Puisi J. Akid Lampacak

Foto Penulis
GALERI BUKU JAKARTA, A NEWS WRITER FOR THE CUT WHO COVERS POP CULTURE AND CELEBRITY.
JUL. 24, 2026
Main Image
Photo-Illustration: Vulture; Photos: Publisher

Khotbah Dari Jakarta

 

I

bendungan di kota kami

yang dibangun oleh seribu tetes air mata

seratus doa dan upacara musim

pada sebuah almanak yang kering, telah

sempurna membuat kami bermimpi lengking

 

di kota ini

telah kami susun pecahan sunyi

dari suluk bayang dan keindahan kitab suci

sebagaimana aliran embun-embun

selalu saja berakhir di pucuk daun.

 

II

mesti kami hikayatkan

senampan kisah nenek moyang

yang berenang di genangan kebisingan

saat siang datang mewarnai kelaparan

kau mesti melihat

barapa kedukaan tak menemukan tempat

 

hay, ini lah kota kami

yang hidup dengan pekat aroma kopi

bersetubuh denagn bau gas dan asap kenalpot

setelah keramaian senantiasa menjadi repot

 

III

kami kenang keriangan anak-anak

yang bermain mengejar aroma hujan

hingga lupaan menginjak lembut halaman

mengenal warna tanah dan siur angin rendah

yang mengajari kami selalu tabah.

 

berapa alamat musim jatuh di kota kami

ketika selembar percakapan mencangkul halaman

ketika kupu-kupu menghirup sari mawar

tak ada keindahan selain mengenang

desah kota tua yang penuh pengorbanan.[1]

Sumenep, 2020

 

Sublim Ketiga

              ­- Ibu Kota Jakarta

 

dengan menyentuh lembut tanahmu

berapa patah tulang rinduku

bangunanmu yang mancung

pengembaraan gelap renung

kucurhatkan halus jalanmu

pada hujan menjelang kemarau

 

hikayatmu yang pirang

merupakan pesona dalam angan

saat hutan penuh daun hijau

dan embun-embun jatuh perlahan

menghapus sisa debu di jalan pulang

 

sedang jantungmu

dataran lenggang di jalan bersimbang

dengan jejak para pengembara

yang terbaca di puncak cakrawala

 

maka kupelihara warna indahmu

seperti asap tembakau nan kedap

dihirup penuh kenikmatan

penyunting hidup yang sebentar.

Sumenep,2020

 

Jakarta Dalam Rindu

 

di musim purba yang bukan lagi milikku

sudah lama hujan tak mendengar kabarmu

angin dan debu semakin akrab

seperti riak burung di rumpun gelap

rumput-rumput semakin mengering

tak tahan menatap rindang matahari

saat tiba kutemukan sebilah kegembiraan

dalam isak sajak yang lama kesepian.

 

di sepanjang bayangku

di dalam sejarah kemakmuranmu

luka pun lapang terbuka

begitu indah menghias doa.

 

maka kutulis lagi ceritamu

dengan langkah petang menempuh kelabu

walau sering kutemukan

putih kain kafan membungkus kenangan

saat tiba-tiba aku tersenyum

seakan keindahan tercipta dengan renung.

siang malam pergi bergantian

siang malam perlahan semakin diam

selalu seperti pagi dan embun

begitu saja berakhir di pucuk daun.

Sumenep,2020

 

Cringkeng

              _Gadis Jakarta

 

selalu terkecup asin kehidupan

di tegah cobek yang mengenang tarian

sepotong bambu tua dalam kesepian

warnanya menentramkan segala mantra

seperti gairah hasrat ayam jantan

yang sedang menyetubuhi anaknya

di sebuah sore yang hampir binasa.

 

ia tak ingin angin berhenti

di tengah kebisingan ranting kering

sebab pisau yang bertulis huruf ceraka

akan memisahkan badan dan kepalanya.

 

barangkali sore ini

merupakan waktu baginya untuk berpamit

pada senja atau awan yang tak bisa lagi

ia tatap bersama kekasihnya.

 

maka ia berpesan pada anak sulungnya;

waktu masih panjang

dan orang-orang tak pernah sadar

bahwa maut tak tentu kedatangannya

seperti tubuhku yang akan berenang

di atas genangan kuah santan.

Sumenep,2020

 

Di Kota Jakarta

 

tinggal di kota jakarta

adalah doa yang selalu disebut

dalam kitab atau kamus para pelaut.

 

kota yang tanpa nabi

kota yang tak butuh para wali

kota yang merahasiakan janji-janji

adalah kota kami,

yang melintang jauh sebelum dosa diciptkan

dengan dendam dan kilau lampu jalan.

 

aku pun larut di sini

mencari sumber ketabahan

dari bundar harap di selat bayang

sebab hidup di keramaian

merupakan mimpi panjang

untuk melayari masa depan.

 

maka kuhikayatkan

seberkas memori nenek moyang

yang hijau bersama maut

saat peluh nyangkut di lutut

saat petang menghias bulan

tak ada pelarian,

selain mengenang riuh perjalanan.

Sumenep,2020



[1] J. Akid LampacakLahir Di Lebeng Barat Pasongsongan Sumenep Madura. Menulis Cerpen Dan Puisi. Saat Ini Masih Tercatat Sebagai Santri Tugas Pondok Pesantren Annuqayah. Yang Mengajar Materi Bahasa Indonesia Di Smp Al-Mansyuria Sampang. Menjadi Ketua Komunitas Laskar Pena Lubangsa Utara Serta Pengamat Litrasi Di Sanggar Becak Sumenep. Puisi-Puisinya Telah Tersiar Di Media Nasional Dan Lokal, Di Antaranya Rebublika, Suara Merdeka, Minggu Pagi, Haluan, Riau Pos, Rakyat Sultra, Dan Sebagainya.

 


Galeri Buku Jakarta

GALERI BUKU JAKARTA

Ex sunt numquam aperiam voluptates aliquid ut consequatur. Quia consequuntur dolor deserunt consequatur quia incidunt. Non nihil voluptate exercitationem error quibusdam. Quisquam dignissimos quis architecto adipisci. Rerum nihil animi nihil officiis eius quia molestias.