Puisi Isbedy Stiawan ZS

Foto Penulis
GALERI BUKU JAKARTA, A NEWS WRITER FOR THE CUT WHO COVERS POP CULTURE AND CELEBRITY.
AUG. 03, 2026
Main Image
Photo-Illustration: Vulture; Photos: Publisher

GAMBIR, KITA BERTEMU KEDUA KALI

 

sebagai pendatang. sama-sama dari kota berbeda

setelah percakapan panjang dan berharihari

dari sebuah bilik telepon genggam. lalu janji berjumpa

 

dari kota berbeda, jumpa di stasiun ini. kau menumpang

kereta dari utara. aku naik bis dari arah barat

lalu melepas syahwat. menikmati berahi kuda

serupa di padang rumput Sumba. "ayo! jangan

ganggu umbu, ia sedang samadi di seribu pura!" bisikku 

merapat di telingamu,

 

sebelum kota ini menenggelamkan kita ke kubangan

lumpur. sebelum pagi benarbenar menggoda

untuk terus lelap. berpeluk dalam suka dan cita

 

kau yang datang dari utara

aku dayang dari barat

tapi arah kita satu; lebarkan 

peta, hanya pada timur 

kelak kita berkumul

 

melepaskan berahi harihari

yang terpendam di buku karangan

kita sendiri. berhalamanhalaman

ditulis dari setiap percakapan;

 

sampai pada lelah 

segala kita sudahi

 

berludahludah ditampung

dengan lambung kota ini

yang tidak pernah mati!

 

sebelum menuju peristirahatan

gambar dulu munumen nasional

itu, sebelum menjadi siang

 

TERLALU BANYAK KENANGAN

 

aku sudah pergi sebelum hujan menepi

dan kutahu kau sampai di taman itu

lalu duduk di kursi panjang, kau rasakan

bekasku. kini basah sisa hujan yang juga

menempel di sana. kau ingin mencium

aroma di situ. seperti merasa aku di sana

menghabiskan popcorn bersama

 

kemudian memesan sebotol minuman

sampai tumpah di kursi itu. tanganku

menyenggol saat kupegang pipimu 

ingin merapatkan wajah, layaknya

dalam filmfilm yang menyerbu

 

tapi keburu hujan datang

kau belum juga tiba

 

aku gelisah

mungkin kau cemas

tak ada hari esok

 

membayangkan kita susuri

namanama jalan di kota itu,

kota yang terlalu baru

kalau ingin diceritakan

oleh bibir remaja,

dan telah jadi dokumen

bagi nyala api berkalikali

bahkan, dua kali peristiwa

meninggalkan kursi istana

 

siapa pun akan bertanya

namun usah pakai tanda

 

di sini, di kota yang kelak

ditinggal ini, terlalu banyak

kenangan, airmata dan taburan bunga

 

 

Lampung, 2019/2020

 

 

PEREMPUAN DI KAMAR MANDI

 

hanya perempuan 

berdiri telanjang

di kamar mandi

di balik kaca

      segala teraba

 

mengajak datang

berorangorang

      juga seorang

 

menawarkan syahwat

nikmat berahi,

           lalu cacimaki

 

hanya perempuan

berdiri telanjang

di tubuhnya rahasia

untuk dijabarkan

 

jadi kabar

 

sebelum habis 

dalam haus

 

hanyalah perempuan

di tepi jalan

melambaikan tangan

untuk singgah

sekadar riang

 

 

2019

 

 

TAK MAU JADI BATU

 

setiap ingin suaramu

kuminta angin menemuimu

lalu membawanya untukku

sebagaimana air memekarkan

padi, lalu jelma dewi sri 

dan menemaniku pagi-siang-malam

tak habishabis cumbuan

 

lalu kau panggil aku sri

tumbuh di seluasluas pematang

tanganku melambai pada angin

jika rinduku kian bertalu

"aku tak mau jadi batu 

hanya dikunjungi tiap liburan," 

kataku

 

kau tahu apa yang kuminta;

baiklah, angin akan datang

bawakan suaraku. sebagai 

penyubur batangbatang padi

 

aku sri?

itu hanya panggilan

jika pun harus sampai...

 

2019

 

 

MELEMPAR DAPUR KE RUANG TAMU

 

kau ajak aku bertangan pisau

melempar dapur ke ruang tamu

 

"sesekali lupakan kalimat 

ratu dan pelukcium. seperti

bumi ingin pula sunyi, hirup

udara tanpa polusi," katamu

 

maka bumi kirim pandemi

orangorang ketakutan

diam di rumah. menguliti

harihari setipis ari

 

"sesekali kita kelahi

saling caci. untuk 

lahir sebuah puisi," pintamu

 

kukenakan pisau di tangan

tubuhku juga berdarah!

 

kau tertawa 

sepanjang baris puisi

 

: aku mati dalam katamu?

 

kau ajak aku melampar

dapur ke ruang tamu

melompati kalikali keruh

agar segera tiba cepat

di banteng. “hari krida,

                             upacara!” katamu,

 

aku tak biasa apel

bangun tidur selepas

pukul 11 siang. bukankah

kau pula yang mengusik

demi menunda kematianku?

 

di lapangan upacara

kutemukan kembali

dapurku yang berantakan

tanpa ada lagi perabot

selain potongan jempolku

bergerakgerak…[1]

 

2020

 



[1] Isbedy Stiawan ZS lahir dan besar di Tanjungkarang, Lampung. Menulis puisi, ceroen, puisi, esai, dan karya jurnailistik. Karya-karya sastranya dipublikasikan di berbagai media Jakarta dan daerah. Buku sastranya lebih dari 20 judul diterbitkan oleh penerit major mauoun indie. Terbaru adalah Akamat Rindu Dikutuk Rindu, Seseorang Keluar dari Telepon Genggam (2019), Kini Aku udah Jadi Batu! (2020), dan Aku Betina Kau Perempuan (basabasi, 2020).

 


Galeri Buku Jakarta

GALERI BUKU JAKARTA

Bersama para penulis dan kontributor Galeri Buku Jakarta yang dicintai pembacanya. Galeri Buku Jakarta selalu memiliki misi ganda: untuk mempromosikan penulis yang paling menarik dan untuk mendukung pembaca yang ambisius dan ingin tahu.