Puisi Tri Astoto Kodarie

Foto Penulis
GALERI BUKU JAKARTA, A NEWS WRITER FOR THE CUT WHO COVERS POP CULTURE AND CELEBRITY.
JUL. 24, 2026
Main Image
Foto Karya Willy Kurniawan

UJUNG CIKINI

 

Mencatat ratusan kelokan jalan, aku dan waktu

hanya tetap tertegun ngungun di sini

ujung cikini melumat debu menyesak

dan aku mungkin tak sendiri menimang hari

 

Sebentang siang yang mirip kain selendang

mengikat kuat ujung kepala serupa pening

mencari sudut kota menawarkan hening

melangkah hanya diam menggenggam perih

 

Menanyakan ke mana siang akan rebah

sambil tekun belajar arah debu yang terbang

berdesak memunguti sisa-sisa lelah di jalanan

sementara kecemasan menjelma belati

 

Di ujung cikini, aku dan waktu merayapi

hari-hari yang melesat seperti peluru

berebut ruang serupa air menuju muara

tetapi selalu lemah jika sampai mengetuk pintu

 

Sepertinya harus berebut tempat untuk bernafas

satu rongganya dihuni ribuan dahak

kadang hilang arah dan kembali ke dadanya sendiri

di ujung cikini aku bertanya: di mana senja berlabuh? [1] 

 

LEMBAYUNG JAKARTA

 

Terasa ada yang terus memanggil, aku di arah selatan

suara kadang tertahan lembab cuaca menuju sore

kota memburamkan jarak di cermin

bahkan meretakan waktu tanpa kedip mata

langit entah milik siapa berwarna merah bertepi ungu

 

Jakarta memantik ingatan seperti jarum jam

yang terus berputar tak pernah kembali, padahal aku

mencari persisnya letak selatan dan ada menuju utara

bahkan memberi utuh tenggara atau harus bercerita saja

tentang pijakan di kerumunan pusat kota yang mulai miring

 

Kadang kasih terlanjur diburamkan sebelum dilahirkan

karena lembayung telah tertelungkup lelah

warnanya memudar setiap kedatangan di ketukan pintu

termasuk saat menjelang senja: di mana aku mencari arah?

hanya duduk termangu di lembabnya waktu

 

Berapa waktu magrib sudah lama berpamit di langit

hanya menghilir nafas berat di sepanjang jalanan

kampung-kampung kumuh, gedung-gedung angkuh dan bisu

apakah masih perlu belajar cinta di dada Jakarta?

: aku hanya ngungun meredam batuk.

 

 



[1] Tri Astoto Kodarie lahir di Halim Jakarta, 29 Maret 1961.  Buku puisi dan esainya yang sudah terbit, yaitu:  Nyanyian Ibunda (Artist, 1992) Sukma Yang Berlayar (KSA, 1995), Hujan Meminang Badai (Akar Indonesia Yogyakarta, 2007), Merajut Waktu Menuai Harapan (Frame Publishing Yogyakarta, 2008), Sekumpulan Pantun,: Aku, Kau dan Rembulan (De La Macca, Makassar 2015), Merangkai Kata Menjadi Api (Akar Indonesia Yogyakarta, 2017), Kitab Laut (YBUM Publisher Parepare,2018).

 Puisinya dimuat di banyak antologi dan beberapa yang terakhir: When The Days Were Raining (Antologi Puisi Banjarbaru, 2019), Selinting Cinta Sesapa Mesra (PPN XI-Kudus, 2019), Swara Masnuna (Bandarlampung, 2019), Negeri Pesisir (KKK-Tegal, 2019), Segara Sakti Rantau Bertuah (Dewan Kesenian Kepulauan Riau dan Yayasan Jembia Emas, 2019), Mendengar Tangis I La Galigo (Antologi F8-Garis Khatulistiwa Makassar, 2019), Pasaman Dalam Puisi (Pasaman, 2019), Pringsewu Kita (Pringsewu, 2019). Sampai sekarang tinggal di Parepare, Sulawesi Selatan.

 


Galeri Buku Jakarta

GALERI BUKU JAKARTA

Ex sunt numquam aperiam voluptates aliquid ut consequatur. Quia consequuntur dolor deserunt consequatur quia incidunt. Non nihil voluptate exercitationem error quibusdam. Quisquam dignissimos quis architecto adipisci. Rerum nihil animi nihil officiis eius quia molestias.