Buku
Antusiasme dan Tanda Resmi Perpuisian
27 June 2026
Perbedaan antara kisah-kisah di satu sisi, yang memiliki tujuan berupa sebuah akhir cerita, keutuhan, penutup, dan di sisi yang lain informasi yang selalu saja, menurut arti sebenarnya, parsial, tak utuh, terfragmentasi.
Susan Sontag (16
Januari 1933-28 Desember 2004) menghabiskan masa hidupnya merenungkan peran
tulisan bagi kehidupan batin sang penulis sendiri dan bagi dunia para pembaca,
yang kita sebut kebudayaan—dari esai-esai dan diskusinya yang kaya tentang
tugas sastra hingga suratnya kepada Borges yang begitu indah, juga refleksinya
selama bertahun-tahun tentang dunia menulis yang ia tulis dalam buku hariannya.[1]
Namun begitu, baru
pada sebuah kuliah tentang penerima nobel dari Afrika Selatan yaitu Nadine
Goldimer, ia membahas tujuan utama storytelling dan tanggungjawab sosial para
penulis dengan begitu presisi—sebuah pidato maha dasyat yang diberi judul “At
the Same Time: The Novelist and Moral Reasoning,” kuliah yang diberikan Sontag
beberapa saat sebelum kematiannya di tahun 2004.
Pidato itu kemudian
hari diikutsertakan dan dijadikan judul untuk karya antologi anumerta yang
terus menerus memberikan pengaruhnya kepada dunia penulisan: At the Same
Time: Essays and Speeches (perpustakaan umum), yang juga menghadirkan karya
Sontag tentang keindahan vs kemenarikan, keberanian dan perlawanan, literatur
dan kebebasan.
Sontag memulai
dengan pertanyaan klasik yang seringkali ditanyakan dan dijawab oleh para
penulis ternama—untuk menyaring nasihat paling utama mereka tentang kegiatan
menulis; “Aku seringkali ditanya, apakah ada hal yang para penulis harus
lakukan, dan belum lama ini dalam sebuah wawancara aku sendiri mengatakan: “Ada
beberapa hal. Mencintai kata-kata, menderita karena kalimat-kalimat. Dan
mencermati dunia.”
Tak ayal, sesaat
setelah kata-kata gagah itu keluar dari mulutku, kata Sontag, aku memikirkan
resep tambahan bagi keutamaan penulis. Sebagai contoh: “Harus serius.” Yang
kumaksud dengan itu adalah: Jangan bersikap sinis. Dan yang dengannya tak
menghalangi orang untuk bersikap lucu.
Pada dasarnya
sinisme adalah point pemikiran lebih jauh Sontag. Apa kiranya yang akan
dikatakan Sontag tentang perjuangan lebih serius melawan budaya sinisme?
Penyederhanaan-penyederahaan?
Dengan sanggahan
di awal bahwa “deskripsi tak berarti apa-apa tanpa contoh nyata,” Sontag
menunjuk Goldimer sebagai “penulis yang masih hidup yang bisa jadi teladan bagi
semua penulis” dan menganggap bahwa, “keluasan, kefasihan yang menggairahkan,
dan begitu beragamnya jenis karya” penulis asal Afrika Selatan itu
memperlihatkan ciri utama dari semua tulisan yang hebat:
“Seorang penulis
fiksi yang hebat menciptakan keduanya-lewat imajinasi, lewat bahasa yang tak
tersanggahkan, lewat bentuk-bentuk yang terasa hidup—sebuah dunia baru, sebuah
dunia yang unik, bagi tiap individu; dan respon-responnya atas dunia, dunia
yang didiami oleh penulisnya bersama-sama dengan orang lain tapi tak dikenali
atau dikenali secara keliru oleh begitu banyak orang, tersimpan dalam semesta mereka:
sebut saja sejarah, masyarakat, atau apapun yang kau inginkan.”
Dia
memperingatkan, di balik peran-peran mulia kasusastraan, di balik semua cara
yang memungkinkannya untuk mentransendensikan tulisan untuk mencapai tujuan
spiritual yang lebih besar; terpikirkan olehnya keyakinan William Faulkner
bahwa tugas seorang penulis adalah “untuk membantu manusia bertahan dengan menyemangatinya
dan menghadirkan harapan.”—storytelling tetaplah tugas terbesar kasusastraan:
Tugas utama penulis adalah menulis dengan baik. (Dan terus menulis dengan baik.
Bukan untuk menjadi kepayahan atau untuk memiliki kekayaan). Jangan biarkan apa
pun mengalahkan semangatmu sebagai pelayan literatur yang berdedikasi-sang
storyteller yang tiada tandingannya. Seorang pengisah.
Menyerupai ide
Walter Benjamin tentang bagaimana menggubah informasi menjadi kebijaksanaan—Sontag
merupakan pengagum besar dan pembaca ulang karya-karyanya—dia menambahkan:
“Menulis berarti
mengetahui sesuatu. Betapa menyenangkan membaca karya penulis yang mengetahui
banyak hal. (Bukanlah pengalaman yang umum di masa ini…) sastra bagiku adalah
pengetahuan—meski dalam bentuk terhebatnya pun, masih merupakan pengetahun yang
tak sempurna. Layaknya semua pengetahuan. Meski begitu, saat ini pun, literatur
masih merupakan salah satu moda utama pemahaman kita.”
[…]
“Setiap orang
dalam budaya tak bermoral ini mengajak kita untuk menyederhanakan realitas,
untuk membenci kebijaksanaan. Terdapat banyak pelajaran kebijaksanaan dalam
karya-karya Nadine Gordimer. Dia mengartikulasikan sebuah pandangan yang begitu
kompleks tentang batin manusia dan kontradiksi yang inheren soal hidup
dalam cakrawala sastra dan dalam sejarah.”
Hampir setengah
abad setelah E.B White menyatakan bahwa tugas penulis adalah “untuk meninggikan
manusia, bukan menjatuhkannya,” Sontag memikirkan “gagasan tentang
tanggungjawab penulis pada kasusastraan dan masyarakat” dan mengklarifikasi
istilah yang digunakan:
“Untuk sastra,
yang aku maksud adalah literatur dalam bentuk normatifnya, bentuk di mana
literatur mewujudkan dan memperjuangkan standar-standar yang tinggi. Untuk
masyarakat, yang aku maksudkan juga masyarakat dalam bentuk normatifnya—yang
menunjukkan bahwa penulis fiksi yang hebat, dengan menulis sebenar-benarnya
tentang masyarakat di mana dia tinggal, pada akhirnya akan selalu membangkitkan
(sekiranya tidak ada) standar yang lebih baik tentang keadilan dan tentang
kebenaran yang kita berhak atasnya (sebagian menyebutnya kewajiban) untuk
dipertentangkan dalam kehidupan masyarakat tempat kita tinggal yang tentu saja
tak sempurna.
Jelas sekali,
kukira penulis novel dan kisah-kisah, naskah drama, adalah agen moral…hal ini
tidak berarti “memoralisasi” dengan terang-terangan atau dengan cara yang
kasar. Penulis fiksi yang serius memikirkan problem-problem moral secara
praktis. Mereka menceritakan kisah-kisah. Mereka menarasikan. Mereka
membangkitkan kemanusiaan dasar kita dalam narasi yang dapat kita kenali,
meskipun kehidupannya mungkin jauh dari kehidupan kita. Mereka menstimulasi imajinasi
kita. Kisah yang mereka ceritakan meluas dan mengeruh—dan dengannya,
meningkatkan-rasa simpati kita. Mereka mengedukasi kapasitas kita atas
penilaian moral.”
Dalam kesan yang
mengingatkan kita pada pernyataan tegas Henry Poincare bahwa kreativitas adalah
tindakan memilah gagasan-gagasan baik di antara yang buruk, Sontag
mendefinisikan apa yang dilakukan penulis dan siapa itu penulis:
“Tiap penulis
fiksi ingin menceritakan banyak kisah, tapi kita tahu bahwa kita tak bisa
menceritakan semua kisah—tentu saja tidak mungkin secara simultan. Kita tahu
bahwa kita harus memilih satu kisah, tentu satu kisah sentral, kita harus
selektif. Seni menjadi penulis adalah menemukan sebanyak mungkin yang kita bisa
dalam kisah itu, dalam rangkaian itu…dalam rentang waktu itu (rentetan waktu
kejadian dalam kisahnya), dalam ruang itu (letak geografis konkrit dari kisah
itu).
Maka, seorang
novelis adalah seseorang yang membawamu ke dalam perjalanan. Melewati ruang.
Melalui waktu. Seorang novelis membimbing pembaca lewat jembatan kosong,
membawa sesuatu ke tempat yang bukan semestinya.”
Dalam
refleksinya, Sontag mencatat bahwa “Waktu ada agar semua hal tak terjadi secara
bersamaan…dan ruang ada agar tak semua kejadian menimpamu. Pekerjaan novelis
adalah untuk menyemarakkan waktu, sebagaimana ia juga menghidupkan ruang.
Mengulang
pernyataan tegasnya yang begitu membekas bahwa kritisisme merupakan “kolesterol
budaya”, yang tertulis dalam buku hariannya beberapa dekade sebelumnya, Sontag
merenungkan kejengkelan reaktif yang malah dianggap sebagai kritisisme:
Kebanyakan gagasan tentang literatur bentuknya reaktif—di tangan orang yang
kurang bertalenta, menjadi semata-mata reaktif:
[…]
“Penghinaan
terbesarnya kini, baik dalam hal kesenian dan kebudayaan secara umum, belum
lagi soal kehidupan politik, kelihatan memegang standar yang lebih tinggi,
lebih mendesak, yang mendapat serangan baik dari kelompok kiri maupun kelompok
kanan, entah sebagai hal yang naif atau (sebuah julukan baru bagi para musuh
besarnya) ‘elitis’”
Persinggungan
Hypertext
Menulis hampir
satu dekade sebelum masa kejayaan ebook dan beberapa tahun sebelum
mewabahnya teknik crowdsourced-semuanya menjangkiti hampir semua sisi budaya
kreatif, Sontag sekali lagi memperlihatkan ramalan luar biasanya tentang
persinggungan teknologi, masyarakat, dan seni. (Beberapa dekade sebelumnya, dia
telah menandai “konsumerisme estetis” budaya visual di web sosial.) Memberi
pandangan kritis terhadap internet dan keuntungan yang dijanjikannya—ketimbang
ancaman yang dibawa—oleh crowdsourced storytelling, dia menulis:
“Hypertext—atau
haruskah kusebut ideologi atas hypertext?—merupakan hal yang ultra-demokratis
dan sangatlah selaras dengan tuntutan-tuntutan demagogis demokrasi budaya yang
mendampingi (dan mengalihkan perhatian kita dari) genggaman kapitalisme
plutokratis yang kian menguat. [Akan tetapi] kemungkinan bahwa novel di masa
depan tak akan memiliki kisahnya sendiri atau, sebaliknya, pemanfaatan kisah
milik seorang pembaca (ketimbang para pembaca) sangatlah tidak menarik dan,
jika hal itu terjadi, tak dapat dipungkirri akan menghadirkan bukan lagi hal
yang sering diperbincangkan itu, yaitu kematian sang pengarang, melainkan
punahnya pembaca-semua calon pembaca di masa mendatang bagi apapun yang
dilabeli “literatur.”
Kembali ke tugas
penting penulis dalam memilih kisah apa yang akan diceritakan dari semua kisah
yang bisa diceritakan, Sontag merujuk pada daya tarik literatur yang sangat
esensial—kenyamanan yang hadir dengan meredakan kecemasan kita atas kemungkinan-kemungkinan
hidup yang tak terhingga, tentang semua jalan yang tidak kita ambil dan semua
kemungkinan luas yang tak terbayangkan yang bisa membawa kita ke tempat yang
lebih baik dari yang kita diami saat ini.
Sebaliknya,
sebuah kisah menawarkan keterbatasan yang menentramkan atas waktu dan
kemungkinan: Tiap plot cerita fiksi memiliki petunjuk dan jejak dari kisah yang
diabaikan atau dihindari untuk menciptakan bentuknya yang sekarang. Jalan
alternatif bagi plotnya harus dapat dirasakan hingga akhir ceita.
Alternatif-alternatif ini mengandung potensi kekacauan (dan oleh karenanya
menghadirkan suspence) dalam pengungkapan kisahnya. Sontag menulis:
[…]
Akhir cerita
dalam novel memberikan semacam kebebasan yang terus menerus diingkari oleh
hidup: untuk sampai pada titik akhir yang bukan berupa kematian dan memahami
benar-benar posisi kita dalam relasi dengan kejadian-kejadian menuju sebuah
kesimpulan.
[…]
Kenikmatan
sebenar-benarnya yang ditawarkan fiksi adalah pergerakannnya menuju sebuah
akhir. Dan sebuah akhir yang memuaskan adalah satu penutup yang mengesampingkan
hal-hal lain. Apapun yang tak berhubungan dengan pola akhir cerita yang
diasumsikan sang penulis dapat diabaikan.
Novel adalah
sebuah dunia dengan batas-batas. Untuk terciptanya suatu keutuhan, kesatuan,
koherensi, dibutuhkan batasan-batasan. Semua hal menjadi relevan di perjalanan
kita dalam batasan-batasan itu. Kita dapat menyatakan kisahnya berakhir dengan
sebuah penyatuan ajaib atas pandangan-pandangan yang sebelumnya tidak kokoh:
sebuah posisi yang tetap di mana pembaca dapat melihat bagaimana hal-hal yang
pada awalnya terpencar akhirnya menyatu.
Sekali lagi,
mengikuti cara pemilahan Walter Benjamin yang bijaksana antara storytelling dan
informasi, Sontag beranggapan kedua model yang berlainan itu “berkompetisi
untuk mendapatkan loyalitas dan perhatian kita”:
Ada hal yang
esensial … perbedaan antara kisah-kisah di satu sisi, yang memiliki
tujuan berupa sebuah akhir cerita, keutuhan, penutup, dan di sisi yang lain informasi
yang selalu saja, menurut arti sebenarnya, parsial, tak utuh, terfragmentasi.
Bagi Sontag, dua
moda bangunan dunia itu sebaik-baiknya digambarkan melalui dikotomi antara
literatur dan media masa komersil. Menulis di tahun 2004, dia melihat televisi
sebagai bentuk dominan dari yang disebutkan terakhir, akan tetapi sangat
mengejutkan bahwa betapa tepat pengamatannya pada masa kini, jika kita
mensubstitusinya dengan “internet” untuk setiap kali kata “televisi” muncul.
Kita hanya bisa
berandai-andai tentang apa yang Sontag pikirkan soal newsfeed-fetishism kita
dan kecenderungan kompulsif kita untuk berpikir keliru bahwa yang paling baru
dan genting merupakan hal yang paling penting. Dia menulis:
Literatur
menceritakan kisah. Televisi memberikan informasi. Literatur terlibat aktif.
Hal ini merupakan penciptaan ulang solidaritas manusia. Televisi (dengan ilusi
kesegeraannya) menjarakkan-membenamkan diri kita dalam ketakacuhan kita
sendiri. [..] Kisah-kisah yang diceritakan dalam televisi memuaskan dahaga kita
atas anekdot dan menwarkan pada kita model-model pemahaman yang saling
meniadakan. (Hal ini diperkuat dengan praktik penyocokan narasi-narasi televisi
dengan iklan). Hal itu secara implisit mengafirmasi gagasan bahwa semua
informasi mempunyai potensi untuk menjadi relevan (atau “menarik”), bahwa semua
kisah tak berujung-atau jika kisah itu berhenti, bukan karena kisah itu telah
mencapai akhirnya, melainkan karena kisah itu telah ditenggelamkan oleh kisah
yang lebih baru atau lebih mengerikan atau lebih eksentrik. [..] Dengan
menyajikan kita begitu banyak kisah-kisah tak berujung, narasi-narasi yang
dihubungkan oleh media-pola konsumsi yang secara dramatis mengikis waktu yang
dulu digunakan masyarakat berpendidikan untuk membaca-menawarkan sebuah
pelajaran tentang amoralitas dan ketakterhubungan yang menjadi antithesis bagi
apa yang ditawarkan oleh novel.
Tentu saja,
gagasan tentang kewajiban moral inilah yang Sontag anggap sebagai pembeda yang
krusial antara storytelling, kisahan, dengan informasi—sesuatu yang juga
menjadi pergumulan kita semua satu dekade ini, saat merenungkan tantangan dalam
menumbuhkembangkan kebijkasanaan di era informasi ini, khususnya dalam lingkup
media yang didorong oleh kepentingan komersil yang mendasarkan model bisnisnya
pada upaya mengkondisikan kita untuk mempertukarkan informasi dengan makna.
Apa gunanya
berpikir tentang hal yang menjadikan sesuatu sebagai karya seni hebat—bagaimana
karya itu menyentuh hatimu, apa yang disampaikannya pada jiwamu—jika kau bisa
membaca sekilas saja tentang dua puluh lukisan paling mahal sepanjang sejarah
di halaman web seperti Buzzfeed?
Sontag yang
telah keras menentang pengecilan kebudayaan menjadi “content” setengah abad
sebelum istilah itu menjadi mata uang media komersil, menuliskan: “Dalam
kegiatan kasusastraan sebagaimana yang dilakukan oleh novelis, selalu
terdapat…sebuah komponen etis. Komponen etis ini bukanlah kebenaran,
berkebalikan dengan kronik kepalsuan. Komponen ini merupakan suatu model
keutuhan, tentang intestitas yang teraba, tentang pencerahan yang diciptakan
oleh satu kisah, dan resolusinya—yang mana merupakan kebalikan dari model
kebodohan, ketidakpahaman, kecemasan yang pasif, dan akibatnya penumpulan rasa,
yang ditawarkan oleh kelimpahan kisah-kisah tak berujung yang disebarluaskan
oleh media.”
Televisi (dan katakanlah internet, ed) memberikan kita dalam
bentuknya yang paling merendahkan dan palsu, sebuah kebenaran yang mana para
novelis mesti pendam demi kepentingan model pemahaman etis yang menjadi ciri
penulisan fiksi; yaitu bahwa fitur yang khas tentang semesta kita di mana banyak
hal terjadi dalam waktu yang bersamaan.
Dan di sanalah pemikiran paling besar Sontag, tak
lekang waktu, paling mendesak—bagi penulis dan kita semua: “Menceritakan sebuah
kisah berarti menyampaikan bahwa: inilah kisah yang penting. Gunanya untuk
mengurangi penyebaran dan simultanitas segala hal ke dalam sesuatu yang linear,
sebuah jalan. Menjadi manusia bermoral berarti memerhatikan, wajib memberikan
perhatian, perhatian dengan jenisnya yang tertentu. Ketika kita membuat sebuah
penilaian moral, kita tidak hanya menyatakan bahwa hal satu ini lebih baik dari
yang lainnya. Bahkan secara lebih fundamental, kita menyatakan bahwa hal yang
satu ini lebih penting dari yang lainnya. Ini berguna untuk menata penyebaran
dan simultanitas berbagai hal itu, dengan mengabaikan atau menutup diri kita
dari banyak hal yang terjadi di dunia.”
Penilaian moral sangatlah bergantung pada kemampuan
kita dalam memberikan perhatian—kemampuan yang, tak bisa dipungkiri, memiliki
keterbatasan akan tetapi batasan itu bisa dilonggarkan.
Namun, mungkin saja permulaan munculnya
kebijaksanaan, dan kerendahan hati, adalah dengan mengakui dan menundukkan
kepala kita di hadapan pemikiran, pemikiran yang begitu mengena, tentang
simultanitas segala hal, dan keterbatasan kapasitas pemahaman moral kita—yang
mana juga merupakan kemampuan pemahaman para sastrawan zaman ini—untuk memahami
ini. (*)
[1] From Susan Sontag on Storytelling,
What It Means to Be a Moral Human Being, and Her Advice to Writers By Maria
Popova.
27 June 2026
16 February 2026
09 June 2026
02 March 2026
27 June 2026