Kublai Khan tidak sepenuhnya memercayai segala sesuatu yang dituturkan Marco Polo tentang kota-kota yang ia kunjungi dalam ekspedisinya, namun kaisar kaum Tartar tersebut tetap saja menyimak cerita pemuda Venesia itu dengan perhatian dan keingintahuan yang lebih besar ketimbang yang ia perlihatkan kepada utusan-utusan atau penjelajahnya sendiri.[1]
Dalam
kehidupan para raja-raja, selalu ada momen kebanggaan atas keberhasilan kami
dalam perluasan wilayah tanpa batas, serta rasa sedih sekaligus lega mengetahui
bahwa kami akan segera melupakan pengetahuan dan pemahaman akan wilayah-wilayah
tersebut. Ada seberkas perasaan hampa yang menyelimuti kami pada malam itu,
disertai bau gajah-gajah setelah hujan serta debu-debu kayu cendana mendingin
di dalam anglo, rasa mual yang membuat sungai-sungai dan gunung-gunung seakan
bergetar dalam lembah gersang di mana mereka digambarkan, tergulung,
susul-menyusul, berita-berita yang mengabarkan pada kami tentang kehancuran
sisa bala tentara musuh, dari satu penaklukan ke penaklukan lainnya, menodai
stempel lilin raja-raja tak dikenal yang memohon perlindungan pasukan kami,
sambil menawarkan upeti setiap tahun berupa logam mulia, kulit yang disamak,
dan cangkang kura-kura. Kami merasa sangat sedih tatkala menyadari bahwa
kekaisaran ini, yang di mata kami adalah sebuah keajaiban, ternyata adalah
puing-puing tanpa bentuk dan tanpa akhir, yang luka busuk kecurangannya telah
menyebar terlalu luas untuk bisa disembuhkan oleh tongkat kekuasaan kami, yang
kemenangan atas kedaulatan para musuhnya justru menjadikan kami ahli waris
keruntuhan mereka. Hanya melalui pertimbangan-pertimbangan yang disampaikan
Marco Pololah Kublai Khan sanggup melihat, melampaui dinding-dinding dan
menara-menara yang telah ditakdirkan hancur; dan melalui jejak-jejak pola yang
begitu pelik ia dapat membebaskan diri dari rayap-rayap yang terus
menggerogoti.
Bertolaklah
dari sana dan maju terus selama tiga hari ke arah timur, kau akan sampai di
Diomira, sebuah kota dengan enam puluh kubah perak, patung-patung perunggu
segala dewa, jalan-jalan bersalut timah, sebuah teater kristal, dan seekor ayam
emas di atas menara yang berkokok setiap pagi. Semua keindahan ini akan segera
nampak akrab bagi para pengunjung yang juga telah menyaksikannya di kota-kota
lain. Tetapi kekhasan kota ini bagi mereka yang datang ke sana pada malam bulan
September, tatkala hari-hari berjalan lebih pendek dan lampu-lampu aneka warna
dinyalakan serentak di pintu-pintu kedai makanan serta suara perempuan yang
menyeru ooh! dari sebuah teras, adalah rasa cemburu yang mereka rasakan
terhadap orang-orang yang kini meyakini bahwa sebelumnya mereka pernah
mengalami malam yang serupa, dan berpikir bahwa mereka, pada saat itu, merasa
bahagia.
[1] Dicuplik
dari buku “Invisible Cities” (Kota-kota Imajiner)— Novel filosofis karya Italo
Calvino yang dicintai dan dirancang dengan rumit tentang perjalanan seorang
Kaisar—sebuah perjalanan brilian melintasi tempat-tempat jauh dan kenangan yang
samar. Sama seperti mimpi, dengan kota-kota, segala sesuatu yang dapat
dibayangkan dapat diimpikan… “Kota-kota, seperti mimpi, terbuat dari keinginan
dan ketakutan, meskipun benang pembicaraannya rahasia, aturannya absurd,
perspektifnya menipu, dan semuanya menyembunyikan sesuatu yang lain.” Di sebuah
taman duduk Kublai Khan yang tua dan Marco Polo muda—kaisar Mongol dan
penjelajah Venesia. Kublai Khan telah merasakan akhir kekaisarannya akan segera
tiba. Marco Polo menghibur tuan rumahnya dengan cerita-cerita tentang kota-kota
yang telah dilihatnya dalam perjalanannya di sekitar kekaisaran: kota dan ingatan,
kota dan keinginan, kota dan rancangan, kota dan orang mati, kota dan langit,
kota perdagangan, kota tersembunyi. Saat Marco Polo menguraikan kisahnya,
kaisar menyadari bahwa tempat-tempat fantastis ini lebih dari sekadar yang
terlihat.