Puisi Zulfan Fauzi

EDITORIAL TEAM GBJ, A NEWS WRITER FOR THE CUT WHO COVERS POP CULTURE AND CELEBRITY.
AUG. 07, 2026
Main Image
Photo-Illustration: Vulture; Photos: Publisher

Ia Ingin Pergi ke Jakarta


Ia ingin pergi ke Jakarta, jalan-jalan ke Monas.

Lalu foto-foto di sana.

Ia ingin pergi ke Jakarta. Di kota lama, suatu tempat yang dulu bernama Batavia, ia ingin berkeliling naik sepeda di sana.

Konon, J.P Coen, dulu sekali. Bertahun-tahun yang lampau, di masa yang jauh itu seorang gubernur jenderal yang awalnya hanya seorang juru catat di perusahaan dagang Belanda pernah membabat habis warga pulau Banda.

Di tanah tumbuhnya fulli dan pala, Banda dipupuki darah dan air mata.

Ia ingin pergi ke Jakarta, jalan-jalan ke pasar buah. Lalu mempraktikkan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Nanti, kepada ibu-ibu pedagang buah yang berpeluh karena renta, karena sibuk bersikutan dengan waktu-pula terus berkelahi dengan perubahan zaman, ia akan bertanya.

“Berapakah harga sekeranjang apel ini?” Tentu dengan interjeksi meninggi.

Karena ini kalimat tanya.

Di Jakarta, dalam mimpi-mimpinya yang paling muluk adalah tanah tempat kau menanam harapan yang takkan hanya jadi sekedar angan.

Di dalam Tv, di Jakarta sana. Ia melihat orang-orang bernyanyi lalu menari, kemudian segala mimpi-mimpinya menjadi nyata.

Di Jakarta, ia akan melanglang buana lalu jatuh cinta dengan gadis yang tak biasa-biasa saja, karena ini toh Jakarta. Tukang tambal ban cantik, tukang gorengan cantik, tukang ojek cantik, semua tumpek blek di sana.

Tentu pula, ada tukang mi ayam ganteng, tukang siomay ganteng. Tak ada satupun yang buruk rupa. Karena itu Jakarta, tempat di mana orang paling rupawan harus berada.

Pula, ia takjub dengan Jakarta. Bagaimana mungkin hanya bermodal “hallo guys” di sebuah kanal dunia maya orang bisa menjadi sangat kaya. Semua itu diluar segala akalnya.

Ia ingin pergi ke Jakarta belajar politik di sana. Ia akan mendemo apa saja, apakah karena pejabat lupa pasang dasi, ataukah warna pakaian, celana dan jas tak serasi.

Atau mungkin saja, jika masih ada. Ia akan mendemo tentang di suatu sudut di negeri ini masih ada anak kekurangan gizi.

Lalu, ia memandang hamparan hijau di hadapannya. Sebuah pematang sawah yang bergerus dan bergesekkan dengan zaman. Kabarnya sepetak sawah ini sudah ditawar dua milyar rupiah.                         

 


EDITORIAL TEAM GBJ

Bersama para penulis dan kontributor Galeri Buku Jakarta yang dicintai pembacanya. Galeri Buku Jakarta selalu memiliki misi ganda: untuk mempromosikan penulis yang paling menarik dan untuk mendukung pembaca yang ambisius dan ingin tahu.