Meski
mungkin sia-sia, Kublai Khan yang mulia, izinkanlah aku menceritakan tentang
Zaira, kota dengan benteng-benteng pertahanannya yang tinggi. Aku dapat saja
bercerita kepadamu tentang banyaknya undakan yang menghiasi jalan-jalan yang
tumbuh seperti tangga, serta tingkatan dari jalan-jalan yang beratap melengkung,
atau seng-seng bersisik yang menutupi atap-atap; namun aku tahu bahwa dengan
menceritakan itu semua aku tidak menceritakan apa-apa kepadamu. Kota tersebut
tidaklah terdiri dari itu semua, tapi tersusun dari jalinan ukuran-ukuran ruang
dengan peristiwa-peristiwa masa silamnya; tingginya tiang lampu dan jarak dari
tanah ke ayunan kaki si perampas kekuasaan yang digantung; deretan garis tiang
lampu ke pagar penyangga di seberangnya yang menghiasi lajur prosesi perkawinan
sang ratu; tingginya pagar penyangga dan lompatan para pezinah yang memanjatnya
di kala fajar; miringnya sebuah pancuran atap dan derap langkah kucing yang
menyusurinya hingga tergelincir ke jendela yang sama; jarak tembak sebuah kapal
meriam yang sekonyong-konyong tampak melewati semenanjung serta bom yang
meluluhlantakkan pancuran atap tersebut; robekan-robekan pada jaring-jaring
ikan dan tiga lelaki tua yang duduk di geladak menambalnya sambil bercerita
satu sama lain untuk keseratus kalinya tentang kapal meriam milik si perampas kekuasaan,
yang konon adalah anak haram sang ratu, yang ditelantarkan dalam kain bedongnya
di atas geladak.[1]
Sewaktu
gelombang-gelombang kenangan ini mengalir masuk, kota itu menghisapnya laksana
spons yang mengembang. Penggambaran Zaira seperti adanya saat ini juga memuat
seluruh masa lalu Zaira. Kota tersebut, bagaimanapun juga, sama sekali tidak
mengungkapkan masa lalunya, tetapi memuatnya seperti garis-garis tangan,
tertulis pada sudut-sudut jalanan, jeruji jendela, pegangan-pegangan tangga,
antena batang-batang lampu, galah-galah bendera, ruas-ruas yang ditandai
guratan-guratan, lekukan-lekukan, gulungan-gulungan.
[1][1] Dicuplik
dari buku “Invisible Cities” (Kota-kota Imajiner)— Novel filosofis karya Italo
Calvino yang dicintai dan dirancang dengan rumit tentang perjalanan seorang
Kaisar—sebuah perjalanan brilian melintasi tempat-tempat jauh dan kenangan yang
samar. Sama seperti mimpi, dengan kota-kota, segala sesuatu yang dapat
dibayangkan dapat diimpikan… “Kota-kota, seperti mimpi, terbuat dari keinginan
dan ketakutan, meskipun benang pembicaraannya rahasia, aturannya absurd,
perspektifnya menipu, dan semuanya menyembunyikan sesuatu yang lain.” Di sebuah
taman duduk Kublai Khan yang tua dan Marco Polo muda—kaisar Mongol dan
penjelajah Venesia. Kublai Khan telah merasakan akhir kekaisarannya akan segera
tiba. Marco Polo menghibur tuan rumahnya dengan cerita-cerita tentang kota-kota
yang telah dilihatnya dalam perjalanannya di sekitar kekaisaran: kota dan ingatan,
kota dan keinginan, kota dan rancangan, kota dan orang mati, kota dan langit,
kota perdagangan, kota tersembunyi. Saat Marco Polo menguraikan kisahnya,
kaisar menyadari bahwa tempat-tempat fantastis ini lebih dari sekadar yang
terlihat.