Puisi Badruddin Emce
Bersama
Teman Masa Kecil
“Pada nékad temen, ya? Kaya ora mikir
keslametan wong liya, terutama keluarga karo tangga teparoné. Nang tivi, ganu,
sing mudik meng daérah kéné uga ora semendhing, mbok? Durung sing ora
kewenangan. Tlusupan liwat jalan tikus. Arep mbalik Jakarta
siki gari pada bingung. Déwék dadi mélu bunek, mbok?” [1]
“Lah, dadi kémutan palaman dong nang kana!” [2]
“Pirang taun nang Betawi, rika?” [3]
“Domong koh. Kaya anu ora kejarag!” [4]
|ha|
Kita tak
pernah tahu siapa bikin ketentuan begini, bukan?
Maksudnya
lalu apa? –
“Yang ingin
belajar, pergilah ke timur!”
Lalu, ada,
sambil menabur butiran jagung pakan merpati,
menimpali –
“Ke barat
hanya bagi orang dagang
atau cari
kerja!”
Saya pun,
berbekal alamat teman masa kecil,
dengan
kereta api penuh sesak, ke barat.
|na|
Waktu itu
teman masa kecil saya
tinggal
bersama keluarga kakak perempuannya
di sebuah
kontrakan.
Aneh juga,
katanya kerja di penerbangan.
Memang
begitu!
Terpenting
jika saya tak keberatan, ketimbang “begitu terus”
ada tempat
sekedar untuk tidur.
“Saya juga
sering menghabiskan malam minggu
di ruang
tamu,” katanya suatu hari di malam lebaran.
Tak apalah!
Dia memang
hebat!
Dia yang
pertama mengenalkan pada saya –
rokok,
komik-komik
remaja serta silat,
hingga saya
perlahan lupa dengan kelereng
dan karet
gelang unclang.
Yang tak
terlupakan,
petikan
gitarnya membuat saya dan sebaya suka dan hapal
lagu
“barangkali”-nya Ebiet.
|ca|
Apa saat
ini saya kelihatan menyesal?
Tidak. Cuma
kenapa di malam lebaran itu
saya tak
bertanya langsung –
“kerjanya
nanti di mana, jadi apa
dan
bagaimana?”
Begitu
berada di peron stasiun Kroya,
oh ya, kamu
pernah naik rolkoster?
Apa yang
kamu rasakan?
Saat hendak
mulai kamu malah mencela diri sendiri, bukan?
Kenapa
tiba-tiba ingin dan begitu mudahnya memutuskan naik?
Tapi hendak
mengurungkan, semua orang rasanya
bakal
mencibir kita.
Terlebih di
situ kita di antara “anak-anak pemberani”.
|ra|
Bagaimana
bisa nyenyak tidur?
Lalu kereta
api penuh sesak itu
begitu saja
meninggalkan saya di stasiun Jatinegara.
“Naik
angkutan kota, setelah Kampung Melayu dan Cililitan,
cari
jurusan Bogor turun pertigaan Pasar Hek,”
pesan teman
masa kecil saya, saya tulis di secarik kertas.
Mungkin
saja hanya belum siap
menjadi
“orang penting”.
Hendak
menunggu angkutan kota,
seolah
hanya saya ditawari tukang ojek, supir taksi
dan bajai,
tumpangan.
Risih,
bukan?
Ada juga,
saya ingat betul namanya, Sitorus,
duduk di
vespanya
seperti
mencecar saya segera mendaftar kuliah.
|ka|
Dengan
senyum lebar, di pertigaan Pasar Hek
teman masa
kecil saya menyambut saya.
Segera,
dari mulut teman masa kecil
ke mulut
teman masa kecil lainnya
“Tarto
sedang di Jakarta” tersiar.
Mereka, ada
yang sendiri,
ada yang
berombong.
Yang sudah
berkeluarga kadang bersama anak istrinya,
bergantian
mengunjungi saya.
Bahkan ada,
seminggu sekali,
sehabis
kerja, membawakan saya martabak atau nasi goreng.
Bahkan ada,
dengan sepeda motornya memboncengkan saya
sekedar
beli kaos ke Kampung Melayu.
Yang belum
punya kendaraan, mengajak naik bus kota ke
Blok M,
Pasar Baru
lalu Pasar
Tanah Abang,
pas hujan
menyusuri trotoir sepanjang Matraman.
Bahkan ada
yang “memaksa” saya, sendirian saja
agar main
ke kontrakannya di Jalan Raya Warung Buncit.
“Harus
berani!” Katanya.
(Kabar
terakhir, sebelum kontrakannya dilintasi jalan Tol,
keluarga
teman masa kecil satu ini
pindah ke
rumah sendiri di Tangerang.
Saya pernah
ke sana waktu masih pekarangan kosong)
Saya juga
mulai bertandang ke tetangga
kontrakan
keluarga kakak perempuan teman masa kecil saya itu –
Siamak,
putera Betawi dua kali menduda,
mukanya
seringkali kemerahan.
Katanya
habis berantem sama istri ketiganya.
Tapi segera
teman masa kecil saya mengajaknya tertawa.
Menyusuri
jalan setapak ke rumah Bokir, sekedar mengintip
pemain
Lenong sedang latihan akting.
Joget di
pentas-pentas arisan dangdut
dari Condet
hingga Pondok Gede.
Usai
mengurai kisah kehebatan moyangnya
yang
katanya tujuh kali mati hidup kembali,
Siamak
kadang terlihat lega.
Kamu heran?
Saya juga heran,
di kota
besar seperti itu masih ada yang bersedia
menegakkan
Silsilah.
|dha|
Apakah saat
ini saya kelihatan gembira?
Rasanya
saya mulai bisa “jalan sendiri”.
Berani beli
rokok ke warung orang Batak
yang
anjingnya pernah menggigit betis saya,
karena saya
membuat anak si Batak menangis.
Sekitar
pukul 11 malam
ngobrol
dengan orang Cimahi di Pasar Kramat,
katanya
menjemput istrinya.
Kenalan
dengan, namanya saya ingat, Theodora gadis Menado,
di sebuah
bus kota dari arah Pasar Senen,
katanya
masih kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta
daerah
Cempaka Putih.
Minta
kembalian ke kernet Bus Kota yang “marah”
ketika saya
memanggilnya “bang”.
“Memang gue
dapat kakak perempuanmu,” katanya keras,
namun
kemudian tertawa.
Berhari-hari
menyimak lelaki asal Muntilan,
maaf
namanya tidak saya sebutkan, di daerah Tebet,
rupanya
sangat benci pada bapaknya yang PKI.
Darul Islam
harus segera terwujud.
Di sebuah
perumahan yang dijaga ketat
sambil
membantu teman masa kecil yang lain
membersihkan
hard sebuah video type,
menanggapi
candaan seorang Menteri,
maaf tidak
saya sebutkan namanya.
Dapat upah
sepuluh ribu, lumayan,
meski harus
dijilat seekor anjing.
Sesekali
membaca koran yang saya beli di terminal.
Sungguh,
saya tidak ngeri dengan politik.
Buat apa?
Saya pernah
ikut demo menuntut Kepala Sekolah mundur.
Tapi
menjelang kerusuhan Lapangan Banteng
saya
sengaja pulang kampung.
Tanpa
sedikitpun meninggalkan baju atau sepatu, apalagi ijazah.
|ta|
Apakah saat
ini saya kelihatan bangga?
Ayam ternak
saya terus bertambah.
Tiba-tiba
Dino, teman masa kecil saya yang lain,
malam-malam
mengetuk pintu rumah orang tua saya
mengantar
panggilan kerja
dari
perusahaan pergudangan di kawasan Tanjungpriok.
Pada teman
masa kecil saya satu ini,
saya
berjanji akan memenuhi sarannya.
Tapi yang
ini tak saya sampaikan –
“Risih
juga, sementara kerja tidak tentu,
makan-tidur
masih numpang orang lain.”
“Saya
percaya, keluarga kakak perempuan kang Sanir
tak pernah
berubah.
Mereka
tetap menganggap saya mampu di jalur yang semestinya.”
“Kapan?
Belum pernah mereka mengingatkan saya
sebagaimana
bapak saya sering mengingatkan saya cukur!”
“Pernah,
suatu malam saya pulang sempoyongan
mereka
tetap membukakan pintu,
setelah
sebelumnya saya memuntahkan
berliter-liter
isi perut.
Paginya
kakak perempuan kang Sanir
membersihkannya
dari depan pintu.
Sedang
suaminya terus mengajak saya ngobrol soal pekerjaan
yang
gajinya yang tak kunjung naik!”
“Begitulah
sementara Tarto! Tak tahu besok berubah pikiran, apa tidak!”
Kroya, 2020
[1] “Nekad-nekad sekali, ya? Seperti
tidak memikirkan keselamatan orang lain, terutama keluarga dan tetangga
sekitarnya. Di tivi, tempo hari, yang mudik ke daerah sini juga tidak sedikit,
bukan? Belum yang tidak ketahuan. Sembunyi-sembunyi lewat jalan tikus. Mau
kembali ke Jakarta sekarang tinggal dapat kebingunan. Kita jadi ikut sedih,
bukan?” (Terjemahan dari Bahasa Penginyongan)
[2] “Duh, jadi ingat pengalaman waktu di
sana!” (Terjemahan dari Bahasa Penginyongan)
[3] “Berapa tahun di Betawi, kamu?”(Terjemahan
dari Bahasa Penginyongan)
[4] “Bisa dikatakan begitu. Seperti
tidak disengaja!” (Terjemahan dari Bahasa Penginyongan)