Yang Dipikirkan Novelis Saat Memikirkan Ide Novel

Joyce Cary

INSPIRASI
July 15, 2026

Yang Dipikirkan Novelis Saat Memikirkan Ide Novel

Aku tiba-tiba tersadar bahwa pahlawan Inggrisku adalah gadis di atas kapal Manhattan. Entah bagaimana dia masuk ke dalam alam bawah sadarku, dan muncul kembali dengan sebuah cerita yang utuh.


Foto Penulis BY MARLINA SOPIANA

Seringkali aku tidak mengetahui asal mulanya. Belakangan aku mempunyai pengalaman aneh yang memberiku pandangan sekilas atas prosesnya, sesuatu yang tak pernah kusangka.[1]

Aku sedang berkeliling Manhattan menaiki kapal uap dengan seorang teman dari Amerika, Elizabeth Lawrence dari majalah Harper. Dan aku menyadari seorang gadis duduk sendirian di ujung lain geladak-seorang gadis berusia kira-kira tiga puluh tahun, mengenakan rok yang lusuh. Dia sedang menikmati kesendiriannya. Sebuah ekspresi yang bagus, dengan dahi yang berkerut, kerutan yang banyak sekali. Aku mengatakan pada temanku, “Aku dapat menulis tentang gadis itu-menurutmu dia itu siapa?” Elizabeth mengatakan bahwa mungkin saja gadis itu seorang guru yang sedang berlibur, dan menanyakanku mengapa aku ingin menulis tentang gadis itu. Aku menjawab sebenarnya aku tak tahu-aku membayangkan gadis itu seorang yang peka dan cerdas, dan mengalami kesulitan karenanya. Mempunyai hidup yang sulit tetapi juga menghasilkan sesuatu darinya. Pada saat-saat seperti itu aku sering membuat catatan. Tapi aku tidak melakukannya-dan aku melupakan seluruh peristiwa itu. Lalu, kira-kira tiga minggu setelah itu, di San Fransisco, aku bangun di tengah malam, kupikir, dengan sebuah cerita dikepalaku. Aku membuat uraian ceritanya saat itu juga-cerita itu tentang seorang gadis Inggris di negerinya-sebuah dongeng Inggris murni.

Hari berikutnya sebuah pertemuan dibatalkan dan aku memiliki sehari penuh yang kosong. Aku menemukan catatanku dan menuliskan ceritanya-itu adalah peristiwa-peristiwa utama dan sejumlah garis penghubung. Beberapa hari kemudian, di dalam pesawat-waktu yang ideal untuk menulis-aku mulai mengerjakannya, merapikannya, dan aku berpikir, ada apa dengan kerutan-kerutan di wajah itu, itu ketiga kalinya mereka muncul. Dan aku tiba-tiba tersadar bahwa pahlawan Inggrisku adalah gadis di atas kapal Manhattan. Entah bagaimana dia masuk ke dalam alam bawah sadarku, dan muncul kembali dengan sebuah cerita yang utuh. Joyce Cary[2]

 



[1] Letter form the Editor: Majalah The Paris Review (2018) secara ekslusif menerbitkan The Writer’s Chapbook, sebuah jilid buku yang berisi intisari-intisari dari rentetan wawancara dengan pengarang-pengarang yang muncul di majalah tersebut sejak tahun 1953. Apa yang ditulis kemudian adalah diskusi-diskusi para pengarang tentang proses awal dari dunia kreatif dan menulis mereka, pengecambahan sebuah puisi, atau sebuah karya fiksi. “Inspirasi” menjadi garis besar dalam rangkuman dari intisari pemikiran para pengarang dunia tentang proses kreatif dan bagaimana mereka menulis pada mulanya.

[2] Joyce Cary (lahir 7 Desember 1888, Londonderry , Irlandia—meninggal 29 Maret 1957, Oxford , Inggris) adalah seorang novelis Inggris yang mengembangkan bentuk trilogi di mana setiap volume dinarasikan oleh salah satu dari tiga protagonis . Cary lahir dalam keluarga Anglo-Irlandia lama, dan pada usia 16 tahun ia belajar melukis di Edinburgh dan kemudian di Paris. Dari tahun 1909 hingga 1912 ia berada di Trinity College , Oxford, tempat ia belajar hukum. Setelah bergabung dengan dinas kolonial pada tahun 1914, ia bertugas di Resimen Nigeria selama Perang Dunia I. Ia terluka saat bertempur di Kamerun dan kembali bertugas sipil di Nigeria pada tahun 1917 sebagai petugas distrik. Afrika Barat menjadi latar tempat novel-novel awalnya.

Bertekad untuk menjadi seorang penulis, Cary menetap di Oxford pada tahun 1920. Meskipun pada tahun itu ia menerbitkan 10 cerita pendek di Saturday Evening Post, sebuah majalah Amerika, ia memutuskan bahwa pengetahuannya tentang filsafat, etika , dan sejarah terlalu minim untuk melanjutkan menulis dengan hati nurani yang baik . Studi menyita beberapa tahun berikutnya, dan baru pada tahun 1932 novel pertamanya diterbitkan .Aissa Saved, muncul. Kisah tentang seorang gadis Afrika yang memeluk agama Kristen tetapi masih mempertahankan unsur-unsur pagan dalam keyakinannya, diikuti oleh tiga novel Afrika lainnya— An American Visitor (1933), The African Witch (1936), dan Mister Johnson (1939)—dan sebuah novel tentang kemunduran Kekaisaran Inggris , Castle Corner (1938). Masa kanak-kanak menjadi tema dua novel berikutnya: masa kanak-kanaknya sendiri dalam A House of Children (1941) dan masa kanak-kanak seorang pengungsi perang dari London timur di pedesaan dalam Charley Is My Darling (1940).

 

Marlina Sopiana
MARLINA SOPIANA

Velit molestiae consequatur quisquam fuga quod voluptatem. Est sint illum est omnis reprehenderit. Tempora iusto numquam est. Ut voluptatum et soluta. Quae officiis suscipit eius iure beatae sequi eos.