E. L. Doctorow: Saat Ide Menulis Macet dan Pengarang Putus Asa
Aku terus berpikir tentang bayangan-bayangan itu dan merasa heran darimana hal itu berasal.
BY MARLINA SOPIANA
Ya, itu
bisa berwujud apa saja. Bisa saja sebuah suara, sebuah gambar; bisa jadi sebuah
momen terdalam dari keputusasaan diri. Misalnya, dengan Ragtime aku sedang sangat putus asa untuk menulis, aku menghadap
dinding ruang kerjaku di rumahku yang berada di New Rochelle dan jadilah aku
mulai menulis tentang dinding itu. Itu salah satu jenis hari yang terkadang
kita alami, sebagai penulis. Kemudian aku menulis tentang rumah yang menempel
dengan dinding itu. Rumah itu dibangun tahun 1906, kau paham, jadi aku
memikirkan tentang era itu dan bagaimana Broadview Avenue terlihat pada masa
itu: mobil-mobil trem listrik berjalan melalui jalan raya yang berada dibawah
bukit itu; orang-orang mengenakan baju berwarna putih pada musim panas agar
tetap sejuk. Waktu itu Teddy Roosevelt seorang presiden. [1]
Satu hal
menuntun ke hal lain dan begitulah buku itu dimulai, melalui keputusasaan
menuju gambaran-gambaran itu. Dengan Loon
Lake, sangat berbeda, itu hanya sebuah perasaan yang kuat tentang sebuah
tempat, perasaan yang membuncah ketika aku menemukan diriku sendiri di
Adirondacks setelah bertahun-tahun pergi jauh…dan semua ini sampai pada titik
dimana aku melihat sebuah tanda, sebuah penanda jalan: danau Loon. Jadi itu
bisa apa saja…aku menyukai bunyi dari dua kata yang bergandengan-danau Loon.
Aku
memiliki bayangan-bayangan pembuka itu tentang sebuah kereta dengan rel pribadi
di atas trek tunggal di malam hari menanjak melalui Adirondacks dengan
sekelompok gangster di dalamnya, dan
seorang gadis cantiK berdiri, telanjang, memegangi sebuah busana berwarna putih
tepat di hadapan cermin untuk mengetahui apakah dia harus mengenakannya. Aku
tak tahu darimana para gangster itu
berasal. Aku tahu kemana mereka akan pergi-ke kamp seorang lelaki kaya.
Bertahun-tahun lalu orang yang sangat kaya raya menemukan alam liar di
pegunungan paling timur Amerika. Mereka membangun kamp yang sangat luar biasa
itu-C. W. Post.
Harriman,
Morgan-mereka menjadikan alam liar itu kemewahan bagi mereka sendiri. Jadi aku
membayangkan sebuah kamp semacam ini, dengan para gangster itu, orang-orang kelas bawah itu pergi ke atas menumpang
sebuah kereta dengan rel pribadi. Itulah yang membuatku memulai. Aku mempublikasikan
materi ini di Kenyon Review, tetapi
aku tidak terpuaskan. Aku terus berpikir tentang bayangan-bayangan itu dan
merasa heran darimana hal itu berasal. Latar waktunya adalah tahun 1930an,
benar-benar saat terakhir seseorang dapat memiliki jalur kereta mobil pribadi,
seperti halnya saat ini orang-orang memiliki jalur jet pribadi. Terjadi sebuah
krisis ekonomi saat itu, jadi orang yang menyaksikan kereta yang mengagumkan
ini pastilah seorang tunawisma, seorang pejalan kaki. Lalu aku mendapatkan karakterku,
Joe, diluar sana dalam kedinginan cuaca seperti ini, kegelapan semacam ini,
melihat lampu utama mesin itu menuju kelokan dan membutakannya, dan kemudian
selagi kereta itu berlalu menyaksikan orang-orang itu di meja-meja dengan tabir
hijau disuguhi minuman-minuman dan gadis itu berdiri di sebuah kamar
kompartemen menggenggam gaunnya. Dan pada saat fajar, dia mengikuti lintasan ke
arah kereta itu berlalu. Dan dia pergi dan berlari, dan begitu pun diriku.[2]
[1] Edgar
Lawrence Doctorow adalah seorang novelis, editor, dan profesor Amerika, yang
terkenal karena karya-karya fiksi sejarahnya. Ia menulis dua belas novel, tiga
volume cerita pendek, dan sebuah drama panggung, termasuk novel-novel pemenang
penghargaan Ragtime, Billy Bathgate, dan The March.
[2] Letter form the Editor:
Majalah
The Paris Review (2018) secara ekslusif
menerbitkan The
Writer’s Chapbook, sebuah jilid buku yang berisi intisari-intisari
dari rentetan wawancara dengan pengarang-pengarang yang muncul di majalah
tersebut sejak tahun 1953. Apa yang ditulis kemudian adalah diskusi-diskusi
para pengarang tentang proses awal dari dunia kreatif dan menulis mereka,
pengecambahan sebuah puisi, atau sebuah karya fiksi. “Inspirasi” menjadi garis
besar dalam rangkuman dari intisari pemikiran para pengarang dunia tentang
proses kreatif dan bagaimana mereka menulis pada mulanya.
Neque laborum est voluptas nihil nesciunt voluptas. Officia nisi quia dolorem nisi praesentium ut debitis. Repellendus deleniti in quia at eveniet dolorem sequi eius.