Di akhir
hari ketiga, bertolak ke arah selatan, kau sampai di Anastasia, sebuah kota
dengan kanal-kanal konsentris yang mengairinya serta layang-layang yang
beterbangan. Aku mesti menyusun daftar barang-barang berharga yang dapat dibeli
di sini: akik, oniks. mata, dan beragam bebatuan lainnya; sudah sepantasnya aku
memuji lezatnya daging unggas berwarna keemasan yang dimasak dengan api kayu
ceri dicampur dedaunan beraroma manis; dan bercerita tentang
perempuan-perempuan yang membasuh diri di kolam sebuah taman, yang
sesekali–konon katanya–mengajak orang-orang tak dikenal menanggalkan pakaian
bersama dan memburu mereka dalam air.[1]
Tetapi, dengan semua ini, aku belum menceritakan kepadamu tentang esensi kota ini yang sebenarnya; karena gambaran akan Anastasia akan membangkitkan hasratmu untuk mendesak dan melumpuhkan mereka, padahal jika kau berada di jantung Anastasia pada suatu pagi, hasratmu akan bangkit serentak dan mengepungmu. Kota ini memperlihatkan diri kepadamu sebagai suatu keseluruhan di mana tidak ada satu pun hasratmu yang sia-sia dan dengan itu kau menjadi bagiannya.
Dan karena kota
tersebut menikmati segala sesuatu yang tak kau nikmati, kau tidak berdaya
melakukan apa-apa kecuali hidup dalam hasrat tersebut dan mencoba menerimanya
dengan senang hati. Kekuatan-kekuatan seperti itu, kadang dianggap jahat dan
menular, kadang dianggap tidak membahayakan, di mana semuanya dimiliki
Anastasia, kota berbahaya itu; jika kau bekerja sebagai pengasah akik, oniks
atau permata selama delapan jam sehari, pekerjaanmu memberi bentuk pada hasrat
yang mengambil bentuknya dari hasrat yang lain, dan kau percaya bahwa kau dapat
menikmati Anastasia sepenuhnya justru di saat kau menjadi budaknya.
[1] Dicuplik
dari buku “Invisible Cities” (Kota-kota Imajiner)— Novel filosofis karya Italo
Calvino yang dicintai dan dirancang dengan rumit tentang perjalanan seorang
Kaisar—sebuah perjalanan brilian melintasi tempat-tempat jauh dan kenangan yang
samar. Sama seperti mimpi, dengan kota-kota, segala sesuatu yang dapat
dibayangkan dapat diimpikan… “Kota-kota, seperti mimpi, terbuat dari keinginan
dan ketakutan, meskipun benang pembicaraannya rahasia, aturannya absurd,
perspektifnya menipu, dan semuanya menyembunyikan sesuatu yang lain.” Di sebuah
taman duduk Kublai Khan yang tua dan Marco Polo muda—kaisar Mongol dan
penjelajah Venesia. Kublai Khan telah merasakan akhir kekaisarannya akan segera
tiba. Marco Polo menghibur tuan rumahnya dengan cerita-cerita tentang kota-kota
yang telah dilihatnya dalam perjalanannya di sekitar kekaisaran: kota dan ingatan,
kota dan keinginan, kota dan rancangan, kota dan orang mati, kota dan langit,
kota perdagangan, kota tersembunyi. Saat Marco Polo menguraikan kisahnya,
kaisar menyadari bahwa tempat-tempat fantastis ini lebih dari sekadar yang
terlihat.