Puisi Ahmad Kohawan
NUN SEBELUM BATAVIA
nun sebelum Batavia
nelayan kali
Cilamaya
berjalan kaki
menuju cita
Tarumanagara
petani
Sangkuriang
menetap di kaki
bukit
mengeja kaki langit
ia percaya, seni dan politik tak jauh berbeda
mengguggah menggerakkan
cerita sebelum
lelap
dan entah sejak kapan
mentari di balik awan
Kalapa tumbuh di kepala
namun tak sesiapa yang risau
begitu banyak
yang pergi
begitu banyak
yang menepi
sembunyi isak
paling ringkih
dan warga tak
juga mengerti
tanah ini milik siapa?
terlalu
dekat terlalu dalam
nun sebelum Batavia
nun sebelum Batavia.[1]
Parepare, April 2020
TAK INGIN LELAP
tidak ada penerbangan
hari ini
atau malam nanti
bandara tutup
sementara
pabrik sekolah
bahkan taman
dan puisi yang kau ingin
terbakar
bayang bayang
tidak ada perjalanan
hari ini
atau malam nanti
labuhan tutup
sementara
rumah Tuhan
jejakmu juga
dan inai
yang kau harap
lesap angan angan
di Jakarta
bayang-bayang
berhenti bergerak
angan-angan
tak lagi terbang
tak pernah lelap
tak ingin lelap.
Parepare, April 2020
RINDU JAKARTA
Djayakarta
Djakarta
Jacatra
apa arti sebuah
kisah?
pada hujan yang
kau kenang
Kalapa
Batavia
Betawi
apa arti sepasang
isak?
pada bara yang
kau sekap
Melayu
Ambon
Bugis
apa arti kampung
halaman?
pada rahasia yang
kau genggam
di perjalanan
sebuah dekapan
sebuah kisah
sepasang isak
kampung halaman
apa arti seribu
mil kerinduan?
Parepare, April 2020
[1] Ahmad Kohawan, nama pena dari Ahmad, lahir dan tinggal di Parepare, Sulawesi Selatan. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi puisi: Alih Wahana Seni Rupa Sastra Negeri
Kertas, 2017; Kata-kata yang Tak Menua Benteng Penyair Makassar Sastra Kepulauan,
2017; Soekarno, Sastra dan Cinta Festival Sastra Bengkulu, 2018; Kuantar Kau ke Makassar F8 Makassar, 2018.