Puisi Puisi Marko Matičetov
NOV. 03, 2026
Photo-Illustration: Vulture; Photos: Publisher
Hubungan ini
Hubungan ini bertahan begitu lama,
hingga dua jiwa tidak bisa berpisah lagi. Ataukah?
Mereka memang tak pernah berpisah.
Keduanya sudah lupa bagaimana rasanya sendiri.
Mereka begitu saling terikat,
hingga tidak dapat membayangkan bagaimana bila tak bersama.
Masing-masing sendiri?
Tidak, terima kasih.
Mereka akan tetap bersama, apa pun yang terjadi.
Ikatan ini menyatukan mereka,
meskipun tanpa ada anak.
Tidak, itu tidak mungkin
Tidak, itu tidak mungkin.
Bahwa begitu banyak orang sebelumku telah pergi.
Tidak mungkin tidak ada yang tersisa dari mereka.
Tidak, karena aku ada.
Dan jika tambak garam sudah ada selama tujuh ratus tahun,
bukan dengan sendirinya, tetapi karena mereka.
Semua yang telah pergi dan semua yang masih ada.
Jika bukan karena mereka,
aku juga tidak bisa berdiri dengan taperini di tengah ladang.
Aku juga tidak bisa menggaruk garam dengan gavero.
Belum ada garam tahun ini, tapi akan ada –
karena selalu ada.
Saat kita mematikan musik
Saat kita mematikan musik,
ada keheningan.
Keheningan tinggal di dalam kita.
Dan ketika kita menyalakannya,
musik pun hidup di dalam kita.
Ia masuk melalui telinga,
menembus otak,
mengalir dalam darah, dan menjalar ke seluruh tubuh.
Dan saat kita mematikannya,
musik keluar dari telinga,
keluar dari otak,
keluar dari darah dan tubuh.
Kita mematikannya dan menyalakannya.
Kita menyalakannya dan mematikannya.
Dan kita merasakan bagaimana ia bergerak.
Di sekujur tubuh.
Laut bergelombang seperti darah di pembuluh kita
Laut bergelombang seperti halnya darah di pembuluh kita,
saat kita berbaring di sampingnya, tubuh berdekatan dengan tubuh.
Dengan satu telinga, aku menempel di kulitmu,
agar tidak mendengar apa pun selain bisikan sunyi di kepalaku.
Dengan telinga lainnya,
aku mendengar gemericik ombak dan angin di udara.
Saat aku menulis ini, kamu sedang tidur.
Dengan tubuhku ini, aku meneduhkanmu dari matahari,
memberimu bayangan di bawahnya.
Matahari kini rendah dan sebentar lagi akan terbenam.
Saat itu terjadi, kita akan pergi.
Kamu akan terbangun sendiri, atau aku akan berbisik di telingamu saatnya kita pergi.
Seluruh dunia ada dalam jangkauan tangan kita
Seluruh dunia ada dalam jangkauan tangan kita.
(Jika hanya kita berdua seluruh dunia itu.)
Jika kita dua dunia yang berpadu menjadi satu dunia.
Ulurkan tanganmu padaku.
Agar aku bisa menggenggam duniamu di tanganku,
agar kamu bisa menggenggam duniaku di tanganmu.
Pilot menatap udara di depannya
Pilot memandang udara di depannya,
pelaut memandang laut,
pengemudi memandang jalan.
Jauh di depan – demi keselamatan,
dan ke dalam diri – sedikit demi sedikit.
Mustahil hanya menatap ke luar.
Itulah sebabnya, saat mengemudi,
kau juga berlayar dan terbang dalam pikiran.
Mata menatap.
Ayah dan ibu saling berbicara.
Anak pun terlelap.
Segala yang ada, hidup
Segala yang ada, hidup.
Tidak ada alam yang tak bernyawa.
Tidak ada benda yang mati.
Batu itu di tepi jalan.
Jalan itu.
Mobil itu di jalan.
Di dalamnya – kita.
Semua hal punya misinya.
Maknanya.
Jalannya.
Segala sesuatu menemani kita dalam perjalanan.
Mari berbicara satu sama lain,
dengan binatang, tanaman, dan benda-benda.
Setiap orang kehilangan setengah dunia sebelum ia lahir
Setiap orang kehilangan setengah dunia sebelum ia lahir.
Bukan dunianya sendiri,
melainkan dunia yang telah dijalani orang lain sebelum dirinya.
Dua kehidupan terakhir yang darinya ia muncul.
Tentang dua kehidupan itu, ia hanya akan tahu sebatas yang diceritakan padanya – tidak lebih.
Mustahil menceritakan semuanya.
Mustahil menghidupkan kembali apa yang telah dialami.
Kehidupannya sendiri pun tak bisa ia ulang, apalagi kehidupan orang lain.
Harus memulai dari nol.
Mengingat apa yang berharga.
Diamkan apa yang tidak berharga.
Meneruskan apa yang bisa diteruskan – dari masa lampau.
Di dalam dirimu ada diri lain
Di dalam dirimu ada diri lain.
Di dalamnya ada lanskap yang masih menunggu untuk mekar.
Di dalamnya ada dunia yang akan hidup di dunia.
Dunia kecil, ciptaan diri kita sendiri.
Dari pembuluh darah, kita menenun saluran baru.
Kita menenun ikatan yang akan mempersatukan kita seumur hidup.
Ikatan itu akan menenun tali baru di antara kita.
Karena kamu, kita tidak sendirian.
Karena kamu, kita bukan yang terakhir dari mereka
yang datang sebelum kita.
Seluruh keabadian menunggu kita.
Kita dulu fana, dan sekarang tidak lagi.
Bersamamu, semuanya berlanjut dan dimulai kembali.
Tentang Penulis
Marko Matičetov (lahir pada 1984) adalah penyair Slovenia dan penulis enam kumpulan puisi. Kumpulan terbarunya, V notranjosti so pokrajine (2025), telah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Ia meraih gelar magister ilmu politik dan telah bekerja di bidang perpustakaan selama sekitar 17 tahun. Sejak 2022, ia menjabat sebagai direktur Perpustakaan Umum Srečko Kosovel di Sežana, Slovenia.
Hubungan ini bertahan begitu lama,
hingga dua jiwa tidak bisa berpisah lagi. Ataukah?
Mereka memang tak pernah berpisah.
Keduanya sudah lupa bagaimana rasanya sendiri.
Mereka begitu saling terikat,
hingga tidak dapat membayangkan bagaimana bila tak bersama.
Masing-masing sendiri?
Tidak, terima kasih.
Mereka akan tetap bersama, apa pun yang terjadi.
Ikatan ini menyatukan mereka,
meskipun tanpa ada anak.
Tidak, itu tidak mungkin
Tidak, itu tidak mungkin.
Bahwa begitu banyak orang sebelumku telah pergi.
Tidak mungkin tidak ada yang tersisa dari mereka.
Tidak, karena aku ada.
Dan jika tambak garam sudah ada selama tujuh ratus tahun,
bukan dengan sendirinya, tetapi karena mereka.
Semua yang telah pergi dan semua yang masih ada.
Jika bukan karena mereka,
aku juga tidak bisa berdiri dengan taperini di tengah ladang.
Aku juga tidak bisa menggaruk garam dengan gavero.
Belum ada garam tahun ini, tapi akan ada –
karena selalu ada.
Saat kita mematikan musik
Saat kita mematikan musik,
ada keheningan.
Keheningan tinggal di dalam kita.
Dan ketika kita menyalakannya,
musik pun hidup di dalam kita.
Ia masuk melalui telinga,
menembus otak,
mengalir dalam darah, dan menjalar ke seluruh tubuh.
Dan saat kita mematikannya,
musik keluar dari telinga,
keluar dari otak,
keluar dari darah dan tubuh.
Kita mematikannya dan menyalakannya.
Kita menyalakannya dan mematikannya.
Dan kita merasakan bagaimana ia bergerak.
Di sekujur tubuh.
Laut bergelombang seperti darah di pembuluh kita
Laut bergelombang seperti halnya darah di pembuluh kita,
saat kita berbaring di sampingnya, tubuh berdekatan dengan tubuh.
Dengan satu telinga, aku menempel di kulitmu,
agar tidak mendengar apa pun selain bisikan sunyi di kepalaku.
Dengan telinga lainnya,
aku mendengar gemericik ombak dan angin di udara.
Saat aku menulis ini, kamu sedang tidur.
Dengan tubuhku ini, aku meneduhkanmu dari matahari,
memberimu bayangan di bawahnya.
Matahari kini rendah dan sebentar lagi akan terbenam.
Saat itu terjadi, kita akan pergi.
Kamu akan terbangun sendiri, atau aku akan berbisik di telingamu saatnya kita pergi.
Seluruh dunia ada dalam jangkauan tangan kita
Seluruh dunia ada dalam jangkauan tangan kita.
(Jika hanya kita berdua seluruh dunia itu.)
Jika kita dua dunia yang berpadu menjadi satu dunia.
Ulurkan tanganmu padaku.
Agar aku bisa menggenggam duniamu di tanganku,
agar kamu bisa menggenggam duniaku di tanganmu.
Pilot menatap udara di depannya
Pilot memandang udara di depannya,
pelaut memandang laut,
pengemudi memandang jalan.
Jauh di depan – demi keselamatan,
dan ke dalam diri – sedikit demi sedikit.
Mustahil hanya menatap ke luar.
Itulah sebabnya, saat mengemudi,
kau juga berlayar dan terbang dalam pikiran.
Mata menatap.
Ayah dan ibu saling berbicara.
Anak pun terlelap.
Segala yang ada, hidup
Segala yang ada, hidup.
Tidak ada alam yang tak bernyawa.
Tidak ada benda yang mati.
Batu itu di tepi jalan.
Jalan itu.
Mobil itu di jalan.
Di dalamnya – kita.
Semua hal punya misinya.
Maknanya.
Jalannya.
Segala sesuatu menemani kita dalam perjalanan.
Mari berbicara satu sama lain,
dengan binatang, tanaman, dan benda-benda.
Setiap orang kehilangan setengah dunia sebelum ia lahir
Setiap orang kehilangan setengah dunia sebelum ia lahir.
Bukan dunianya sendiri,
melainkan dunia yang telah dijalani orang lain sebelum dirinya.
Dua kehidupan terakhir yang darinya ia muncul.
Tentang dua kehidupan itu, ia hanya akan tahu sebatas yang diceritakan padanya – tidak lebih.
Mustahil menceritakan semuanya.
Mustahil menghidupkan kembali apa yang telah dialami.
Kehidupannya sendiri pun tak bisa ia ulang, apalagi kehidupan orang lain.
Harus memulai dari nol.
Mengingat apa yang berharga.
Diamkan apa yang tidak berharga.
Meneruskan apa yang bisa diteruskan – dari masa lampau.
Di dalam dirimu ada diri lain
Di dalam dirimu ada diri lain.
Di dalamnya ada lanskap yang masih menunggu untuk mekar.
Di dalamnya ada dunia yang akan hidup di dunia.
Dunia kecil, ciptaan diri kita sendiri.
Dari pembuluh darah, kita menenun saluran baru.
Kita menenun ikatan yang akan mempersatukan kita seumur hidup.
Ikatan itu akan menenun tali baru di antara kita.
Karena kamu, kita tidak sendirian.
Karena kamu, kita bukan yang terakhir dari mereka
yang datang sebelum kita.
Seluruh keabadian menunggu kita.
Kita dulu fana, dan sekarang tidak lagi.
Bersamamu, semuanya berlanjut dan dimulai kembali.
Tentang Penulis
Marko Matičetov (lahir pada 1984) adalah penyair Slovenia dan penulis enam kumpulan puisi. Kumpulan terbarunya, V notranjosti so pokrajine (2025), telah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Ia meraih gelar magister ilmu politik dan telah bekerja di bidang perpustakaan selama sekitar 17 tahun. Sejak 2022, ia menjabat sebagai direktur Perpustakaan Umum Srečko Kosovel di Sežana, Slovenia.