Philip Roth: Kalimat Pembuka Novel Butuh Perjuangan
Aku mengetikkan permulaan dan mereka sangat buruk, lebih seperti sebuah parodi tak sadar dari buku terakhirku ketimbang pemutusan hubungan darinya yang kuinginkan.
BY ADDI M IDHAM
Memulai sebuah buku tidaklah menyenangkan. Aku sepenuhnya tak yakin tentang karakter dan kesulitan hidupnya, dan sebuah karakter dengan kesulitannya adalah hal yang harus kupunya untuk memulai. Lebih buruk dari tidak mengetahui subjekmu adalah tak tahu bagaimana memperlakukannya, karena pada akhirnya itu adalah segalanya.
Aku mengetikkan permulaan dan mereka sangat buruk, lebih seperti sebuah parodi
tak sadar dari buku terakhirku ketimbang pemutusan hubungan darinya yang
kuinginkan. Aku butuh sesuatu menyetir fokus utama bukunya, sebuah magnet untuk
menarik segala hal padanya-itulah yang kucari selama bulan-bulan pertama dalam
menulis sesuatu yang baru. [1]
Aku seringkali harus menulis seratus halaman atau lebih sebelum mendapatkan paragraf yang hidup. Baiklah, kukatakan pada diri sendiri, itulah permulaanmu, mulai dari sana; itulah paragraf pertama dari bukunya. Aku akan menelusuri pekerjaan selama enam bulan pertama dan menggarisbawahi dengan warna merah sebuah paragraf, sebuah kalimat, kadang tak lebih dari sebuah frasa, yang memiliki kehidupan di dalamnya, dan kemudian aku mengetikkan semuanya pada satu halaman. Biasanya tidak akan lebih dari satu halaman, tapi jika aku beruntung, itulah awal dari halaman pertama.
Aku mencari semacam kehidupan untuk mengatur
nadanya. Setelah permulaan yang buruk datanglah bulan-bulan permainan meluncur
bebas, dan setelah permainan itu datanglah krisis, berubah melawan materimu dan
membenci buku itu.[2]
[1] Philip
Milton Roth adalah seorang novelis dan penulis cerita pendek Amerika. Fiksi
Roth—yang sering berlatar di tempat kelahirannya di Newark, New Jersey—dikenal
karena karakternya yang sangat autobiografis, dan filosofis.
[2] Letter form
the Editor: Majalah The Paris Review (2018) secara ekslusif menerbitkan The Writer’s Chapbook, sebuah jilid buku yang berisi intisari-intisari dari rentetan wawancara
dengan pengarang-pengarang yang muncul di majalah tersebut sejak tahun 1953.
Apa yang ditulis kemudian adalah diskusi-diskusi para pengarang tentang proses
awal dari dunia kreatif dan menulis mereka, pengecambahan sebuah puisi, atau
sebuah karya fiksi. “Inspirasi” menjadi garis besar dalam rangkuman dari
intisari pemikiran para pengarang dunia tentang proses kreatif dan bagaimana
mereka menulis pada mulanya. Galeri Buku Jakarta memuat lebih utuh Inspirasi
pengarang dunia ini dalam buku “Memikirkan Kata” (2019)
Enim sed consequatur voluptas dolor eligendi id. Repellendus est non voluptatem ad aliquam vel ad. Est officiis maiores dolor quia recusandae.