsara. Dan aku setuju-aku mengadopsi hampir semua saran.

Aku juga mendapat sejumlah konfirmasi dan penguatan diri, akan tetapi ada opini-opini yang lain juga. Edmund Wilson, yang pendapatnya sangat aku hargai, mendapati buku itu tak punya harapan. Dia mengatakan terdapat beberapa baris yang baik dan bait-bait yang menohok. Bagaimana kau menyukainya? Itu seperti mengatakan kepada seorang perempuan cantik, “Aku menyukai kuku kelingkingmu yang sebelah kiri; itu benar-benar manis,” sementara perempuan itu berdiri telanjang bulat tampak seperti Venus. Aku sangat terluka karena surat itu. Dan kemudian respon-respon yang lain sangatlah aneh. Mark Van Doren, guruku, seorang teman lama dan seorang hakim yang luar biasa bagi puisi, juga menulis. Aku lupa tepatnya yang dia katakan, tapi dia sangat serius dengan buku itu. Dia mengatakan hal-hal seperti “orisinil,” dan “akan berpengaruh”, dan “akan menjadi populer,” dan seterusnya, tapi “juga akan ditakuti dan dibenci.”

Sungguh surat yang sangat mengejutkan! Aku membutuhkan berhari-hari hingga aku terbiasa dengan surat itu, dan aku membutuhkan lebih banyak hari lagi untuk memahami maksudnya. Tapi sekarang aku mengerti apa yang yang dia maksud.

Sejumlah puisinya mengancam, sangat mengancam untuk sebagian pembaca, tak ada keraguan untuk itu. Sebagaimana beberapa orang menganggapku mengancam-berada dalam satu ruangan denganku membuat mereka gila. Dan kemudian ada cukup banyak kecabulan dalam sajak-sajak itu juga. Dan ada begitu banyak belas kasihan dalam sajak-sajak terakhir, yang akan mengganggu banyak orang.

Kau tahu, negeri ini penuh dengan para ateis, dan mereka benar-benar akan merasa diri mereka terancam oleh puisi-puisi itu. Majalah The Saturday Review mencetak lima dari puisi-puisi itu, dan aku menerima banyak sekali surat tentang itu- lagi-lagi menyampaikan opini yang sangat beraneka ragam.

Beberapa orang setulusnya hanya berterimakasih karena aku memberitahu mereka bagaimana menempatkan apa yang mereka rasakan selama bertahun-tahun. Dan ada orang-orang lain yang membencinya—mereka tak menyebutnya tak tulus, tapi mereka hanya tak bisa memercayainya.



[1] Letter form the Editor: Majalah The Paris Review (2018) secara ekslusif menerbitkan The Writer’s Chapbook, sebuah jilid buku yang berisi intisari-intisari dari rentetan wawancara dengan pengarang-pengarang yang muncul di majalah tersebut sejak tahun 1953. Apa yang ditulis kemudian adalah diskusi-diskusi para pengarang tentang proses awal dari dunia kreatif dan menulis mereka, pengecambahan sebuah puisi, atau sebuah karya fiksi. “Inspirasi” menjadi garis besar dalam rangkuman dari intisari pemikiran para pengarang dunia tentang proses kreatif dan bagaimana mereka menulis pada mulanya.

[2] John Berryman, seorang cendekiawan dan profesor sekaligus penyair, paling dikenal karena The Dream Songs (1969), rangkaian 385 puisi yang sangat personal yang membawanya meraih Penghargaan Pulitzer dan Penghargaan Buku Nasional. Dalam karya-karyanya, ia menciptakan gaya dan bentuk yang mampu mengakomodasi berbagai macam materi sekaligus mengekspresikan emosinya yang bergejolak. Lahir dengan nama John Smith di McAlester, Oklahoma, pada tahun 1914, Berryman mengalami kehilangan besar pada usia 12 tahun ketika ayahnya menembak dirinya sendiri di luar jendela kamarnya. Peristiwa ini menghantuinya sepanjang hidupnya, dan berulang kali menjadi subjek dalam puisinya. Setelah ibunya menikah lagi, John mengambil nama ayah tirinya dan tinggal di Massachusetts dan New York City. Berryman lulus dari Columbia pada tahun 1936, kemudian melanjutkan studi di Universitas Cambridge selama dua tahun dengan beasiswa. Pernikahan pertamanya dari tiga pernikahan terjadi pada tahun 1942, dan enam tahun kemudian ia menerbitkan buku puisi penting pertamanya, The Dispossessed (1948). Biografi kritis tentang penulis Amerika Stephen Crane menyusul pada tahun 1950. Pada tahun 1955, setelah mengajar di Harvard dan Princeton, Berryman mengambil posisi di Universitas Minnesota, tempat ia menetap hingga kematiannya. –Via The Poetry Foundation

 

Marlina Sopiana
MARLINA SOPIANA

Neque laborum est voluptas nihil nesciunt voluptas. Officia nisi quia dolorem nisi praesentium ut debitis. Repellendus deleniti in quia at eveniet dolorem sequi eius.