Puisi Ikhsan Risfandi
Memorabilia Mcd Sarinah
Alkisah cintaku di Mcdonald Sarinah
Serupa pembeli muda yang rela antre demi
Dua buah burger keju yang cuma akan dibeli
Bila tepat pukul tiga senja; paket hemat ala mahasiswa.
Mesem berdua dan baku pandang
Alangkah surga terasa ini dunia,
Sementara tangan kita mengenggam erat
Kudapan kentang goreng yang sarat Hasrat
rayuanku ; "bibirmu semanis segelas kola berkarbonat”.
Dalam rendezvous kali ini
Kita bersepakat perihal kawin lari,
Aku dan kamu adalah objek paling eksotis
Dari sebuah gerai makan cepat saji paling kapitalis
: ternyata hampir semua pasangan muda
Di dalam sana adalah bukti budak cinta cap kera.
Setelah ini kita sama-sama mengerti
Jingle itu akan selalu ada di dalam hati
Untuk didendangkan nanti;
Sebagai pengantar tidur putra dan putri
yang hendak kita miliki tak lama lagi
-“manalagi...manalagi selain di McD”
Sarinah 2020
Elegi Nelayan Kesepian
Ini malam masih muda
Bolehlah saja kusengaja
Tak melaut, menjala serta menombak Barakuda.
Rupa-rupanya Angin darat
sejenak istirahat
Biarlah ini senggang beri peluang
menghela syubhat.
Dalam suhu menurun
dan ketam-ketam berkerumun;
Ini mata: disamun sepi,
Ini telinga: dihamun sunyi,
Ini jiwa: berkelumun sendiri.
Amat nihil masa 'tuk bermaimun
Pasrah,
segala asmara musnah
Biar hempas tubuh dicabuh pasang arus bawah
Hati
sudah berkali-kali kalah
Hidup esok lusa sekalian saja punah.
Sunda Kelapa 2019
Lagu Satir Perantau Amatir
Kota ini hilang
Seperti hujan yang tak lekas datang
Entah kemana lagi
Tempat anak semang kerja magang
Terpaksalah mereka membanting tulang pada
Tanah merah lapang.
Kota ini hilang
Hanya tersisa puing tempat binatang berkandang
Entah kemana lagi
Para bajang akan bergentayang
Terpaksalah mereka terbang melayang
Pada ruang hijau terbuka kala petang.
Kota ini hilang
Kembalilah kami ke kampung
Tempat seharusnya pulang.
Dan jangan pernah bertanya kapan
Kondisi hati kembali riang.
Terpaksalah kita lupakan
Kota ini pernah cemerlang dan gemilang.
Manggarai 2019
Peniaga Asmara
:Arini
Mencintaimu adalah fitnah
Yang membuat luka terbuka pada
Dada kiri ini semakin menganga
Saat koper penuh tawa dan tangis
Kau dorong hingga pintu
Masuk utama stasiun Jatinegara
Tetapi sebelum kau pergi,
Dengan alamiah aku sadar dana
Dan menutup kedua gendang
Telinga. Tak perlu mendengar intuisi
Hati dalam subuh hampir gerimis
Sebab aku jatuh terjerongkong
Dan berkhayal kau
Kembali di sekuel berikutnya.
Jatinegara 2020
Mantra Saidah
Sekelebat bayang akan lepas dan akan terus
Gentayang di sekitaran gedung tak terurus
Sekelebat bayang akan bablas dan aus
Tergerus hantu modernitas
Paras muka seseorang akan kusut
Dan rasa takut semakin membuyut
Dan gelap memperkuat lekat bau asap
Dan di antara pilar pilar besar ala Roma
Ada sosok ular besar menjelma segera
Sekelebat bayang cukup jelas dan melayang-layang
Di atas puncak menara
Sekelebat bayang hampir tuntas
Dan sebentar lagi azan berkumandang tegas
Sekelebat bayang akan lepas
Kemudian pindah ke kamarmu
Menyelusup tepat di tengkuk
Lalu kau surup
Hingga nadi tak lagi berdenyut.[1]
Cawang 2019
[1] —Ikhsan Risfandi lahir di Jakarta,
13 November 1985, aktif menulis puisi sejak kelas 3 SMU. Melanjutkan kuliah di
jurusan ilmu Komunikasi dengan konsentrasi Penyiaran. Vakum menulis puisi saat
bekerja sebagai konsultan TI partikelir dan baru kembali menulis puisi kembali
di tahun 2017. Pada Oktober 2019 menerbitkan sendiri Buku Antologi Puisinya
yang berjudul “Ruang Bicara” secara indie.