Puisi Nanang R. Supriyatin
FRAGMEN KOTA JAKARTA
Seandainya
sebuah kota memiliki 10,37 juta jiwa
Penduduk
tumpah ruah di jalan-jalan
Berenang di
lautan
Bergelantung
di ruang-ruang semesta
Kemudian
turun hujan
Ada yang
berteduh
Ada yang
berlari
Semua orang
lupa
Tempat
berteduh dan berlari
Payung-payung
berterbangan
Menabrak
kaca jendela
Sebagian
porak poranda
Dan rebah
di atas kuburan
Seandainya
50% penduduk kota ini memiliki kendaraan
Menjalankan
mobil dan motor
Kebisingan
rel kereta
Polusi di
atas laut
Asap
mengepul di angkasa
Kemacetan
yang tak terkendalikan
Para polisi
sibuk tujuh keliling
Kemudian
angin, asap dan kabut
Aspal panas
membara
Orang-orang
saling mencaci
Terjadi
tabrak lari
Pertempuran
yang tak henti. Setiap hari
Seandainya
kaum milenial sibuk dengan gadget
Para orang
tua tersesat masuk ke ruang-ruang bersekat
Aksara demi
aksara yang tak terbaca
Entah, mau
kau bawa kemana regenerasi
Sebab
kegaduhan telah menjadi genderang perang
Buat orang
yang suka tawuran
Seandainya
sebuah kota pindah ke ruang tanpa kata
Maka
tinggallah gedung-gedung, pusat perkantoran,
mal serta
rumah-rumah tanpa pintu
Dengan
leluasa para maling masuk dan menjarah seisi
yang kau
punya
Yang jadi
pertanyaan
Bagaimana
nasib si iman dan si taqwa
Adakah
jejak-jejak kaki mereka
Di antara
kerinduan dan keinginan untuk memeluk
Semoga tak
sampai pada kematian itu![1]
04/08/2019
KOTA KELAHIRAN: BUKAN SEBUAH MITOS
i/ Buaya Putih
Siapa
bilang buaya putih tak ada? Bahkan mereka berpasangan
Keluar
sewaktu-waktu ketika hujan lebat dan banjir melanda ibukota
Kehadirannya
mengagetkan banyak orang.
"Jangan
bunuh mereka, biarkan..." Kata seseorang
Seperti
ingin membungkam mitos.
Dan buaya
putih itu pun menghilang dalam kegelapan,
Di antara
rawa-rawa
ii/ Ular
Binatang
bernama ular tetap saja disebut binatang melata,
karena
jalannya merayap dan cepat, karena lidahnya selalu mendesis
dan
sekali-kali mengeluarkan bisa dari liurnya hingga membuat manusia tak berdaya.
Adakalanya
seekor ular keluar dari selokan,
gentangan
ke rumah-rumah penduduk, meliliti batang pohon
serta
memangsa binatang lain yang dianggapnya lemah.
iii/ Ikan
Puluhan
lindung bergelayutan di permukaan air,
ratusan
lele berendam dalam lumpur,
ribuan
mujair dan emas menanti serbuk makanan.
Itulah
sebagian pemandangan kami di kali Gresik.
iv/ Kupu-Kupu
Makhluk
bersayap dengan kulit warna warni, seringkali bertamu.
Tanpa
diundang.
Tanpa
suara.
Hidup di
antara pohon dan daun-daun
Bernyanyi-nyanyi
di bawah terik matahari.
Ya, hanya
kupu-kupu binatang tersopan itu
v/ Tikus
Darah
siapakah itu berceceran di jalan-jalan beraspal?
Baunya ke
mana-mana -- hingga ke ruang-ruang abstraksi?
Hanya darah
tikus, salah satu binatang yang ku benci.
15/04/2020
JAKARTA, RESAHKU INI!
Jakarta,
jika ajal ku tak sampai pada batas
Hanya lirik
sunyi sembunyi di ruang tak berpenghuni.
Angin masuk
melalui kisi-kisi
Siapa
menanam ruh dalam tubuh ku –
Tuhan yang
maha pengasih?
Siapa
mengurai kata hingga air mata mengalirkan anak sungai?
Akar dari
rumputan menjadi serpihan sampah
Ke dinding,
ke dinding yang tak berpenghuni
Jakarta,
jika ajal ku tak sampai pada batas
Lagu pun
terhenti
Hanya desah
dari tubuhku menyebut AsmaMu
Laut dari
lautmu
Langit dari
langitmu
Bumi pun
minta bercakap hingga ke urat nadi
Jakarta,
dari lirik-lirik liar berkelebat bayang
Waktu
menjamah musim
Waktu yang
telah Kau siapkan
Seiring
hidup yang terurai, dari kisah lama itu
15//04/2020
JAKARTA SEPI
Segala
pernah terjadi di sini
Di ruang
sempit bahkan keramaian
Kota pernah
gaduh dan kau katakan barbar
Nyawa bagai
binatang
Dan kau
telah mendramatisasinya
bagai
sebuah sinetron
Cinta hanya
sekelebat mata
Dan kandas
di perairan
Jakarta
kini bagai kilatan cahaya
Orang-orang
mendatangi lampu
Matanya
tajam, hidungnya terendus
Oleh kilau
permata pada etalase
Ada yang
sembunyi di balik pintu
Tapi
celananya tersangkut anak kunci
Ada yang
malu-malu
Menutup
wajahnya dengan topeng
Takut
kepergok cinta lamanya
Jakarta
kini tanpa gonggong anjing
Jakarta
kini tanpa erangan kucing
Jakarta
kini sepi
Tak ada
jerit burung
Hanya suara
pesawat di atas sana
Menyiratkan
kebisingan dan kecemasan
Jakarta
kini sepi
Hanya kau
yang berteriak
Dalam gelap
tanpa cinta
Di antara
hari-hari penuh kabut
14/04/2020
SURAT DARI JAKARTA
Maafkan
aku, sajak
Bertahun-tahun
kenal kamu
Dan selalu
bersinggungan
Antara kata
dan makna
Antara
huruf dan bait
Kau
kenalkan pula padaku
Sajak-sajak
penyair dunia
Sejak kata
bernada cinta
Hingga
cinta berkubang luka
Sejak lirik
bergayut maut
Hingga maut
merenggut ngilu
Inilah
surat yang kutulis kemudian
Sejak sajak
tak lagi tercetak
Sejak
gadget menggarami realita
Maka
burung-burung pun terbang
Kota
tinggal sarang. Sangkar kosong
Angin
selalu semilir
Ada orang
berteriak di tengah malam
Ada
perempuan rindu kekasihnya
Kemudian
datang padaku
Musim
dahyat Corona
Dan
hari-hari pun gaduh
Sebab sudah
terjadi di dunia
Bahkan di
kota ini
Aku banyak
belajar bagaimana
Mengolah
hidup
Di antara
kematian
Dan
orang-orang terpapar
Sementara
aku masih menulis
Tentang
maafkan aku, sajak
13/04/2020
[1] NANANG
R. SUPRIYATIN kelahiran Jakarta, 6 Agustus. Bertugas sebagai Aparatur Sipil
Negara di Provinsi DKI Jakarta. Memperoleh Medali Tanda Kesetiaan Bekerja selama 20 tahun (2006) dan 30 tahun (2015)
dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Tulisannya berupa puisi, cerita pendek
dan artikel dimuat di berbagai media massa; antara lain di majalah Sastra dan
Budaya Horison, Gadis, Hai, Anita Cemerlang, Mode, Sarinah, Kiblat, Keluarga,
Spionita, Sinar Harapan, Berita Buana, Suara Karya, Suara Pembaruan, Media
Indonesia, Prioritas, Terbit, Republika, Pelita, Swadesi, Simponi, Berita Yudha,
Banjarmasin Post, Karya Bhakti, Bandung Pos, Singgalang, Kedaulatan Rakyat,
Pusara, Lampung Post, Atjeh Post, Jayakarta, Pos Kota, Pos Film dan media
sastra Online. Mendapat penghargaan terbaik 2 untuk kategori kreatif penciptaan
puisi dan cerita pendek yang diselenggarakan Gelanggang Remaja Bulungan, 1982),
Skh. Sinar Harapan (1982), Biro Informasi Sastra Banjarmasin (1983), Skm.
Swadesi (1989), HP3N Batu Malang (1994) dan Skh. Terbit. Buku puisinya berjudul
“Apologia” masuk 10 Besar Sayembara Buku Puisi Anugerah Hari Puisi tingkat
nasional, 2014 dari 120 antologi puisi yang dinilai Sutardji Calsoum Bachri,
Abdul Hadi WM dan Maman S. Mahayana. Pernah aktif di komunitas Sastra PPK
Kuningan, Teater Saja, Masyarakat Sastra Jakarta, Medan Sastra, Komunitas
Sastra Indonesia dan Kelompok Diskusi Sastra Kita, Jakarta. Menjadi figuran
Sinetron Remaja di TVRI (1983, 1984) dan pengisi suara di radio swasta (1983).
Di undang Dewan Kesenian Jakarta dalam Malam Baca Puisi Kemerdekaan (1986),
Forum Puisi Indonesia (1987), Pembacaan Puisi Tiga Penyair Jakarta (bersama Wahyu Prasetya dan M. Nasruddin Ansyori, 1988), Pembacaan dan Diskusi Puisi Penyair
Jakarta (1989). Membacakan puisi di TMII (1985), PPIA, Surabaya (1986), SMAN 3
Tangkung Karang, Lampung (1986), Taman Budaya, Solo (1995), Taman Budaya
Lampung (1996), Kayu Tanam, Padang (1997), Universitas Gajah Mada, Yogyakarta
(1999), dan Lamban Sastra Isbedy Stiawan (Tanjung Karang Lampung, 2017).
Tanggal 18-20 Juli 2017 diundang sebagai peserta Musyawarah Nasional Sastrawan
Indonesia di Hotel Mercure, Ancol, yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan, dan diundang pada Festival Puisi Internasional (Lampung,
Januari 2020). Puisi, cerita pendek dan biodatanya dimuat di “Antologi Puisi
Indonesia” (1980), “Pendopo Tamansiswa Sebuah Episode” (1982), “Empat Melongok
Dunia” (1984), “Sketsa Sastra Indonesia: (1986), “Mengenang Chairil Anwar”
(1986), “Antologi Puisi Penyair Indonesia” (1987), “Dialog Penyair Jakarta”
(1988), “Antologi Puisi Tiga Penyair Jakarta” (1989), “Mengenang Bumi
Kelahiran” (1993), “Menatap Publik” (1994), “50 Tahun Indonesia Merdeka (1995),
“Pusaran Waktu” (Jambi, 1995), “Trotoar” (1996), “Dari Bumi Lada” (1996),
“Antologi Puisi Indonesia” (1997), “Slonding” (1998), “Jakarta, Jangan Lagi”
(1999), “Resonansi Indonesia” (2000), “Leksikon Susastra Indonesia” (2000),
“Datang Dari Masa Depan” (2001), “Leksikon Kesusasteraan Indonesia” (2001),
“Equator” (2011), “Leksikon Sastra Jakarta” (2003), “Kota Yang Bernama dan Tak
Bernama” (2003), “Komunitas Sastra Indonesia (2008), “Dari Sragen Memandang
Indonesia” (2012), “Metamorfosis” (2014), Puisi Indonesia ‘87” (2014), “Syair
Persahabatan Dua Negara” (2015), “Palagan” (2016), “Apa & Siapa Penyair
Indonesia” (2017), “A Skyful of Rain” (2018), “Kutulis Namamu di Batu” (2018),
dan “Bulu Waktu” (2018). Sedangkan kumpulan puisi tunggalnya: “Nyanyian Anak
Negeri” (1984),“Suara Suara (1985), “Dunia Di Persimpangan Jalan” (1989),
“Prosa Pagi Hari” (1995), “Bayangan” (1996), “Apologia” (2013), “Pilihan Kata
Serpihan Kata” (2016), ”Bibir Dalam Jas Hujan” (2018), dan “Lagu Pijakan”
(2019).