JUL. 20, 2026

Kota-Kota & Kenangan—4

Kota yang tak terhapuskan dari ingatan ini laiknya sebuah perlindungan, sarang lebah yang di dalam setiap selnya kita dapat menaruh benda-benda yang ingin selalu kita ingat.

Image
Foto Penulis
By Galeri Buku Jakarta

Kota-Kota & Kenangan—4

Di balik enam sungai dan tiga jajaran gunung muncullah Zora, sebuah kota yang tak mungkin pernah dapat terlupakan. Tapi bukan karena ia meninggalkan citra ganjil dalam ingatanmu, seperti halnya kota kenangan lainnya. Zora memiliki kualitas yang membuatnya lekat dalam ingatanmu jengkal demi jengkal, dalam rangkaian jalan-jalannya, dari impresi rumah-rumah di sepanjang jalannya, pintu-pintu dan jendela yang terletak di dalamnya, meskipun semua itu sama sekali tidak mengandung keindahan yang unik ataupun keganjilan. Rahasia Zora akan nampak ketika kau melihat pola susul-menyusul seperti dalam lembaran not balok dimana tidak ada satu pun nada yang dapat diubah atau diganti. Seseorang yang mengetahui dengan benar bagaimana Zora dibuat, jika ia tidak terjaga di malam hari, dapat membayangkan dirinya tengah berjalan di sepanjang jalan dan ia ingat bagaimana tatanan gerak jam tembaga itu mengikuti tatanan tenda-tenda tukang cukur hingga membentuk garis lurus, juga air mancur dengan sembilan pancarannya, menara kaca milik astronom, kios pedagang melon, patung si pertapa dan sang singa, pemandian Turki, warung kopi pojok jalan, serta lorong yang mengarah ke pelabuhan. Kota yang tak terhapuskan dari ingatan ini laiknya sebuah perlindungan, sarang lebah yang di dalam setiap selnya kita dapat menaruh benda-benda yang ingin selalu kita ingat; nama-nama orang terkenal, kebajikan, angka-angka, penggolongan sayuran dan mineral, tanggal-tanggal terjadinya peperangan, perbintangan, bagian-bagian wicara. Di antara masing-masing gagasan dan rute yang dijalaninya, persamaan atau perbedaan terlihat jelas, tak ubahnya kilatan atau kenangan yang tiba-tiba muncul. Maka orang yang paling terpelajar di dunia adalah mereka yang telah mengenang Zora.

Tetapi dalam kesia-siaan aku mengunjungi kota ini: yang dipaksa tidak berubah dan selalu sama, agar ia menjadi lebih mudah diingat. Zora telah merana, terpecah-belah, sirna. Bumi telah melupakannya.

Di balik enam sungai dan tiga jajaran gunung muncullah Zora, sebuah kota yang tak mungkin pernah dapat terlupakan. Tapi bukan karena ia meninggalkan citra ganjil dalam ingatanmu, seperti halnya kota kenangan lainnya. Zora memiliki kualitas yang membuatnya lekat dalam ingatanmu jengkal demi jengkal, dalam rangkaian jalan-jalannya, dari impresi rumah-rumah di sepanjang jalannya, pintu-pintu dan jendela yang terletak di dalamnya, meskipun semua itu sama sekali tidak mengandung keindahan yang unik ataupun keganjilan. Rahasia Zora akan nampak ketika kau melihat pola susul-menyusul seperti dalam lembaran not balok dimana tidak ada satu pun nada yang dapat diubah atau diganti. Seseorang yang mengetahui dengan benar bagaimana Zora dibuat, jika ia tidak terjaga di malam hari, dapat membayangkan dirinya tengah berjalan di sepanjang jalan dan ia ingat bagaimana tatanan gerak jam tembaga itu mengikuti tatanan tenda-tenda tukang cukur hingga membentuk garis lurus, juga air mancur dengan sembilan pancarannya, menara kaca milik astronom, kios pedagang melon, patung si pertapa dan sang singa, pemandian Turki, warung kopi pojok jalan, serta lorong yang mengarah ke pelabuhan. Kota yang tak terhapuskan dari ingatan ini laiknya sebuah perlindungan, sarang lebah yang di dalam setiap selnya kita dapat menaruh benda-benda yang ingin selalu kita ingat; nama-nama orang terkenal, kebajikan, angka-angka, penggolongan sayuran dan mineral, tanggal-tanggal terjadinya peperangan, perbintangan, bagian-bagian wicara. Di antara masing-masing gagasan dan rute yang dijalaninya, persamaan atau perbedaan terlihat jelas, tak ubahnya kilatan atau kenangan yang tiba-tiba muncul. Maka orang yang paling terpelajar di dunia adalah mereka yang telah mengenang Zora.[1]

Tetapi dalam kesia-siaan aku mengunjungi kota ini: yang dipaksa tidak berubah dan selalu sama, agar ia menjadi lebih mudah diingat. Zora telah merana, terpecah-belah, sirna. Bumi telah melupakannya.



[1] Dicuplik dari buku “Invisible Cities” (Kota-kota Imajiner)— Novel filosofis karya Italo Calvino yang dicintai dan dirancang dengan rumit tentang perjalanan seorang Kaisar—sebuah perjalanan brilian melintasi tempat-tempat jauh dan kenangan yang samar. Sama seperti mimpi, dengan kota-kota, segala sesuatu yang dapat dibayangkan dapat diimpikan… “Kota-kota, seperti mimpi, terbuat dari keinginan dan ketakutan, meskipun benang pembicaraannya rahasia, aturannya absurd, perspektifnya menipu, dan semuanya menyembunyikan sesuatu yang lain.” Di sebuah taman duduk Kublai Khan yang tua dan Marco Polo muda—kaisar Mongol dan penjelajah Venesia. Kublai Khan telah merasakan akhir kekaisarannya akan segera tiba. Marco Polo menghibur tuan rumahnya dengan cerita-cerita tentang kota-kota yang telah dilihatnya dalam perjalanannya di sekitar kekaisaran: kota dan ingatan, kota dan keinginan, kota dan rancangan, kota dan orang mati, kota dan langit, kota perdagangan, kota tersembunyi. Saat Marco Polo menguraikan kisahnya, kaisar menyadari bahwa tempat-tempat fantastis ini lebih dari sekadar yang terlihat.

 


Galeri Buku Jakarta

GALERI BUKU JAKARTA

Ex sunt numquam aperiam voluptates aliquid ut consequatur. Quia consequuntur dolor deserunt consequatur quia incidunt. Non nihil voluptate exercitationem error quibusdam. Quisquam dignissimos quis architecto adipisci. Rerum nihil animi nihil officiis eius quia molestias.