Puisi Faris Al Faisal

Foto Penulis
GALERI BUKU JAKARTA, A NEWS WRITER FOR THE CUT WHO COVERS POP CULTURE AND CELEBRITY.
AUG. 03, 2026
Main Image
Photo-Illustration: Vulture; Photos: Publisher

Geometri Jakarta    

 

Melebar pandang mataku ke Jakarta   

Sebuah lukisan kubisme, terpampang di sana

Geometri kota terpatri puisi, seribu cahaya

Potongan perca, kaca, dan kata

Himpunan sejuta warna. Cita dan cinta.

 

Dalam hangat pagi yang menyala

Aku duduk meneguk matahari Jakarta

Menikmati roda-roda, melintas di udara

Kiri dan kanan, di tempat yang sama 

Himpunan manusia. Tiada kunjung reda.

 

Aku kemudian beranjak ke satu cerita

Berkunjung ke masa lalu, ke Batavia

Di sini, dulu pusat perdagangan benua Asia

Meninggalkan sisa; Kota Tua Jakarta

Dan kisah-kisah duka yang mulai terlupa

 

Ini kota penuh hikayat dan riwayat

Sejarah dan peradaban memahat

Peristiwa berganti-ganti, penjajah angkat

Pasang dan surut, lautan hidup naik ke darat

Jakarta, tubuhnya terus memadat.

 

Dengan kemegahan api emas berkilat

Hari-hari berlalu begitu cepat

Mungkin sekali atau dua kali, teringat

Gerigi mesin dan pabrik, melesat

Meninggalkan siapa pun yang melekat.

 

Di istana dan  di rumah rakyat  

Terserak daun-daun aspirasi, aku lihat

Tak satu pun memungut, membaca kalimat

Kata-kata bagai sisik ikan yang sekarat

Denyut urat nadi yang tersayat

 

Orang dan ruang adalah komposisi

Subjek dan objek dalam susunan lapis pelangi

Jakarta; dulu, kini, dan nanti

Melaju dalam sambun-menyambung instalasi 

Tak berhenti, meniti mimpi. Untuk negeri.

 

Permisi, permisi, permisi

Barangkali aku pun harus minta diri

Ke kampung halaman, menempuh perjalanan puisi

Ke kota, lalu ke desa. Dari selai roti, merebus ubi    

Ah, akan kukenang lagi.

 

Jalanan tak pernah sepi

Dan aku merasa paling sunyi 

Perjuangan semakin berat, menjadi-jadi

Gerbong tak pernah kosong, selalu terisi

Aku pulang, tapi Jakarta tak boleh mati.

 

Indramayu, 2019-2020

 

Kota            

 

Kaudatang kepadaku

Maka aku jadi ada 

Di sini (mereka menyebutku kota) riuh gemuruh

Segala berlabuh

Orang-orang dan impian

 

Tapi kau tak pernah tahu

Aku adalah roda-roda gerigi

Saat mesin dinyalakan

 

Kau mendamba

Bergerak dengan cepat

Nasib dan peruntungan

Seperti meja-meja judi pada sebuah kelab malam

Lalu kau mengutukku karena kekalahan

 

Aku tak pernah bermimpi menjadi tujuan

Lalu kaulumuri wajahku:

-        Jelaga pabrik

-        Tempat kumuh

-        Bedak kosmetik dan perempuan binal

-        Lelaki-lelaki anjing

-        Koruptor

-        Arak dan narkoba

 

Kauteguk matahariku yang membakar

Kuncup oleh malamku yang menusuk

Bukan

Bukan aku yang mendatangkan ajal

Sebab angin nun di sela gedung-gedung masih berhembus

Mendandani kusam wajahku dan wajahmu

Terkepung laju orang-orang yang semakin kencang

 

Indramayu, 2019-2020

 

Variasi Ibu Kota  

 

(a)

Sebuah kota dengan ibu di wajahnya

Berkemas sejak pagi belum bangun dari lelap malam

Jalanan aspal dan bunga berwarna-warni

Helai angannya berpucuk muda

Manik-manik embun mengumpul pada daun

Meleleh pada langkah pertama matahari

 

(b)

Jantung angin pun membelai patung raksasa

Memijit dua betisnya yang kesemutan

Tampak dari gedung berkaca

Gerak kendaraan bermotor bagai iring-iringan raja

Merapat ke bibir pintu-pintu tol

Begitu akrab seperti menangkap riuh

 

(c)

Reruntukan bintang berpijar pada bola lampu

Malam mendengus salju mendekap beku

Mesin-mesin pabrik bekerja siang dan malam

Air mata tak terasa mengering di pelupuk

Semua berjalan dan berlari dikejar bayangan

Seandainya semua dapat menghindar    

 

(d)

Dari istana dan pusat pemerintahan ibu kota

Orang-orang berdemo sepanjang hari

Pikiran-pikiran melesat cepat bagai pesawat

Menerbangkan segenggam abu perjuangan

Pasang surut berlangsung seseru drama dan peran

Seperti lidah api emas menyala di ketinggian[1]

 

Indramayu, 2019-2020

 


[1] Faris Al Faisal lahir dan tinggal di Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Komite Sastra, Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Lembaga Kebudayaan Indramayu (LKI). Namanya masuk buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia” Yayasan Hari Puisi. Puisinya pernah mendapat Juara 1 dan Piala bergilir ‘Lomba Cipta Puisi Anugerah RD. Dewi Sartika (2019), mendapatkan juga Anugerah “Puisi Umum Terbaik” Disparbud DKI 2019 dalam Perayaan 7 Tahun Hari Puisi Indonesia Yayasan Hari Puisi, dan pernah Juara 1 Lomba Cipta Puisi Kategori Umum Tingkat Asia Tenggara Pekan Bahasa dan Sastra 2018 Universitas Sebelas Maret. Tersiar pula puisi-puisinya di media lokal, nasional, dan Malaysia. Buku puisi terbarunya “Dari Lubuk Cimanuk ke Muara Kerinduan ke Laut Impian” penerbit Rumah Pustaka (2018).

 


Galeri Buku Jakarta

GALERI BUKU JAKARTA

Bersama para penulis dan kontributor Galeri Buku Jakarta yang dicintai pembacanya. Galeri Buku Jakarta selalu memiliki misi ganda: untuk mempromosikan penulis yang paling menarik dan untuk mendukung pembaca yang ambisius dan ingin tahu.