JUL. 20, 2026

Kota-Kota & Kenangan 1

Bertolaklah dari sana dan maju terus selama tiga hari ke arah timur, kau akan sampai di Diomira, sebuah kota dengan enam puluh kubah perak, patung-patung perunggu segala dewa, jalan-jalan bersalut timah, sebuah teater Kristal.

Image
Foto Penulis
By Galeri Buku Jakarta

Kublai Khan tidak sepenuhnya memercayai segala sesuatu yang dituturkan Marco Polo tentang kota-kota yang ia kunjungi dalam ekspedisinya, namun kaisar kaum Tartar tersebut tetap saja menyimak cerita pemuda Venesia itu dengan perhatian dan keingintahuan yang lebih besar ketimbang yang ia perlihatkan kepada utusan-utusan atau penjelajahnya sendiri.[1]

Dalam kehidupan para raja-raja, selalu ada momen kebanggaan atas keberhasilan kami dalam perluasan wilayah tanpa batas, serta rasa sedih sekaligus lega mengetahui bahwa kami akan segera melupakan pengetahuan dan pemahaman akan wilayah-wilayah tersebut. Ada seberkas perasaan hampa yang menyelimuti kami pada malam itu, disertai bau gajah-gajah setelah hujan serta debu-debu kayu cendana mendingin di dalam anglo, rasa mual yang membuat sungai-sungai dan gunung-gunung seakan bergetar dalam lembah gersang di mana mereka digambarkan, tergulung, susul-menyusul, berita-berita yang mengabarkan pada kami tentang kehancuran sisa bala tentara musuh, dari satu penaklukan ke penaklukan lainnya, menodai stempel lilin raja-raja tak dikenal yang memohon perlindungan pasukan kami, sambil menawarkan upeti setiap tahun berupa logam mulia, kulit yang disamak, dan cangkang kura-kura. Kami merasa sangat sedih tatkala menyadari bahwa kekaisaran ini, yang di mata kami adalah sebuah keajaiban, ternyata adalah puing-puing tanpa bentuk dan tanpa akhir, yang luka busuk kecurangannya telah menyebar terlalu luas untuk bisa disembuhkan oleh tongkat kekuasaan kami, yang kemenangan atas kedaulatan para musuhnya justru menjadikan kami ahli waris keruntuhan mereka. Hanya melalui pertimbangan-pertimbangan yang disampaikan Marco Pololah Kublai Khan sanggup melihat, melampaui dinding-dinding dan menara-menara yang telah ditakdirkan hancur; dan melalui jejak-jejak pola yang begitu pelik ia dapat membebaskan diri dari rayap-rayap yang terus menggerogoti.

Bertolaklah dari sana dan maju terus selama tiga hari ke arah timur, kau akan sampai di Diomira, sebuah kota dengan enam puluh kubah perak, patung-patung perunggu segala dewa, jalan-jalan bersalut timah, sebuah teater kristal, dan seekor ayam emas di atas menara yang berkokok setiap pagi. Semua keindahan ini akan segera nampak akrab bagi para pengunjung yang juga telah menyaksikannya di kota-kota lain. Tetapi kekhasan kota ini bagi mereka yang datang ke sana pada malam bulan September, tatkala hari-hari berjalan lebih pendek dan lampu-lampu aneka warna dinyalakan serentak di pintu-pintu kedai makanan serta suara perempuan yang menyeru ooh! dari sebuah teras, adalah rasa cemburu yang mereka rasakan terhadap orang-orang yang kini meyakini bahwa sebelumnya mereka pernah mengalami malam yang serupa, dan berpikir bahwa mereka, pada saat itu, merasa bahagia.

Image



[1] Dicuplik dari buku “Invisible Cities” (Kota-kota Imajiner)— Novel filosofis karya Italo Calvino yang dicintai dan dirancang dengan rumit tentang perjalanan seorang Kaisar—sebuah perjalanan brilian melintasi tempat-tempat jauh dan kenangan yang samar. Sama seperti mimpi, dengan kota-kota, segala sesuatu yang dapat dibayangkan dapat diimpikan… “Kota-kota, seperti mimpi, terbuat dari keinginan dan ketakutan, meskipun benang pembicaraannya rahasia, aturannya absurd, perspektifnya menipu, dan semuanya menyembunyikan sesuatu yang lain.” Di sebuah taman duduk Kublai Khan yang tua dan Marco Polo muda—kaisar Mongol dan penjelajah Venesia. Kublai Khan telah merasakan akhir kekaisarannya akan segera tiba. Marco Polo menghibur tuan rumahnya dengan cerita-cerita tentang kota-kota yang telah dilihatnya dalam perjalanannya di sekitar kekaisaran: kota dan ingatan, kota dan keinginan, kota dan rancangan, kota dan orang mati, kota dan langit, kota perdagangan, kota tersembunyi. Saat Marco Polo menguraikan kisahnya, kaisar menyadari bahwa tempat-tempat fantastis ini lebih dari sekadar yang terlihat.


Galeri Buku Jakarta

GALERI BUKU JAKARTA

Ex sunt numquam aperiam voluptates aliquid ut consequatur. Quia consequuntur dolor deserunt consequatur quia incidunt. Non nihil voluptate exercitationem error quibusdam. Quisquam dignissimos quis architecto adipisci. Rerum nihil animi nihil officiis eius quia molestias.