Buku
Antusiasme dan Tanda Resmi Perpuisian
27 June 2026
Aku harus menyiapkan landasan baginya. Dari sumber ini muncul kata-kata, frasa-frasa, suku-suku kata; kadang hanya bunyi-bunyian, yang kucoba untuk interpretasi, terkadang paragraf-paragraf utuh, sangat seksama.
Aku mengira bahwa kita semua memiliki seorang pembisik atau komentator yang primitif yang sejak tahun-tahun pertama telah menyediakan saran untuk kita, memberitahu kita bagaimana dunia yang sesungguhnya. Ada seorang komentator semacam itu dalam diriku.[1]
Aku harus menyiapkan landasan baginya. Dari sumber ini
muncul kata-kata, frasa-frasa, suku-suku kata; kadang hanya bunyi-bunyian, yang
kucoba untuk interpretasi, terkadang paragraf-paragraf utuh, sangat seksama.
Saat E. M. Foster mengatakan, “Bagaimana caranya aku
mengetahui apa yang kupikirkan sampai aku mendengar apa yang kukatakan?” dia
mungkin saja merujuk pada pembisik miliknya sendiri.
Terdapat instrumen pemeriksaan seperti itu dalam diri
kita-pada masa kanak-kanak dalam tingkatan apa pun. Pada penampakan wajah
seorang lelaki, sepatunya, warna-warna cahaya, mulut seorang perempuan atau
mungkin saja telinganya, kita menerima kata-kata, sebuah frasa, pada saat itu
tak berarti apa-apa selain suku kata yang tak masuk akal dari sang komentator
yang primitif.
Truman Capote:
Idemu akan Selalu Menghantuimu
Aku selalu mempunyai ilusi bahwa keseluruhan dari
sebuah cerita, permulaannya dan bagian pertengahan dan bagian akhir, terjadi
secara simultan dalam pikiranku—ketika aku melihatnya dalam sekejap. Tetapi
ketika mengerjakannya, menuliskannya, kejutan-kejutan yang tak berhingga
terjadi. Puji Tuhan, karena kejutan, pelintirannya, frasa-frasa yang muncul
begitu saja diwaktu yang tepat, adalah keuntungan yang tak terduga, dorongan
kecil yang menyenangkan yang membuat penulis terus bekerja.
Suatu masa aku terbiasa menyimpan buku-buku catatan
dengan kerangka cerita. Tapi aku mendapati entah bagaimana hal ini mematikan
ide dalam imajinasiku. Jika gagasannya cukup baik, jika itu benar-benar
milikmu, kau tak akan bisa melupakannya… ia akan menghantuimu sampai kau
menuliskanya.[2]
John Ashbery: Ide Sering Muncul dengan Cara Misterius
Sebuah ide bisa saja datang padaku, sesuatu yang
sangat banal-sebagai contoh, tidakkah aneh rasanya untuk dapat berbicara dan
berpikir pada saat yang sama? Itu bisa menjadi ide untuk sebuah puisi. Atau
bisa saja kata-kata atau frasa-frasa tertentu menarik perhatianku dengan sebuah
makna yang tidak kusadari sebelumnya. Begitu juga, aku sering menyimpan sesuatu
yang kudengar orang lain ucapkan, di jalan misalnya. Tiba-tiba saja sesuatu
menetapkan dirinya dalam aliran yang berputar dalam diriku dan tampak mempunyai
signifikansi.[3]
Sebenarnya, ada sebuah contoh soal itu dalam sajak
ini, “Whar is Poetry.” Di sebuah toko buku aku tak sengaja mendengar seorang
bocah laki-laki mengatakan baris terakhir ini pada seorang gadis: “It might
give us– what? – some flower soon?” Aku tidak tahu apa konteksnya, tapi secara
tak terduga itu terasa seperti jalan untuk menutup sajakku.
Aku seorang yang yakin pada kebetulan-kebetulan yang
tak disengaja. Penutup sajakku yang berjudul “Clepsydra,” dua baris terakhir,
datang dari sebuah buku catatan yang kusimpan beberapa tahun sebelumnya, selama
kunjungan pertamaku ke Italia. Sesungguhnya aku menulis beberapa sajak selama
aku bepergian, yang mana tak biasa kulakukan, tetapi saat itu aku sangat
bersemangat atas kunjungan pertamaku disana. Hingga beberapa tahun kemudian,
ketika aku sedang berusaha menutup “Clepsydra” dan merasa sangat gugup, aku
tiba-tiba saja membuka buku catatan itu dan memenukan kedua baris itu yang
telah benar-benar kulupakan; “while morning is still and before the body/ Is
changed by the faces of evening.” Mereka benar-benar apa yang kubutuhkan saat
itu.
Tapi tak teralu penting seperti apa contoh tunggal
ini. Seringkali aku akan mencatat ide-ide dan frasa-frasa, dan kemudian ketika
aku siap untuk menulis aku tidak dapat menemukannya. Tapi itu pun tak membuat
banyak perbedaan, karena apapun yang muncul pada saat itu akan memiliki
kualitas yang sama. Apapun yang ada disana dapat tergantikan.
Sebenarnya, seringkali saat merevisi aku akan
menghilangkan ide yang merupakan penggagas awalnya. Kukira aku lebih tertarik
pada pergerakan di antara ide-ide daripada ide-ide itu sendiri, cara sebuah ide
bergerak dari satu titik ke titik yang lain ketimbang tujuannya atau asal
mulanya.
Jon Barth: Yang Dipikirkan Pengarang
Sebelum Menulis Novel
Buku yang berbeda dimulai dengan cara-cara yang
berbeda.[4]
Aku terkadang berharap bahwa aku semacam penulis yang memulai dengan
ketertarikan yang bergairah dengan sesosok karakter dan kemudian, sebagaimana
kudengar penulis-penulis lain mengatakan, berikan saja karakter itu sedikit
ruang dan lihat apa yang ingin dia lakukan. Aku bukan penulis semacam itu.
Lebih sering aku memulai dengan sebuah bentuk atau wujud, bisa jadi sebuah
gambar. Perahu yang mengambang, sebagai contoh, yang menjadi tokoh sentral
dalam The Floating Opera, merupakan
photo dari sebuah kapal pertunjukkan sesungguhnya yang aku ingat pernah
melihatnya saat masih kecil. Namanya ternyata Captain Adams’ Original Unparalleled Floating Opera, dan ketika
alam, dengan cara yang tak menyenangkan, menghadiahimu gambar itu, satu-satunya
hal mulia yang harus dilakukan adalah menulis sebuah novel tentangnya. Ini
mungkin bukan pendekatan yang paling mulia. Aleksandr Solzhenitsyb, sebagai
contoh, hadir dalam media fiksi dengan sebuah tujuan moral yang tinggi; dia
ingin, dunia literatur, mencoba untuk mengubah dunia melalui media seperti
novel. Aku menghormati dan mengagumi maksud itu, tetapi seringnya seorang
penulis besar akan menuliskan novelnya dengan tujuan yang tidak lebih mulia
dibandingkan dengan upaya mengecilkan pemerintahan Soviet. Henry James ingin menulis
sebuah buku dalam bentuk sebuah jam pasir. Flaubert ingin menulis sebuah novel
tentang nothing. Apa yang kupelajari
adalah bahwa keputusan dari inspirasi-inspirasi untuk bernyanyi atau tidak
bukan didasarkan pada keluhuran dari tujuan moralmu-mereka akan menyanyi atau
tidak, apapun keadaannya.
John Berryman: Puisi Selalu Menemukan Jalannya Sendiri
Pertanyaan yang muncul setelah The Dream Songs adalah bilamana aku akan
berusaha menulis sebuah puisi yang panjang lagi, dan kupikir itu tidak mungkin,
jadi aku tidak berharap untuk menulis bait-bait lagi.
Tapi tiba-tiba suatu hari di musim dingin tahun lalu
aku menuliskan satu baris: “I fell in love with a girl.” Aku memerhatikannya,
dan aku tak dapat menemukan ada yang salah dengan baris itu. Aku berpikir,
“Sial, hal itu nyata” Aku merasa, seperti seorang temanku mengatakan, “merasa
nyaman dengan hal itu.” Dan aku memerhatikannya sampai aku memikirkan sebuah
baris kedua, dan kemudian baris ketiga, dan kemudian baris keempat, dan jadilah
sebuah stanza. Tak berima. Dan semakin kuperhatikan, semakin aku menyukainya,
jadi aku menulis stanza kedua. Dan kemudian aku menulis lebih banyak stanza,
dan tahukah kau? Aku memliki sebuah lirik sajak, dan itu sangat bagus. Aku tak
pernah tahu aku memilikinya dalam diriku! Jadi, ketika hari berikutnya aku
menggubah sebuah stanza, mengubah beragam baris, disana sini, tapi segera
setelahnya hal itu terlihat klasik.
Seklasik salah satu dari puisi-puisi Rubaiyat-tanpa
keniscayaan rima dan matra, tetapi dengan keniscayaan-keniscayaannya sendiri.
Kukira itu sebagus puisi-puisi awalku, dan beberapa dari mereka sangatlah
bagus; kebanyakan dari mereka tidak, tapi beberapa memang bagus. Lebih jauh,
baris-baris itu tidak mempunyai kemiripan dengan bait manapun yang pernah
kutulis seumur hidupku, dan lebih jauh lagi, subjeknya sama sekali baru,
benar-benar dan hanya tentang diriku sendiri. Tak ada yang lain. Sebuah subjek
dimana aku adalah seorang ahlinya. Tak ada seorang pun yang bisa membantahku.
Aku percaya dengan teguh atas otoritas dari
pembelajaran. Alasan mengapa Milton merupakan penyair terbesar Inggris kecuali
untuk Shakespeare adalah karena otoritas dari pembelajarannya. Aku sarjana di
bidang-bidang tertentu, tetapi subjek yang aku mempunyai otoritas penuh atasnya
adalah diriku, jadi aku menghapus semua kepura-puraan dan mulai bekerja. Dalam
lima atau enam minggu aku memiliki sesuatu yang tampak jelas sebagai sebuah
buku berjudul Love & Fame.
Aku memiliki dua puluh empat puisi dan bersiap untuk
mencetaknya, tetapi mereka semua sangat aneh, sangat tidak mirip karya-karyaku
sebelumnya, karena itu aku merasa sedikit khawatir. Aku mendapat dorongan dari
satu atau dua teman, tapi aku masih tak tahu apa yang harus dilakukan.
Aku sebelumnya sudah mengirimkan puisi pertama kepada
Arthur Crook di Times Literary
Supplement. Dia senang membacanya dan mengirimkanku sebuah contoh cetakan.
Aku, sebaliknya, merasa senang bahwa dia menyukainya, jadi aku mengoreksi
contoh cetakannya dan mengirimkannya lima puisi lagi-Aku tidak ingin puisi itu
tampil sendirian. Jadi dia mencetak keenamnya, yang mengisi satu halaman
penuh-sangat indah secara tipografi-dan ini semakin membesarkan hati.
Tapi aku masih tak yakin. Sementara itu, aku sedang
berada di rumah sakit. Aku seorang pencemas. Aku telah kehilangan sembilan
belas pon dalam lima minggu dan minum-minum banyak sekali-satu quart per hari.
Jadi aku meminta penerbitku di New York, Giroux, mengkopi selusin salinan, yang
aku kirimkan kepada teman-temanku diseluruh negeri untuk mendapatkan opini
mereka. Itu adalah hal yang aneh untuk dilakukan-Aku tak pernah mendengar orang
lain melakukannya-tapi aku melakukannya, mencari penguatan diri, konfirmasi,
menginginkan kritik, dan seterusnya, dan aku mendapat sejumlah kritik yang
sangat baik. Dick Wilbur memilih “Shirley & Auden”, salah satu lirik yang
paling penting di bagian pertama-beberapa sajak yang lain begitu ringan, dan
yang lainnya sangat ambisius- dan menjadikannya sengsara. Dan aku setuju-aku
mengadopsi hampir semua saran.
Aku juga mendapat sejumlah konfirmasi dan penguatan
diri, akan tetapi ada opini-opini yang lain juga. Edmund Wilson, yang
pendapatnya sangat aku hargai, mendapati buku itu tak punya harapan. Dia
mengatakan terdapat beberapa baris yang baik dan bait-bait yang menohok.
Bagaimana kau menyukainya? Itu seperti mengatakan kepada seorang perempuan
cantik, “Aku menyukai kuku kelingkingmu yang sebelah kiri; itu benar-benar
manis,” sementara perempuan itu berdiri telanjang bulat tampak seperti Venus.
Aku sangat terluka karena surat itu. Dan kemudian respon-respon yang lain
sangatlah aneh. Mark Van Doren, guruku, seorang teman lama dan seorang hakim
yang luar biasa bagi puisi, juga menulis. Aku lupa tepatnya yang dia katakan,
tapi dia sangat serius dengan buku itu. Dia mengatakan hal-hal seperti “orisinil,”
dan “akan berpengaruh”, dan “akan menjadi populer,” dan seterusnya, tapi “juga
akan ditakuti dan dibenci.”
Sungguh surat yang sangat mengejutkan! Aku membutuhkan
berhari-hari hingga aku terbiasa dengan surat itu, dan aku membutuhkan lebih
banyak hari lagi untuk memahami maksudnya. Tapi sekarang aku mengerti apa yang
yang dia maksud.
Sejumlah puisinya mengancam, sangat mengancam untuk
sebagian pembaca, tak ada keraguan untuk itu. Sebagaimana beberapa orang
menganggapku mengancam-berada dalam satu ruangan denganku membuat mereka gila.
Dan kemudian ada cukup banyak kecabulan dalam sajak-sajak itu juga. Dan ada
begitu banyak belas kasihan dalam sajak-sajak terakhir, yang akan mengganggu
banyak orang.
Kau tahu, negeri ini penuh dengan para ateis, dan mereka
benar-benar akan merasa diri mereka terancam oleh puisi-puisi itu. Majalah The Saturday Review mencetak lima dari
puisi-puisi itu, dan aku menerima banyak sekali surat tentang itu- lagi-lagi
menyampaikan opini yang sangat beraneka ragam.
Beberapa orang setulusnya hanya berterimakasih karena
aku memberitahu mereka bagaimana menempatkan apa yang mereka rasakan selama
bertahun-tahun. Dan ada orang-orang lain yang membencinya—mereka tak
menyebutnya tak tulus, tapi mereka hanya tak bisa memercayainya.
[1] Letter
form the Editor:
Majalah
The Paris Review (2018) secara ekslusif menerbitkan The Writer’s Chapbook,
sebuah jilid buku yang berisi
intisari-intisari dari rentetan wawancara dengan pengarang-pengarang yang
muncul di majalah tersebut sejak tahun 1953. Apa yang ditulis kemudian adalah
diskusi-diskusi para pengarang tentang proses awal dari dunia kreatif dan
menulis mereka, pengecambahan sebuah puisi, atau sebuah karya fiksi.
“Inspirasi” menjadi garis besar dalam rangkuman dari intisari pemikiran para
pengarang dunia tentang proses kreatif dan bagaimana mereka menulis pada
mulanya.
[2] Letter
form the Editor:
Majalah
The Paris Review (2018) secara ekslusif menerbitkan The Writer’s Chapbook,
sebuah jilid buku yang berisi
intisari-intisari dari rentetan wawancara dengan pengarang-pengarang yang
muncul di majalah tersebut sejak tahun 1953. Apa yang ditulis kemudian adalah
diskusi-diskusi para pengarang tentang proses awal dari dunia kreatif dan
menulis mereka, pengecambahan sebuah puisi, atau sebuah karya fiksi.
“Inspirasi” menjadi garis besar dalam rangkuman dari intisari pemikiran para
pengarang dunia tentang proses kreatif dan bagaimana mereka menulis pada
mulanya.
[3]
Letter form the Editor:
Majalah
The Paris Review (2018) secara ekslusif menerbitkan The
Writer’s Chapbook, sebuah jilid buku yang berisi intisari-intisari dari
rentetan wawancara dengan pengarang-pengarang yang muncul di majalah tersebut
sejak tahun 1953. Apa yang ditulis kemudian adalah diskusi-diskusi para
pengarang tentang proses awal dari dunia kreatif dan menulis mereka,
pengecambahan sebuah puisi, atau sebuah karya fiksi. “Inspirasi” menjadi garis
besar dalam rangkuman dari intisari pemikiran para pengarang dunia tentang
proses kreatif dan bagaimana mereka menulis pada mulanya.
[4]
Letter form the Editor:
Majalah
The Paris Review (2018) secara ekslusif menerbitkan The
Writer’s Chapbook, sebuah jilid buku yang berisi intisari-intisari dari
rentetan wawancara dengan pengarang-pengarang yang muncul di majalah tersebut
sejak tahun 1953. Apa yang ditulis kemudian adalah diskusi-diskusi para
pengarang tentang proses awal dari dunia kreatif dan menulis mereka,
pengecambahan sebuah puisi, atau sebuah karya fiksi. “Inspirasi” menjadi garis
besar dalam rangkuman dari intisari pemikiran para pengarang dunia tentang
proses kreatif dan bagaimana mereka menulis pada mulanya.
27 June 2026
16 February 2026
09 June 2026
04 June 2026
02 March 2026