Puisi Nanang R. Supriyatin

Foto Penulis
GALERI BUKU JAKARTA, A NEWS WRITER FOR THE CUT WHO COVERS POP CULTURE AND CELEBRITY.
JUL. 24, 2026
Main Image
Photo-Illustration: Vulture; Photos: Publisher

FRAGMEN KOTA JAKARTA

 

Seandainya sebuah kota memiliki 10,37 juta jiwa

Penduduk tumpah ruah di jalan-jalan

Berenang di lautan

Bergelantung di ruang-ruang semesta

Kemudian turun hujan

Ada yang berteduh

Ada yang berlari

Semua orang lupa

Tempat berteduh dan berlari

Payung-payung berterbangan

Menabrak kaca jendela

Sebagian porak poranda

Dan rebah di atas kuburan

 

Seandainya 50% penduduk kota ini memiliki kendaraan

Menjalankan mobil dan motor

Kebisingan rel kereta

Polusi di atas laut

Asap mengepul di angkasa

Kemacetan yang tak terkendalikan

Para polisi sibuk tujuh keliling

Kemudian angin, asap dan kabut

Aspal panas membara

Orang-orang saling mencaci

Terjadi tabrak lari

Pertempuran yang tak henti. Setiap hari

 

Seandainya kaum milenial sibuk dengan gadget

Para orang tua tersesat masuk ke ruang-ruang bersekat

Aksara demi aksara yang tak terbaca

Entah, mau kau bawa kemana regenerasi

Sebab kegaduhan telah menjadi genderang perang

Buat orang yang suka tawuran

 

Seandainya sebuah kota pindah ke ruang tanpa kata

Maka tinggallah gedung-gedung, pusat perkantoran,

mal serta rumah-rumah tanpa pintu

Dengan leluasa para maling masuk dan menjarah seisi

yang kau punya

 

Yang jadi pertanyaan

Bagaimana nasib si iman dan si taqwa

Adakah jejak-jejak kaki mereka

Di antara kerinduan dan keinginan untuk memeluk

Semoga tak sampai pada kematian itu![1]

 

04/08/2019

 

KOTA KELAHIRAN: BUKAN SEBUAH MITOS

 

i/ Buaya Putih

Siapa bilang buaya putih tak ada? Bahkan mereka berpasangan

Keluar sewaktu-waktu ketika hujan lebat dan banjir melanda ibukota

Kehadirannya mengagetkan banyak orang.

 

"Jangan bunuh mereka, biarkan..." Kata seseorang

Seperti ingin membungkam mitos.

 

Dan buaya putih itu pun menghilang dalam kegelapan,

Di antara rawa-rawa

 

ii/ Ular

Binatang bernama ular tetap saja disebut binatang melata,

karena jalannya merayap dan cepat, karena lidahnya selalu mendesis

dan sekali-kali mengeluarkan bisa dari liurnya hingga membuat manusia tak berdaya.

 

Adakalanya seekor ular keluar dari selokan,

gentangan ke rumah-rumah penduduk, meliliti batang pohon

serta memangsa binatang lain yang dianggapnya lemah.

 

iii/ Ikan

Puluhan lindung bergelayutan di permukaan air,

ratusan lele berendam dalam lumpur,

ribuan mujair dan emas menanti serbuk makanan.

 

Itulah sebagian pemandangan kami di kali Gresik.

 

iv/ Kupu-Kupu

Makhluk bersayap dengan kulit warna warni, seringkali bertamu.

Tanpa diundang.

Tanpa suara.

Hidup di antara pohon dan daun-daun

Bernyanyi-nyanyi di bawah terik matahari.

 

Ya, hanya kupu-kupu binatang tersopan itu

 

v/ Tikus

Darah siapakah itu berceceran di jalan-jalan beraspal?

Baunya ke mana-mana -- hingga ke ruang-ruang abstraksi?

 

Hanya darah tikus, salah satu binatang yang ku benci.

 

15/04/2020

 

JAKARTA, RESAHKU INI!

 

Jakarta, jika ajal ku tak sampai pada batas

Hanya lirik sunyi sembunyi di ruang tak berpenghuni.

Angin masuk melalui kisi-kisi

 

Siapa menanam ruh dalam tubuh ku –

Tuhan yang maha pengasih?

Siapa mengurai kata hingga air mata mengalirkan anak sungai?

Akar dari rumputan menjadi serpihan sampah

Ke dinding, ke dinding yang tak berpenghuni

 

Jakarta, jika ajal ku tak sampai pada batas

Lagu pun terhenti

Hanya desah dari tubuhku menyebut AsmaMu

Laut dari lautmu

Langit dari langitmu

Bumi pun minta bercakap hingga ke urat nadi

 

Jakarta, dari lirik-lirik liar berkelebat bayang

Waktu menjamah musim

Waktu yang telah Kau siapkan

Seiring hidup yang terurai, dari kisah lama itu

 

15//04/2020

 

JAKARTA SEPI

 

Segala pernah terjadi di sini

Di ruang sempit bahkan keramaian

Kota pernah gaduh dan kau katakan barbar

Nyawa bagai binatang

Dan kau telah mendramatisasinya

bagai sebuah sinetron

Cinta hanya sekelebat mata

Dan kandas di perairan

 

Jakarta kini bagai kilatan cahaya

Orang-orang mendatangi lampu

Matanya tajam, hidungnya terendus

Oleh kilau permata pada etalase

Ada yang sembunyi di balik pintu

Tapi celananya tersangkut anak kunci

Ada yang malu-malu

Menutup wajahnya dengan topeng

Takut kepergok cinta lamanya

 

Jakarta kini tanpa gonggong anjing

Jakarta kini tanpa erangan kucing

Jakarta kini sepi

Tak ada jerit burung

Hanya suara pesawat di atas sana

Menyiratkan kebisingan dan kecemasan

Jakarta kini sepi

Hanya kau yang berteriak

Dalam gelap tanpa cinta

Di antara hari-hari penuh kabut

 

14/04/2020

SURAT DARI JAKARTA

 

Maafkan aku, sajak

Bertahun-tahun kenal kamu

Dan selalu bersinggungan

Antara kata dan makna

Antara huruf dan bait

Kau kenalkan pula padaku

Sajak-sajak penyair dunia

Sejak kata bernada cinta

Hingga cinta berkubang luka

Sejak lirik bergayut maut

Hingga maut merenggut ngilu

 

Inilah surat yang kutulis kemudian

Sejak sajak tak lagi tercetak

Sejak gadget menggarami realita

Maka burung-burung pun terbang

Kota tinggal sarang. Sangkar kosong

Angin selalu semilir

Ada orang berteriak di tengah malam

Ada perempuan rindu kekasihnya

Kemudian datang padaku

Musim dahyat Corona

 

Dan hari-hari pun gaduh

Sebab sudah terjadi di dunia

Bahkan di kota ini

Aku banyak belajar bagaimana

Mengolah hidup

Di antara kematian

Dan orang-orang terpapar

Sementara aku masih menulis

Tentang maafkan aku, sajak

 

13/04/2020

 



[1] NANANG R. SUPRIYATIN kelahiran Jakarta, 6 Agustus. Bertugas sebagai Aparatur Sipil Negara di Provinsi DKI Jakarta. Memperoleh Medali Tanda Kesetiaan Bekerja selama 20 tahun (2006) dan 30 tahun (2015) dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Tulisannya berupa puisi, cerita pendek dan artikel dimuat di berbagai media massa; antara lain di majalah Sastra dan Budaya Horison, Gadis, Hai, Anita Cemerlang, Mode, Sarinah, Kiblat, Keluarga, Spionita, Sinar Harapan, Berita Buana, Suara Karya, Suara Pembaruan, Media Indonesia, Prioritas, Terbit, Republika, Pelita, Swadesi, Simponi, Berita Yudha, Banjarmasin Post, Karya Bhakti, Bandung Pos, Singgalang, Kedaulatan Rakyat, Pusara, Lampung Post, Atjeh Post, Jayakarta, Pos Kota, Pos Film dan media sastra Online. Mendapat penghargaan terbaik 2 untuk kategori kreatif penciptaan puisi dan cerita pendek yang diselenggarakan Gelanggang Remaja Bulungan, 1982), Skh. Sinar Harapan (1982), Biro Informasi Sastra Banjarmasin (1983), Skm. Swadesi (1989), HP3N Batu Malang (1994) dan Skh. Terbit. Buku puisinya berjudul “Apologia” masuk 10 Besar Sayembara Buku Puisi Anugerah Hari Puisi tingkat nasional, 2014 dari 120 antologi puisi yang dinilai Sutardji Calsoum Bachri, Abdul Hadi WM dan Maman S. Mahayana. Pernah aktif di komunitas Sastra PPK Kuningan, Teater Saja, Masyarakat Sastra Jakarta, Medan Sastra, Komunitas Sastra Indonesia dan Kelompok Diskusi Sastra Kita, Jakarta. Menjadi figuran Sinetron Remaja di TVRI (1983, 1984) dan pengisi suara di radio swasta (1983). Di undang Dewan Kesenian Jakarta dalam Malam Baca Puisi Kemerdekaan (1986), Forum Puisi Indonesia (1987), Pembacaan Puisi Tiga Penyair Jakarta (bersama Wahyu Prasetya dan M. Nasruddin Ansyori, 1988), Pembacaan dan Diskusi Puisi Penyair Jakarta (1989). Membacakan puisi di TMII (1985), PPIA, Surabaya (1986), SMAN 3 Tangkung Karang, Lampung (1986), Taman Budaya, Solo (1995), Taman Budaya Lampung (1996), Kayu Tanam, Padang (1997), Universitas Gajah Mada, Yogyakarta (1999), dan Lamban Sastra Isbedy Stiawan (Tanjung Karang Lampung, 2017). Tanggal 18-20 Juli 2017 diundang sebagai peserta Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia di Hotel Mercure, Ancol, yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan diundang pada Festival Puisi Internasional (Lampung, Januari 2020). Puisi, cerita pendek dan biodatanya dimuat di “Antologi Puisi Indonesia” (1980), “Pendopo Tamansiswa Sebuah Episode” (1982), “Empat Melongok Dunia” (1984), “Sketsa Sastra Indonesia: (1986), “Mengenang Chairil Anwar” (1986), “Antologi Puisi Penyair Indonesia” (1987), “Dialog Penyair Jakarta” (1988), “Antologi Puisi Tiga Penyair Jakarta” (1989), “Mengenang Bumi Kelahiran” (1993), “Menatap Publik” (1994), “50 Tahun Indonesia Merdeka (1995), “Pusaran Waktu” (Jambi, 1995), “Trotoar” (1996), “Dari Bumi Lada” (1996), “Antologi Puisi Indonesia” (1997), “Slonding” (1998), “Jakarta, Jangan Lagi” (1999), “Resonansi Indonesia” (2000), “Leksikon Susastra Indonesia” (2000), “Datang Dari Masa Depan” (2001), “Leksikon Kesusasteraan Indonesia” (2001), “Equator” (2011), “Leksikon Sastra Jakarta” (2003), “Kota Yang Bernama dan Tak Bernama” (2003), “Komunitas Sastra Indonesia (2008), “Dari Sragen Memandang Indonesia” (2012), “Metamorfosis” (2014), Puisi Indonesia ‘87” (2014), “Syair Persahabatan Dua Negara” (2015), “Palagan” (2016), “Apa & Siapa Penyair Indonesia” (2017), “A Skyful of Rain” (2018), “Kutulis Namamu di Batu” (2018), dan “Bulu Waktu” (2018). Sedangkan kumpulan puisi tunggalnya: “Nyanyian Anak Negeri” (1984),“Suara Suara (1985), “Dunia Di Persimpangan Jalan” (1989), “Prosa Pagi Hari” (1995), “Bayangan” (1996), “Apologia” (2013), “Pilihan Kata Serpihan Kata” (2016), ”Bibir Dalam Jas Hujan” (2018), dan “Lagu Pijakan” (2019). 

 


Galeri Buku Jakarta

GALERI BUKU JAKARTA

Bersama para penulis dan kontributor Galeri Buku Jakarta yang dicintai pembacanya. Galeri Buku Jakarta selalu memiliki misi ganda: untuk mempromosikan penulis yang paling menarik dan untuk mendukung pembaca yang ambisius dan ingin tahu.