Puisi Septian Murival
Ada yang
aneh di Ibu Kota
Sebagai
mana huruf-huruf, Jakarta adalah kata-kata
Tempat
dimana huruf-huruf polos disulap bergerilya
Berbaris
takzim menuju ruang ganti tak bertulang
Memakai
baju-baju, bersolek diri memakai gincu dari liur basi
Mereka akan
dikirim ke sebuah peperangan abadi
Pertikaian
tiada akhir, antara jalanan dan gedung-gedung tinggi
Jika itu
terjadi, Tuhan pun tak sudi lalu memilih pergi
Segala
kotoran dan aib-aib akan membanjiri
Korbannya
adalah senyum-senyum dengan gigi-gigi
Tak lagi
sama, tak lagi dikenal
Pada kolong
langit dan bisingnya pergunjingan
Tutur-tutur
desa yang bersahaja
Hanya
tinggal dibuku pelajaran semata
Lalu
terkubur sebagai fosil bersejarah yang menunggu digali
Dikenang
dengan rasa takjub dan bangga
Kini, lebih
dari itu
Sesuatu
yang beda, semacam racun dan senjata. Kata mereka
Huruf-huruf
di Kota, tak punya waktu berdiskusi
Dibesarkan
dilingkungan penuh godaan yang sibuk sendiri
Nafsu-nafsu
ria yang bertegur sapa
Pura-pura
buta, sebagiannya pura-pura tuli
Menghambur
dari lidah hulu lalu kehilir
Menyembur
dari pikiran ke bibir-bibir
Huruf-huruf
kaku tak berdaya
Kata-kata
penuh kutu dan teraniaya, miskin makna
Berpikir
hanya untuk hari ini dan esok lusa
Tertumpahkan
ke segala penjuru, dari lantai hingga ke dermaga
Untuk
kata-kata yang masih hijau
Kau lahir
dari rahim siapa? Siapa ayah ibumu? Dari mana asalmu?
Huruf yang
malang, tak ada yang peduli
Berkelanalah
sesuka hati, diantara jeda dan tengah kami
Kata-kata
sunyi dan menyendiri
Dipaksa membuat
janji, dilain waktu menghakimi
Kau bilang
ini bukan salahmu, sebab
Huruf-huruf
benda mati
Kata-kata
tak punya hati
Gagasan-gagasan
mulia mengapung diselokan kota
Tak ada
yang peduli,meski ada yang terbunuh dan bunuh diri
Hari ini,
air mata Ibu Kota membasahi bangunan tua
Terisak-isak
menangisi nasibnya
Teringat
masa-masa sulit dan masih sederhana
Sebelum
para pendusta dan pabrik-pabrik berkuasa
Susoh, 01/03/2020
09:59