JUL. 20, 2026

Kota-Kota & Keinginan—2

jika kau bekerja sebagai pengasah akik, oniks atau permata selama delapan jam sehari, pekerjaanmu memberi bentuk pada hasrat yang mengambil bentuknya dari hasrat yang lain

Image
Foto Penulis
By Galeri Buku Jakarta

Di akhir hari ketiga, bertolak ke arah selatan, kau sampai di Anastasia, sebuah kota dengan kanal-kanal konsentris yang mengairinya serta layang-layang yang beterbangan. Aku mesti menyusun daftar barang-barang berharga yang dapat dibeli di sini: akik, oniks. mata, dan beragam bebatuan lainnya; sudah sepantasnya aku memuji lezatnya daging unggas berwarna keemasan yang dimasak dengan api kayu ceri dicampur dedaunan beraroma manis; dan bercerita tentang perempuan-perempuan yang membasuh diri di kolam sebuah taman, yang sesekali–konon katanya–mengajak orang-orang tak dikenal menanggalkan pakaian bersama dan memburu mereka dalam air.[1]

Tetapi, dengan semua ini, aku belum menceritakan kepadamu tentang esensi kota ini yang sebenarnya; karena gambaran akan Anastasia akan membangkitkan hasratmu untuk mendesak dan melumpuhkan mereka, padahal jika kau berada di jantung Anastasia pada suatu pagi, hasratmu akan bangkit serentak dan mengepungmu. Kota ini memperlihatkan diri kepadamu sebagai suatu keseluruhan di mana tidak ada satu pun hasratmu yang sia-sia dan dengan itu kau menjadi bagiannya.

Dan karena kota tersebut menikmati segala sesuatu yang tak kau nikmati, kau tidak berdaya melakukan apa-apa kecuali hidup dalam hasrat tersebut dan mencoba menerimanya dengan senang hati. Kekuatan-kekuatan seperti itu, kadang dianggap jahat dan menular, kadang dianggap tidak membahayakan, di mana semuanya dimiliki Anastasia, kota berbahaya itu; jika kau bekerja sebagai pengasah akik, oniks atau permata selama delapan jam sehari, pekerjaanmu memberi bentuk pada hasrat yang mengambil bentuknya dari hasrat yang lain, dan kau percaya bahwa kau dapat menikmati Anastasia sepenuhnya justru di saat kau menjadi budaknya.

 



[1] Dicuplik dari buku “Invisible Cities” (Kota-kota Imajiner)— Novel filosofis karya Italo Calvino yang dicintai dan dirancang dengan rumit tentang perjalanan seorang Kaisar—sebuah perjalanan brilian melintasi tempat-tempat jauh dan kenangan yang samar. Sama seperti mimpi, dengan kota-kota, segala sesuatu yang dapat dibayangkan dapat diimpikan… “Kota-kota, seperti mimpi, terbuat dari keinginan dan ketakutan, meskipun benang pembicaraannya rahasia, aturannya absurd, perspektifnya menipu, dan semuanya menyembunyikan sesuatu yang lain.” Di sebuah taman duduk Kublai Khan yang tua dan Marco Polo muda—kaisar Mongol dan penjelajah Venesia. Kublai Khan telah merasakan akhir kekaisarannya akan segera tiba. Marco Polo menghibur tuan rumahnya dengan cerita-cerita tentang kota-kota yang telah dilihatnya dalam perjalanannya di sekitar kekaisaran: kota dan ingatan, kota dan keinginan, kota dan rancangan, kota dan orang mati, kota dan langit, kota perdagangan, kota tersembunyi. Saat Marco Polo menguraikan kisahnya, kaisar menyadari bahwa tempat-tempat fantastis ini lebih dari sekadar yang terlihat.


Galeri Buku Jakarta

GALERI BUKU JAKARTA

Ex sunt numquam aperiam voluptates aliquid ut consequatur. Quia consequuntur dolor deserunt consequatur quia incidunt. Non nihil voluptate exercitationem error quibusdam. Quisquam dignissimos quis architecto adipisci. Rerum nihil animi nihil officiis eius quia molestias.