Puisi Rini Intama
AKU TUNGGU KAU DI JAKARTA
Aku tunggu
kau di Jakarta
Dalam
seribu kata hangat tentang kota ini
Dari peta sejarah dan kesayupan masa silam
Hingga misteri kelam yang menyumpal penjara hitam di museum kota
Setelah kukisahkan air mata nyai dasima dengan bibir beraroma sirih pinang
Jadi simbol
perempuan yang menggelung rambut
Dengan kesetiaan bersimbah darah
Dan jemari menguntai melati
Juga suara melantun duka
Dengar suara
tanjidor dan kroncong tugu
Dalam hikayat masa lalu
Aku tunggu
kau di Jakarta
Meski kota telah hiruk pikuk
Sebab ada suara panjang lintasan kereta
Jalan telah berubah, orang bergegas meminang waktu
Meracik bahagia di antara nafas berat
Berulang
kali puisi menuliskan kota ini
Dari kerlip
cahaya lampu dan panas matahari di pancoran
Atau impian
bermetafora rindu yang meliuk liuk di bundaran HI
Hingga
sepanjang jalan sudirman thamrin
Lalu ke utara aku berjalan mendekati kenangan
Dan aku sibuk menulis lelah sepi di keramaian
Mematahkan malam
Purnama
memecah harapan di jantung doa
Di keriuhan
politik dan percakapan merdeka di gedung gedung tinggi
Mimpi
berlarian di gang sempit dan pinggir
ciliwung berair keruh
Di antara alunan
musik jalanan yang putus asa
Aku tunggu
kau di Jakarta
Meski nanti ada gemuruh kota
Suara
beterbangan memanah getir
Simpang
siur kebenaran dan kesalahan
Saling
berteriak di jalan jalan
Tak saling
mengusap air mata
Bahkan
hilir mudik memandu kecemasan
Prahara hidup dan
kemiskinan hanyut dalam
dada
Suara ketidak adilan di antara ruang dan waktu
Jadi nyanyian di kerontang tanah kemarau
Atau telaga duka
di musim hujan
Aku tunggu
kau di Jakarta
Biarkan waktu
memeluk kata
Di ruang ruang
berdebu
Di pinggir
pinggir rel kereta
Lalu para penyair menikam dada sendiri
Lesap dalam bait sajak dan buku buku
Puisi jadi darah mengalir syahdu
Mewarnai kota dengan cahaya
Perdamaian, persaudaraan dan kemanusiaan
Di antara perang kehidupan dan kutukan
Yang akan jadi
ledakan dan batu batu api
Aku masih menunggumu
di sini
Kita nyalakan api di
sebatang lilin [1]
April 2020
JALAN JALAN KOTA
Aku
berjalan ketimur, selatan hingga barat
Menunggu
dan mengejarmu bersama angin
Kutemukan
isyarat jingga di langit
Jakarta
Dalam senja yang kita tunggu di balik gedung
tua
Apakah ini seperti kata kata\ yang menggoda
Agar aku
bisa mencium aroma kota yang semerbak
Atau
berlarian di tamantaman berpohon perdu dan akasia
Melewati hutan kaca, trotoar dan jembatan bisu
Atau menunggui bilurbilur rindu di stasiun kereta
Di antara debu debu
Maka berlarian aku ke jalan jalan kota
Juga ke rumah dan halaman yang kita cintai itu
Sebab aku
tak ingin ke tempat yang berabu
Temui saja aku dalam doa dan
amsal rindu
Sebelum huruf mematahkan kata
Kita jumpai
kesabaran
Juga kegembiraan
Sebab perempuan seringkali diam-diam menuliskannya
Februari
2020
KOTA DAN
KITA
Di senja yang mulai samar
Waktu berkelakar menemui nasibnya
Dari bangku panjang hitam yang bisu
Setelah perundingan rindu itu
Dua jam menari mencarimu
Melukis peta perjalanan
Dari kaki yang dingin
Kutemukan kata
Dan garis
waktu
Di sayap kupu-kupu
Yang terbang dari
seberang lautan
Lalu
hinggap di secangkir kopi
Yang kita
pesan sebelumnya
"tidurlah di rindumu yang mati"
Sebab kota
dan kita hanya menanam sepi
Maret 2020
TANJIDOR
Kudengar suara
tanjidor
Di sebuah
perkampungan
Setelah kulewati
kota kota
Tak sanggup aku
sempurnakan
Panjang
perjalanan yang membulirkan rasa
Dan aku temukan
kedamaian paling sunyi
Setelah kutemukan
kata kata
Tak sanggup aku
bacakan
Rentetan gelisah
dan jiwa berteriak riuh
Dan terperangkap
kenangan paling hening
Maka aku namakan
dia puisi
Setelah kujumpai
luka luka
Dari rahasia
kecemasan
Dan duka lara
Sayup masih
kudengar nyanyian klasik
Hingga kutanya
soal lagu kicir kicir, jali jali dan sirulang
Sebab masa silam
adalah tahun tahun perjalanan
Suara yang
membangunkan kita dari tidur panjang
Sayup masih
kudengar suara tanjidor
Di jalan antara
rumah rumah tua
Menaburkan
kesabaran di atas batu batu
Yang mengabari
tentang masa lalu
Tangerang, Januari 2020
MONUMEN
KOTA
Kulihat
seorang perempuan
Meletakkan
karangan bunga dekat monumen
kota
Tak lagi
ada mimpi buruk
Inilah
pengampunan
Jadi
kebebasan sayap burung gagak
Dari doa
yang berdenyut di setiap malam
Lalu cinta
menjaga dari tahun tahun
hitam
Dari perang perang kegelisahan
Dan semua amarah yang murung
Monumen dingin di tengah kota
Bahwa bunga mengubur harumnya
Lalu jalan dan
gedung yang mengelilinginya
Jadi ruang-ruang
kosong
Dan kita larut
dalam himne kematian nurani
Kutabumi, Maret 2020
[1] Rini
Intama—pendidik, penulis lahir tanggal 21 Februari di Garut, Jawa Barat.
Anggota Komite Sastra “Dewan Kesenian Kabupaten Tangerang. Aktif di Komunitas Saung Sastra
Tangerang, Komunitas Penulis Nyi Mas
Melati Tangerang dan Perempuan Penyair Indonesia. Buku
karyanya KANAYA dalam sekumpulan puisi (Tareshibook 2019), HIKAYAT TANAH
JAWARA, Babad Banten dalam sekumpulan puisi (Kosakatakita 2018), KIDUNG
CISADANE, Sejarah dan Budaya Tangerang dalam Puisi (Kosakatakita 2016), PANGGIL AKU LAYUNG. Novel
(Kosakatakita 2015), A YIN, kumpulan cerpen, ( Kinomedia 2014), TANAH
ILALANG DI KAKI LANGIT, Kumpulan puisi (Penerbit Senja 2014), GEMULAI
TARIAN NAZ, Jejak sajak Rini Intama (Q Publisher 2011) Dan puluhan buku
antologi bersama puisi dan cerpen, dimuat juga dalam beberapa harian lokal.