Puisi Rini Intama

Foto Penulis
GALERI BUKU JAKARTA, A NEWS WRITER FOR THE CUT WHO COVERS POP CULTURE AND CELEBRITY.
JUL. 24, 2026
Main Image
Photo-Illustration: Vulture; Photos: Publisher

AKU TUNGGU KAU DI JAKARTA 

 

Aku tunggu kau di Jakarta

Dalam seribu kata hangat tentang kota ini

Dari peta sejarah dan kesayupan masa silam

Hingga misteri kelam yang menyumpal penjara hitam di museum kota 

 

Setelah kukisahkan air mata nyai dasima dengan bibir beraroma sirih pinang

Jadi simbol perempuan yang menggelung rambut

Dengan kesetiaan bersimbah darah

Dan jemari menguntai melati  

Juga suara melantun duka

Dengar suara tanjidor dan kroncong tugu

Dalam hikayat masa lalu

 

Aku tunggu kau di Jakarta

Meski kota telah hiruk pikuk

Sebab ada suara panjang lintasan kereta

Jalan telah berubah, orang bergegas meminang waktu

Meracik bahagia di antara nafas berat 

 

Berulang kali puisi menuliskan kota ini

Dari kerlip cahaya lampu dan panas matahari di pancoran 

Atau impian  bermetafora rindu yang meliuk liuk di bundaran HI

Hingga sepanjang jalan sudirman thamrin 

Lalu ke utara aku berjalan mendekati kenangan

Dan aku sibuk menulis lelah sepi di keramaian

Mematahkan malam  

 

Purnama memecah harapan di jantung doa

Di keriuhan politik dan percakapan merdeka di gedung gedung tinggi    

Mimpi berlarian di gang sempit dan  pinggir ciliwung berair keruh

 Di antara alunan musik jalanan yang putus asa

 

Aku tunggu kau di Jakarta

Meski nanti ada gemuruh kota

Suara beterbangan memanah getir

Simpang siur kebenaran dan kesalahan

Saling berteriak di jalan jalan

Tak saling mengusap air mata

Bahkan hilir mudik memandu kecemasan

Prahara hidup dan kemiskinan hanyut dalam dada

Suara ketidak adilan di antara ruang dan waktu

Jadi nyanyian di kerontang tanah kemarau

Atau telaga duka di musim hujan

 

Aku tunggu kau di Jakarta

Biarkan waktu memeluk kata 

Di ruang ruang berdebu

Di pinggir pinggir rel kereta

Lalu para penyair menikam dada sendiri  

Lesap dalam bait sajak dan buku buku

Puisi jadi darah mengalir syahdu

Mewarnai kota dengan cahaya

Perdamaian, persaudaraan dan kemanusiaan

Di antara perang kehidupan dan kutukan

Yang akan jadi ledakan dan batu batu api

 

Aku masih menunggumu di sini 

Kita nyalakan api di sebatang lilin [1]

 

 

April 2020

 

JALAN JALAN KOTA

 

Aku berjalan ketimur, selatan hingga barat

Menunggu dan mengejarmu bersama angin

Kutemukan isyarat jingga di langit Jakarta

Dalam senja yang kita tunggu di balik gedung tua

Apakah ini seperti kata kata\ yang menggoda

Agar aku bisa mencium aroma kota yang semerbak

Atau berlarian di tamantaman berpohon perdu dan akasia

Melewati hutan kaca, trotoar dan jembatan bisu

Atau menunggui bilurbilur rindu di stasiun kereta

Di antara debu debu

 

Maka berlarian aku ke jalan jalan kota

Juga ke rumah dan halaman yang kita cintai itu

Sebab aku tak ingin ke tempat yang berabu

Temui saja aku dalam doa  dan amsal rindu

Sebelum huruf mematahkan kata 

Kita jumpai kesabaran

Juga kegembiraan

 

Sebab perempuan seringkali diam-diam menuliskannya

 

Februari 2020

 

KOTA DAN KITA

 

Di senja yang mulai samar

Waktu berkelakar menemui nasibnya

Dari bangku panjang hitam yang bisu

Setelah perundingan rindu itu

Dua jam menari mencarimu

Melukis peta perjalanan

Dari kaki yang dingin

 

Kutemukan kata

Dan garis waktu

Di sayap kupu-kupu
Yang terbang dari seberang lautan

Lalu hinggap di secangkir kopi  

Yang kita pesan sebelumnya

 

"tidurlah di rindumu yang mati"

Sebab kota dan kita hanya menanam sepi

 

Maret 2020

 

TANJIDOR

 

Kudengar suara tanjidor

Di sebuah perkampungan

 

Setelah kulewati kota kota

Tak sanggup aku sempurnakan

Panjang perjalanan yang membulirkan rasa

Dan aku temukan kedamaian paling sunyi

 

Setelah kutemukan kata kata

Tak sanggup aku bacakan

Rentetan gelisah dan jiwa berteriak riuh

Dan terperangkap kenangan paling hening

 

Maka aku namakan dia puisi

Setelah kujumpai luka luka

Dari rahasia kecemasan

Dan duka lara

 

Sayup masih kudengar nyanyian klasik

Hingga kutanya soal lagu kicir kicir, jali jali dan sirulang

Sebab masa silam adalah tahun tahun perjalanan

Suara yang membangunkan kita dari tidur panjang

 

Sayup masih kudengar suara tanjidor

Di jalan antara rumah rumah tua 

Menaburkan kesabaran di atas batu batu

Yang mengabari tentang masa lalu

 

Tangerang,  Januari 2020

 

MONUMEN  KOTA

 

Kulihat seorang perempuan

Meletakkan karangan bunga dekat monumen kota

Tak lagi ada mimpi buruk

 

Inilah pengampunan

Jadi kebebasan sayap burung gagak 

Dari doa yang berdenyut di setiap malam

Lalu cinta menjaga dari tahun tahun hitam

Dari perang perang kegelisahan

Dan semua amarah yang murung

 

Monumen dingin di tengah kota

Bahwa bunga mengubur harumnya

Lalu jalan dan gedung yang mengelilinginya

Jadi ruang-ruang kosong

Dan kita larut dalam himne kematian nurani

 

Kutabumi, Maret 2020



[1] Rini Intama—pendidik, penulis lahir tanggal 21 Februari di Garut, Jawa Barat. Anggota Komite Sastra “Dewan Kesenian Kabupaten Tangerang.   Aktif di Komunitas Saung Sastra Tangerang,  Komunitas Penulis Nyi Mas Melati Tangerang dan Perempuan Penyair Indonesia. Buku karyanya KANAYA dalam sekumpulan puisi (Tareshibook 2019), HIKAYAT TANAH JAWARA, Babad Banten dalam sekumpulan puisi (Kosakatakita 2018), KIDUNG CISADANE, Sejarah dan Budaya Tangerang dalam Puisi  (Kosakatakita 2016), PANGGIL AKU LAYUNG.  Novel  (Kosakatakita 2015), A YIN,   kumpulan cerpen, ( Kinomedia 2014), TANAH ILALANG DI KAKI LANGIT,  Kumpulan puisi  (Penerbit Senja 2014), GEMULAI TARIAN NAZ,  Jejak sajak Rini Intama (Q Publisher 2011) Dan puluhan buku antologi bersama puisi dan cerpen, dimuat juga dalam beberapa harian lokal.

 


Galeri Buku Jakarta

GALERI BUKU JAKARTA

Bersama para penulis dan kontributor Galeri Buku Jakarta yang dicintai pembacanya. Galeri Buku Jakarta selalu memiliki misi ganda: untuk mempromosikan penulis yang paling menarik dan untuk mendukung pembaca yang ambisius dan ingin tahu.