JUL. 15, 2026

Susan Sontag tentang Sastra dan Nasihatnya untuk Penulis di Abad Internet

Perbedaan antara kisah-kisah di satu sisi, yang memiliki tujuan berupa sebuah akhir cerita, keutuhan, penutup, dan di sisi yang lain informasi yang selalu saja, menurut arti sebenarnya, parsial, tak utuh, terfragmentasi.

Foto Penulis

By Marlina Sopiana

Susan Sontag (16 Januari 1933-28 Desember 2004) menghabiskan masa hidupnya merenungkan peran tulisan bagi kehidupan batin sang penulis sendiri dan bagi dunia para pembaca, yang kita sebut kebudayaan—dari esai-esai dan diskusinya yang kaya tentang tugas sastra hingga suratnya kepada Borges yang begitu indah, juga refleksinya selama bertahun-tahun tentang dunia menulis yang ia tulis dalam buku hariannya.[1]

Namun begitu, baru pada sebuah kuliah tentang penerima nobel dari Afrika Selatan yaitu Nadine Goldimer, ia membahas tujuan utama storytelling dan tanggungjawab sosial para penulis dengan begitu presisi—sebuah pidato maha dasyat yang diberi judul “At the Same Time: The Novelist and Moral Reasoning,” kuliah yang diberikan Sontag beberapa saat sebelum kematiannya di tahun 2004.

Pidato itu kemudian hari diikutsertakan dan dijadikan judul untuk karya antologi anumerta yang terus menerus memberikan pengaruhnya kepada dunia penulisan: At the Same Time: Essays and Speeches (perpustakaan umum), yang juga menghadirkan karya Sontag tentang keindahan vs kemenarikan, keberanian dan perlawanan, literatur dan kebebasan.

“Susan Sontag alone on a bed. N.Y.C. 1965.” Photograph by Diane Arbus

Sontag memulai dengan pertanyaan klasik yang seringkali ditanyakan dan dijawab oleh para penulis ternama—untuk menyaring nasihat paling utama mereka tentang kegiatan menulis; “Aku seringkali ditanya, apakah ada hal yang para penulis harus lakukan, dan belum lama ini dalam sebuah wawancara aku sendiri mengatakan: “Ada beberapa hal. Mencintai kata-kata, menderita karena kalimat-kalimat. Dan mencermati dunia.”

Tak ayal, sesaat setelah kata-kata gagah itu keluar dari mulutku, kata Sontag, aku memikirkan resep tambahan bagi keutamaan penulis. Sebagai contoh: “Harus serius.” Yang kumaksud dengan itu adalah: Jangan bersikap sinis. Dan yang dengannya tak menghalangi orang untuk bersikap lucu.

Pada dasarnya sinisme adalah point pemikiran lebih jauh Sontag. Apa kiranya yang akan dikatakan Sontag tentang perjuangan lebih serius melawan budaya sinisme? Penyederhanaan-penyederahaan?

Dengan sanggahan di awal bahwa “deskripsi tak berarti apa-apa tanpa contoh nyata,” Sontag menunjuk Goldimer sebagai “penulis yang masih hidup yang bisa jadi teladan bagi semua penulis” dan menganggap bahwa, “keluasan, kefasihan yang menggairahkan, dan begitu beragamnya jenis karya” penulis asal Afrika Selatan itu memperlihatkan ciri utama dari semua tulisan yang hebat:

“Seorang penulis fiksi yang hebat menciptakan keduanya-lewat imajinasi, lewat bahasa yang tak tersanggahkan, lewat bentuk-bentuk yang terasa hidup—sebuah dunia baru, sebuah dunia yang unik, bagi tiap individu; dan respon-responnya atas dunia, dunia yang didiami oleh penulisnya bersama-sama dengan orang lain tapi tak dikenali atau dikenali secara keliru oleh begitu banyak orang, tersimpan dalam semesta mereka: sebut saja sejarah, masyarakat, atau apapun yang kau inginkan.”

Dia memperingatkan, di balik peran-peran mulia kasusastraan, di balik semua cara yang memungkinkannya untuk mentransendensikan tulisan untuk mencapai tujuan spiritual yang lebih besar; terpikirkan olehnya keyakinan William Faulkner bahwa tugas seorang penulis adalah “untuk membantu manusia bertahan dengan menyemangatinya dan menghadirkan harapan.”—storytelling tetaplah tugas terbesar kasusastraan: Tugas utama penulis adalah menulis dengan baik. (Dan terus menulis dengan baik. Bukan untuk menjadi kepayahan atau untuk memiliki kekayaan). Jangan biarkan apa pun mengalahkan semangatmu sebagai pelayan literatur yang berdedikasi-sang storyteller yang tiada tandingannya. Seorang pengisah.

“Susan Sontag alone on a bed. N.Y.C. 1965.” Photograph by Diane Arbus

Menyerupai ide Walter Benjamin tentang bagaimana menggubah informasi menjadi kebijaksanaan—Sontag merupakan pengagum besar dan pembaca ulang karya-karyanya—dia menambahkan:

“Menulis berarti mengetahui sesuatu. Betapa menyenangkan membaca karya penulis yang mengetahui banyak hal. (Bukanlah pengalaman yang umum di masa ini…) sastra bagiku adalah pengetahuan—meski dalam bentuk terhebatnya pun, masih merupakan pengetahun yang tak sempurna. Layaknya semua pengetahuan. Meski begitu, saat ini pun, literatur masih merupakan salah satu moda utama pemahaman kita.”

[…]

“Setiap orang dalam budaya tak bermoral ini mengajak kita untuk menyederhanakan realitas, untuk membenci kebijaksanaan. Terdapat banyak pelajaran kebijaksanaan dalam karya-karya Nadine Gordimer. Dia mengartikulasikan sebuah pandangan yang begitu kompleks tentang batin manusia dan kontradiksi yang inheren soal hidup dalam cakrawala sastra dan dalam sejarah.”

Hampir setengah abad setelah E.B White menyatakan bahwa tugas penulis adalah “untuk meninggikan manusia, bukan menjatuhkannya,” Sontag memikirkan “gagasan tentang tanggungjawab penulis pada kasusastraan dan masyarakat” dan mengklarifikasi istilah yang digunakan:

“Untuk sastra, yang aku maksud adalah literatur dalam bentuk normatifnya, bentuk di mana literatur mewujudkan dan memperjuangkan standar-standar yang tinggi. Untuk masyarakat, yang aku maksudkan juga masyarakat dalam bentuk normatifnya—yang menunjukkan bahwa penulis fiksi yang hebat, dengan menulis sebenar-benarnya tentang masyarakat di mana dia tinggal, pada akhirnya akan selalu membangkitkan (sekiranya tidak ada) standar yang lebih baik tentang keadilan dan tentang kebenaran yang kita berhak atasnya (sebagian menyebutnya kewajiban) untuk dipertentangkan dalam kehidupan masyarakat tempat kita tinggal yang tentu saja tak sempurna.

Jelas sekali, kukira penulis novel dan kisah-kisah, naskah drama, adalah agen moral…hal ini tidak berarti “memoralisasi” dengan terang-terangan atau dengan cara yang kasar. Penulis fiksi yang serius memikirkan problem-problem moral secara praktis. Mereka menceritakan kisah-kisah. Mereka menarasikan. Mereka membangkitkan kemanusiaan dasar kita dalam narasi yang dapat kita kenali, meskipun kehidupannya mungkin jauh dari kehidupan kita. Mereka menstimulasi imajinasi kita. Kisah yang mereka ceritakan meluas dan mengeruh—dan dengannya, meningkatkan-rasa simpati kita. Mereka mengedukasi kapasitas kita atas penilaian moral.”

Dalam kesan yang mengingatkan kita pada pernyataan tegas Henry Poincare bahwa kreativitas adalah tindakan memilah gagasan-gagasan baik di antara yang buruk, Sontag mendefinisikan apa yang dilakukan penulis dan siapa itu penulis:

“Tiap penulis fiksi ingin menceritakan banyak kisah, tapi kita tahu bahwa kita tak bisa menceritakan semua kisah—tentu saja tidak mungkin secara simultan. Kita tahu bahwa kita harus memilih satu kisah, tentu satu kisah sentral, kita harus selektif. Seni menjadi penulis adalah menemukan sebanyak mungkin yang kita bisa dalam kisah itu, dalam rangkaian itu…dalam rentang waktu itu (rentetan waktu kejadian dalam kisahnya), dalam ruang itu (letak geografis konkrit dari kisah itu).

Maka, seorang novelis adalah seseorang yang membawamu ke dalam perjalanan. Melewati ruang. Melalui waktu. Seorang novelis membimbing pembaca lewat jembatan kosong, membawa sesuatu ke tempat yang bukan semestinya.”

Dalam refleksinya, Sontag mencatat bahwa “Waktu ada agar semua hal tak terjadi secara bersamaan…dan ruang ada agar tak semua kejadian menimpamu. Pekerjaan novelis adalah untuk menyemarakkan waktu, sebagaimana ia juga menghidupkan ruang.

Mengulang pernyataan tegasnya yang begitu membekas bahwa kritisisme merupakan “kolesterol budaya”, yang tertulis dalam buku hariannya beberapa dekade sebelumnya, Sontag merenungkan kejengkelan reaktif yang malah dianggap sebagai kritisisme: Kebanyakan gagasan tentang literatur bentuknya reaktif—di tangan orang yang kurang bertalenta, menjadi semata-mata reaktif:

[…]

“Penghinaan terbesarnya kini, baik dalam hal kesenian dan kebudayaan secara umum, belum lagi soal kehidupan politik, kelihatan memegang standar yang lebih tinggi, lebih mendesak, yang mendapat serangan baik dari kelompok kiri maupun kelompok kanan, entah sebagai hal yang naif atau (sebuah julukan baru bagi para musuh besarnya) ‘elitis’”

Persinggungan Hypertext

Menulis hampir satu dekade sebelum masa kejayaan ebook dan beberapa tahun sebelum mewabahnya teknik crowdsourced-semuanya menjangkiti hampir semua sisi budaya kreatif, Sontag sekali lagi memperlihatkan ramalan luar biasanya tentang persinggungan teknologi, masyarakat, dan seni. (Beberapa dekade sebelumnya, dia telah menandai “konsumerisme estetis” budaya visual di web sosial.) Memberi pandangan kritis terhadap internet dan keuntungan yang dijanjikannya—ketimbang ancaman yang dibawa—oleh crowdsourced storytelling, dia menulis:

“Hypertext—atau haruskah kusebut ideologi atas hypertext?—merupakan hal yang ultra-demokratis dan sangatlah selaras dengan tuntutan-tuntutan demagogis demokrasi budaya yang mendampingi (dan mengalihkan perhatian kita dari) genggaman kapitalisme plutokratis yang kian menguat. [Akan tetapi] kemungkinan bahwa novel di masa depan tak akan memiliki kisahnya sendiri atau, sebaliknya, pemanfaatan kisah milik seorang pembaca (ketimbang para pembaca) sangatlah tidak menarik dan, jika hal itu terjadi, tak dapat dipungkirri akan menghadirkan bukan lagi hal yang sering diperbincangkan itu, yaitu kematian sang pengarang, melainkan punahnya pembaca-semua calon pembaca di masa mendatang bagi apapun yang dilabeli “literatur.”

Kembali ke tugas penting penulis dalam memilih kisah apa yang akan diceritakan dari semua kisah yang bisa diceritakan, Sontag merujuk pada daya tarik literatur yang sangat esensial—kenyamanan yang hadir dengan meredakan kecemasan kita atas kemungkinan-kemungkinan hidup yang tak terhingga, tentang semua jalan yang tidak kita ambil dan semua kemungkinan luas yang tak terbayangkan yang bisa membawa kita ke tempat yang lebih baik dari yang kita diami saat ini.

Sebaliknya, sebuah kisah menawarkan keterbatasan yang menentramkan atas waktu dan kemungkinan: Tiap plot cerita fiksi memiliki petunjuk dan jejak dari kisah yang diabaikan atau dihindari untuk menciptakan bentuknya yang sekarang. Jalan alternatif bagi plotnya harus dapat dirasakan hingga akhir ceita. Alternatif-alternatif ini mengandung potensi kekacauan (dan oleh karenanya menghadirkan suspence) dalam pengungkapan kisahnya. Sontag menulis:

[…]

Akhir cerita dalam novel memberikan semacam kebebasan yang terus menerus diingkari oleh hidup: untuk sampai pada titik akhir yang bukan berupa kematian dan memahami benar-benar posisi kita dalam relasi dengan kejadian-kejadian menuju sebuah kesimpulan.

[…]

Kenikmatan sebenar-benarnya yang ditawarkan fiksi adalah pergerakannnya menuju sebuah akhir. Dan sebuah akhir yang memuaskan adalah satu penutup yang mengesampingkan hal-hal lain. Apapun yang tak berhubungan dengan pola akhir cerita yang diasumsikan sang penulis dapat diabaikan.

Novel adalah sebuah dunia dengan batas-batas. Untuk terciptanya suatu keutuhan, kesatuan, koherensi, dibutuhkan batasan-batasan. Semua hal menjadi relevan di perjalanan kita dalam batasan-batasan itu. Kita dapat menyatakan kisahnya berakhir dengan sebuah penyatuan ajaib atas pandangan-pandangan yang sebelumnya tidak kokoh: sebuah posisi yang tetap di mana pembaca dapat melihat bagaimana hal-hal yang pada awalnya terpencar akhirnya menyatu.

Sekali lagi, mengikuti cara pemilahan Walter Benjamin yang bijaksana antara storytelling dan informasi, Sontag beranggapan kedua model yang berlainan itu “berkompetisi untuk mendapatkan loyalitas dan perhatian kita”:

Ada hal yang esensial … perbedaan antara kisah-kisah di satu sisi, yang memiliki tujuan berupa sebuah akhir cerita, keutuhan, penutup, dan di sisi yang lain informasi yang selalu saja, menurut arti sebenarnya, parsial, tak utuh, terfragmentasi.

Bagi Sontag, dua moda bangunan dunia itu sebaik-baiknya digambarkan melalui dikotomi antara literatur dan media masa komersil. Menulis di tahun 2004, dia melihat televisi sebagai bentuk dominan dari yang disebutkan terakhir, akan tetapi sangat mengejutkan bahwa betapa tepat pengamatannya pada masa kini, jika kita mensubstitusinya dengan “internet” untuk setiap kali kata “televisi” muncul.

Kita hanya bisa berandai-andai tentang apa yang Sontag pikirkan soal newsfeed-fetishism kita dan kecenderungan kompulsif kita untuk berpikir keliru bahwa yang paling baru dan genting merupakan hal yang paling penting. Dia menulis:

Literatur menceritakan kisah. Televisi memberikan informasi. Literatur terlibat aktif. Hal ini merupakan penciptaan ulang solidaritas manusia. Televisi (dengan ilusi kesegeraannya) menjarakkan-membenamkan diri kita dalam ketakacuhan kita sendiri. [..] Kisah-kisah yang diceritakan dalam televisi memuaskan dahaga kita atas anekdot dan menwarkan pada kita model-model pemahaman yang saling meniadakan. (Hal ini diperkuat dengan praktik penyocokan narasi-narasi televisi dengan iklan). Hal itu secara implisit mengafirmasi gagasan bahwa semua informasi mempunyai potensi untuk menjadi relevan (atau “menarik”), bahwa semua kisah tak berujung-atau jika kisah itu berhenti, bukan karena kisah itu telah mencapai akhirnya, melainkan karena kisah itu telah ditenggelamkan oleh kisah yang lebih baru atau lebih mengerikan atau lebih eksentrik. [..] Dengan menyajikan kita begitu banyak kisah-kisah tak berujung, narasi-narasi yang dihubungkan oleh media-pola konsumsi yang secara dramatis mengikis waktu yang dulu digunakan masyarakat berpendidikan untuk membaca-menawarkan sebuah pelajaran tentang amoralitas dan ketakterhubungan yang menjadi antithesis bagi apa yang ditawarkan oleh novel.

Tentu saja, gagasan tentang kewajiban moral inilah yang Sontag anggap sebagai pembeda yang krusial antara storytelling, kisahan, dengan informasi—sesuatu yang juga menjadi pergumulan kita semua satu dekade ini, saat merenungkan tantangan dalam menumbuhkembangkan kebijkasanaan di era informasi ini, khususnya dalam lingkup media yang didorong oleh kepentingan komersil yang mendasarkan model bisnisnya pada upaya mengkondisikan kita untuk mempertukarkan informasi dengan makna.

Apa gunanya berpikir tentang hal yang menjadikan sesuatu sebagai karya seni hebat—bagaimana karya itu menyentuh hatimu, apa yang disampaikannya pada jiwamu—jika kau bisa membaca sekilas saja tentang dua puluh lukisan paling mahal sepanjang sejarah di halaman web seperti Buzzfeed?

Sontag yang telah keras menentang pengecilan kebudayaan menjadi “content” setengah abad sebelum istilah itu menjadi mata uang media komersil, menuliskan: “Dalam kegiatan kasusastraan sebagaimana yang dilakukan oleh novelis, selalu terdapat…sebuah komponen etis. Komponen etis ini bukanlah kebenaran, berkebalikan dengan kronik kepalsuan. Komponen ini merupakan suatu model keutuhan, tentang intestitas yang teraba, tentang pencerahan yang diciptakan oleh satu kisah, dan resolusinya—yang mana merupakan kebalikan dari model kebodohan, ketidakpahaman, kecemasan yang pasif, dan akibatnya penumpulan rasa, yang ditawarkan oleh kelimpahan kisah-kisah tak berujung yang disebarluaskan oleh media.

Televisi (dan katakanlah internet, ed) memberikan kita dalam bentuknya yang paling merendahkan dan palsu, sebuah kebenaran yang mana para novelis mesti pendam demi kepentingan model pemahaman etis yang menjadi ciri penulisan fiksi; yaitu bahwa fitur yang khas tentang semesta kita di mana banyak hal terjadi dalam waktu yang bersamaan.

Dan di sanalah pemikiran paling besar Sontag, tak lekang waktu, paling mendesak—bagi penulis dan kita semua: “Menceritakan sebuah kisah berarti menyampaikan bahwa: inilah kisah yang penting. Gunanya untuk mengurangi penyebaran dan simultanitas segala hal ke dalam sesuatu yang linear, sebuah jalan. Menjadi manusia bermoral berarti memerhatikan, wajib memberikan perhatian, perhatian dengan jenisnya yang tertentu. Ketika kita membuat sebuah penilaian moral, kita tidak hanya menyatakan bahwa hal satu ini lebih baik dari yang lainnya. Bahkan secara lebih fundamental, kita menyatakan bahwa hal yang satu ini lebih penting dari yang lainnya. Ini berguna untuk menata penyebaran dan simultanitas berbagai hal itu, dengan mengabaikan atau menutup diri kita dari banyak hal yang terjadi di dunia.”

Penilaian moral sangatlah bergantung pada kemampuan kita dalam memberikan perhatian—kemampuan yang, tak bisa dipungkiri, memiliki keterbatasan akan tetapi batasan itu bisa dilonggarkan.

Namun, mungkin saja permulaan munculnya kebijaksanaan, dan kerendahan hati, adalah dengan mengakui dan menundukkan kepala kita di hadapan pemikiran, pemikiran yang begitu mengena, tentang simultanitas segala hal, dan keterbatasan kapasitas pemahaman moral kita—yang mana juga merupakan kemampuan pemahaman para sastrawan zaman ini—untuk memahami ini. (*)



[1] From Susan Sontag on Storytelling, What It Means to Be a Moral Human Being, and Her Advice to Writers By Maria Popova.

 


Marlina Sopiana

MARLINA SOPIANA

Velit molestiae consequatur quisquam fuga quod voluptatem. Est sint illum est omnis reprehenderit. Tempora iusto numquam est. Ut voluptatum et soluta. Quae officiis suscipit eius iure beatae sequi eos.