Puisi Bambang Widiatmoko

Foto Penulis
GALERI BUKU JAKARTA, A NEWS WRITER FOR THE CUT WHO COVERS POP CULTURE AND CELEBRITY.
JUL. 24, 2026
Main Image
Photo-Illustration: Vulture; Photos: Publisher

Risalah Luka tentang Jakarta

 

1

Di stasiun Tanjung Priuk, cuaca terlihat terpuruk

Deretan rel baja memperlihatkan ketuaannya

Tembok tembok seperti layar raksasa

Merekam sejarah Batavia, penuh darah dan air mata

Lalu diam-diam aku bertanya,  seperti inikah Jakarta?

 

Sebagai sebuah kota yang dipersiapkan seperti di Belanda

Burgerlijke Openbare Werken bekerja dengan sepenuh jiwa

Membangun stasiun dengan arsitektur art deco

Sebagai  pintu gerbang Batavia oleh Hindia Belanda

Dan kita mengagumi seakan kita yang membangunnya?

 

Alangkah mudah kita melupakan sejarah kelam

Mengagumi stasiun untuk mengangkut rempah-rempah

Memeras kesuburan tanah dengan tenaga kerja paksa

Entah berapa ribu nyawa terhampar sepanjang rel kereta

Mencoba mencari jawab, siapakah engkau Jakarta?

 

2

Para penumpang satu per satu memasuki peron

Tak ada perubahan sejatinya sebagai masyarakat urban

Nasib hanya seperti pintu yang terbuka saat kereta tiba

Perjalanan dari stasiun demi stasiun membawa harapan

Namun selalu kandas ketika jelang malam kembali pulang.

 

Di stasiun Tanjung Priuk,  aku melihat Jakarta yang sebenarnya

Melalui keberangkatan dan kedatangan ribuan penumpang

Para pencopet telah mencopet harta yang paling berharga

Keramahtamahan dan senyuman penumpang yang hilang

Hati yang mengeras seperti deretan rel baja, makin menua.

 

Aku melihat Jakarta seperti kaca patri di dinding stasiun

Tampak indah namun disusun dari potongan-potongan  kaca

Terlihat sempurna jika dilihat dari kejauhan dan sisi yang berbeda

Tapi adakah engkau merasakan jika ada gempa  menggoyangkannya

Jakarta terlalu pandai menutupi tubuh dan jiwanya yang rapuh.[1]

 

Jakarta, 2020

 

Jakarta Ditelan Barongsay

 

Di halaman klenteng Kim Tek Le, risalah jiwa kubuka

Tubuhku telah terbawa  asap dupa yang memenuhi udara

Keyakinan terus dinyalakan bersama lilin-lilin merah

Inilah saatnya harapan diterbangkan bersama doa-doa

Ketika dewa-dewa singgah sejenak di Petak Sembilan.

 

Inilah saatnya Jakarta menggeliat dalam tubuh barongsay

Meliuk-liuk dalam kerumunan, membuka mulutnya

Menelan ampao seperti menelan nasib kita dalam lubang gelap

Tetapi tak ada pesta yang tidak berakhir

Ketika  tersadar, ternyata kita serupa bangkai di pinggiran got.

 

Masihkah kita mencari jawab siapakah Jakarta?

Jakarta adalah mimpi indah dan musnah saat tidur terjaga

Jakarta adalah lukisan panorama yang lapuk saat banjir melanda

Jakarta adalah sebuah harapan keinginan masuk istana negara

Jakarta adalah barongsay usai pentas kembali untuk disimpan.

 

Jakarta, 2020

 

Jakarta di Makam Mbah Priuk

 

Jakarta terdiam meski zikir terus menggema

Air matanya meleleh mencari jati diri yang tiada

Ribuan peziarah tampak suntuk berdoa

Di tepian makam Mbak Priuk

Jakarta duduk terkantuk-kantuk.

 

Aku melihat geliat Jakarta di pelabuhan peti kemas

Dari makam Mbah Priuk yang tersudut keberadaannya

Melihat sesuatu yang tampak sangat jauh berbeda

Zikir dan doa tak mampu mengembalikan

Jakarta yang kian nakal mengingkari asal-usulnya.

 

Siapakah Jakarta yang  berdandan dengan gedung-gedungnya

Dengan gemerlap lampu lampu di jalanan dan pertokoan

Atau temaram cahaya di tempat-tempat hiburan

Siapakah Jakarta yang tak henti didoakan

Di makam Mbah Priuk, biarlah terkubur segala pertanyaan.

 

Jakarta, 2020

 

Jakarta: Siapakah Kamu Sejatinya?

 

Aku melihat Indonesia dari mata Jakarta

Yang tersembunyi di balik tubuh besarnya

Tak mampu menampung lagi luapan air mata

Seperti banjir yang selalu merendam perkampungan

Seperti pesta cahaya dalam gemerlap jantung malamnya.

 

Aku melihat Indonesia dari mata Jakarta

Di dalam koridor koridor dan halte yang tampak berjejal

Lalu ikut bergelantungan memburu nasib dan tubuh yang penat

Dari stasiun ke stasiun menghubungkan jarak tak bergerak

Menghitung detak tarikan nafas entah tertindas atau menindas.

 

Aku melihat Indonesia dari mata Jakarta

Dengan tubuh yang kian layu dan berat menanggung rindu

Membuat peta yang seakan-akan seluas cakrawala

Lantas membayangkan di manakah akan bertempat tinggal

Mungkin  di rusunawa atau di rumah petak sederhana.

 

Melihat Indonesia dari mata Jakarta

Sejenak aku menahan luka, sejenak menahan tawa

Sejenak kehidupan seperti dimuntahkan air mancur raksasa

Seperti ondel-ondel yang menyimpan rapat rahasia

Kehidupan penari di dalam tubuhnya yang tak lagi perkasa.

 

 

Aku melihat Indonesia dari mata Jakarta

Seperti melihat puncak Monas dengan emasnya

Terlalu tinggi untuk direngkuh, terlalu angkuh untuk disentuh

Jakarta tampak sombong dan aku seperti anjing menggonggong

Membiarkan  kafilah kafilah  berlalu terus memburu waktu.

 

Aku melihat Indonesia dari mata Jakarta

Mungkin hanya tinggal setitik harapan di tengah kecemasan

Cemas memikirkan perjalanan di tengah kemacetan jalanan

Cemas melintasi jembatan penyeberangan yang bergoyang

Bahkan kecemasan telah berubah jadi bagian dari kehidupan.

 

Melihat Indonesia dari mata Jakarta

Aku  melihat ibukota seperti mata ibunda

Selalu menyorotkan kewibawaan, menyimpan rapat persoalan

Menawarkan kebahagiaan sekaligus membungkus kepedihan

Di mata ibukota aku seperti  anak baru belajar membaca.

 

Aku melihat Indonesia dari mata Jakarta

Seperti deretan buku yang dijual di kaki lima

Hanya dicari ketika diperlukan, tetap ditawar meski murah harganya

Jakarta telah tersimpan rapat di dalam buku sejarah Batavia

Dan Jakarta, aku selalu terus bertanya: siapa kamu sejatinya?

 

Jakarta, 2020

 


[1] Bambang Widiatmoko—Penyair kelahiran Yogyakarta ini memiliki kumpulan puisi tunggal al. Silsilah yang Gelisah (2017), Air Mata Sungai (2019). Sajaknya terhimpun di berbagai antologi puisi bersama al. Kepak Sayap Waktu (2020). Tegal Mas Island (2020), Jakarta dan Betawi (2020), Pringsewu Kita (2020), Mahligai Penyair Titipayung (2020). Cerpennya tergabung dalam antologi cerpen Lelaki yang Tubuhnya Habis Dimakan Ikan-ikan Kecil (2017). Ikut menulis esai di buku In Memoriam Titie Sahid, Jejak Kepergian (2012), Jaket Kuning Sukirnanto (2014), Ngelmu Iku Kelakone Kanthi Laku (2016), Apresiasi Sastra dan Perbincangan Karya (2016), Isu Sosial dalam Puisi (2017). Jabal Rahmah Perjumpaan Sastra (2018). Dosen Universitas Mercu Buana.

 


Galeri Buku Jakarta

GALERI BUKU JAKARTA

Bersama para penulis dan kontributor Galeri Buku Jakarta yang dicintai pembacanya. Galeri Buku Jakarta selalu memiliki misi ganda: untuk mempromosikan penulis yang paling menarik dan untuk mendukung pembaca yang ambisius dan ingin tahu.