May Sarton: Puisiki untuk Mereka yang Tak Menyukai Puisi
Terkadang itu merupakan hasil dari hubungan percintaan yang panjang, seperti halnya dengan sajak-sajak “The Divorce of Lovers”, rangkaian sonata itu. Akan tetapi tidak selalu.
BY ADDI M IDHAM
Banyak dari sajak-sajakku merupakan sajak-sajak cinta.[1] Aku hanya mampu menuils puisi, sebagian besar, saat aku mempunyai sebuah inspirasi, seorang perempuan yang memfokuskan dunia untukku. Dia mungkin saja seorang kekasih, mungkin saja bukan.[2]
Dalam satu
kasus dia adalah seseorang yang hanya kulihat satu kali, saat makan siang di
dalam sebuah ruangan penuh dengan banyak orang lain, dan aku menulis satu buku
penuh sajak-sajak. Banyak dari sajak-sajak itu belum dipublikasikan. Tapi
inilah misterinya. Sesuatu terjadi yang menyentuh sumber dari puisi dan
menyalakannya. Terkadang itu merupakan hasil dari hubungan percintaan yang
panjang, seperti halnya dengan sajak-sajak “The Divorce of Lovers”, rangkaian
sonata itu. Akan tetapi tidak selalu. Jadi siapa hadirin untuk puisiku?
Hadirinku adalah orang yang kucintai. Tetapi biasanya “orang yang kucintai”
tidak benar-benar tertarik pada sajak-sajak.
[1] Eleanore
Marie Sarton, yang dikenal dengan nama pena May Sarton, adalah seorang novelis,
penyair, dan penulis memoar berkebangsaan Belgia dan Amerika. Yang menarik,
Sarton secara terbuka menyatakan dirinya sebagai lesbian dalam tulisannya pada
tahun 1965, suatu masa ketika hal itu sangat tidak lazim dilakukan.
[2] Letter form
the Editor: Majalah The Paris Review (2018) secara ekslusif menerbitkan The Writer’s Chapbook, sebuah jilid buku yang berisi intisari-intisari dari rentetan wawancara
dengan pengarang-pengarang yang muncul di majalah tersebut sejak tahun 1953.
Apa yang ditulis kemudian adalah diskusi-diskusi para pengarang tentang proses
awal dari dunia kreatif dan menulis mereka, pengecambahan sebuah puisi, atau
sebuah karya fiksi. “Inspirasi” menjadi garis besar dalam rangkuman dari intisari
pemikiran para pengarang dunia tentang proses kreatif dan bagaimana mereka
menulis pada mulanya. Galeri Buku Jakarta memuat lebih utuh Inspirasi
pengarang dunia ini dalam buku “Memikirkan Kata” (2019)
Enim sed consequatur voluptas dolor eligendi id. Repellendus est non voluptatem ad aliquam vel ad. Est officiis maiores dolor quia recusandae.