JUL. 13, 2026

Saul Bellow: Kita Semua Punya Pembisik

Aku harus menyiapkan landasan baginya. Dari sumber ini muncul kata-kata, frasa-frasa, suku-suku kata; kadang hanya bunyi-bunyian, yang kucoba untuk interpretasi, terkadang paragraf-paragraf utuh, sangat seksama.

Foto Penulis

By Ismiati Andini

Aku mengira bahwa kita semua memiliki seorang pembisik atau komentator yang primitif yang sejak tahun-tahun pertama telah menyediakan saran untuk kita, memberitahu kita bagaimana dunia yang sesungguhnya. Ada seorang komentator semacam itu dalam diriku.[1]

Aku harus menyiapkan landasan baginya. Dari sumber ini muncul kata-kata, frasa-frasa, suku-suku kata; kadang hanya bunyi-bunyian, yang kucoba untuk interpretasi, terkadang paragraf-paragraf utuh, sangat seksama.

Saat E. M. Foster mengatakan, “Bagaimana caranya aku mengetahui apa yang kupikirkan sampai aku mendengar apa yang kukatakan?” dia mungkin saja merujuk pada pembisik miliknya sendiri.

Terdapat instrumen pemeriksaan seperti itu dalam diri kita-pada masa kanak-kanak dalam tingkatan apa pun. Pada penampakan wajah seorang lelaki, sepatunya, warna-warna cahaya, mulut seorang perempuan atau mungkin saja telinganya, kita menerima kata-kata, sebuah frasa, pada saat itu tak berarti apa-apa selain suku kata yang tak masuk akal dari sang komentator yang primitif.

 

Truman Capote: Idemu akan Selalu Menghantuimu

Aku selalu mempunyai ilusi bahwa keseluruhan dari sebuah cerita, permulaannya dan bagian pertengahan dan bagian akhir, terjadi secara simultan dalam pikiranku—ketika aku melihatnya dalam sekejap. Tetapi ketika mengerjakannya, menuliskannya, kejutan-kejutan yang tak berhingga terjadi. Puji Tuhan, karena kejutan, pelintirannya, frasa-frasa yang muncul begitu saja diwaktu yang tepat, adalah keuntungan yang tak terduga, dorongan kecil yang menyenangkan yang membuat penulis terus bekerja.

Suatu masa aku terbiasa menyimpan buku-buku catatan dengan kerangka cerita. Tapi aku mendapati entah bagaimana hal ini mematikan ide dalam imajinasiku. Jika gagasannya cukup baik, jika itu benar-benar milikmu, kau tak akan bisa melupakannya… ia akan menghantuimu sampai kau menuliskanya.[2]

 

John Ashbery: Ide Sering Muncul dengan Cara Misterius

Sebuah ide bisa saja datang padaku, sesuatu yang sangat banal-sebagai contoh, tidakkah aneh rasanya untuk dapat berbicara dan berpikir pada saat yang sama? Itu bisa menjadi ide untuk sebuah puisi. Atau bisa saja kata-kata atau frasa-frasa tertentu menarik perhatianku dengan sebuah makna yang tidak kusadari sebelumnya. Begitu juga, aku sering menyimpan sesuatu yang kudengar orang lain ucapkan, di jalan misalnya. Tiba-tiba saja sesuatu menetapkan dirinya dalam aliran yang berputar dalam diriku dan tampak mempunyai signifikansi.[3]

Sebenarnya, ada sebuah contoh soal itu dalam sajak ini, “Whar is Poetry.” Di sebuah toko buku aku tak sengaja mendengar seorang bocah laki-laki mengatakan baris terakhir ini pada seorang gadis: “It might give us– what? – some flower soon?” Aku tidak tahu apa konteksnya, tapi secara tak terduga itu terasa seperti jalan untuk menutup sajakku.

Aku seorang yang yakin pada kebetulan-kebetulan yang tak disengaja. Penutup sajakku yang berjudul “Clepsydra,” dua baris terakhir, datang dari sebuah buku catatan yang kusimpan beberapa tahun sebelumnya, selama kunjungan pertamaku ke Italia. Sesungguhnya aku menulis beberapa sajak selama aku bepergian, yang mana tak biasa kulakukan, tetapi saat itu aku sangat bersemangat atas kunjungan pertamaku disana. Hingga beberapa tahun kemudian, ketika aku sedang berusaha menutup “Clepsydra” dan merasa sangat gugup, aku tiba-tiba saja membuka buku catatan itu dan memenukan kedua baris itu yang telah benar-benar kulupakan; “while morning is still and before the body/ Is changed by the faces of evening.” Mereka benar-benar apa yang kubutuhkan saat itu.

Tapi tak teralu penting seperti apa contoh tunggal ini. Seringkali aku akan mencatat ide-ide dan frasa-frasa, dan kemudian ketika aku siap untuk menulis aku tidak dapat menemukannya. Tapi itu pun tak membuat banyak perbedaan, karena apapun yang muncul pada saat itu akan memiliki kualitas yang sama. Apapun yang ada disana dapat tergantikan.

Sebenarnya, seringkali saat merevisi aku akan menghilangkan ide yang merupakan penggagas awalnya. Kukira aku lebih tertarik pada pergerakan di antara ide-ide daripada ide-ide itu sendiri, cara sebuah ide bergerak dari satu titik ke titik yang lain ketimbang tujuannya atau asal mulanya.

Jon Barth: Yang Dipikirkan Pengarang Sebelum Menulis Novel

Buku yang berbeda dimulai dengan cara-cara yang berbeda.[4] Aku terkadang berharap bahwa aku semacam penulis yang memulai dengan ketertarikan yang bergairah dengan sesosok karakter dan kemudian, sebagaimana kudengar penulis-penulis lain mengatakan, berikan saja karakter itu sedikit ruang dan lihat apa yang ingin dia lakukan. Aku bukan penulis semacam itu. Lebih sering aku memulai dengan sebuah bentuk atau wujud, bisa jadi sebuah gambar. Perahu yang mengambang, sebagai contoh, yang menjadi tokoh sentral dalam The Floating Opera, merupakan photo dari sebuah kapal pertunjukkan sesungguhnya yang aku ingat pernah melihatnya saat masih kecil. Namanya ternyata Captain Adams’ Original Unparalleled Floating Opera, dan ketika alam, dengan cara yang tak menyenangkan, menghadiahimu gambar itu, satu-satunya hal mulia yang harus dilakukan adalah menulis sebuah novel tentangnya. Ini mungkin bukan pendekatan yang paling mulia. Aleksandr Solzhenitsyb, sebagai contoh, hadir dalam media fiksi dengan sebuah tujuan moral yang tinggi; dia ingin, dunia literatur, mencoba untuk mengubah dunia melalui media seperti novel. Aku menghormati dan mengagumi maksud itu, tetapi seringnya seorang penulis besar akan menuliskan novelnya dengan tujuan yang tidak lebih mulia dibandingkan dengan upaya mengecilkan pemerintahan Soviet. Henry James ingin menulis sebuah buku dalam bentuk sebuah jam pasir. Flaubert ingin menulis sebuah novel tentang nothing. Apa yang kupelajari adalah bahwa keputusan dari inspirasi-inspirasi untuk bernyanyi atau tidak bukan didasarkan pada keluhuran dari tujuan moralmu-mereka akan menyanyi atau tidak, apapun keadaannya.

John Berryman: Puisi Selalu Menemukan Jalannya Sendiri

 

Pertanyaan yang muncul setelah The Dream Songs adalah bilamana aku akan berusaha menulis sebuah puisi yang panjang lagi, dan kupikir itu tidak mungkin, jadi aku tidak berharap untuk menulis bait-bait lagi.

Tapi tiba-tiba suatu hari di musim dingin tahun lalu aku menuliskan satu baris: “I fell in love with a girl.” Aku memerhatikannya, dan aku tak dapat menemukan ada yang salah dengan baris itu. Aku berpikir, “Sial, hal itu nyata” Aku merasa, seperti seorang temanku mengatakan, “merasa nyaman dengan hal itu.” Dan aku memerhatikannya sampai aku memikirkan sebuah baris kedua, dan kemudian baris ketiga, dan kemudian baris keempat, dan jadilah sebuah stanza. Tak berima. Dan semakin kuperhatikan, semakin aku menyukainya, jadi aku menulis stanza kedua. Dan kemudian aku menulis lebih banyak stanza, dan tahukah kau? Aku memliki sebuah lirik sajak, dan itu sangat bagus. Aku tak pernah tahu aku memilikinya dalam diriku! Jadi, ketika hari berikutnya aku menggubah sebuah stanza, mengubah beragam baris, disana sini, tapi segera setelahnya hal itu terlihat klasik.

Seklasik salah satu dari puisi-puisi Rubaiyat-tanpa keniscayaan rima dan matra, tetapi dengan keniscayaan-keniscayaannya sendiri. Kukira itu sebagus puisi-puisi awalku, dan beberapa dari mereka sangatlah bagus; kebanyakan dari mereka tidak, tapi beberapa memang bagus. Lebih jauh, baris-baris itu tidak mempunyai kemiripan dengan bait manapun yang pernah kutulis seumur hidupku, dan lebih jauh lagi, subjeknya sama sekali baru, benar-benar dan hanya tentang diriku sendiri. Tak ada yang lain. Sebuah subjek dimana aku adalah seorang ahlinya. Tak ada seorang pun yang bisa membantahku.

Aku percaya dengan teguh atas otoritas dari pembelajaran. Alasan mengapa Milton merupakan penyair terbesar Inggris kecuali untuk Shakespeare adalah karena otoritas dari pembelajarannya. Aku sarjana di bidang-bidang tertentu, tetapi subjek yang aku mempunyai otoritas penuh atasnya adalah diriku, jadi aku menghapus semua kepura-puraan dan mulai bekerja. Dalam lima atau enam minggu aku memiliki sesuatu yang tampak jelas sebagai sebuah buku berjudul Love & Fame.

Aku memiliki dua puluh empat puisi dan bersiap untuk mencetaknya, tetapi mereka semua sangat aneh, sangat tidak mirip karya-karyaku sebelumnya, karena itu aku merasa sedikit khawatir. Aku mendapat dorongan dari satu atau dua teman, tapi aku masih tak tahu apa yang harus dilakukan.

Aku sebelumnya sudah mengirimkan puisi pertama kepada Arthur Crook di Times Literary Supplement. Dia senang membacanya dan mengirimkanku sebuah contoh cetakan. Aku, sebaliknya, merasa senang bahwa dia menyukainya, jadi aku mengoreksi contoh cetakannya dan mengirimkannya lima puisi lagi-Aku tidak ingin puisi itu tampil sendirian. Jadi dia mencetak keenamnya, yang mengisi satu halaman penuh-sangat indah secara tipografi-dan ini semakin membesarkan hati.

Tapi aku masih tak yakin. Sementara itu, aku sedang berada di rumah sakit. Aku seorang pencemas. Aku telah kehilangan sembilan belas pon dalam lima minggu dan minum-minum banyak sekali-satu quart per hari. Jadi aku meminta penerbitku di New York, Giroux, mengkopi selusin salinan, yang aku kirimkan kepada teman-temanku diseluruh negeri untuk mendapatkan opini mereka. Itu adalah hal yang aneh untuk dilakukan-Aku tak pernah mendengar orang lain melakukannya-tapi aku melakukannya, mencari penguatan diri, konfirmasi, menginginkan kritik, dan seterusnya, dan aku mendapat sejumlah kritik yang sangat baik. Dick Wilbur memilih “Shirley & Auden”, salah satu lirik yang paling penting di bagian pertama-beberapa sajak yang lain begitu ringan, dan yang lainnya sangat ambisius- dan menjadikannya sengsara. Dan aku setuju-aku mengadopsi hampir semua saran.

Aku juga mendapat sejumlah konfirmasi dan penguatan diri, akan tetapi ada opini-opini yang lain juga. Edmund Wilson, yang pendapatnya sangat aku hargai, mendapati buku itu tak punya harapan. Dia mengatakan terdapat beberapa baris yang baik dan bait-bait yang menohok. Bagaimana kau menyukainya? Itu seperti mengatakan kepada seorang perempuan cantik, “Aku menyukai kuku kelingkingmu yang sebelah kiri; itu benar-benar manis,” sementara perempuan itu berdiri telanjang bulat tampak seperti Venus. Aku sangat terluka karena surat itu. Dan kemudian respon-respon yang lain sangatlah aneh. Mark Van Doren, guruku, seorang teman lama dan seorang hakim yang luar biasa bagi puisi, juga menulis. Aku lupa tepatnya yang dia katakan, tapi dia sangat serius dengan buku itu. Dia mengatakan hal-hal seperti “orisinil,” dan “akan berpengaruh”, dan “akan menjadi populer,” dan seterusnya, tapi “juga akan ditakuti dan dibenci.”

Sungguh surat yang sangat mengejutkan! Aku membutuhkan berhari-hari hingga aku terbiasa dengan surat itu, dan aku membutuhkan lebih banyak hari lagi untuk memahami maksudnya. Tapi sekarang aku mengerti apa yang yang dia maksud.

Sejumlah puisinya mengancam, sangat mengancam untuk sebagian pembaca, tak ada keraguan untuk itu. Sebagaimana beberapa orang menganggapku mengancam-berada dalam satu ruangan denganku membuat mereka gila. Dan kemudian ada cukup banyak kecabulan dalam sajak-sajak itu juga. Dan ada begitu banyak belas kasihan dalam sajak-sajak terakhir, yang akan mengganggu banyak orang.

Kau tahu, negeri ini penuh dengan para ateis, dan mereka benar-benar akan merasa diri mereka terancam oleh puisi-puisi itu. Majalah The Saturday Review mencetak lima dari puisi-puisi itu, dan aku menerima banyak sekali surat tentang itu- lagi-lagi menyampaikan opini yang sangat beraneka ragam.

Beberapa orang setulusnya hanya berterimakasih karena aku memberitahu mereka bagaimana menempatkan apa yang mereka rasakan selama bertahun-tahun. Dan ada orang-orang lain yang membencinya—mereka tak menyebutnya tak tulus, tapi mereka hanya tak bisa memercayainya.

 

 



[1] Letter form the Editor: Majalah The Paris Review (2018) secara ekslusif menerbitkan The Writer’s Chapbook, sebuah jilid buku yang berisi intisari-intisari dari rentetan wawancara dengan pengarang-pengarang yang muncul di majalah tersebut sejak tahun 1953. Apa yang ditulis kemudian adalah diskusi-diskusi para pengarang tentang proses awal dari dunia kreatif dan menulis mereka, pengecambahan sebuah puisi, atau sebuah karya fiksi. “Inspirasi” menjadi garis besar dalam rangkuman dari intisari pemikiran para pengarang dunia tentang proses kreatif dan bagaimana mereka menulis pada mulanya.

 

[2] Letter form the Editor: Majalah The Paris Review (2018) secara ekslusif menerbitkan The Writer’s Chapbook, sebuah jilid buku yang berisi intisari-intisari dari rentetan wawancara dengan pengarang-pengarang yang muncul di majalah tersebut sejak tahun 1953. Apa yang ditulis kemudian adalah diskusi-diskusi para pengarang tentang proses awal dari dunia kreatif dan menulis mereka, pengecambahan sebuah puisi, atau sebuah karya fiksi. “Inspirasi” menjadi garis besar dalam rangkuman dari intisari pemikiran para pengarang dunia tentang proses kreatif dan bagaimana mereka menulis pada mulanya.

 

[3] Letter form the Editor: Majalah The Paris Review (2018) secara ekslusif menerbitkan The Writer’s Chapbook, sebuah jilid buku yang berisi intisari-intisari dari rentetan wawancara dengan pengarang-pengarang yang muncul di majalah tersebut sejak tahun 1953. Apa yang ditulis kemudian adalah diskusi-diskusi para pengarang tentang proses awal dari dunia kreatif dan menulis mereka, pengecambahan sebuah puisi, atau sebuah karya fiksi. “Inspirasi” menjadi garis besar dalam rangkuman dari intisari pemikiran para pengarang dunia tentang proses kreatif dan bagaimana mereka menulis pada mulanya.

[4] Letter form the Editor: Majalah The Paris Review (2018) secara ekslusif menerbitkan The Writer’s Chapbook, sebuah jilid buku yang berisi intisari-intisari dari rentetan wawancara dengan pengarang-pengarang yang muncul di majalah tersebut sejak tahun 1953. Apa yang ditulis kemudian adalah diskusi-diskusi para pengarang tentang proses awal dari dunia kreatif dan menulis mereka, pengecambahan sebuah puisi, atau sebuah karya fiksi. “Inspirasi” menjadi garis besar dalam rangkuman dari intisari pemikiran para pengarang dunia tentang proses kreatif dan bagaimana mereka menulis pada mulanya.


Ismiati Andini

ISMIATI ANDINI

pp