Jakarta+
Vel ipsam temporibus nisi eos unde rerum vitae
19 July 2025
Sebuah wawancara dengan pengarang We Are All Equally Far from Love
Gaya khas
Adania Shibli datang dari upaya menahan diri. Kesunyian dalam dua novelnya (We
Are All Equally Far from Love dan Touch) menghasilkan suspense yang
mengerikan, semuanya dilatari suasana Palestina yang indah dan penuh problema.
Dan melalui kebiasaan sehari-hari dunia itu meledak dengan gaduh.[1]
We Are
All Equally Far from Love merupakan sebuah kisah cinta dan juga sebuah tragedi. Kekuatan misterius
novel ini juga terletak di tengah-tengah penggambaran yang sulit dipahami- sama
seperti kisah dalam Touch, di mana dinamika keluarga sama menarik dan
sama kusutnya seperti pembantaian di Sabra dan Shatila yang bertalian dengan
segala hal. Kekerasan dalam karya Adania meriak tanpa sentimentalitas
berlebih-lebihan.
Kepelikan
yang sama juga muncul dalam cerita pendek terbarunya, yang masuk dalam terbitan
Freeman’s family. Kisah itu menggambarkan dengan jelas momen saat Adania
dan keluarga menerima panggilan telpon yang tak biasa dari tentara Israel:
pesannya adalah untuk meninggalkan bangunan tempat mereka berada karena akan
segera dibombardir. Dalam tiga halaman singkat karangan Adania tampil menonjol
tanpa sekali pun mengabaikan sisi puitis dari hal-hal umum. Itulah Adania
Shibli: lembut tapi menggelisahkan, tenang dan efektif; mendalam, jenaka, dan
ampuh.
Jose Garcia: Apakah itu merupakan keputusan
yang disengaja untuk tidak secara eksplisit menyebut Palestina dalam karyamu?
Untuk membiarkan pembaca tenggelam dalam drama ketimbang suasananya?
Adania
Shibli: Kedua novel itu, dapat saya katakan, sangat kental dengan lanskap
Palentina dan bahkan didesain melalui lanskap itu. Mungkin hal-hal yang tak
nampak dalam pandangan dunia luar tentang Palestina, yang sangat didominasi
oleh liputan media yang terus-menerus.
Sebagai
contoh, dalam format yang spesifik media menceritakan peristiwa penting seperti
pembantaian di Sabra dan Shatila pada masyarakat luas non-Palestina. Sementara
di dalam konteks penduduk Palestina sendiri merasakannya secara berbeda dan
melalui berbagai cara-hal itu termasuk kesulitan anak-anak untuk memahami
peristiwa itu, atau para orangtua yang mencoba menyelamatkan anak-anak dari
peristiwa semacam itu, yang mana merupakan keseharian bagi orangtua di
Palestina. Touch menelusuri kegiatan yang utama dan sangat nyata ini di
Palestina; tapi ini merupakan bentuk pengalaman yang seringkali luput dari
berita-berita yang menjangkau mereka di luar Palestina. Jadi buku ini
berhubugan dengan Sabra dan Shatila sebagai sebuah pembantaian yang tak mungkin
dipahami oleh anak-anak. Tapi tentu saja, ini hanya salah satu cara memahami
pengalaman itu, dan hal ini berlaku untuk beragam peristiwa lainnya,
peristiwa-peristiwa politik, sosial, dan ekonomi.
Kemudian di
dalam We Are All Equally Far from Love, lanskap Palestina didesain dalam
novel ini dalam kesukaran karakter-karakternya untuk bergerak. Jadi, ketimbang
mendeskripsikan pos pemeriksaan atau pencegahan pergerakan, buku ini
mengisahkan konsekuensi dari pembatasan-pembatasan pergerakan itu.
Karakter-karakternya terperangkap dalam ruang klaustraphobia atau lumpuh secara
fisik dan mental. Dan dalam kaitannya dengan yang terakhir-kelumpuhan
emosional- novel itu melukiskan akibat dari kebrutalan hidup di dalam kondisi
opresi politik pada tingkat personal, di mana jiwa manusia, dan kemampuannya
untuk mencintai, tergerus. Jadi, daripada menampilkan eksterioritas pengalaman
penduduk Palestina, dengan jalan mengubahnya menjadi tontonan bagi orang lain,
kedua novel itu mengisahkan konsekuensi-konsekuensi kehidupan sehari-hari
penduduk Palestina, lewat hal-hal yang biasa dan banal.
JG: Bagaimana tanah air dan kebangsaan
membentuk pengalaman-pengalamanmu masa kecilmu?
AS: Sebagai
orang yang hidup di tempat yang tampak seperti sebuah hukuman untuk kajahatan
yang tak pernah mereka lakukan, di usia yang masih sangat muda hal itu
memunculkan pertanyaan-pertanyaan tajam dalam kaitannya dengan ide-ide
sederhana seperti keadilan, atau ketiadaannya. Saat masih anak-anak Anda tidak
benar-benar memisahkan antara keduanya, antara ketidakadilan tentang mengapa
sebagian orang memiliki lebih banyak hak istimewa dibanding orang lain.
Itu
merupakan pertanyaan-pertanyaan yang saya coba untuk atasi juga di usia yang
masih sangat muda; antara melawannya dengan suara lantang, atau memilih berada
di samping orang-orang kuat, atau menciptakan duniamu sendiri di mana Anda bisa
membayangkan realitas-reaitas yang berbeda-inilah satu-satunya yang terus
menarik perhatian saya. Apakah melalui membaca atau menonton diam-diam apa yang
terjadi saat itu, saya mengubah sedikit peristiwa-peristiwa itu, membayangkan
dunia yang lain. Itu merupakan permainan yang adiktif, dan saya ingat mendapati
diri saya tenggelam dalam imajinasi sampai saya terkadang merasa malu karena
tak mengingat peristiwa-peristiwa masa lalu seperti yang diingat orang-orang di
sekitar saya. Jadi mungkin kesadaran atas ketidakadilan yang terus terjadi yang
tak dapat dihindari dalam konteks penduduk Palestina merupakan kekuatan pertama
yang mendorong saya ke dunia literatur sejak dini.
JG: Touch dan We Are All Equally Far
from Love keduanya memiliki banyak rupa karakter-karakter perempuan kuat.
Dan saya bukan hanya mengartikan kuat sebagai seorang perempuan independen.
Akan tetapi mereka sangat lantang, rumit, dan terkadang karakter yang tercela.
Mereka menyembul dari halaman-halaman itu dengan kepribadian dan
kecacatan-kecacatan mereka. Seberapa penting feminitas-dan karakter-karakter
perempuan-dalam karya Anda?
AS:
Sejujurnya, Saya tak pernah memikirkan soal perempuan atau laki-laki. Saya bisa
bilang, saya tak pernah mengaitkannya dengan diri saya sebagai perempuan; itu
hanyalah perspektif dalam hidup. Bisa jadi kebetulan bahwa karya-karya saya
memiliki banyak karakter perempuan. Ini bisa saja berubah, mungkin juga tidak.
Di dalam
novel baru saya, yang teridiri dari dua bab, tiap bab mempunyai satu
protagonis, satu laki-laki dan satu lainnya perempuan. Tapi Anda benar, saat
saya menulis bab pertama dengan karakter protagonis seorang laki-laki, saya
benar-benar merasakan itu seorang laki-laki, karena menceritakan dunia
keteraturan dan kekuasaan-dunia yang saya tak ingin menjadi bagian di dalamnya.
Cukup menghibur untuk memainkannya, bahkan dalam kaitannya dengan imajinasi,
tapi tak terlalu menarik. Karakter perempuannya cenderung ragu-ragu,
berantakan; dia gagap dan berjalan dalam kesia-siaan. Saya lebih tertarik pada
karakter-karakter semacam itu, seperti karakter laki-laki dalam Belle de
Jour karya Bunuel-karakter laki-laki yang memiliki luka buruk rupa di
wajahnya.
Saya tidak
mengaitkan feminitas dengan seksualitas. Bagi saya feminitas soal perlawanan
terhadap kuasa dan aturan dengan cara yang amat kejam.
JG: Ada banyak kesunyian dalam cerita-cerita
Anda. Banyak misteri dan juga begitu intim. Bagaimana Anda menyeimbangkan
kesunyian yang pekat itu dengan aksi?
AS: Anda
bisa menemukan jawabannya dalam musik. Saat saya mendengarkan musik, saya
menyadari bahwa keseluruhan aksi dan gerakan musikal hanyalah mungkin karena
adanya kesunyian yang meresap sebuah karya musik. Saya begitu tertambat pada
kesunyian itu dan apa yang dia lakukan, atau apa yang bisa dia lakukan sebelum
bunyi bermunculan, atau bahkan apa yang mendorongnya.
JG: Kedua buku Anda juga sangat kental nuansa
keluarga. Apa peran keluarga dalam proses menulis Anda?
AS: Kita
terlahir dalam sebuah keluarga, tanpa memilih mereka, dan itulah pengalaman
pertama bagi sebagian besar orang. Ketiadaan pilihan itulah yang saya
pertanyakan: bagaimana menjalani hidup yang tidak Anda pilih, dan apakah Anda
pada akhirnya akan memilih secara sadar. Saya sebetulnya masih heran.
JG: Ini membawa saya pada karya cerita pendek
Anda untuk terbitan Freeman;s: Family. Apa yang menginspirasi Anda untuk
menghampiri topik yang begitu luas (keluarga) melalui cerita itu?
As: itu
sesungguhnya momen di mana saya pertama kali menyadari bahwa saya memaksakan
ketiadaan pilihan ini pada orang lain, pada anak-anak saya. Ayahnya dan saya
punya pilihan untuk hidup bersama, mereka tidak. Jadi anak-anak saya terdampar
di sana, di momen yang sangat ekstrem itu-“Seperti inilah panggilan yang
dilakukan oleh tentara Israel saat mereka hendak embombardir sebuah bangunan
perumahan. Saat seeorang mengangkat telponnya, mereka melepaskan haknya untuk
menuntut sang tentara atas kejahatan perang.” Inilah sebuah pemahaman yang
didorong oleh ketakutan: ketakukan atas keselamatan mereka. Hingga hari ini
saya masih bertanya bagaimana mereka memahami peristiwa itu, dan apakah mereka
akan mengingatnya. Tulisan dalam Freeman’s merupakan testimoni untuk
mereka ketahui, bukti bahwa itu pernah terjadi untuk anak-anak saya lihat
kemudian hari.
JG: Saya menduga panggilan telpon itu sangat
mengerikan. Namun, saya sendiri datang dari negeri yang penuh kekerasan dan tak
terduga-duga, Saya sadar bahwa orang cenderung menjadi kurang peka dan menjadi
terbiasa terhadap kekerasan. Apa yang bisa kita lakukan untuk melawan “jadi
biasa saja” itu?
AS: Adakah
yang bisa kita lakukan untuk melawannya? Saya sendiri heran.
Saya selalu
menemukan tempat lewat kata-kata untuk menciptakan kemungkinan-kemungkinan
paralel di mana dehumanisasi tumbuh subur. Namun, dalam kehidupan nyata, Anda
harus menetralisasi seluruh emosi Anda dan menjadi mati rasa, tapi kemudian
menulis menetralisasi penetralisasian tersebut. Orang lain tak memiliki dunia
kata-kata untuk menyelamatkan mereka. Tapi ada hal lain, berjalan kaki,
trotoar, sebuah pohon, sebuah batu, objek-objek minor tak terhingga yang
digubah menjadi tempat bagi mereka melakonkan kemanusiaannya, tempat di mana
opresi tak bisa menjangkaunya atau menghancurkannya.
Tahun ini
saya mengunjungi sebuah pameran di Palestina, judulnya City Exhibition 5.
Pameran itu didedikasikan untuk gagasan tentang “Reconstructing Gaza,” sebuah
term yang telah kita dengar berulang-ulang sejak 2014. Para peserta dalam
peretunjukkan itu, pelajar dan anak muda, merekonstruksi kota menggunakan
puing-puing kota itu sendiri. Kemudian mereka menawarkan benda-benda kesayangan
mereka kepada orang-orang Gaza, dari bunga kering sampai gantungan kunci.
Sangat menarik untuk mengetahui apa yang dipilih orang-orang itu. Salah seorang
bahkan menawarkan untuk membawa bantuan untuk orang-orang Gaza dengan
menawarkan sebuah buku puisi dari penyair yang tak dikenal.
JG: Apakah Anda mengartikan “jadi biasa saja”
itu sebagai mekanisme pertahanan diri?
AS:
Sesungguhnya saya mengartikan itu sebagai sebuah gerakan seni bela diri.
Opresor pertama-tama ingin menghancurkan hasrat hidup Anda, dan kemudian Anda
menetralisasinya dengan bertindak seolah ini hal yang normal. Tapi nyatanya
Anda menyimpan rahasia di tempat tersembunyi yang mana si opresor anggap
terlalu remeh, mereka tak merasa perlu untuk menghancurkanya. Saya ingat saya
dua kali pernah diinvestigasi oleh petugas intelijen Israel yang ingin tahu
tentang apa yang saya tulis. Ketika saya katakan pada mereka itu semua tentang
kisah-kisah cinta yang gagal, mereka kehilangan minatnya terhadap saya.
JG: Apakah pemilu AS membutuhkan semacam model
“jadi biasa saja” yang baru dibanding yang ada di negeri asal Anda, ataukah
sama saja?
As: Bagi
saya sepertinya kita tak dapat menyalahkan meluasnya agenda kebencian yang kita
saksikan belakangan ini sebagai akibat dari pemilihan umum yang baru terjadi.
Saya tidak yakin, bila saja hasilnya berbeda, akan ada perbedaan dalam hal ini.
Pemerintahan AS sebelumnya tidak berusaha keras untuk menetralkan kebencian
itu. Mungkin akan menjadi semakin parah, tapi hal ini sudah memburuk untuk
waktu yang lama, hingga tingkat di mana saya merasa agenda kebencian itu
memiliki temponya sendiri, kehidupannya sendiri, dan sepertinya tak terpengaruh
oleh pemilu. (*)
[1][1] Dterjemahkan dari “Adania Shibli on
Writing Palestine from the Inside” wawancara oleh Jose Garcia, Februari 2017. |
Penerjemah: Marlina Sopiana | editor: Sabiq Carebesth
19 July 2025
29 May 2026
06 October 2025
09 October 2025
27 November 2025