Puisi Tri Astoto Kodarie
UJUNG CIKINI
Mencatat ratusan
kelokan jalan, aku dan waktu
hanya tetap
tertegun ngungun di sini
ujung cikini
melumat debu menyesak
dan aku mungkin
tak sendiri menimang hari
Sebentang siang
yang mirip kain selendang
mengikat kuat
ujung kepala serupa pening
mencari sudut
kota menawarkan hening
melangkah hanya
diam menggenggam perih
Menanyakan ke
mana siang akan rebah
sambil tekun
belajar arah debu yang terbang
berdesak
memunguti sisa-sisa lelah di jalanan
sementara
kecemasan menjelma belati
Di ujung cikini,
aku dan waktu merayapi
hari-hari yang
melesat seperti peluru
berebut ruang
serupa air menuju muara
tetapi selalu
lemah jika sampai mengetuk pintu
Sepertinya harus
berebut tempat untuk bernafas
satu rongganya
dihuni ribuan dahak
kadang hilang
arah dan kembali ke dadanya sendiri
di ujung cikini
aku bertanya: di mana senja berlabuh? [1]
LEMBAYUNG JAKARTA
Terasa ada yang
terus memanggil, aku di arah selatan
suara kadang tertahan
lembab cuaca menuju sore
kota memburamkan
jarak di cermin
bahkan meretakan
waktu tanpa kedip mata
langit entah
milik siapa berwarna merah bertepi ungu
Jakarta memantik
ingatan seperti jarum jam
yang terus
berputar tak pernah kembali, padahal aku
mencari persisnya
letak selatan dan ada menuju utara
bahkan memberi
utuh tenggara atau harus bercerita saja
tentang pijakan
di kerumunan pusat kota yang mulai miring
Kadang kasih
terlanjur diburamkan sebelum dilahirkan
karena lembayung telah
tertelungkup lelah
warnanya memudar
setiap kedatangan di ketukan pintu
termasuk saat
menjelang senja: di mana aku mencari arah?
hanya duduk
termangu di lembabnya waktu
Berapa waktu
magrib sudah lama berpamit di langit
hanya menghilir
nafas berat di sepanjang jalanan
kampung-kampung
kumuh, gedung-gedung angkuh dan bisu
apakah masih
perlu belajar cinta di dada Jakarta?
: aku hanya
ngungun meredam batuk.
[1] Tri Astoto Kodarie lahir di Halim Jakarta,
29 Maret 1961. Buku puisi dan esainya
yang sudah terbit, yaitu: Nyanyian
Ibunda (Artist, 1992) Sukma Yang Berlayar (KSA, 1995), Hujan Meminang Badai
(Akar Indonesia Yogyakarta, 2007), Merajut Waktu Menuai Harapan (Frame
Publishing Yogyakarta,
2008), Sekumpulan Pantun,: Aku, Kau dan Rembulan (De
La Macca, Makassar 2015),
Merangkai Kata Menjadi Api (Akar Indonesia Yogyakarta, 2017), Kitab Laut (YBUM
Publisher Parepare,2018).
Puisinya dimuat di banyak antologi dan
beberapa yang terakhir: When The Days
Were Raining (Antologi Puisi Banjarbaru, 2019), Selinting Cinta Sesapa Mesra
(PPN XI-Kudus, 2019), Swara Masnuna (Bandarlampung, 2019), Negeri Pesisir
(KKK-Tegal, 2019), Segara Sakti Rantau Bertuah (Dewan Kesenian Kepulauan Riau
dan Yayasan Jembia Emas, 2019), Mendengar Tangis I La Galigo (Antologi F8-Garis
Khatulistiwa Makassar, 2019), Pasaman Dalam Puisi (Pasaman, 2019), Pringsewu
Kita (Pringsewu, 2019). Sampai sekarang tinggal di Parepare, Sulawesi Selatan.