Kota-Kota & Kenangan—4
Di balik enam sungai dan
tiga jajaran gunung muncullah Zora, sebuah kota yang tak mungkin pernah dapat
terlupakan. Tapi bukan karena ia meninggalkan citra ganjil dalam ingatanmu,
seperti halnya kota kenangan lainnya. Zora memiliki kualitas yang membuatnya
lekat dalam ingatanmu jengkal demi jengkal, dalam rangkaian jalan-jalannya,
dari impresi rumah-rumah di sepanjang jalannya, pintu-pintu dan jendela yang
terletak di dalamnya, meskipun semua itu sama sekali tidak mengandung keindahan
yang unik ataupun keganjilan. Rahasia Zora akan nampak ketika kau melihat pola
susul-menyusul seperti dalam lembaran not balok dimana tidak ada satu pun nada
yang dapat diubah atau diganti. Seseorang yang mengetahui dengan benar
bagaimana Zora dibuat, jika ia tidak terjaga di malam hari, dapat membayangkan
dirinya tengah berjalan di sepanjang jalan dan ia ingat bagaimana tatanan gerak
jam tembaga itu mengikuti tatanan tenda-tenda tukang cukur hingga membentuk
garis lurus, juga air mancur dengan sembilan pancarannya, menara kaca milik
astronom, kios pedagang melon, patung si pertapa dan sang singa, pemandian
Turki, warung kopi pojok jalan, serta lorong yang mengarah ke pelabuhan. Kota
yang tak terhapuskan dari ingatan ini laiknya sebuah perlindungan, sarang lebah
yang di dalam setiap selnya kita dapat menaruh benda-benda yang ingin selalu
kita ingat; nama-nama orang terkenal, kebajikan, angka-angka, penggolongan
sayuran dan mineral, tanggal-tanggal terjadinya peperangan, perbintangan,
bagian-bagian wicara. Di antara masing-masing gagasan dan rute yang
dijalaninya, persamaan atau perbedaan terlihat jelas, tak ubahnya kilatan atau
kenangan yang tiba-tiba muncul. Maka orang yang paling terpelajar di dunia
adalah mereka yang telah mengenang Zora.
Tetapi dalam kesia-siaan aku mengunjungi kota ini: yang dipaksa tidak berubah dan selalu sama, agar ia menjadi lebih mudah diingat. Zora telah merana, terpecah-belah, sirna. Bumi telah melupakannya.
Di balik
enam sungai dan tiga jajaran gunung muncullah Zora, sebuah kota yang tak
mungkin pernah dapat terlupakan. Tapi bukan karena ia meninggalkan citra ganjil
dalam ingatanmu, seperti halnya kota kenangan lainnya. Zora memiliki kualitas
yang membuatnya lekat dalam ingatanmu jengkal demi jengkal, dalam rangkaian
jalan-jalannya, dari impresi rumah-rumah di sepanjang jalannya, pintu-pintu dan
jendela yang terletak di dalamnya, meskipun semua itu sama sekali tidak
mengandung keindahan yang unik ataupun keganjilan. Rahasia Zora akan nampak
ketika kau melihat pola susul-menyusul seperti dalam lembaran not balok dimana
tidak ada satu pun nada yang dapat diubah atau diganti. Seseorang yang
mengetahui dengan benar bagaimana Zora dibuat, jika ia tidak terjaga di malam
hari, dapat membayangkan dirinya tengah berjalan di sepanjang jalan dan ia
ingat bagaimana tatanan gerak jam tembaga itu mengikuti tatanan tenda-tenda
tukang cukur hingga membentuk garis lurus, juga air mancur dengan sembilan
pancarannya, menara kaca milik astronom, kios pedagang melon, patung si pertapa
dan sang singa, pemandian Turki, warung kopi pojok jalan, serta lorong yang
mengarah ke pelabuhan. Kota yang tak terhapuskan dari ingatan ini laiknya
sebuah perlindungan, sarang lebah yang di dalam setiap selnya kita dapat
menaruh benda-benda yang ingin selalu kita ingat; nama-nama orang terkenal,
kebajikan, angka-angka, penggolongan sayuran dan mineral, tanggal-tanggal
terjadinya peperangan, perbintangan, bagian-bagian wicara. Di antara
masing-masing gagasan dan rute yang dijalaninya, persamaan atau perbedaan
terlihat jelas, tak ubahnya kilatan atau kenangan yang tiba-tiba muncul. Maka
orang yang paling terpelajar di dunia adalah mereka yang telah mengenang Zora.[1]
Tetapi dalam kesia-siaan aku mengunjungi kota ini: yang dipaksa tidak berubah dan selalu sama, agar ia menjadi lebih mudah diingat. Zora telah merana, terpecah-belah, sirna. Bumi telah melupakannya.
[1] Dicuplik
dari buku “Invisible Cities” (Kota-kota Imajiner)— Novel filosofis karya Italo
Calvino yang dicintai dan dirancang dengan rumit tentang perjalanan seorang
Kaisar—sebuah perjalanan brilian melintasi tempat-tempat jauh dan kenangan yang
samar. Sama seperti mimpi, dengan kota-kota, segala sesuatu yang dapat
dibayangkan dapat diimpikan… “Kota-kota, seperti mimpi, terbuat dari keinginan
dan ketakutan, meskipun benang pembicaraannya rahasia, aturannya absurd,
perspektifnya menipu, dan semuanya menyembunyikan sesuatu yang lain.” Di sebuah
taman duduk Kublai Khan yang tua dan Marco Polo muda—kaisar Mongol dan
penjelajah Venesia. Kublai Khan telah merasakan akhir kekaisarannya akan segera
tiba. Marco Polo menghibur tuan rumahnya dengan cerita-cerita tentang kota-kota
yang telah dilihatnya dalam perjalanannya di sekitar kekaisaran: kota dan ingatan,
kota dan keinginan, kota dan rancangan, kota dan orang mati, kota dan langit,
kota perdagangan, kota tersembunyi. Saat Marco Polo menguraikan kisahnya,
kaisar menyadari bahwa tempat-tempat fantastis ini lebih dari sekadar yang
terlihat.