Puisi Sam Mukhtar Chaniago
Ayo
Melautlah
:nelayan sepanjang pantai seribu pulau
ayo melautlah di
lepas pantai seribu pulaumu
laut pantai utara meminta pada angin, pada belainya
agar tak lupa tak ragu menghembus angin pantai
hingga biduk tak ingin melepas garis-garis putih pasir
yang masih rindu pada batang-batang dayung.
tapi pukat harus disapa kerang dan karang
di laut Jakarta ini, di laut luas, katamu.
ayo kayuhlah bidukmu
bagaimana bintang kan mampu memberi tanda cintanya?
bagaimana kelam kan mampu membaca arah?
bagaimana ucap sayang bidukmu di hati nelayan?
bagaimana biduk kan melaju menuju laut?
kalau tambatan tak ikhlas
mencintai tambang-tambang ikatan, tanyamu.
ayo nelayan, melautlah
agar genangan air di kelopak mata anakmu
tak sempat menetes,
tak hendak menggenangi persada
agar bintang dan bulan tetap siaga menyapa malam
agar derai suara tangis anakmu
tak terdengar ikan-ikan di kedalamannya, bisikmu.
ayo cepat ke lautmu
di sepanjang
pantai di seribu pulaumu
agar ikan dan kerang bersuka cita
mengisi jala-jala, kail, dan pukat
di hati anakmu dengan cintanya, teriakmu.
bekasi, 30 maret 2020
Segelas Kopi di Kedai Kopi Tanjung Priok, 1969 - 1972
pojok jalan sulawesi dan jalan yos soedarso.
ada kedai kopi
ada segelas
kopi hitam tergeletak.
di bangku
panjang
ada tiga
lelaki asyik bincang-bincang
sambil mendengar untaian kata peserta obrolan
tukang kopi
terus meletakkan gelas-gelas kopi
pahit manisnya kopi menempel pada bibirnya
segelas kopi hitam masih mengepulkan kata demi kata
sambil mengaduk-aduk kata-katanya
peserta menyeruput hitamnya warna kata
tanpa ragu menuangkan kopinya di piring realita
pada selembar koran pagi itu
tertulis
jumlah hutang negara di dalam segelas kopi
peserta meminum
sekali lagi kata-kata di
gelasnya
sambil terus meneriakkan hitamnya kopi
dalam sepiring
realita
segelas kopi hitam masih tergeletak
masih terus
mengepulkan kata-kata
yang hitam
warnanya
sambil menyeruput kopinya
peserta menatap ke dalam gelas
terus berusaha
mencari titik cerahnya
bekasi, maret 2020
Tukang
Jahit dan anak Lelakinya (I)
:Tanjung Priok, 1967 –1973
pojok jalan
sulawesi dan jalan yos soedarso.
ada tukang
jahit kaki lima
berbilang
waktu dan tak tentu
menghitung
detik dengan zikir
menarik benang
ke jarum benang
menatap hari
petang menuju pulang
walau tak
terkait satu pun kain dengan benang
dalam hening
kau berujar
: nak, besok
kita berzikir dan bersholawat lagi
sambil menanti pagi menuju siang
sambil menanti siang menuju pulang
sambil menanti benang masuk sekoci
bekasi, 20 april 2020
Tukang
Jahit dan anak Lelakinya (II)
pojok jalan
sulawesi dan jalan yos soedarso
pagi hari
tanpa tanda waktu
anak lelaki
sang tukang jahit
menghitung
bilangan jumlah benang yang terpilin
mencari
nama-nama yang tertera di benang sekoci
akhirnya
dijumpai warna jingga dan hitam pekat
alhamdulillah,
dia berujar lirih
: hari ini
kita tidak hanya membawa sisa makan siang
emak
akan tersenyum di bibir kuali
untuk
sambal bekal esok hari[1]
bekasi, 20 april 2020
[1] Sam Mukhtar Chaniago—Lahir di
Pesisir Selatan, Sumatra Barat, Minggu, 1 Mai 1960. Membuat puisi sejak
SMP. Menjadi juara penulisan puisi di Radio Univ. Trisaksti (1977), Radio
ARH (1978) dan IKIP Jakarta (1981). Puisi-puisinya pernah dimuat di
Lembar Pendakian Harian Suara Karya Minggu (1985 dan 1986).
Puisi-puisinya pernah pula muncul dalam berbagai antologi puisi, seperti:
Puisi Tempe Radio ARH (1978), Puisi 365 hari Teater
Taman (1984) Puisi Kemarau dan Kemiskinan IKIP
Jkt. (1983), Puisi Penulis Muda GRJU (1978)., Doa Seribu Bulan” (PERRUAS,
2018), Peneroka (PERRUAS, 2019), Pesisiran” (DNP,
2019). Menerbitkan 3 kumpulan sajak Tunggal: “Derai Suara Ranting” (APM
Publishing Jakarta, 2017), “Tembang
Padang Senja”, (KKK, Nopember 2019), “Tembang
Padang Lalang” (Terebooks, Pebruari 2020). Tahun 1986 sampai
sekarang menjadi dosen di UNJ (Lektor Kepala Gol. IV B).