AUG. 07, 2026

Bangsa dalam Imajinasi Kolektif Ketertindasan

Pendapat Anderson bahwa bangsa bukanlah merupakan sesuatu yang real, hanya sesuatu yang terbayang tidaklah berarti Anderson tidak bersimpati terhadap sentimen nasionalisme.

Image
By Editorial Team GBJ

Sebelum buku ini disebut sebagai buku bertopik nasionalisme yang mungkin paling banyak dibaca sebagaimana dikatakan Eric Zuelow, “Imagined Community” karya Benedict Anderson pada awal rilisnya (1983) tidak begitu meledak—juga terasa tidak sedemikian penting.

Tampaknya baru mendapat perhatian secara luas setelah runtuhnya Uni soviet dan terjadi perubahan besar di Eropa Timur. Pertanyaanya kenapa? Dan terutama kenapa buku ini menjadi semacam bacaan wajib kalangan muda indonesia terutama mereka yang minat pada isu sosial dan menjadi aktivis. Sebarapa buku ini memendarkan imajinasi dan memahamkan kita pada imajinasi kolektif pembentuk kebangsaan indonesia?

Penerjemahan atas buku berjudul asli Imagined Communities; Reflection on the Origin and Spread of Nationalism, di indonesia dilakukan oleh Intan naomi (almarhum), penerjemah top di Yogya ketika itu, atas inisiasi Penerbit INSIST yang telah mendapat izin Ben beberapa bulan setelah kejatuhan rezim Soeharto pada 1998.

Ben dalam satu peristiwa yang tidak langsung, menunjukkan kemana buku ini ingin mengarah, yaitu untuk membongkar “keantikan” nasionalisme.

Peristiwa dimaksud terjadi pada 1999 persis ketika buku tersebut ‘ujuk-ujuk’ telah beredar di pasar—sebelum proses penerbitannya dikonsultasikan dengan Ben. Buku yang rilis dengan judul terjemahan “Komunitas-komunitas Imajiner” itu mendapat kritik dari Ben sejak sampul hingga isi terjemahannya. Menurutnya justeru terjadi Gambaran yang menjadikan nasionalisme sebagai sesuatu yang “unik” merujuk pada sampul bukunya yang menggunakan ilustrasi Hammurabi. Ben meminta untuk menggunakan format seperti buku aslinya. Selain evaluasi atas beberapa Lost in translation krusial dalam karya penerjemahan oleh Intan Naomi. Merujuk Rizal Malik yang lalu menjadi editor buku tersebut; “bahwa banyak konsep dan kejadian dalam sejarah dunia tidak dikenal oleh mahasiswa (dan sarjana) Indonesia”. Sehingga Pustaka Pelajar dan Insist Press terpaksa menarik semua buku itu dari peredaran. Dan Ben menerjemahkan sendiri karyanya untuk pembaca indonesia. Daniel Dhakidae menyebut dalam kata pengantarnya bahwa penerjemahan buku Imagined Communities/ “Komunitas-Komunitas Terbayang” ke dalam bahasa indonesia adalah terjemahan ke-21 setelah bahasa-bahasa lainnya.

Buku ini memotret bagaimana proses pembentukan “bangsa”-bangsa, perjelanan komunitas tertindas utuk melepaskan diri dari induk kolonialnya dan menjadi bangsa yang merdeka dan bebas menentukan peta jelan kesejahteraanya sendiri. “rasa” kesamaan dalam nasib keterjajahan dan pendindasan itu masih dalam bayang-bayang sampai ketika “bahasa” menjadi salah satu sarana menerjemahkan bayangan-bayangan itu dalam bentuk “kehendak luhur atau cita-cita luhur” kebangsaan yang menjadi basis perjuangan kemerdekaan sebagai ciri pokok bangsa modern, tak terkecuali pengalaman indonesia. 

Bahasa Indonesia tecatat memiliki peranan penting mempersatukan “penerjemahan kehendak luhur” sebuah komunitas terbayang (imagined community) yang kelak akan dinamai Indonesia. Ketika Sumpah Pemuda ditegakkan pada 28 Oktober 1928, tiga cita-cita besar ditabalkan. Tanah Air Indonesia, Bangsa Indonesia, dan Bahasa Indonesia. Ketika itu, sentimen kedaerahan masih begitu kuatnya. Dorongan bersatu kemudian mengerucut pada kebulatan tekad menjadikan bahasa Indonesia sebagai pintu masuk pemersatu kemajemukan bangsa. Dari 300an etnis di Indonesia terdapat 749 bahasa daerah. Indonesia merupakan negara kedua di dunia dengan bahasa daerah terbanyak setelah Papua Nugini di posisi pertama.

Ben Anderson sendiri dengan bukunya mengajukan definisi bangsa sebagai “sebuah komunitas politis dan dibayangkan terbatas secara inheren dan memiliki kedaulatan.” Bangsa merupakan sebuah komunitas terbayang karena mustahil bagi individu anggotanya untuk benar-benar pernah berinteraksi. Terbatas dalam arti hanya orang-orang tertentu yang memiliki syarat inheren adalah bagian dari bangsa. Berdaulat berarti bangsa-bangsa ini menganggap dirinya memiliki wilayahnya yang mandiri.

Dalam buku ini Anderson memnyajikan proses kesadaran nasional muncul melalui bantuan kapitalisme percetakan. Percetakan massal ini menjadi media pembentukan bahasa nasional yang bisa berasal dari bahasa administratif atau bahasa ibu. Ini berkebalikan dengan pendapat Renan bahwa bahasa bukanlah basis bagi pembentukan bangsa.

Pendapat Anderson bahwa bangsa bukanlah merupakan sesuatu yang real, hanya sesuatu yang terbayang tidaklah berarti Anderson tidak bersimpati terhadap sentimen nasionalisme. Ia membedakan dirinya dengan Gellner yang menggambarkan nasionalisme sebagai suatu fenomena yang mengada-ada atau palsu. Dalam buku ini terlihat bagaimana Anderson menikmati dan mengagumi geliat sejarah masing-masing bangsa untuk menjadi sebuah nation.

Penulis merujuk pada Franz Magnis Suseno yang memberikan arti pada kebangsaan-indonesia sebagai basis gerakan sosial berdasar pada kesamaan pengalaman ketertindasan dan juga “cita-cita luhur” suatu bangsa modern dan merdeka dengan kesadaran akan kebhinekaanya. Tanpa persaudaraan dan kesetiakawanan dalam kesadaran kebhinekaan proses pemaknaan akan kebangsaan bisa menjadi monologis sekaligus hegemonik. Hal yang juga disadari Ben dalam karyanya.

“Akhirnya, bangsa dibayangkan sebagai sebuah komunitas, sebab, tak peduli akan ketidakadilan yang ada dan penghisapan yang mungkin tak terhapuskan dalam setiap bangsa, bangsa itu sendiri selalu dipahami sebagai kesetiakawanan yang masuk mendalam dan melebar-mendatar. Pada akhirnya, selama dua abad terakhir, rasa persaudaraan inilah yang memungkinkan begitu banyak orang, jutaan jumlahnya, bersedia jangankan melenyapkan nyawa orang lain merenggut nyawa sendiri pun rela demi pembayangan tentang yang terbatas itu.” (Benedict Anderson, Komunitas-komunitas Terbayang, hal. 11.)

Sebagai penutup, magnum kesadaran kebahasaan Novelis Hermann Hesse bisa menjadi pengikat kesemuanya: "Without words, without writing and without books there would be no history, there could be no concept of humanity".  (*)

 

 


EDITORIAL TEAM GBJ

Bersama para penulis dan kontributor Galeri Buku Jakarta yang dicintai pembacanya. Galeri Buku Jakarta selalu memiliki misi ganda: untuk mempromosikan penulis yang paling menarik dan untuk mendukung pembaca yang ambisius dan ingin tahu.