Puisi Ros Aruna
Jalan Kota Kita
kita tinggal di kota dengan trotoar bongkar pasang
tiap tiga bulan ada perbaikan.[1]
tujuh ribu kilometer panjang jalan raya.
terlalu panjang untuk diberi trotoar,
tetapi terlalu sedikit
untuk menampung kendaraan
yang dijual bak kacang.
hari-hari kita habis dimakan jalanan.
sabar pun hanya cukup
untuk menghadapi kemacetan.
tidak ada lagi yang tersisa untuk anak kandung
dan anak buah.
jalan kota terus menjalar.
meliuk
menurun
menanjak
menukik
kita terkepung dan tercekik.
di manakah
penjinak jalan raya?
dapatkah dia segera
membebaskan kita
yang terpaksa hidup
di ibu kota?
2018
Ibu Kota Laba-laba
musim itu telah tiba.
jutaan orang terjebak di ibu kota laba-laba
yang tanpa henti memintal beton menjadi jalan raya.
bus, mobil, motor, kereta
mereka terus mengakali jebakan jalan raya
hanya untuk menolak takdir
menghabiskan hari lebih lama,
di ibu kota laba-laba.
"kau sudah sampai mana?
anakmu menunggu susu yang kaubawa kerja."
ibuku bertanya
sambil menggendong cucu,
belum genap setengah tahun umurnya.
"maaf, bu.
malam ini hujan mencairkan aspal.
jalan makin lengket
mencengkram ban mobil,"
aku menjawab
sambil mendekap tas susu
yang ditunggu anakku.
2018
Memunguti Pecahan
Hidup
tumit kakiku berdarah
perih
saat pecahan hidup
kupunguti
di lantai kamar
mandi.
hidupku pecah
berantakan:
awalnya hanya retak
di sudut kiri,
karena aku tidak
berhasil menebalkan alis
dan membuatnya
simetris.
esoknya retak
bertambah panjang lima senti,
akibat lipstik yang
kupakai kurang kuat menempel di bibir
dan mengotori pipi
suami.
retakan itu sudah
cukup membuatku pusing,
marahku meledak dan
lupa diri:
dengan berteriak
melarang anak berlari,
dan tidak
menggunakan kata-kata positif lagi.
lalu bodohnya aku
mengajaknya ke mal di sore hari,
bukan taman main
modern trendi
membelikannya
makanan manis bergluten tinggi,
dan mainan di
hidangan ayam cepat saji
retakan itu
bertambah dari sisi ke sisi.
pusingku makin
menjadi.
suatu hari, aku
berhenti peduli,
anak di bawah
pengaruh gula tinggi
berlompatan di
perabot rumah minimalis terkini,
semua dinding
digambari cacing.
tidak ada lagi rumah
trendi,
yang membuat
teman-teman memuji.
retak hidupku makin
menjadi
puncaknya, sosial
media berhenti kupelototi:
tidak tahu lagi
apakah blus model ini masih digemari
masihkah orang
mengikatkan saputangan di kepala
atau sudah pindah ke
leher lagi?
lalu hidupku tak
mampu menghadapi ketinggalan zaman ini
pecahlah ia
berkeping-keping.
sambil melihat darah
yang mengalir
aku menyadari:
ketinggalan zaman
itu, tidak bikin mati
2017
Tiga Belas Menguning
satu kuning, dua kuning,
kenyang adalah kuning
pada sepiring nasi yang gurih di pagi hari
tiga kuning, empat kuning,
takut pada kuning yang bersemu di kulit anakmu
saat baru belajar menyusui
lima kuning, enam kuning,
bersiap ketika kuning menyala pada lampu
di persimpangan jalan raya
tujuh kuning, delapan kuning,
menunggu kuning dalam hangat kuah soto buatanmu
di hari minggu
sembilan kuning, sepuluh kuning,
mahkota bunga berjatuhan
menguning di trotoar,
bukan lemah tapi berbuah
sebelas kuning, kuntum adalah jantan
dan juga betina
tidak perlu memilih kelamin yang mana
dua belas kuning, dia menjulang mendekati awan,
meneduhkan jalan,
mana butuh perlindungan.
tiga belas kuning, terus berkembang
ketika kelopaknya berguguran
diterjang debu jalan.
2018