Puisi J. Akid Lampacak
Khotbah
Dari Jakarta
I
bendungan
di kota kami
yang
dibangun oleh seribu tetes air mata
seratus doa
dan upacara musim
pada sebuah
almanak yang kering, telah
sempurna
membuat kami bermimpi lengking
di kota ini
telah kami
susun pecahan sunyi
dari suluk
bayang dan keindahan kitab suci
sebagaimana
aliran embun-embun
selalu saja
berakhir di pucuk daun.
II
mesti kami
hikayatkan
senampan
kisah nenek moyang
yang
berenang di genangan kebisingan
saat siang
datang mewarnai kelaparan
kau mesti
melihat
barapa
kedukaan tak menemukan tempat
hay, ini
lah kota kami
yang hidup
dengan pekat aroma kopi
bersetubuh
denagn bau gas dan asap kenalpot
setelah
keramaian senantiasa menjadi repot
III
kami kenang
keriangan anak-anak
yang
bermain mengejar aroma hujan
hingga
lupaan menginjak lembut halaman
mengenal
warna tanah dan siur angin rendah
yang
mengajari kami selalu tabah.
berapa
alamat musim jatuh di kota kami
ketika
selembar percakapan mencangkul halaman
ketika
kupu-kupu menghirup sari mawar
tak ada
keindahan selain mengenang
desah kota
tua yang penuh pengorbanan.[1]
Sumenep, 2020
Sublim
Ketiga
- Ibu Kota Jakarta
dengan
menyentuh lembut tanahmu
berapa
patah tulang rinduku
bangunanmu
yang mancung
pengembaraan
gelap renung
kucurhatkan
halus jalanmu
pada hujan
menjelang kemarau
hikayatmu
yang pirang
merupakan
pesona dalam angan
saat hutan
penuh daun hijau
dan
embun-embun jatuh perlahan
menghapus
sisa debu di jalan pulang
sedang
jantungmu
dataran
lenggang di jalan bersimbang
dengan
jejak para pengembara
yang
terbaca di puncak cakrawala
maka
kupelihara warna indahmu
seperti
asap tembakau nan kedap
dihirup
penuh kenikmatan
penyunting
hidup yang sebentar.
Sumenep,2020
Jakarta
Dalam Rindu
di musim
purba yang bukan lagi milikku
sudah lama
hujan tak mendengar kabarmu
angin dan
debu semakin akrab
seperti
riak burung di rumpun gelap
rumput-rumput
semakin mengering
tak tahan
menatap rindang matahari
saat tiba
kutemukan sebilah kegembiraan
dalam isak
sajak yang lama kesepian.
di
sepanjang bayangku
di dalam
sejarah kemakmuranmu
luka pun
lapang terbuka
begitu
indah menghias doa.
maka
kutulis lagi ceritamu
dengan
langkah petang menempuh kelabu
walau
sering kutemukan
putih kain
kafan membungkus kenangan
saat
tiba-tiba aku tersenyum
seakan
keindahan tercipta dengan renung.
siang malam
pergi bergantian
siang malam
perlahan semakin diam
selalu
seperti pagi dan embun
begitu saja
berakhir di pucuk daun.
Sumenep,2020
Cringkeng
_Gadis Jakarta
selalu
terkecup asin kehidupan
di tegah
cobek yang mengenang tarian
sepotong
bambu tua dalam kesepian
warnanya
menentramkan segala mantra
seperti
gairah hasrat ayam jantan
yang sedang
menyetubuhi anaknya
di sebuah
sore yang hampir binasa.
ia tak
ingin angin berhenti
di tengah
kebisingan ranting kering
sebab pisau
yang bertulis huruf ceraka
akan
memisahkan badan dan kepalanya.
barangkali
sore ini
merupakan
waktu baginya untuk berpamit
pada senja
atau awan yang tak bisa lagi
ia tatap
bersama kekasihnya.
maka ia
berpesan pada anak sulungnya;
waktu masih
panjang
dan
orang-orang tak pernah sadar
bahwa maut
tak tentu kedatangannya
seperti
tubuhku yang akan berenang
di atas
genangan kuah santan.
Sumenep,2020
Di Kota
Jakarta
tinggal di
kota jakarta
adalah doa
yang selalu disebut
dalam kitab
atau kamus para pelaut.
kota yang
tanpa nabi
kota yang
tak butuh para wali
kota yang
merahasiakan janji-janji
adalah kota
kami,
yang
melintang jauh sebelum dosa diciptkan
dengan
dendam dan kilau lampu jalan.
aku pun
larut di sini
mencari
sumber ketabahan
dari bundar
harap di selat bayang
sebab hidup
di keramaian
merupakan
mimpi panjang
untuk
melayari masa depan.
maka
kuhikayatkan
seberkas
memori nenek moyang
yang hijau
bersama maut
saat peluh
nyangkut di lutut
saat petang
menghias bulan
tak ada
pelarian,
selain
mengenang riuh perjalanan.
Sumenep,2020
[1] J. Akid Lampacak—Lahir Di Lebeng Barat Pasongsongan Sumenep
Madura. Menulis Cerpen Dan Puisi. Saat Ini Masih Tercatat Sebagai Santri Tugas
Pondok Pesantren Annuqayah. Yang Mengajar Materi Bahasa Indonesia Di Smp
Al-Mansyuria Sampang. Menjadi Ketua Komunitas Laskar Pena Lubangsa Utara Serta
Pengamat Litrasi Di Sanggar Becak Sumenep. Puisi-Puisinya Telah Tersiar Di
Media Nasional Dan Lokal, Di Antaranya Rebublika, Suara Merdeka, Minggu Pagi,
Haluan, Riau Pos, Rakyat Sultra, Dan Sebagainya.