Puisi Badruddin Emce

Foto Penulis
GALERI BUKU JAKARTA, A NEWS WRITER FOR THE CUT WHO COVERS POP CULTURE AND CELEBRITY.
AUG. 07, 2026
Main Image
Photo-Illustration: Vulture; Photos: Publisher

Bersama Teman Masa Kecil

 

“Pada nékad temen, ya? Kaya ora mikir keslametan wong liya, terutama keluarga karo tangga teparoné. Nang tivi, ganu, sing mudik meng daérah kéné uga ora semendhing, mbok? Durung sing ora kewenangan. Tlusupan liwat jalan tikus. Arep mbalik Jakarta siki gari pada bingung. Déwék dadi mélu bunek, mbok?” [1]

 

“Lah, dadi kémutan palaman dong nang kana!” [2]

 

“Pirang taun nang Betawi, rika?” [3]

 

“Domong koh. Kaya anu ora kejarag!” [4]

 

              |ha|

Kita tak pernah tahu siapa bikin ketentuan begini, bukan?

Maksudnya lalu apa? –

 

“Yang ingin belajar, pergilah ke timur!”

 

Lalu, ada, sambil menabur butiran jagung pakan merpati,

menimpali –

 

“Ke barat hanya bagi orang dagang

atau cari kerja!”

 

Saya pun, berbekal alamat teman masa kecil,

dengan kereta api penuh sesak, ke barat.

 

           |na|

Waktu itu teman masa kecil saya

tinggal bersama keluarga kakak perempuannya

di sebuah kontrakan.

 

Aneh juga, katanya kerja di penerbangan.

 

Memang begitu!

Terpenting jika saya tak keberatan, ketimbang “begitu terus”

ada tempat sekedar untuk tidur.

 

“Saya juga sering menghabiskan malam minggu

di ruang tamu,” katanya suatu hari di malam lebaran.

 

Tak apalah!

 

Dia memang hebat!

Dia yang pertama mengenalkan pada saya –

rokok,

komik-komik remaja serta silat,

hingga saya perlahan lupa dengan kelereng

dan karet gelang unclang.

 

Yang tak terlupakan,

petikan gitarnya membuat saya dan sebaya suka dan hapal

lagu “barangkali”-nya Ebiet.

 

              |ca|

Apa saat ini saya kelihatan menyesal?

Tidak. Cuma kenapa di malam lebaran itu

saya tak bertanya langsung –

 

“kerjanya nanti di mana, jadi apa

dan bagaimana?”

 

Begitu berada di peron stasiun Kroya,

oh ya, kamu pernah naik rolkoster?

 

Apa yang kamu rasakan?

Saat hendak mulai kamu malah mencela diri sendiri, bukan?

Kenapa tiba-tiba ingin dan begitu mudahnya memutuskan naik?

Tapi hendak mengurungkan, semua orang rasanya

bakal mencibir kita.

Terlebih di situ kita di antara “anak-anak pemberani”.

 

              |ra|

Bagaimana bisa nyenyak tidur?

Lalu kereta api penuh sesak itu

begitu saja meninggalkan saya di stasiun Jatinegara.

 

“Naik angkutan kota, setelah Kampung Melayu dan Cililitan,

cari jurusan Bogor turun pertigaan Pasar Hek,”

pesan teman masa kecil saya, saya tulis di secarik kertas.

 

Mungkin saja hanya belum siap

menjadi “orang penting”.

 

Hendak menunggu angkutan kota,

seolah hanya saya ditawari tukang ojek, supir taksi

dan bajai, tumpangan.

Risih, bukan?

 

Ada juga, saya ingat betul namanya, Sitorus,

duduk di vespanya

seperti mencecar saya segera mendaftar kuliah.

 

           |ka|

Dengan senyum lebar, di pertigaan Pasar Hek

teman masa kecil saya menyambut saya.

 

Segera, dari mulut teman masa kecil

ke mulut teman masa kecil lainnya

“Tarto sedang di Jakarta” tersiar.

 

Mereka, ada yang sendiri,

ada yang berombong.

 

Yang sudah berkeluarga kadang bersama anak istrinya,

bergantian mengunjungi saya.

 

Bahkan ada, seminggu sekali,

sehabis kerja, membawakan saya martabak atau nasi goreng.

 

Bahkan ada, dengan sepeda motornya memboncengkan saya

sekedar beli kaos ke Kampung Melayu.

Yang belum punya kendaraan, mengajak naik bus kota ke

Blok M, Pasar Baru

lalu Pasar Tanah Abang,

pas hujan menyusuri trotoir sepanjang Matraman.

 

Bahkan ada yang “memaksa” saya, sendirian saja

agar main ke kontrakannya di Jalan Raya Warung Buncit.

 

“Harus berani!” Katanya.

 

(Kabar terakhir, sebelum kontrakannya dilintasi jalan Tol,

keluarga teman masa kecil satu ini

pindah ke rumah sendiri di Tangerang.

Saya pernah ke sana waktu masih pekarangan kosong)

 

Saya juga mulai bertandang ke tetangga

kontrakan keluarga kakak perempuan teman masa kecil saya itu –

 

Siamak, putera Betawi dua kali menduda,

mukanya seringkali kemerahan.

Katanya habis berantem sama istri ketiganya.

Tapi segera teman masa kecil saya mengajaknya tertawa.

 

Menyusuri jalan setapak ke rumah Bokir, sekedar mengintip

pemain Lenong sedang latihan akting.

 

Joget di pentas-pentas arisan dangdut

dari Condet hingga Pondok Gede.

 

Usai mengurai kisah kehebatan moyangnya

yang katanya tujuh kali mati hidup kembali,

Siamak kadang terlihat lega.

 

Kamu heran? Saya juga heran,

di kota besar seperti itu masih ada yang bersedia

menegakkan Silsilah.

 

         |dha|

Apakah saat ini saya kelihatan gembira?

Rasanya saya mulai bisa “jalan sendiri”.

 

Berani beli rokok ke warung orang Batak

yang anjingnya pernah menggigit betis saya,

karena saya membuat anak si Batak menangis.

 

Sekitar pukul 11 malam

ngobrol dengan orang Cimahi di Pasar Kramat,

katanya menjemput istrinya.

 

Kenalan dengan, namanya saya ingat, Theodora gadis Menado,

di sebuah bus kota dari arah Pasar Senen,

katanya masih kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta

daerah Cempaka Putih.

 

Minta kembalian ke kernet Bus Kota yang “marah”

ketika saya memanggilnya “bang”.

“Memang gue dapat kakak perempuanmu,” katanya keras,

namun kemudian tertawa.

 

Berhari-hari menyimak lelaki asal Muntilan,

maaf namanya tidak saya sebutkan, di daerah Tebet,

rupanya sangat benci pada bapaknya yang PKI.

Darul Islam harus segera terwujud.

 

Di sebuah perumahan yang dijaga ketat

sambil membantu teman masa kecil yang lain

membersihkan hard sebuah video type,

menanggapi candaan seorang Menteri,

maaf tidak saya sebutkan namanya.

Dapat upah sepuluh ribu, lumayan,

meski harus dijilat seekor anjing.

 

Sesekali membaca koran yang saya beli di terminal.

Sungguh, saya tidak ngeri dengan politik.

Buat apa?

Saya pernah ikut demo menuntut Kepala Sekolah mundur.

 

Tapi menjelang kerusuhan Lapangan Banteng

saya sengaja pulang kampung.

Tanpa sedikitpun meninggalkan baju atau sepatu, apalagi ijazah.

 

         |ta|

Apakah saat ini saya kelihatan bangga?

 

Ayam ternak saya terus bertambah.

Tiba-tiba Dino, teman masa kecil saya yang lain,

malam-malam mengetuk pintu rumah orang tua saya

mengantar panggilan kerja

dari perusahaan pergudangan di kawasan Tanjungpriok.

 

Pada teman masa kecil saya satu ini,

saya berjanji akan memenuhi sarannya.

 

Tapi yang ini tak saya sampaikan –

 

“Risih juga, sementara kerja tidak tentu,

makan-tidur masih numpang orang lain.”

 

“Saya percaya, keluarga kakak perempuan kang Sanir

tak pernah berubah.

Mereka tetap menganggap saya mampu di jalur yang semestinya.”

 

“Kapan? Belum pernah mereka mengingatkan saya

sebagaimana bapak saya sering mengingatkan saya cukur!”

 

“Pernah, suatu malam saya pulang sempoyongan

mereka tetap membukakan pintu,

setelah sebelumnya saya memuntahkan

berliter-liter isi perut.

Paginya kakak perempuan kang Sanir

membersihkannya dari depan pintu.

Sedang suaminya terus mengajak saya ngobrol soal pekerjaan

yang gajinya yang tak kunjung naik!”

 

“Begitulah sementara Tarto! Tak tahu besok berubah pikiran, apa tidak!”

 

Kroya, 2020       

 



[1] “Nekad-nekad sekali, ya? Seperti tidak memikirkan keselamatan orang lain, terutama keluarga dan tetangga sekitarnya. Di tivi, tempo hari, yang mudik ke daerah sini juga tidak sedikit, bukan? Belum yang tidak ketahuan. Sembunyi-sembunyi lewat jalan tikus. Mau kembali ke Jakarta sekarang tinggal dapat kebingunan. Kita jadi ikut sedih, bukan?” (Terjemahan dari Bahasa Penginyongan)

[2] “Duh, jadi ingat pengalaman waktu di sana!” (Terjemahan dari Bahasa Penginyongan)

[3] “Berapa tahun di Betawi, kamu?”(Terjemahan dari Bahasa Penginyongan)

[4] “Bisa dikatakan begitu. Seperti tidak disengaja!” (Terjemahan dari Bahasa Penginyongan)

 


Galeri Buku Jakarta

GALERI BUKU JAKARTA

Bersama para penulis dan kontributor Galeri Buku Jakarta yang dicintai pembacanya. Galeri Buku Jakarta selalu memiliki misi ganda: untuk mempromosikan penulis yang paling menarik dan untuk mendukung pembaca yang ambisius dan ingin tahu.