Sebelum buku ini disebut sebagai buku bertopik nasionalisme
yang mungkin paling banyak dibaca sebagaimana dikatakan Eric Zuelow, “Imagined
Community” karya Benedict Anderson pada awal rilisnya (1983) tidak begitu
meledak—juga terasa tidak sedemikian penting.
Tampaknya baru mendapat perhatian secara luas setelah runtuhnya
Uni soviet dan terjadi perubahan besar di Eropa Timur. Pertanyaanya kenapa? Dan
terutama kenapa buku ini menjadi semacam bacaan wajib kalangan muda indonesia
terutama mereka yang minat pada isu sosial dan menjadi aktivis. Sebarapa buku
ini memendarkan imajinasi dan memahamkan kita pada imajinasi kolektif pembentuk
kebangsaan indonesia?
Penerjemahan atas buku berjudul asli Imagined Communities;
Reflection on the Origin and Spread of Nationalism, di indonesia dilakukan
oleh Intan naomi (almarhum), penerjemah top di Yogya ketika itu, atas inisiasi
Penerbit INSIST yang telah mendapat izin Ben beberapa bulan setelah kejatuhan
rezim Soeharto pada 1998.
Ben dalam satu peristiwa yang tidak langsung, menunjukkan
kemana buku ini ingin mengarah, yaitu untuk membongkar “keantikan”
nasionalisme.
Peristiwa dimaksud terjadi pada 1999 persis ketika buku
tersebut ‘ujuk-ujuk’ telah beredar di pasar—sebelum proses penerbitannya
dikonsultasikan dengan Ben. Buku yang rilis dengan judul terjemahan “Komunitas-komunitas
Imajiner” itu mendapat kritik dari Ben sejak sampul hingga isi
terjemahannya. Menurutnya justeru terjadi Gambaran yang menjadikan nasionalisme
sebagai sesuatu yang “unik” merujuk pada sampul bukunya yang menggunakan
ilustrasi Hammurabi. Ben meminta untuk menggunakan format seperti buku aslinya.
Selain evaluasi atas beberapa Lost in translation krusial dalam
karya penerjemahan oleh Intan Naomi. Merujuk Rizal Malik yang lalu menjadi
editor buku tersebut; “bahwa banyak konsep dan kejadian dalam sejarah dunia
tidak dikenal oleh mahasiswa (dan sarjana) Indonesia”. Sehingga Pustaka Pelajar
dan Insist Press terpaksa menarik semua buku itu dari peredaran. Dan Ben
menerjemahkan sendiri karyanya untuk pembaca indonesia. Daniel Dhakidae menyebut
dalam kata pengantarnya bahwa penerjemahan buku Imagined Communities/ “Komunitas-Komunitas
Terbayang” ke dalam bahasa indonesia adalah terjemahan ke-21 setelah
bahasa-bahasa lainnya.
Buku ini memotret bagaimana proses pembentukan
“bangsa”-bangsa, perjelanan komunitas tertindas utuk melepaskan diri dari induk
kolonialnya dan menjadi bangsa yang merdeka dan bebas menentukan peta jelan
kesejahteraanya sendiri. “rasa” kesamaan dalam nasib keterjajahan dan pendindasan
itu masih dalam bayang-bayang sampai ketika “bahasa” menjadi salah satu sarana
menerjemahkan bayangan-bayangan itu dalam bentuk “kehendak luhur atau cita-cita
luhur” kebangsaan yang menjadi basis perjuangan kemerdekaan sebagai ciri pokok
bangsa modern, tak terkecuali pengalaman indonesia.
Bahasa Indonesia tecatat memiliki peranan penting mempersatukan
“penerjemahan kehendak luhur” sebuah komunitas terbayang (imagined community)
yang kelak akan dinamai Indonesia. Ketika Sumpah Pemuda ditegakkan pada 28
Oktober 1928, tiga cita-cita besar ditabalkan. Tanah Air Indonesia, Bangsa
Indonesia, dan Bahasa Indonesia. Ketika itu, sentimen kedaerahan masih
begitu kuatnya. Dorongan bersatu kemudian mengerucut pada kebulatan tekad
menjadikan bahasa Indonesia sebagai pintu masuk pemersatu kemajemukan bangsa.
Dari 300an etnis di Indonesia terdapat 749 bahasa daerah. Indonesia merupakan
negara kedua di dunia dengan bahasa daerah terbanyak setelah Papua Nugini di
posisi pertama.
Ben Anderson sendiri dengan bukunya mengajukan definisi
bangsa sebagai “sebuah komunitas politis dan dibayangkan terbatas
secara inheren dan memiliki kedaulatan.” Bangsa merupakan sebuah komunitas
terbayang karena mustahil bagi individu anggotanya untuk benar-benar
pernah berinteraksi. Terbatas dalam arti hanya orang-orang tertentu yang
memiliki syarat inheren adalah bagian dari bangsa. Berdaulat berarti
bangsa-bangsa ini menganggap dirinya memiliki wilayahnya yang mandiri.
Dalam buku ini Anderson memnyajikan proses kesadaran
nasional muncul melalui bantuan kapitalisme percetakan. Percetakan massal ini
menjadi media pembentukan bahasa nasional yang bisa berasal dari bahasa
administratif atau bahasa ibu. Ini berkebalikan dengan pendapat Renan bahwa
bahasa bukanlah basis bagi pembentukan bangsa.
Pendapat Anderson bahwa bangsa bukanlah merupakan sesuatu
yang real, hanya sesuatu yang terbayang tidaklah berarti Anderson tidak
bersimpati terhadap sentimen nasionalisme. Ia membedakan dirinya dengan Gellner
yang menggambarkan nasionalisme sebagai suatu fenomena yang mengada-ada atau
palsu. Dalam buku ini terlihat bagaimana Anderson menikmati dan mengagumi
geliat sejarah masing-masing bangsa untuk menjadi sebuah nation.
Penulis merujuk pada Franz Magnis Suseno yang memberikan
arti pada kebangsaan-indonesia sebagai basis gerakan sosial berdasar pada
kesamaan pengalaman ketertindasan dan juga “cita-cita luhur” suatu bangsa
modern dan merdeka dengan kesadaran akan kebhinekaanya. Tanpa persaudaraan dan
kesetiakawanan dalam kesadaran kebhinekaan proses pemaknaan akan kebangsaan
bisa menjadi monologis sekaligus hegemonik. Hal yang juga disadari Ben dalam
karyanya.
“Akhirnya, bangsa dibayangkan sebagai sebuah komunitas, sebab, tak peduli akan ketidakadilan yang ada dan penghisapan yang mungkin tak terhapuskan dalam setiap bangsa, bangsa itu sendiri selalu dipahami sebagai kesetiakawanan yang masuk mendalam dan melebar-mendatar. Pada akhirnya, selama dua abad terakhir, rasa persaudaraan inilah yang memungkinkan begitu banyak orang, jutaan jumlahnya, bersedia jangankan melenyapkan nyawa orang lain merenggut nyawa sendiri pun rela demi pembayangan tentang yang terbatas itu.” (Benedict Anderson, Komunitas-komunitas Terbayang, hal. 11.)
Sebagai penutup, magnum kesadaran kebahasaan Novelis Hermann
Hesse bisa menjadi pengikat kesemuanya: "Without words, without writing
and without books there would be no history, there could be no concept of humanity".
(*)