Puisi Ros Aruna

Foto Penulis
GALERI BUKU JAKARTA, A NEWS WRITER FOR THE CUT WHO COVERS POP CULTURE AND CELEBRITY.
AUG. 07, 2026
Main Image
Photo-Illustration: Vulture; Photos: Publisher

Jalan Kota Kita

 

kita tinggal di kota dengan trotoar bongkar pasang

tiap tiga bulan ada perbaikan.[1]

 

tujuh ribu kilometer panjang jalan raya.

terlalu panjang untuk diberi trotoar,

tetapi terlalu sedikit  untuk menampung kendaraan

yang dijual bak kacang.

 

hari-hari kita habis dimakan jalanan.

sabar pun hanya cukup

untuk menghadapi kemacetan.

tidak ada lagi yang tersisa untuk anak kandung

dan anak buah.

 

jalan kota terus menjalar.

meliuk

menurun

menanjak

menukik

kita terkepung dan tercekik.

 

di manakah

penjinak jalan raya?

dapatkah dia segera

membebaskan kita

yang terpaksa hidup

di ibu kota?

 

2018


Ibu Kota Laba-laba

 

musim itu telah tiba.

jutaan orang terjebak di ibu kota laba-laba

yang tanpa henti memintal beton menjadi jalan raya.

 

bus, mobil, motor, kereta

mereka terus mengakali jebakan jalan raya

hanya untuk menolak takdir

menghabiskan hari lebih lama,

di ibu kota laba-laba.

 

"kau sudah sampai mana?

anakmu menunggu susu yang kaubawa kerja."

ibuku bertanya

sambil menggendong cucu,

belum genap setengah tahun umurnya.

 

"maaf, bu.

malam ini hujan mencairkan aspal.

jalan makin lengket

mencengkram ban mobil,"

aku menjawab

sambil mendekap tas susu

yang ditunggu anakku.

 

2018

 

Memunguti Pecahan Hidup

 

tumit kakiku berdarah perih

saat pecahan hidup kupunguti

di lantai kamar mandi.

 

hidupku pecah berantakan:

awalnya hanya retak di sudut kiri,

karena aku tidak berhasil menebalkan alis

dan membuatnya simetris.

 

esoknya retak bertambah panjang lima senti,

akibat lipstik yang kupakai kurang kuat menempel di bibir

dan mengotori pipi suami.

 

retakan itu sudah cukup membuatku pusing,

marahku meledak dan lupa diri:

dengan berteriak melarang anak berlari,

dan tidak menggunakan kata-kata positif lagi.

 

lalu bodohnya aku mengajaknya ke mal di sore hari,

bukan taman main modern trendi

membelikannya makanan manis bergluten tinggi,

dan mainan di hidangan ayam cepat saji

 

retakan itu bertambah dari sisi ke sisi.

pusingku makin menjadi.

suatu hari, aku berhenti peduli,

 

anak di bawah pengaruh gula tinggi

berlompatan di perabot rumah minimalis terkini,

semua dinding digambari cacing.

tidak ada lagi rumah trendi,

yang membuat teman-teman memuji.

 

retak hidupku makin menjadi

puncaknya, sosial media berhenti kupelototi:

tidak tahu lagi apakah blus model ini masih digemari

masihkah orang mengikatkan saputangan di kepala

atau sudah pindah ke leher lagi?

 

lalu hidupku tak mampu menghadapi ketinggalan zaman ini

pecahlah ia berkeping-keping.

 

sambil melihat darah yang mengalir

aku menyadari:

ketinggalan zaman itu, tidak bikin mati

 

2017

 

Tiga Belas Menguning

 

satu kuning, dua kuning,

kenyang adalah kuning

pada sepiring nasi yang gurih di pagi hari

 

tiga kuning, empat kuning,

takut pada kuning yang bersemu di kulit anakmu

saat baru belajar menyusui

 

lima kuning, enam kuning,

bersiap ketika kuning menyala pada lampu

di persimpangan jalan raya

 

tujuh kuning, delapan kuning,

menunggu kuning dalam hangat kuah soto buatanmu

di hari minggu

 

sembilan kuning, sepuluh kuning,

mahkota bunga berjatuhan

menguning di trotoar,

bukan lemah tapi berbuah

 

sebelas kuning, kuntum adalah jantan

dan juga betina

tidak perlu memilih kelamin yang mana

 

dua belas kuning, dia menjulang mendekati awan,

meneduhkan jalan,

mana butuh perlindungan.

 

tiga belas kuning, terus berkembang

ketika kelopaknya berguguran

diterjang debu jalan.

 

2018



[1] Ros Aruna—penyair, kini tinggal di Depok, Jawa Barat.

 


Galeri Buku Jakarta

GALERI BUKU JAKARTA

Bersama para penulis dan kontributor Galeri Buku Jakarta yang dicintai pembacanya. Galeri Buku Jakarta selalu memiliki misi ganda: untuk mempromosikan penulis yang paling menarik dan untuk mendukung pembaca yang ambisius dan ingin tahu.