JUL. 20, 2026

Kota-Kota & Kenangan—3

Image
Foto Penulis
By Galeri Buku Jakarta

Meski mungkin sia-sia, Kublai Khan yang mulia, izinkanlah aku menceritakan tentang Zaira, kota dengan benteng-benteng pertahanannya yang tinggi. Aku dapat saja bercerita kepadamu tentang banyaknya undakan yang menghiasi jalan-jalan yang tumbuh seperti tangga, serta tingkatan dari jalan-jalan yang beratap melengkung, atau seng-seng bersisik yang menutupi atap-atap; namun aku tahu bahwa dengan menceritakan itu semua aku tidak menceritakan apa-apa kepadamu. Kota tersebut tidaklah terdiri dari itu semua, tapi tersusun dari jalinan ukuran-ukuran ruang dengan peristiwa-peristiwa masa silamnya; tingginya tiang lampu dan jarak dari tanah ke ayunan kaki si perampas kekuasaan yang digantung; deretan garis tiang lampu ke pagar penyangga di seberangnya yang menghiasi lajur prosesi perkawinan sang ratu; tingginya pagar penyangga dan lompatan para pezinah yang memanjatnya di kala fajar; miringnya sebuah pancuran atap dan derap langkah kucing yang menyusurinya hingga tergelincir ke jendela yang sama; jarak tembak sebuah kapal meriam yang sekonyong-konyong tampak melewati semenanjung serta bom yang meluluhlantakkan pancuran atap tersebut; robekan-robekan pada jaring-jaring ikan dan tiga lelaki tua yang duduk di geladak menambalnya sambil bercerita satu sama lain untuk keseratus kalinya tentang kapal meriam milik si perampas kekuasaan, yang konon adalah anak haram sang ratu, yang ditelantarkan dalam kain bedongnya di atas geladak.[1]

Sewaktu gelombang-gelombang kenangan ini mengalir masuk, kota itu menghisapnya laksana spons yang mengembang. Penggambaran Zaira seperti adanya saat ini juga memuat seluruh masa lalu Zaira. Kota tersebut, bagaimanapun juga, sama sekali tidak mengungkapkan masa lalunya, tetapi memuatnya seperti garis-garis tangan, tertulis pada sudut-sudut jalanan, jeruji jendela, pegangan-pegangan tangga, antena batang-batang lampu, galah-galah bendera, ruas-ruas yang ditandai guratan-guratan, lekukan-lekukan, gulungan-gulungan.

 



[1][1] Dicuplik dari buku “Invisible Cities” (Kota-kota Imajiner)— Novel filosofis karya Italo Calvino yang dicintai dan dirancang dengan rumit tentang perjalanan seorang Kaisar—sebuah perjalanan brilian melintasi tempat-tempat jauh dan kenangan yang samar. Sama seperti mimpi, dengan kota-kota, segala sesuatu yang dapat dibayangkan dapat diimpikan… “Kota-kota, seperti mimpi, terbuat dari keinginan dan ketakutan, meskipun benang pembicaraannya rahasia, aturannya absurd, perspektifnya menipu, dan semuanya menyembunyikan sesuatu yang lain.” Di sebuah taman duduk Kublai Khan yang tua dan Marco Polo muda—kaisar Mongol dan penjelajah Venesia. Kublai Khan telah merasakan akhir kekaisarannya akan segera tiba. Marco Polo menghibur tuan rumahnya dengan cerita-cerita tentang kota-kota yang telah dilihatnya dalam perjalanannya di sekitar kekaisaran: kota dan ingatan, kota dan keinginan, kota dan rancangan, kota dan orang mati, kota dan langit, kota perdagangan, kota tersembunyi. Saat Marco Polo menguraikan kisahnya, kaisar menyadari bahwa tempat-tempat fantastis ini lebih dari sekadar yang terlihat.


Galeri Buku Jakarta

GALERI BUKU JAKARTA

Ex sunt numquam aperiam voluptates aliquid ut consequatur. Quia consequuntur dolor deserunt consequatur quia incidunt. Non nihil voluptate exercitationem error quibusdam. Quisquam dignissimos quis architecto adipisci. Rerum nihil animi nihil officiis eius quia molestias.