Puisi Fadhila Eka Ratnasari

EDITORIAL TEAM GBJ, A NEWS WRITER FOR THE CUT WHO COVERS POP CULTURE AND CELEBRITY.
AUG. 07, 2026
Main Image
Photo-Illustration: Vulture; Photos: Publisher

Kutitipkan Rindu

 

Kutitipkan rindu pada ibuibu penjaja pagi di sunyian pasar, 

kepada kayuh tukang pos pengantar kabar dari rumah ke rumah, 

kepada geliat anakanak enggan berangkat sekolah; 

barangkali kelak kita saling merindu mencari di ujung hari.

 

Kau tahu, Kekasih? 

Hidup kian redup seperti langit Riau tertutup asap polusi Jakarta, 

seperti kamar anakanak yang belum sempat kau ganti lampunya. 

Hidup kian sempit terhimpit seperti derit dinding rumah kita dan rumah tetangga, 

seperti jerit putus asa para artis di televisi

yang mencoba menghibur kursi meja pintu jendela.

Tapi seredup sesempit entah hidup kita, Kekasih, 

selalu ada sekenyang nasi pun remah roti

untuk menyumpal tangis di sudut mata anakanak kita.

 

Kau boleh bertani berdagang berperang

melawan rasa lapar dan kemiskinan, 

aku bisa menulis berpuisi mengajar memasak

menjerang mimpi dan kehidupan, 

sedang anakanak tetap lahap

mengudap waktu dalam keriangan masa kanak.

 

Kotakota menjelma kekunang plastik dalam warnawarni neon, 

mengenalkan kita pada sejenak kembara, 

melupakan pulang, memulangkan lupa.

Klakson memekik mengabarkan dolar naik

pun kemanusiaan tercabik di sepenuh bumi. 

Rumah yang tangis anakanak yang pelik amarah

apakah pintu bagi sejauh kelana?

Rindu terentang sepanjang jalan,

tak mampu menunjukkan arah pulang

bagi sepasang kita yang saling asing.

 

Kita sibuk mencari bahagia

pada gelak tawa kawan masa muda pun ketenangan waktu bujang, 

pada bukubuku tebal, bangku taman, dan kuil kuno di tanah asing;

sedang usia belumlah bosan mengajarkan makna jarak dan kerinduan

pada sepasang kekasih

yang saling melupa meluka.

 

Lelah, Kekasih, kita kini lelah

mengunyah perjalanan yang tak lekas pulang.

Tetiba saja kita diringkus waktu, dibungkus rindu.

 

Maukah kau jemput aku, Kekasih? 

Kutunggu kau di asing jalanan yang mengarah ke mana entah.

Maukah kau temukan aku, Kekasih?

Cari aku di hilang kekata dan bunyibunyi yang silam. 

Maukah kau bawa aku pulang, Kekasih? 

Pulang kepada selingkar pelukmu, Kekasih,

kepada riuh anakanak berlarian di pematang,

kepada kecupmu menguncup di dahiku,

pun sekerat penatku kusimpan diamdiam di liat bahumu.

Pulang kepada engkau yang rumah.

 

Karena sepanjang apapun aku membuang langkah

dan setinggi apapun aku menerbang mimpi

tertulis rapi di pesawat kertas, Kekasih,

tiada jarak terjauh yang tak sanggup kutempuh 

kecuali sebalik punggungmu.

 

Jakarta, 8 September 2015

 

Menjelang Waktu Pulang

 

Ada masanya ketika lidah tak lagi peduli rasa makanan

yang tak jelas mana asin mana pahit mana pedas.
Manusia makan hanya untuk bertahan hidup;

pun manusia berbahagia agar siap bersedih lagi di satuan waktu berikutnya.
Toh kau tetap saja mengajakku makan,

di suatu kafe murah di tengah riuh kota, mengenang
masa muda yang tergesa
tergelincir dari jemari kita yang penuh noda tinta dan bilur luka.

 

Ada masanya ketika gelisah tak lagi sembunyikan diri

di balik kaca helm dan senyum palsu.
Katakata mengoyak kesedihan di udara,

terbentur denting garpu dan gelas berembun.

Di luar jendela ada pohon berbunga kuning seperti di halaman Fakultas Sastra;
di dahannya tergantung mimpimimpi

yang tak pernah kita beri nama.
Aku pernah punya satu bibit pohon itu, lalu hilang

ke mana entah, seperti juga cinta yang enggan kusimpankenang.

 

Di setapak berbatu itu, Sayangku,

pada malammalam gelap mencari semangkuk kebahagiaan.
Telur dadar terlempar jauh dari teflon

dan mendarat di permukaan langit

: kau sebut itu bulan dan kusebut itu lengkung senyuman.
Hidup sudah kepalang brengsek jika hanya dihabiskan dengan

tidur dan makan enak lalu mabuk seperlunya di akhir pekan, tetapi
ada tagihan yang harus dibayar dan bayibayi yang perlu diberi makan.
Manusia pada akhirnya berhenti menjadi kanakkanak

dan mulai bekerja agar mampu membeli obat pereda nyeri.
Kurasa kita harus berhenti mencoba berbahagia

dan jalani saja tiap tajam kerikilnya.

 

Hari belum usai dan kopi belum tandas,

tapi perempuan tak boleh pulang larut malam, kata Ibuku.
Dunia penuh orangorang jahat, petaka mengintai di tiap sudut dan bayang jalanan.
Lalu kita tergesa merapikan meja,

membereskan airmata dan tanda tanya yang tercecer.
Lampu kota memudar dalam malam yang hampir tinggi, menanti
pelukan perpisahanmu
atau kacamataku yang buram saat aku menangis.

 

Pulang? tanyamu.
Rumah ialah di mana saja prasangka dan kebencian

enggan mengetuk pintu, jawabku.

Bisakah kau turunkan aku di sana?

 

Jakarta, 20 September 2016

 

Riwayat Kesedihan

 

Pada malammalam dingin,
orangorang terbangun meracau dari tidurnya yang gelisah.
Sedang pagi masihlah jauh,
mimpi buruk mengintai di tiap sudut kamar dan lipatan selimut.
Punggung dan lengannya berderak kesakitan
sehabis terlalu lama menangis
memeluk dirinya sendiri.
Lehernya memanjang merenggang mematah tulang demi tulang,
tetapi masa lalu tak pernah usai ditengokratapi.

Wajahwajah tersenyum sinis dan bersuara sumbang,
nama mereka hanyalah doadoa baik yang lesap terlupakan.
Subuh menjelang dan menjerang tubuhtubuh dalam himpitan asap kendaraan.
Kopi pertama di pagi hari,
mendidih berbuih lalu merintih kedinginan,
tak sempat hangatkan jiwajiwa yang bimbang,
tak sempat menyembuh sakit kepala yang berdentumdentum memecah kewarasan.
Waktu tetaplah tiktok tiktok mengayun entah dari satu luka ke luka lainnya.

 

Ada bintangbintang yang dilahirkan pun memutih lalu mati di galaksi jauh,
ada debudebu yang bergulung menggunung padang pasir baru.
Ada kesedihan yang nampak fana pun artifisial di hadapan noda matahari dan cincin planet.

Di dalam perutmu mungkin ada sekawanan kupukupu atau ngengat yang sedang bersarang.
Kau kira dirimu tengah jatuh cinta,
padahal kau hanya sedang diserang kerumunan lebah yang bersiap menyengat.
Bukankah cinta hanyalah senyawa kimia
yang mempermainkan gelombang listrik
di tubuhmu yang meragu?
Lalu perasaan selain itu jadi wagu dan tak terucapbahasakan.

Kenangan telah menguning dan gemetar menua.
Separuh ranjang telah dingin,
seperti bau tubuh kekasih yang menguar memudar dari pelukan yang silam.
Tapi manusia tetap keras kepala dan bertahan mengenangrindukan masa lalu.
Dalam riwayat kesedihannya, manusia terkadang lupa
untuk sesekali saja berbahagia.

Ada yang sibuk bersedih menulis puisi menjualnya ke surat kabar,
tapi lupa bercakapcakap dengan dirinya sendiri.
Ada yang sibuk memikirkan penciptaan semesta,
tapi lupa menjawab salam tetangganya.
Ada yang sibuk sembahyang menyembah dewadewa,
tapi lupa bagaimana caranya menjadi manusia.

Sementara itu,
bayibayi tetap saja dibunuh,
perang masih saja membakar gedunggedung hutan pemukiman.
Kesedihan teramat erat mencengkeram jiwajiwa yang lupa berbahagia,
seperti hidup yang kepalang brengsek pun menolak diberi makna.
Waktu masihlah tiktok tiktok mengejar kakikaki yang berlarian
dari satu mati ke mati lainnya.

 

Jakarta, 8 November 2016

 

Ketika Pageblug Tiba

 

Malam itu aku mimpikan lintang kemukus

terbang melesat di langit malam.

Pageblug?, pikirku.

Sudah lama aku tak percaya mitos-mitos zaman dahulu.

Tradisi hanyalah dongeng sebelum tidur dari almarhumah Mbah Putri.

 

Esoknya aku dan suamiku mengepak kotak terakhir baju dan buku.

Kita pindah!, seruku.

Nyaris tiga tahun menikah, kami baru sanggup menyewa apartemen murah.

Bukan mewah, hanya lingkungan lengkap segala kedai siap sedia.

Makin hari kusadari, celah pagar di lapangan parkir

mengarah ke kampung sebelah.

Beberapa gadis muda dan ibu paruh baya keluar masuk tiap pagi senja,

datang dan pergi, menjual keringat di toko-toko sekitar kompleks.

 

Suatu siang, pageblug konon sudah datang,

tapi surau seberang tak urung lantangkan panggilan salat Jumat.

Sorenya, bocah-bocah tertawa di pengeras suara

di tengah waktu mengaji sebelum maghrib tiba.

Aku mengomel sengit, mengapa mereka tak peduli

jaga jarak dan segala himbauan pemerintah?

 

Lalu kau tenangkan aku yang diam-diam gelisah:

Mereka hanya ingin bertandang ke rumah Tuhan, katamu,

doa-doa serasa meneduh dunia yang kacau.

Siapa yang peduli wabah

jika yang mereka perlukan hanya sekarung gabah

mengisi lumbung dan perut warga desa?

 

Aku membantah, jengah.

Besok akan kubeli sayur, buah, masker, cairan pembersih banyak-banyak.

Amit-amit jangan sampai aku dan suamiku jatuh sakit.

Bergidik ngeri bayangkan kami mati kesepian di kamar isolasi.

Di luar gerbang, ada pak tua tertatih lemah.

Istrinya dituntun di lengan, keduanya batuk parah.

Nyeri dada tak seberapa daripada lapar berhari-hari sudah.

 

Sebelum paglebug tiba,

aku terbangun nyalang tiap malam,

menghitung utang dan rekening kerontang.

Cukupkah meniti hidup berapa purnama

dengan gaji ala kadarnya,

dengan suamiku dipecat dari tempatnya bekerja?

 

Ketika pageblug benar tiba,

ingin kusimpan nyawa kami dalam botol kaca anti-pecah.

Ajari aku berdoa, kumohon dalam pasrah,

persetan ateisme masa muda.

Suamiku menangis dan lambaikan tangan dari jauh,

batuknya tak kunjung sembuh.

Sedang tubuhku terbungkus plastik lusuh,

siap dikremasi.

 

Jakarta, 27 Maret 2020

 

Tembang Cinta Pageblug

 

Ning nong ning nong.[1]

Sepasang belia meniti jembatan pelangi 'nuju sepetak surga di bumi.

 

Dunia bisa saja takluk dalam pageblug.

Tapi cintamu, Dinda,

harum tanah mewangi usai hujan badai reda.

 

Kanda menyusul dari seberang samudra,

janjikan teduh di gemuruh senjakala.

Kembang ronce menjalin

mimpi malam tadi dan gelisah esok pagi.

Doadoa baik bermandi semerbak air bunga tujuh rupa

 

Loro blonyo kenakan mahkota cinta,

duduk pasrah berpayung restu langit.

Ranjangmu bentang masa depan bertabur kelopak mawar.

Gua garba menanti lelaki pulang memeluk hangat.

 

Cintamu, Dinda, kelak lahirkan azimat bertuah

di penat semesta.

Kau tanam melati di pekarangan, tumbuh rumahmu hingga biru lazuardi.

 

Ning nong ning nong.

Loro blonyo duduk bersimpuh di hadapan betara surya.

Masa depan ialah padang bunga berselimut halimun,

ialah harap terijabah dalam rapal pukul tiga pagi,

ialah tembang cinta pageblug, oh Dinda

: menyembuh segala teluh jua duka.

 

Jakarta, 11 April 2020

 



[1] Fadhila Eka Ratnasari lahir di Malang, 12 November 1991 dan beberapa kali berpinda domisili mengikuti orang tua, mulai dari Surabaya, Malang, Sidoarjo, hingga Jakarta. Menekuni dunia penulisan, fiksi maupun non-fiksi sejak bangku SMP. Telah mengikuti dan lolos sebagai juara maupun kontributor beberapa lomba penulisan puisi sejak SMA, di antaranya Antologi Puisi “Sebab Akulah Kata” Teater Kedok SMAN 6 Surabaya tahun 2007, Antologi Puisi Komunitas Menulis Rumah Sungai Lombok Timur tahun 2012, Antologi Cerpen Pameran Karya UKM Penulis UM tahun 2013, Antologi Puisi 100 Penyair Perempuan tahun 2014 oleh KPPI, Juara Harapan 1 Puisi Majalah Komunikasi UM tahun 2015, Juara 2 Poetry Contest ITS 2015 & kontributor Antologi Puisi Poetry Contest ITS 2015 "Cinta, Budaya, dan Nusantara", kontributor Antologi Puisi “Indonesia Bersajak” tahun 2016 oleh Komunitas Sajak-sajak Anak Negeri dan Penerbit Rumah Kita, kontributor Antologi Puisi “Darah Juang” tahun 2016 oleh Komunitas Sajak- sajak Anak Negeri dan Penerbit Dheppressive, kontributor Antologi Puisi “Dialog dengan Bulan” tahun 2016 oleh Komunitas Negeri Kertas, Kontributor Puisi Mingguan Linikini.id bulan September 2016, serta Kontributor Antologi Puisi 49 Karya Terbaik Lomba Tulis Puisi Piala Rektor GBSI Hima Sastrasia FPBS UPI 2016 “Koda untuk Chet Baker” tahun 2016.

 


EDITORIAL TEAM GBJ

Bersama para penulis dan kontributor Galeri Buku Jakarta yang dicintai pembacanya. Galeri Buku Jakarta selalu memiliki misi ganda: untuk mempromosikan penulis yang paling menarik dan untuk mendukung pembaca yang ambisius dan ingin tahu.