AUG. 11, 2026

Komunitas Fesyen Berkelanjutan EMPU—Potret Solidaritas Ekonomi

Foto Penulis

By Galeri Buku Jakarta

Oleh: Leya Cattleya—Founder EMPU dan Konsultan Independen untuk Gender dan Sosial

___________

Pada 4 Januari 2020, Komunitas Fesyen Berkelanjutan EMPU lahir. Kelahiran dari komunitas yang di awalnya beranggotakan sembilan Usaha Kecil Menengah (UKM) dan artisan tekstil pewarna alam dari Jawa dan NTT ini bermula dari tujuan sederhana: memfasilitasi kampanye fesyen ramah lingkungan dan mendorong penggunaan bahan, serat, dan pewarnaan alam pada karya tekstil, batik dan tenun. Ini semua agar mengurangi kebiasaan menggunakan fesyen cepat yang membawa dampak negatif terhadap lingkungan. Juga mendorong tekstil tradisional ramah lingkungan lestari.

Konferensi dunia terkait perubahan iklim, the United Nations Conference on Climate Change, yang diselenggarakan di Paris pada 2015, membuka mata dunia bahwa fesyen dunia adalah polutan terburuk setelah minyak. Ini konsisten dengan riset Rita Kant yang dipublikasikan oleh Journal of the Natural science in 2012. Riset itu menunjukkan industri fesyen berada pada ranking tertinggi kedua setelah pertanian dan irigasi dalam hal pencemaran air.  Kecenderungan warga dunia yang mengkonsumsi produk ‘fesyen cepat’, karena alasan harga terjangkau dan pergantian tren yang amat cepat berakibat pada beberapa hal: proses produksi dan sampah fesyen yang merusak lingkungan, mempercepat pemanasan global dan perubahan iklim. Pada akhirnya, ini mengganggu siklus kerja petani dan nelayan, dan yang tentu mengganggu kelestarian mata pencaharian dan kesejahteraannya.

Lantas enam belas industri kreatif pemacu ekonomi Indonesia, di mana fesyen termasuk di dalamnya?

Selain terus memproduksi fesyen cepat yang tidak ramah lingkungan, industri cenderung melibatkan pengupahan dan perlakuan yang kurang manusia kepada pekerjanya. Di lain pihak, ‘fesyen lambat’ yang menggunakan bahan serat lokal dan pewarnaan alam nyaris tidak dikenal. Artisan tekstil ramah lingkungan, seperti pemintal serat alam, pembatik dan penenun tradisional pewarna alam makin sulit hidupnya. Artisannya, yang merupakan kelompok sektor informal, jauh dari dukungan pemerintah. Sulitnya akses pada bahan membuat mereka terus tergantung pada tengkulak yang menyediakan benang dan bahan lainnya, yang kemudian membeli karya jadi mereka dengan harga jauh di bawah semestinya. Artisan tekstil tradisional juga miskin. Mereka merupakan maestro seni di masa lalu dan saat ini menjadi buruh belaka. Kekayaan teknik dan keterampilan batik dan tenun yang bernilai seni dan budaya tinggi juga hilang.

Atas hal itu, ditambah darurat pandemi COVID-19 yang digaungkan WHO pada 11 Maret 2020, Komunitas EMPU merespons Yang pertama, Komunitas EMPU melahirkan Gerakan Masker di akhir Maret 2020. EMPU mengampanyekan penggunaan masker dan memproduksi serta mendonasikan masker untuk kalangan marjinal dan awam.  Untuk itu, anggota Komunitas EMPU yang di masa pandemi mulai kehilangan pasar digerakkan untuk membuat masker-masker indah dari bahan-bahan ramah lingkungan. Masker itu  dijual, dan hasilnya dipergunakan untuk membuat masker yang lebih banyak, untuk didistribusikan kepada kelompok marjinal, seperti  kelompok informal, bakul jamu, kelompok nelayan, petani garam, perempuan yang dilacurkan, perempuan di dalam penjara, anak yatim piatu dan kelompok lansia. Selain para artisan batik dan tenun pewarna alam terbantu produksinya, ribuan masker yang diproduksi memberi manfaat warga untuk tetap menjaga dari tertularnya COVID-19.

Gerakan Masker itu rupanya mengundang dukungan berbagai pihak, khususnya dari kalangan masyarakat sipil dan kelompok perempuan. Ratusan karya batik dan tenun indah disumbangkan kepada Komunitas EMPU. Ribuan karya masker indah dihasilkan, puluhan ribu masker bedah dan masker kesehatan serta kebutuhan lain, seperti vitamin dan paket APD didonasikan kepada kelompok marjinal yang membutuhkan–bahkan Puskesmas yang berada di wilayah 3T (terpencil, terluar dan terdalam).  Pada akhir Agustus 2020, lebih dari 70.000 masker didonasikan kepada kelompok marjinal Ratusan paket APD didonasikan kepada 121 Puskesmas dan RSD di wilayah Pulau Alor, Kepulauan Seram, Saumlaki di provinsi Maluku, Aceh, Lombok, Sumba Timur, Sulawesi Tengah, Jawa Tengah, Papua, dan wilayah terpencil lainnya.

Pandemi bukan saja membuat Komunitas EMPU mendukung anggotanya dan juga warga marjinal dan melakukan kerja yang relevan, tetapi juga memperluas geraknya. Saat ini EMPU mendukung sekitar 300-an artisan tekstil seperti pembatik dan penenun untuk terus berkarya dan sekaligus menanam bahan serat dan pewarna alam. Selanjutnya, 320 bakul jamu, 5 UKM, dan puluhan artisan pembuat pembalut perempuan berbahan kain juga bergabung.

Bakul Jamu yang meningkatkan kebugaran masyarakat dengan ramuan tradisional di masa pandemi pada dasarnya adalah pekerja informal. Mayoritas dari mereka adalah pendatang di wilayah kerjanya. Kebanyakan miskin dan tanpa tunjangan sosial, rentan COVID-19 karena mereka menjajakan jamu dari rumah ke rumah. Mereka juga mendapat saingan dari bermunculannya penjual jamu dari kalangan terpelajar. Kualitas dan higienitas bakul jamu rendah perlu diperbaiki, disamping keterampilan jamunya dihidupkan kembali. Untuk itu, Komunitas EMPU mendampingi bakul jamu di Sragen, Semarang, Temanggung, Yogyakarta, Malang, Ambon dan beberapa desa di pulau Seram, Palu, dan di Jakarta dilatih untuk menerapkan protokol kesehatan. Peningkatan keterampilan juga dilakukan melalui pelatihan, termasuk bimbingan teknis yang diselenggarakan BPOM. Ibu Jamu Gendong juga didorong menanam empon-empon dan tanaman obat-obatan di Kebun Jamu Organik di tanah wakaf di Sragen, dan juga pemanfaatan empon-empon untuk tanaman untuk membuat eco-print dan shibori pewarna alam.

Bersama Biyung Indonesia, HWDI, dan Yayasan Sehat, dan penggiat masyarakat dengan disabilitas, Komunitas EMPU melahirkan Perempuan Bumi untuk memproduksi dan mendonasikan pembalut kain untuk perempuan dengan disabilitas psikososial. EMPU juga secara mandiri melatih dan memproduksi pembalut kain untuk siswi dengan disabilitas.

Kesejahteraan anggota Komunitas EMPU juga tak kalah penting. Untuk itu, Komunitas EMPU bersama Rotary wilayah Semarang dan Kudus menyelenggarakan peragaan busana di eskalator mal, yang hasilnya dipergunakan membangun kembali rumah 70 orang penenun di Sumba Timur dan Pulau Sabu yang menjadi penyintas Topan Seroja di bulan April 2021.

Komunitas EMPU bertekad untuk mendukung artisan tekstil ramah lingkungan dengan kampanye, pemasaran, dukungan bahan, dan peningkatan kapasitas lainnya. Serangkaian kampanye dilakukan melalui peragaan busana di lokasi unik, seperti di atas Kereta Api Argo Muria di Stasiun Semarang. Kampanye juga dilakukan di atas perahu nelayan tradisional, di eskalator tempat perbelanjaan di hotel di Semarang, di Jembatan Penyeberangan Orang (JPO), dan lainnya.

Berbagai peragaan busana yang bekerjasama dengan berbagai pihak, termasuk Uni Eropa dan dukungan teknis kepada anggota EMPU diadakan. Advokasi perlunya fesyen berkelanjutan guna mitigasi iklim digelar di Pemkot Semarang.

Apa yang dilakukan oleh Komunitas EMPU adalah membangun ekonomi solidaritas, yang mengusung nilai saling mendukung dan berbagi. Kegiatan Komunitas EMPU diniatkan untuk menghormati perdagangan yang adil dan hak asasi manusia. Juga menjaga lingkungan untuk tujuan keberlanjutan. Ekonomi solidaritas menghubungkan yang terputus, termasuk layanan dan dukungan pemerintah dan sektor swasta kepada kelompok yang menjaga lingkungan dan ekonomi melalui karyanya.


Galeri Buku Jakarta

GALERI BUKU JAKARTA

Bersama para penulis dan kontributor Galeri Buku Jakarta yang dicintai pembacanya. Galeri Buku Jakarta selalu memiliki misi ganda: untuk mempromosikan penulis yang paling menarik dan untuk mendukung pembaca yang ambisius dan ingin tahu.