Puisi Sam Mukhtar Chaniago

Foto Penulis
GALERI BUKU JAKARTA, A NEWS WRITER FOR THE CUT WHO COVERS POP CULTURE AND CELEBRITY.
AUG. 03, 2026
Main Image
Photo-Illustration: Vulture; Photos: Publisher

 

Ayo Melautlah

     :nelayan sepanjang pantai seribu pulau
 

ayo melautlah di lepas pantai seribu pulaumu

laut pantai utara meminta pada angin, pada belainya

agar tak lupa tak ragu menghembus angin pantai

hingga biduk tak ingin melepas garis-garis putih pasir

yang masih rindu pada batang-batang dayung.

tapi pukat harus disapa kerang dan karang

di laut Jakarta ini, di laut luas, katamu.

 

ayo kayuhlah bidukmu

bagaimana bintang kan mampu memberi tanda cintanya?

bagaimana kelam kan mampu membaca arah?

bagaimana ucap sayang bidukmu di hati nelayan?

bagaimana biduk kan melaju menuju laut?

kalau tambatan tak ikhlas

mencintai tambang-tambang ikatan, tanyamu.

 

ayo nelayan, melautlah

agar genangan air di kelopak mata anakmu

tak sempat menetes,

tak hendak menggenangi persada

agar bintang dan bulan tetap siaga menyapa malam

agar derai suara tangis anakmu

tak terdengar ikan-ikan di kedalamannya, bisikmu. 

ayo cepat ke lautmu

di sepanjang pantai di seribu pulaumu

agar ikan dan kerang bersuka cita

mengisi jala-jala, kail, dan pukat

di hati anakmu dengan cintanya, teriakmu.

 

bekasi, 30 maret 2020

 

Segelas Kopi di Kedai Kopi Tanjung Priok, 1969 - 1972

 

pojok jalan sulawesi dan jalan yos soedarso.

ada kedai kopi

ada segelas kopi hitam tergeletak. 

di bangku panjang

ada tiga lelaki asyik bincang-bincang

sambil mendengar untaian kata peserta obrolan  

tukang kopi terus meletakkan gelas-gelas kopi

pahit manisnya kopi menempel pada bibirnya

segelas kopi hitam masih mengepulkan kata demi kata 

sambil mengaduk-aduk kata-katanya

peserta  menyeruput hitamnya warna kata

tanpa ragu menuangkan kopinya di piring realita

pada selembar koran pagi itu 

tertulis jumlah hutang negara di dalam segelas kopi

peserta meminum sekali lagi kata-kata di  gelasnya

sambil terus meneriakkan hitamnya kopi

dalam sepiring realita

segelas kopi hitam masih tergeletak

masih terus mengepulkan kata-kata

yang hitam warnanya

sambil menyeruput kopinya

peserta menatap ke dalam gelas  

terus berusaha mencari titik cerahnya

 

 bekasi, maret 2020

 

 

 Tukang Jahit dan anak Lelakinya (I)

                     :Tanjung Priok, 1967 –1973

 

 

pojok jalan sulawesi dan jalan yos soedarso.

ada tukang jahit kaki lima

berbilang waktu dan tak tentu

menghitung detik dengan zikir

menarik benang ke jarum benang

menatap hari petang menuju pulang

walau tak terkait satu pun kain dengan benang

dalam hening kau berujar

: nak, besok kita berzikir dan bersholawat lagi

          sambil menanti pagi menuju siang

          sambil menanti siang menuju pulang

          sambil menanti benang masuk sekoci

 

 

bekasi, 20 april 2020

 

 

Tukang Jahit dan anak Lelakinya (II)

 

pojok jalan sulawesi dan jalan yos soedarso

pagi hari tanpa tanda waktu

anak lelaki sang tukang jahit

menghitung bilangan jumlah benang yang terpilin

mencari nama-nama yang tertera di benang sekoci

akhirnya dijumpai warna jingga dan hitam pekat

alhamdulillah, dia berujar lirih

: hari ini kita tidak hanya membawa sisa makan siang

  emak akan tersenyum di bibir kuali

  untuk sambal bekal esok hari[1]

 

bekasi, 20 april 2020

 

 


[1] Sam Mukhtar Chaniago—Lahir di Pesisir Selatan, Sumatra Barat, Minggu, 1 Mai 1960. Membuat puisi sejak SMP.  Menjadi juara penulisan puisi di Radio Univ. Trisaksti (1977), Radio ARH (1978) dan IKIP Jakarta (1981).  Puisi-puisinya pernah dimuat  di Lembar Pendakian Harian Suara Karya Minggu (1985 dan 1986).  Puisi-puisinya pernah pula muncul dalam berbagai antologi puisi, seperti: Puisi Tempe Radio ARH (1978), Puisi 365 hari Teater Taman (1984)    Puisi Kemarau dan Kemiskinan IKIP Jkt. (1983), Puisi Penulis Muda GRJU (1978)., Doa Seribu Bulan” (PERRUAS, 2018), Peneroka (PERRUAS, 2019), Pesisiran” (DNP, 2019).  Menerbitkan 3 kumpulan sajak Tunggal: Derai Suara Ranting” (APM Publishing Jakarta, 2017), Tembang Padang Senja, (KKK, Nopember 2019), “Tembang Padang Lalang” (Terebooks, Pebruari 2020). Tahun 1986 sampai sekarang menjadi dosen di UNJ (Lektor Kepala Gol. IV B).

 


Galeri Buku Jakarta

GALERI BUKU JAKARTA

Bersama para penulis dan kontributor Galeri Buku Jakarta yang dicintai pembacanya. Galeri Buku Jakarta selalu memiliki misi ganda: untuk mempromosikan penulis yang paling menarik dan untuk mendukung pembaca yang ambisius dan ingin tahu.