Puisi Faris Al Faisal
Geometri Jakarta
⌷
Melebar pandang
mataku ke Jakarta
Sebuah lukisan
kubisme, terpampang di sana
Geometri kota
terpatri puisi, seribu cahaya
Potongan perca,
kaca, dan kata
Himpunan sejuta
warna. Cita dan cinta.
□
Dalam hangat pagi
yang menyala
Aku duduk meneguk
matahari Jakarta
Menikmati
roda-roda, melintas di udara
Kiri dan kanan,
di tempat yang sama
Himpunan manusia.
Tiada kunjung reda.
∆
Aku kemudian
beranjak ke satu cerita
Berkunjung ke
masa lalu, ke Batavia
Di sini, dulu
pusat perdagangan benua Asia
Meninggalkan
sisa; Kota Tua Jakarta
Dan kisah-kisah
duka yang mulai terlupa
○
Ini kota penuh
hikayat dan riwayat
Sejarah dan
peradaban memahat
Peristiwa
berganti-ganti, penjajah angkat
Pasang dan surut,
lautan hidup naik ke darat
Jakarta, tubuhnya
terus memadat.
⌂
Dengan kemegahan
api emas berkilat
Hari-hari berlalu
begitu cepat
Mungkin sekali
atau dua kali, teringat
Gerigi mesin dan
pabrik, melesat
Meninggalkan
siapa pun yang melekat.
◊
Di istana
dan di rumah rakyat
Terserak
daun-daun aspirasi, aku lihat
Tak satu pun
memungut, membaca kalimat
Kata-kata bagai
sisik ikan yang sekarat
Denyut urat nadi
yang tersayat
⎔
Orang dan ruang
adalah komposisi
Subjek dan objek
dalam susunan lapis pelangi
Jakarta; dulu,
kini, dan nanti
Melaju dalam
sambun-menyambung instalasi
Tak berhenti,
meniti mimpi. Untuk negeri.
⌔
Permisi, permisi,
permisi
Barangkali aku
pun harus minta diri
Ke kampung
halaman, menempuh perjalanan puisi
Ke kota, lalu ke
desa. Dari selai roti, merebus ubi
Ah, akan kukenang
lagi.
⌓
Jalanan tak
pernah sepi
Dan aku merasa
paling sunyi
Perjuangan
semakin berat, menjadi-jadi
Gerbong tak
pernah kosong, selalu terisi
Aku pulang, tapi
Jakarta tak boleh mati.
Indramayu,
2019-2020
Kota
Kaudatang
kepadaku
Maka aku jadi
ada
Di sini (mereka
menyebutku kota) riuh gemuruh
Segala berlabuh
Orang-orang dan
impian
Tapi kau tak
pernah tahu
Aku adalah
roda-roda gerigi
Saat mesin
dinyalakan
Kau mendamba
Bergerak dengan
cepat
Nasib dan
peruntungan
Seperti meja-meja
judi pada sebuah kelab malam
Lalu kau
mengutukku karena kekalahan
Aku tak pernah
bermimpi menjadi tujuan
Lalu kaulumuri
wajahku:
-
Jelaga
pabrik
-
Tempat
kumuh
-
Bedak
kosmetik dan perempuan binal
-
Lelaki-lelaki
anjing
-
Koruptor
-
Arak
dan narkoba
Kauteguk
matahariku yang membakar
Kuncup oleh
malamku yang menusuk
Bukan
Bukan aku yang
mendatangkan ajal
Sebab angin nun
di sela gedung-gedung masih berhembus
Mendandani kusam
wajahku dan wajahmu
Terkepung laju
orang-orang yang semakin kencang
Indramayu,
2019-2020
Variasi Ibu Kota
(a)
Sebuah kota
dengan ibu di wajahnya
Berkemas sejak
pagi belum bangun dari lelap malam
Jalanan aspal dan
bunga berwarna-warni
Helai angannya
berpucuk muda
Manik-manik embun
mengumpul pada daun
Meleleh pada
langkah pertama matahari
(b)
Jantung angin pun
membelai patung raksasa
Memijit dua
betisnya yang kesemutan
Tampak dari
gedung berkaca
Gerak kendaraan
bermotor bagai iring-iringan raja
Merapat ke bibir
pintu-pintu tol
Begitu akrab
seperti menangkap riuh
(c)
Reruntukan
bintang berpijar pada bola lampu
Malam mendengus
salju mendekap beku
Mesin-mesin
pabrik bekerja siang dan malam
Air mata tak
terasa mengering di pelupuk
Semua berjalan
dan berlari dikejar bayangan
Seandainya semua
dapat menghindar
(d)
Dari istana dan
pusat pemerintahan ibu kota
Orang-orang
berdemo sepanjang hari
Pikiran-pikiran
melesat cepat bagai pesawat
Menerbangkan
segenggam abu perjuangan
Pasang surut
berlangsung seseru drama dan peran
Seperti lidah api
emas menyala di ketinggian[1]
Indramayu,
2019-2020
[1] Faris Al Faisal lahir dan tinggal di Indramayu, Jawa Barat,
Indonesia. Bergiat di Komite Sastra, Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Lembaga
Kebudayaan Indramayu (LKI). Namanya masuk buku “Apa dan Siapa Penyair
Indonesia” Yayasan Hari Puisi. Puisinya pernah mendapat Juara 1 dan Piala bergilir
‘Lomba Cipta Puisi Anugerah RD. Dewi Sartika (2019), mendapatkan juga Anugerah
“Puisi Umum Terbaik” Disparbud DKI 2019 dalam Perayaan 7 Tahun Hari Puisi
Indonesia Yayasan Hari Puisi, dan pernah Juara 1 Lomba Cipta Puisi Kategori
Umum Tingkat Asia Tenggara Pekan Bahasa dan Sastra 2018 Universitas Sebelas
Maret. Tersiar pula puisi-puisinya di media lokal, nasional, dan Malaysia. Buku
puisi terbarunya “Dari Lubuk Cimanuk ke Muara Kerinduan ke Laut Impian”
penerbit Rumah Pustaka (2018).