Ketika
seseorang mengendarai kuda cukup lama melewati kawasan liar, ia segera
merasakan hasrat akan sebuah kota. Dan akhirnya ia sampai di Isidora, sebuah
kota di mana bangunan-bangunannya memiliki tangga lingkar berlapis
kerang-kerang laut, tempat di mana teleskop dan biola-biola dibuat, di mana
orang asing yang dihantui kebimbangan di antara dua perempuan selalu berhadapan
dengan yang ketiga, tempat arena adu ayam yang berubah menjadi cekcok berdarah
para petaruh. Lelaki itu sedang merenungkan semua ini kala ia memimpikan sebuah
kota. Dan Isidora, oleh karenanya, adalah kota yang diimpikannya; dengan sebuah
perbedaan. Kota yang diimpikan itu merefleksikan dirinya sebagai seorang lelaki
muda; ia tiba di Isidora saat berusia tua. Di lapangan kota tersebut terdapat
dinding di mana di sekitarnya orang-orang tua duduk dan memperhatikan kaum muda
berlalu-lalang; lelaki itu duduk sederet dengan mereka. Hasrat telah menjadi
kenangan.[1]
Kota-Kota
& Keinginan—1
Ada dua
cara untuk menggambarkan kota Dorothea: kau bisa menyebutkan bahwa ada empat
menara aluminium muncul dari dinding-dindingnya yang mengapit tujuh lawang,
dengan jembatan-jembatan kerek yang beroperasi pada musim semi yang merentang
di atas parit, airnya memasok empat kanal berwarna hijau yang melintasi kota,
memecahnya menjadi sembilan bagian, masing-masing dengan tiga ratus rumah dan
tujuh ratus cerobong asap. Dan mengingat bahwa gadis-gadis yang telah memasuki
usia kawin di setiap daerahnya menikah dengan pemuda-pemuda dari daerah lainnya
sembari orang tua mereka saling bertukar barang-barang yang selama ini dikuasai
keluarga masing-masing dalam sebuah sistem monopoli-minyak wangi, ikan-ikan
penghasil telur, perangkat navigasi, safir ungu-lalu dari fakta-fakta ini kau
mulai dapat mengerti hingga kau memahami segala yang kau kehendaki tentang kota
ini di masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Atau kau dapat juga berkata,
seperti kata sais unta yang membawaku ke sana: “Aku datang ke sini di awal masa
mudaku, pada suatu pagi, di kala banyak orang bergegas menuju pasar,
perempuan-perempuan bergigi indah menatap langsung ke mata, tiga serdadu di
pelataran meniup terompet, dan semua roda berputar serta bendera warna-warni
berkibar-kibar. Sebelum melihat itu semua, aku hanya tahu padang pasir dan
jalur-jalur kafilah. Di tahun-tahun berikutnya, mataku memang kembali
menerawang hamparan padang pasir dan jalur-jalur kafilah; namun kini aku tahu
bahwa jalan setapak ini hanyalah satu dari sekian banyak jalan yang terbuka di
hadapanku pada pagi hari itu, di Dorothea."
[1] Dicuplik
dari buku “Invisible Cities” (Kota-kota Imajiner)— Novel filosofis karya Italo
Calvino yang dicintai dan dirancang dengan rumit tentang perjalanan seorang
Kaisar—sebuah perjalanan brilian melintasi tempat-tempat jauh dan kenangan yang
samar. Sama seperti mimpi, dengan kota-kota, segala sesuatu yang dapat
dibayangkan dapat diimpikan… “Kota-kota, seperti mimpi, terbuat dari keinginan
dan ketakutan, meskipun benang pembicaraannya rahasia, aturannya absurd,
perspektifnya menipu, dan semuanya menyembunyikan sesuatu yang lain.” Di sebuah
taman duduk Kublai Khan yang tua dan Marco Polo muda—kaisar Mongol dan
penjelajah Venesia. Kublai Khan telah merasakan akhir kekaisarannya akan segera
tiba. Marco Polo menghibur tuan rumahnya dengan cerita-cerita tentang kota-kota
yang telah dilihatnya dalam perjalanannya di sekitar kekaisaran: kota dan ingatan,
kota dan keinginan, kota dan rancangan, kota dan orang mati, kota dan langit,
kota perdagangan, kota tersembunyi. Saat Marco Polo menguraikan kisahnya,
kaisar menyadari bahwa tempat-tempat fantastis ini lebih dari sekadar yang
terlihat.