Puisi Reni Lestari
Memesan Hari Esok
Kita kehilangan
ibu kota yang tiba-tiba dibawa pulang orang-orang ke dalam kepalanya Mendadak
kemacetan bergelung di ruang tamu
Dua-tiga
percakapan main petak umpet di halaman belakang
Tetapi keramaian
tetap saja sembunyi entah di bilik dada yang mana
Kita membawa
pulang lenguhan panjang kereta dan bus kota yang terlambat tiba
Mengemasi
pagi-pagi yang bergegas
Tetapi tetap saja
tidak mendapati apa pun kecuali senja yang menebus segelintir doa
Seorang perantau bertanya
apakah saya bisa memesan mudik yang ditunda negara?
Saya juga ingin
memesan lebaran tahun lalu dan membungkusnya menjadi parcel buat orang-orang
proyek
Tetapi layanan
pesan antar sedang kelebihan muatan
mengantar janji-janji agar
kemacetan keluar dari ruang tamu dan ibu kota dimuntahkan dari kepala
orang-orang
Bulan yang baru
dan tahun yang akan datang merenung di kesepain dan menjadi kata sifat
Negara
menimbunnya untuk dijual ketika nanti kita kembali menghirup kota. [1]
Tubuhmu Museum di Sebuah Kota Tanpa Ingatan yang
Hanya Memajang Sepi
Tubuhmu museum di
sebuah kota tanpa ingatan yang hanya memajang sepi. Kubayangkan diriku masuk
melalui lorong-lorongnya yang lengang, memegang benda-benda yang mengasuh sejarah seperti membaca rentetan
dusta.
Tetapi kota ini
tidak memiliki kening untuk dikecup kekasih mana pun. Cuma ada kepentingan
negara untuk dikenang.
Orang-orang
menghirup kemacetan sebagai udara yang membesarkan masa muda. Atau menikmati demonstrasi
sebagai orkestrasi yang mengiringi anak-anak kecil di tubuh mereka menari.
Sementara di
atasnya, kita tetap tinggal dan membangun rumah. Diantara klakson yang berderak-derak dan
malam yang tak pernah terpejam.
Semua orang
melahap sepi yang sama dan menjadi asing
senantiasa. Kau hanya akan dikenali dari caramu menggembalakan keberuntungan.
Suatu kali kau
akan memintaku menjadi kota itu. Kau akan memintaku menjadi Jakarta yang gemar menimang
negara. Tapi aku lebih senang andai bisa menjadi kesibukan yang berserakan di
meja kerjamu. Aku lebih senang andai bisa menjadi kepulangan yang kau pesan
saban lebaran.
Katamu,
satu-satunya yang tak bisa dipesan di kota ini adalah kepulangan. Sebab setiap
yang datang, menyerahkan dirinya untuk hilang.
Di Jalan Pulang
Malam mengendap
di ampas kopi saat lampu-lampu dipadamkan. Lima menit lagi, penjaga toko akan
meminta pengunjung mengangkat punggung dan membawa pulang asam lambung.
Aku pulang
membawa keengganan pulang. Di rumah ada wajah ibu kelelahan tapa aku bisa
menjadi sapu tangan.
Di jalanan,
kupersilakan kebisingan membaca diriku beserta igauan-igauan panjang yang kau
nyanyikan dalam kepalaku. Sudah lama
kulupakan kabar-kabar kejahatan kemanusiaan, sengketa nyawa yang tak selesai di
meja hijau dan pengulangan-pengulangan setelahnya.
Tapi masih
tersisa bayangan petani kendeng menanam murka di depan istana. Murka-murka yang
tak sampai meja kerja presiden dan muntah sepanjang medan merdeka. Aku ingin
menangis untuk mereka tapi urung ditertawakan reklame-reklame yang berisi
haha-hihi.
Semakin aku
pulang, semakin aku enggan. Katamu, bulu mata yang mengimani sunyi lebih bisa
dipercaya ketimbang janji-janji toleransi. Katamu lebih baik percaya pada
kepura-puraan gareng dan petruk di sendratari.
Di jalan menuju
rumah, kuputuskan untuk tak pulang. Biar bagaimana pun ingin kupeluk wajah ibu
dan melangitkan kesusahannya.
Ibu, aku kehilangan
peta menuju berandamu. Usia yang memutih pada rambutmu hanya menjadi bualan
politisi senayan. Aku memikirkan wajahmu yang kelelahan tanpa aku bisa menjadi
sapu tangan. Aku memikirkan ketidakmampuanku mengingat dan ketidakmampuanku
berbuat.
Ibu, aku tidak
pulang malam ini. Esok pagi biar kukirim sekeranjang demonstrasi sebagai
penawar sepi.
Suara ibu kota
Aku ingin tinggal
di ibu kota suaramu
Setelah sekian waktu
kau menyewa sebidang ruang dalam diriku tanpa membayar dengan perjumpaan
Tapi aku ada di
jantung sajak yang hilir mudik sepanjang partitur
Aku akan datang
sebagai suara-suara yang tak kau kenali dan kemalangan-kemalangan untuk kau
baca sepanjang outro
Lalu kembali
menjadi bunyi-bunyi pada sekelompok sunyi
Di Jantung Puisi Ini
Di jantung puisi
ini, kutaruh lautan sampah plastik.
Kuhimpun jutaan
ton gas rumah kaca untuk kusumpal lubang-lubang
pada luka di dadanya. Darahnya kan dialiri karbon monoksida, napasnya berbau
nitrogen dioksida.
Pada bulu matanya
yang selalu merontokkan rindu dan lelayu, kukirimkan pesan kepada keterlambatan
cuaca. Kutulis dengan lumpur dari sawah-sawah yang gagal berbuah. Kulipat segi
empat dan kubiarkan kerbau-kerbau mengecupkan kemarau.
Di ubun-ubunnya
kutiupkan doa dari anak-anak ibu kota yang belum pernah dilahirkan. Dan
kunyanyikan tangisan dari masa depan yang dititipkan hutan-hutan kebakaran.
Di jantung puisi
ini sungguh akan kutaruh lautan sampah plastik. Kan kurangkai botol-botol air
mineral, kemasan mie instan, dan cepuk pasta gigi yang kau buang bersama
keluguan pemulung jalanan.
Kuhimpun dan
kurangkai mereka jadi pulau-pulau. Lalu kan kutumbuhkan hutan belantara di
atasnya. Supaya jadi sarang harimau sumatera, badak bercula satu, burung
cendrawasih, orang utan, dan aktivis lingkungan yang mati ditebang kekuasaan.
Kuhimpun dan kubekukan
sebagian lainnya menjadi gunung-gunung dan kutub-kutub yang dingin dan jernih.
Di jantung
puisiku yang malang ini, lautan plastik mengembang seperti alam semesta yang
agnostik. Dia menjadi samudera-samudera tempat manusia-manusia kota mencuci
ingatan dan menghempas dosa-dosa pada ibunya.
Hingga akhirnya,
di jantung puisi ini, sudah tak ada tempat untuk kata-kata. Tapi tetap saja,
cuaca terlambat tiba dan hutan-hutan mengenakan baju kelabu.
Puisiku
menitipkan tanya, perlu berapa jantungku untuk menampung celamu?
[1] Reni Lestari—Bekerja
sebagai wartawan di sebuah harian ekonomi yang berbasis di Jakarta. Selain
menulis berita, juga gemar menulis dan membaca puisi, serta mengarang dan
merangkai cerita-cerita keseharian yang sederhana tetapi seringkali luput dari perhatian. Sebagian puisi
bisa diintip di akun instagram dan twitter: @renilestari__ serta blog pribadi
rumahtemaram.wordpress.com.