Puisi Bambang Widiatmoko
Risalah
Luka tentang Jakarta
1
Di stasiun Tanjung Priuk, cuaca terlihat terpuruk
Deretan rel baja memperlihatkan ketuaannya
Tembok tembok seperti layar raksasa
Merekam sejarah Batavia, penuh darah dan air mata
Lalu diam-diam aku bertanya,
seperti inikah Jakarta?
Sebagai sebuah kota yang dipersiapkan seperti di Belanda
Burgerlijke Openbare Werken bekerja dengan sepenuh jiwa
Membangun stasiun dengan arsitektur art deco
Sebagai pintu gerbang Batavia
oleh Hindia Belanda
Dan kita mengagumi seakan kita yang membangunnya?
Alangkah mudah kita melupakan sejarah kelam
Mengagumi stasiun untuk mengangkut rempah-rempah
Memeras kesuburan tanah dengan tenaga kerja paksa
Entah berapa ribu nyawa terhampar sepanjang rel kereta
Mencoba mencari jawab, siapakah engkau Jakarta?
2
Para penumpang satu per satu memasuki peron
Tak ada perubahan sejatinya sebagai masyarakat urban
Nasib hanya seperti pintu yang terbuka saat kereta tiba
Perjalanan dari stasiun demi stasiun membawa harapan
Namun selalu kandas ketika jelang malam kembali pulang.
Di stasiun Tanjung Priuk, aku
melihat Jakarta yang sebenarnya
Melalui keberangkatan dan kedatangan ribuan penumpang
Para pencopet telah mencopet harta yang paling berharga
Keramahtamahan dan senyuman penumpang yang hilang
Hati yang mengeras seperti deretan rel baja, makin menua.
Aku melihat Jakarta seperti kaca patri di dinding stasiun
Tampak indah namun disusun dari potongan-potongan kaca
Terlihat sempurna jika dilihat dari kejauhan dan sisi yang berbeda
Tapi adakah engkau merasakan jika ada gempa menggoyangkannya
Jakarta terlalu pandai menutupi tubuh dan jiwanya yang rapuh.[1]
Jakarta, 2020
Jakarta Ditelan Barongsay
Di halaman
klenteng Kim Tek Le, risalah jiwa kubuka
Tubuhku
telah terbawa asap dupa yang memenuhi
udara
Keyakinan
terus dinyalakan bersama lilin-lilin merah
Inilah
saatnya harapan diterbangkan bersama doa-doa
Ketika
dewa-dewa singgah sejenak di Petak Sembilan.
Inilah
saatnya Jakarta menggeliat dalam tubuh barongsay
Meliuk-liuk
dalam kerumunan, membuka mulutnya
Menelan
ampao seperti menelan nasib kita dalam lubang gelap
Tetapi tak
ada pesta yang tidak berakhir
Ketika tersadar, ternyata kita serupa bangkai di
pinggiran got.
Masihkah
kita mencari jawab siapakah Jakarta?
Jakarta
adalah mimpi indah dan musnah saat tidur terjaga
Jakarta
adalah lukisan panorama yang lapuk saat banjir melanda
Jakarta
adalah sebuah harapan keinginan masuk istana negara
Jakarta
adalah barongsay usai pentas kembali untuk disimpan.
Jakarta,
2020
Jakarta di Makam Mbah Priuk
Jakarta
terdiam meski zikir terus menggema
Air matanya
meleleh mencari jati diri yang tiada
Ribuan
peziarah tampak suntuk berdoa
Di tepian
makam Mbak Priuk
Jakarta
duduk terkantuk-kantuk.
Aku melihat
geliat Jakarta di pelabuhan peti kemas
Dari makam
Mbah Priuk yang tersudut keberadaannya
Melihat
sesuatu yang tampak sangat jauh berbeda
Zikir dan
doa tak mampu mengembalikan
Jakarta
yang kian nakal mengingkari asal-usulnya.
Siapakah
Jakarta yang berdandan dengan
gedung-gedungnya
Dengan
gemerlap lampu lampu di jalanan dan pertokoan
Atau
temaram cahaya di tempat-tempat hiburan
Siapakah
Jakarta yang tak henti didoakan
Di makam
Mbah Priuk, biarlah terkubur segala pertanyaan.
Jakarta,
2020
Jakarta: Siapakah Kamu Sejatinya?
Aku melihat
Indonesia dari mata Jakarta
Yang
tersembunyi di balik tubuh besarnya
Tak mampu
menampung lagi luapan air mata
Seperti
banjir yang selalu merendam perkampungan
Seperti
pesta cahaya dalam gemerlap jantung malamnya.
Aku melihat
Indonesia dari mata Jakarta
Di dalam
koridor koridor dan halte yang tampak berjejal
Lalu ikut
bergelantungan memburu nasib dan tubuh yang penat
Dari
stasiun ke stasiun menghubungkan jarak tak bergerak
Menghitung
detak tarikan nafas entah tertindas atau menindas.
Aku melihat
Indonesia dari mata Jakarta
Dengan tubuh
yang kian layu dan berat menanggung rindu
Membuat
peta yang seakan-akan seluas cakrawala
Lantas
membayangkan di manakah akan bertempat tinggal
Mungkin di rusunawa atau di rumah petak sederhana.
Melihat
Indonesia dari mata Jakarta
Sejenak aku
menahan luka, sejenak menahan tawa
Sejenak
kehidupan seperti dimuntahkan air mancur raksasa
Seperti
ondel-ondel yang menyimpan rapat rahasia
Kehidupan
penari di dalam tubuhnya yang tak lagi perkasa.
Aku melihat
Indonesia dari mata Jakarta
Seperti melihat
puncak Monas dengan emasnya
Terlalu
tinggi untuk direngkuh, terlalu angkuh untuk disentuh
Jakarta
tampak sombong dan aku seperti anjing menggonggong
Membiarkan kafilah kafilah berlalu terus memburu waktu.
Aku melihat
Indonesia dari mata Jakarta
Mungkin
hanya tinggal setitik harapan di tengah kecemasan
Cemas
memikirkan perjalanan di tengah kemacetan jalanan
Cemas
melintasi jembatan penyeberangan yang bergoyang
Bahkan
kecemasan telah berubah jadi bagian dari kehidupan.
Melihat Indonesia
dari mata Jakarta
Aku melihat ibukota seperti mata ibunda
Selalu
menyorotkan kewibawaan, menyimpan rapat persoalan
Menawarkan
kebahagiaan sekaligus membungkus kepedihan
Di mata
ibukota aku seperti anak baru belajar
membaca.
Aku melihat
Indonesia dari mata Jakarta
Seperti
deretan buku yang dijual di kaki lima
Hanya
dicari ketika diperlukan, tetap ditawar meski murah harganya
Jakarta
telah tersimpan rapat di dalam buku sejarah Batavia
Dan
Jakarta, aku selalu terus bertanya: siapa kamu sejatinya?
Jakarta,
2020
[1] Bambang
Widiatmoko—Penyair kelahiran Yogyakarta ini memiliki kumpulan puisi tunggal al.
Silsilah yang Gelisah (2017), Air Mata Sungai (2019). Sajaknya terhimpun di berbagai
antologi puisi bersama al. Kepak Sayap Waktu (2020). Tegal Mas Island (2020), Jakarta
dan Betawi (2020), Pringsewu Kita (2020), Mahligai Penyair Titipayung (2020). Cerpennya
tergabung dalam antologi cerpen Lelaki yang Tubuhnya Habis Dimakan Ikan-ikan Kecil
(2017). Ikut menulis esai di buku In Memoriam Titie Sahid, Jejak Kepergian
(2012), Jaket Kuning Sukirnanto (2014), Ngelmu Iku Kelakone Kanthi Laku (2016),
Apresiasi Sastra dan Perbincangan Karya (2016), Isu Sosial dalam Puisi (2017).
Jabal Rahmah Perjumpaan Sastra (2018). Dosen Universitas Mercu Buana.