Jakarta+
Vel ipsam temporibus nisi eos unde rerum vitae
19 July 2025
Oleh: Leya Cattleya—Founder EMPU dan Konsultan Independen
untuk Gender dan Sosial
___________
Pada 4 Januari 2020, Komunitas Fesyen Berkelanjutan EMPU
lahir. Kelahiran dari komunitas yang di awalnya beranggotakan sembilan Usaha
Kecil Menengah (UKM) dan artisan tekstil pewarna alam dari Jawa dan NTT ini
bermula dari tujuan sederhana: memfasilitasi kampanye fesyen ramah lingkungan
dan mendorong penggunaan bahan, serat, dan pewarnaan alam pada karya tekstil,
batik dan tenun. Ini semua agar mengurangi kebiasaan menggunakan fesyen cepat
yang membawa dampak negatif terhadap lingkungan. Juga mendorong tekstil
tradisional ramah lingkungan lestari.
Konferensi dunia terkait perubahan iklim, the United Nations
Conference on Climate Change, yang diselenggarakan di Paris pada 2015, membuka
mata dunia bahwa fesyen dunia adalah polutan terburuk setelah minyak. Ini
konsisten dengan riset Rita Kant yang dipublikasikan oleh Journal of the
Natural science in 2012. Riset itu menunjukkan industri fesyen berada pada
ranking tertinggi kedua setelah pertanian dan irigasi dalam hal pencemaran
air. Kecenderungan warga dunia yang
mengkonsumsi produk ‘fesyen cepat’, karena alasan harga terjangkau dan
pergantian tren yang amat cepat berakibat pada beberapa hal: proses produksi
dan sampah fesyen yang merusak lingkungan, mempercepat pemanasan global dan
perubahan iklim. Pada akhirnya, ini mengganggu siklus kerja petani dan nelayan,
dan yang tentu mengganggu kelestarian mata pencaharian dan kesejahteraannya.
Lantas enam belas industri kreatif pemacu ekonomi Indonesia,
di mana fesyen termasuk di dalamnya?
Selain terus memproduksi fesyen cepat yang tidak ramah
lingkungan, industri cenderung melibatkan pengupahan dan perlakuan yang kurang
manusia kepada pekerjanya. Di lain pihak, ‘fesyen lambat’ yang menggunakan
bahan serat lokal dan pewarnaan alam nyaris tidak dikenal. Artisan tekstil
ramah lingkungan, seperti pemintal serat alam, pembatik dan penenun tradisional
pewarna alam makin sulit hidupnya. Artisannya, yang merupakan kelompok sektor
informal, jauh dari dukungan pemerintah. Sulitnya akses pada bahan membuat
mereka terus tergantung pada tengkulak yang menyediakan benang dan bahan
lainnya, yang kemudian membeli karya jadi mereka dengan harga jauh di bawah
semestinya. Artisan tekstil tradisional juga miskin. Mereka merupakan maestro
seni di masa lalu dan saat ini menjadi buruh belaka. Kekayaan teknik dan
keterampilan batik dan tenun yang bernilai seni dan budaya tinggi juga hilang.
Atas hal itu, ditambah darurat pandemi COVID-19 yang
digaungkan WHO pada 11 Maret 2020, Komunitas EMPU merespons Yang pertama,
Komunitas EMPU melahirkan Gerakan Masker di akhir Maret 2020. EMPU
mengampanyekan penggunaan masker dan memproduksi serta mendonasikan masker
untuk kalangan marjinal dan awam. Untuk
itu, anggota Komunitas EMPU yang di masa pandemi mulai kehilangan pasar
digerakkan untuk membuat masker-masker indah dari bahan-bahan ramah lingkungan.
Masker itu dijual, dan hasilnya dipergunakan
untuk membuat masker yang lebih banyak, untuk didistribusikan kepada kelompok
marjinal, seperti kelompok informal,
bakul jamu, kelompok nelayan, petani garam, perempuan yang dilacurkan,
perempuan di dalam penjara, anak yatim piatu dan kelompok lansia. Selain para
artisan batik dan tenun pewarna alam terbantu produksinya, ribuan masker yang
diproduksi memberi manfaat warga untuk tetap menjaga dari tertularnya COVID-19.
Gerakan Masker itu rupanya mengundang dukungan berbagai
pihak, khususnya dari kalangan masyarakat sipil dan kelompok perempuan. Ratusan
karya batik dan tenun indah disumbangkan kepada Komunitas EMPU. Ribuan karya
masker indah dihasilkan, puluhan ribu masker bedah dan masker kesehatan serta
kebutuhan lain, seperti vitamin dan paket APD didonasikan kepada kelompok
marjinal yang membutuhkan–bahkan Puskesmas yang berada di wilayah 3T
(terpencil, terluar dan terdalam). Pada
akhir Agustus 2020, lebih dari 70.000 masker didonasikan kepada kelompok
marjinal Ratusan paket APD didonasikan kepada 121 Puskesmas dan RSD di wilayah
Pulau Alor, Kepulauan Seram, Saumlaki di provinsi Maluku, Aceh, Lombok, Sumba
Timur, Sulawesi Tengah, Jawa Tengah, Papua, dan wilayah terpencil lainnya.
Pandemi bukan saja membuat Komunitas EMPU mendukung
anggotanya dan juga warga marjinal dan melakukan kerja yang relevan, tetapi
juga memperluas geraknya. Saat ini EMPU mendukung sekitar 300-an artisan
tekstil seperti pembatik dan penenun untuk terus berkarya dan sekaligus menanam
bahan serat dan pewarna alam. Selanjutnya, 320 bakul jamu, 5 UKM, dan puluhan
artisan pembuat pembalut perempuan berbahan kain juga bergabung.
Bakul Jamu yang meningkatkan kebugaran masyarakat dengan
ramuan tradisional di masa pandemi pada dasarnya adalah pekerja informal.
Mayoritas dari mereka adalah pendatang di wilayah kerjanya. Kebanyakan miskin
dan tanpa tunjangan sosial, rentan COVID-19 karena mereka menjajakan jamu dari
rumah ke rumah. Mereka juga mendapat saingan dari bermunculannya penjual jamu
dari kalangan terpelajar. Kualitas dan higienitas bakul jamu rendah perlu
diperbaiki, disamping keterampilan jamunya dihidupkan kembali. Untuk itu,
Komunitas EMPU mendampingi bakul jamu di Sragen, Semarang, Temanggung,
Yogyakarta, Malang, Ambon dan beberapa desa di pulau Seram, Palu, dan di Jakarta
dilatih untuk menerapkan protokol kesehatan. Peningkatan keterampilan juga
dilakukan melalui pelatihan, termasuk bimbingan teknis yang diselenggarakan
BPOM. Ibu Jamu Gendong juga didorong menanam empon-empon dan tanaman
obat-obatan di Kebun Jamu Organik di tanah wakaf di Sragen, dan juga
pemanfaatan empon-empon untuk tanaman untuk membuat eco-print dan shibori
pewarna alam.
Bersama Biyung Indonesia, HWDI, dan Yayasan Sehat, dan
penggiat masyarakat dengan disabilitas, Komunitas EMPU melahirkan Perempuan Bumi
untuk memproduksi dan mendonasikan pembalut kain untuk perempuan dengan
disabilitas psikososial. EMPU juga secara mandiri melatih dan memproduksi
pembalut kain untuk siswi dengan disabilitas.
Kesejahteraan anggota Komunitas EMPU juga tak kalah penting.
Untuk itu, Komunitas EMPU bersama Rotary wilayah Semarang dan Kudus
menyelenggarakan peragaan busana di eskalator mal, yang hasilnya dipergunakan
membangun kembali rumah 70 orang penenun di Sumba Timur dan Pulau Sabu yang
menjadi penyintas Topan Seroja di bulan April 2021.
Komunitas EMPU bertekad untuk mendukung artisan tekstil
ramah lingkungan dengan kampanye, pemasaran, dukungan bahan, dan peningkatan
kapasitas lainnya. Serangkaian kampanye dilakukan melalui peragaan busana di
lokasi unik, seperti di atas Kereta Api Argo Muria di Stasiun Semarang.
Kampanye juga dilakukan di atas perahu nelayan tradisional, di eskalator tempat
perbelanjaan di hotel di Semarang, di Jembatan Penyeberangan Orang (JPO), dan
lainnya.
Berbagai peragaan busana yang bekerjasama dengan berbagai
pihak, termasuk Uni Eropa dan dukungan teknis kepada anggota EMPU diadakan.
Advokasi perlunya fesyen berkelanjutan guna mitigasi iklim digelar di Pemkot
Semarang.
Apa yang dilakukan oleh Komunitas EMPU adalah membangun ekonomi solidaritas, yang mengusung nilai saling mendukung dan berbagi. Kegiatan Komunitas EMPU diniatkan untuk menghormati perdagangan yang adil dan hak asasi manusia. Juga menjaga lingkungan untuk tujuan keberlanjutan. Ekonomi solidaritas menghubungkan yang terputus, termasuk layanan dan dukungan pemerintah dan sektor swasta kepada kelompok yang menjaga lingkungan dan ekonomi melalui karyanya.
19 July 2025
06 October 2025
27 November 2025
06 January 2026
09 October 2025