JUL. 20, 2026

Kota-Kota, Kenangan, dan Keinginan

Image
Foto Penulis
By Galeri Buku Jakarta

Ketika seseorang mengendarai kuda cukup lama melewati kawasan liar, ia segera merasakan hasrat akan sebuah kota. Dan akhirnya ia sampai di Isidora, sebuah kota di mana bangunan-bangunannya memiliki tangga lingkar berlapis kerang-kerang laut, tempat di mana teleskop dan biola-biola dibuat, di mana orang asing yang dihantui kebimbangan di antara dua perempuan selalu berhadapan dengan yang ketiga, tempat arena adu ayam yang berubah menjadi cekcok berdarah para petaruh. Lelaki itu sedang merenungkan semua ini kala ia memimpikan sebuah kota. Dan Isidora, oleh karenanya, adalah kota yang diimpikannya; dengan sebuah perbedaan. Kota yang diimpikan itu merefleksikan dirinya sebagai seorang lelaki muda; ia tiba di Isidora saat berusia tua. Di lapangan kota tersebut terdapat dinding di mana di sekitarnya orang-orang tua duduk dan memperhatikan kaum muda berlalu-lalang; lelaki itu duduk sederet dengan mereka. Hasrat telah menjadi kenangan.[1]

Kota-Kota & Keinginan—1

Ada dua cara untuk menggambarkan kota Dorothea: kau bisa menyebutkan bahwa ada empat menara aluminium muncul dari dinding-dindingnya yang mengapit tujuh lawang, dengan jembatan-jembatan kerek yang beroperasi pada musim semi yang merentang di atas parit, airnya memasok empat kanal berwarna hijau yang melintasi kota, memecahnya menjadi sembilan bagian, masing-masing dengan tiga ratus rumah dan tujuh ratus cerobong asap. Dan mengingat bahwa gadis-gadis yang telah memasuki usia kawin di setiap daerahnya menikah dengan pemuda-pemuda dari daerah lainnya sembari orang tua mereka saling bertukar barang-barang yang selama ini dikuasai keluarga masing-masing dalam sebuah sistem monopoli-minyak wangi, ikan-ikan penghasil telur, perangkat navigasi, safir ungu-lalu dari fakta-fakta ini kau mulai dapat mengerti hingga kau memahami segala yang kau kehendaki tentang kota ini di masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Atau kau dapat juga berkata, seperti kata sais unta yang membawaku ke sana: “Aku datang ke sini di awal masa mudaku, pada suatu pagi, di kala banyak orang bergegas menuju pasar, perempuan-perempuan bergigi indah menatap langsung ke mata, tiga serdadu di pelataran meniup terompet, dan semua roda berputar serta bendera warna-warni berkibar-kibar. Sebelum melihat itu semua, aku hanya tahu padang pasir dan jalur-jalur kafilah. Di tahun-tahun berikutnya, mataku memang kembali menerawang hamparan padang pasir dan jalur-jalur kafilah; namun kini aku tahu bahwa jalan setapak ini hanyalah satu dari sekian banyak jalan yang terbuka di hadapanku pada pagi hari itu, di Dorothea."



[1] Dicuplik dari buku “Invisible Cities” (Kota-kota Imajiner)— Novel filosofis karya Italo Calvino yang dicintai dan dirancang dengan rumit tentang perjalanan seorang Kaisar—sebuah perjalanan brilian melintasi tempat-tempat jauh dan kenangan yang samar. Sama seperti mimpi, dengan kota-kota, segala sesuatu yang dapat dibayangkan dapat diimpikan… “Kota-kota, seperti mimpi, terbuat dari keinginan dan ketakutan, meskipun benang pembicaraannya rahasia, aturannya absurd, perspektifnya menipu, dan semuanya menyembunyikan sesuatu yang lain.” Di sebuah taman duduk Kublai Khan yang tua dan Marco Polo muda—kaisar Mongol dan penjelajah Venesia. Kublai Khan telah merasakan akhir kekaisarannya akan segera tiba. Marco Polo menghibur tuan rumahnya dengan cerita-cerita tentang kota-kota yang telah dilihatnya dalam perjalanannya di sekitar kekaisaran: kota dan ingatan, kota dan keinginan, kota dan rancangan, kota dan orang mati, kota dan langit, kota perdagangan, kota tersembunyi. Saat Marco Polo menguraikan kisahnya, kaisar menyadari bahwa tempat-tempat fantastis ini lebih dari sekadar yang terlihat.

 


Galeri Buku Jakarta

GALERI BUKU JAKARTA

Ex sunt numquam aperiam voluptates aliquid ut consequatur. Quia consequuntur dolor deserunt consequatur quia incidunt. Non nihil voluptate exercitationem error quibusdam. Quisquam dignissimos quis architecto adipisci. Rerum nihil animi nihil officiis eius quia molestias.