Saul Bellow: Kita Semua Punya Pembisik
Kadang hanya bunyi-bunyian, yang kucoba untuk interpretasi, terkadang paragraf-paragraf utuh, sangat seksama.
BY MARLINA SOPIANA
Aku mengira
bahwa kita semua memiliki seorang pembisik atau komentator yang primitif yang
sejak tahun-tahun pertama telah menyediakan saran untuk kita, memberitahu kita
bagaimana dunia yang sesungguhnya. Ada seorang komentator semacam itu dalam
diriku.[1]
Aku harus
menyiapkan landasan baginya. Dari sumber ini muncul kata-kata, frasa-frasa,
suku-suku kata; kadang hanya bunyi-bunyian, yang kucoba untuk interpretasi,
terkadang paragraf-paragraf utuh, sangat seksama.
Saat E. M.
Foster mengatakan, “Bagaimana caranya aku mengetahui apa yang kupikirkan sampai
aku mendengar apa yang kukatakan?” dia mungkin saja merujuk pada pembisik
miliknya sendiri.
Terdapat
instrumen pemeriksaan seperti itu dalam diri kita-pada masa kanak-kanak dalam
tingkatan apa pun. Pada penampakan wajah seorang lelaki, sepatunya, warna-warna
cahaya, mulut seorang perempuan atau mungkin saja telinganya, kita menerima
kata-kata, sebuah frasa, pada saat itu tak berarti apa-apa selain suku kata
yang tak masuk akal dari sang komentator yang primitif.[2]
[1] Letter form the Editor:
Majalah The Paris Review
(2018) secara ekslusif menerbitkan The Writer’s Chapbook,
sebuah jilid buku yang berisi
intisari-intisari dari rentetan wawancara dengan pengarang-pengarang yang
muncul di majalah tersebut sejak tahun 1953. Apa yang ditulis kemudian adalah
diskusi-diskusi para pengarang tentang proses awal dari dunia kreatif dan
menulis mereka, pengecambahan sebuah puisi, atau sebuah karya fiksi.
“Inspirasi” menjadi garis besar dalam rangkuman dari intisari pemikiran para
pengarang dunia tentang proses kreatif dan bagaimana mereka menulis pada
mulanya.
[2] Saul
Bellow adalah seorang penulis Kanada-Amerika. Atas karya sastranya, Bellow
dianugerahi Hadiah Pulitzer, Hadiah Nobel Sastra tahun 1976, dan Medali Seni
Nasional.
Managing Editor Galeri Buku Jakarta. Lulusan filsafat Universitas Indonesia. Sekarang adalah pekerja di startup pendidikan Indonesia. Ia menerjemahkan bacaan sebagai hobi dan menyukai kisah Frankenstein lebih dari karya-karya Murakami.