Puisi Zulfan Fauzi
Ia Ingin Pergi ke Jakarta
Ia ingin pergi ke Jakarta, jalan-jalan ke Monas.
Lalu foto-foto di sana.
Ia ingin pergi ke Jakarta. Di kota lama, suatu tempat yang
dulu bernama Batavia, ia ingin berkeliling naik sepeda di sana.
Konon, J.P Coen, dulu sekali. Bertahun-tahun yang lampau, di
masa yang jauh itu seorang gubernur jenderal yang awalnya hanya seorang juru
catat di perusahaan dagang Belanda pernah membabat habis warga pulau Banda.
Di tanah tumbuhnya fulli dan pala, Banda dipupuki darah dan
air mata.
Ia ingin pergi ke Jakarta, jalan-jalan ke pasar buah. Lalu
mempraktikkan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Nanti, kepada ibu-ibu pedagang buah yang berpeluh karena
renta, karena sibuk bersikutan dengan waktu-pula terus berkelahi dengan
perubahan zaman, ia akan bertanya.
“Berapakah harga sekeranjang apel ini?” Tentu dengan
interjeksi meninggi.
Karena ini kalimat tanya.
Di Jakarta, dalam mimpi-mimpinya yang paling muluk adalah
tanah tempat kau menanam harapan yang takkan hanya jadi sekedar angan.
Di dalam Tv, di Jakarta sana. Ia melihat orang-orang
bernyanyi lalu menari, kemudian segala mimpi-mimpinya menjadi nyata.
Di Jakarta, ia akan melanglang buana lalu jatuh cinta dengan
gadis yang tak biasa-biasa saja, karena ini toh Jakarta. Tukang tambal ban
cantik, tukang gorengan cantik, tukang ojek cantik, semua tumpek blek di sana.
Tentu pula, ada tukang mi ayam ganteng, tukang siomay
ganteng. Tak ada satupun yang buruk rupa. Karena itu Jakarta, tempat di mana
orang paling rupawan harus berada.
Pula, ia takjub dengan Jakarta. Bagaimana mungkin hanya
bermodal “hallo guys” di sebuah kanal dunia maya orang bisa menjadi sangat
kaya. Semua itu diluar segala akalnya.
Ia ingin pergi ke Jakarta belajar politik di sana. Ia akan
mendemo apa saja, apakah karena pejabat lupa pasang dasi, ataukah warna
pakaian, celana dan jas tak serasi.
Atau mungkin saja, jika masih ada. Ia akan mendemo tentang
di suatu sudut di negeri ini masih ada anak kekurangan gizi.
Lalu, ia memandang hamparan hijau di hadapannya. Sebuah pematang
sawah yang bergerus dan bergesekkan dengan zaman. Kabarnya sepetak sawah ini
sudah ditawar dua milyar rupiah.