Saya
belajar sejak usia dua atau tiga tahun di kamar mana saja di rumah kami, di
waktu kapan saja setiap hari, dan di rumah kami saya membaca atau ada sesuatu
yang dibacakan kepada saya.
Ibu
saya membacakan buku kepada saya. Beliau membaca di dalam kamar tidur yang
besar pada pagi hari, ketika kami bersama-sama berada di atas kursi goyangnya,
yang menderitkan irama saat kami mengayun, seolah kami memiliki seekor
jangkrik. Ibu saya juga membacakan buku kepada saya di ruang makan pada senja
musim dingin di depan perapian, yang apinya berbahan batu bara, dengan jam
kukuk, yang mengakhiri cerita lewat kata
“cuckoo,” dan juga pada malam hari ketika saya telah ada di atas tempat tidur
saya sendiri.
Saya
ingat bagaimana merepotkannya saya. Kadang ibu membacakan buku kepada saya di
dapur saat beliau duduk seraya mengaduk adonan dan bunyi pengadonan tersebut
tersendat-sendat bersamaan dengan pembacaan cerita apa pun. Hasrat saya adalah
membuat beliau membacakan cerita kepada saya ketika membuat adonan; sekali ibu
pernah mengabulkan keinginan saya, tetapi beliau membacakan cerita saya sebelum
saya membawakannya mentega. Ibu adalah seorang pembaca yang ekspresif. Ketika
membacakan cerita “Puss in Boots,” misalnya, sangatlah tidak mungkin untuk
tidak mengetahui bahwa beliau tidak percaya pada semua kucing.
Sesuatu
yang menakjubkan dan mengecewakan bagi saya datang ketika mengetahui bahwa buku
cerita ditulis oleh manusia, bahwa
buku-buku itu bukanlah keajaiban alam, yang datang sendiri seperti
batang-batang rumput. Akan tetapi tanpa menghiraukan dari mana buku-buku itu
berasal, saya tidak dapat mengingat waktunya kapan, dimana saya tidak jatuh
hati dengannya—dengan buku-buku itu sendiri, sampul dan jilidannya;
kertas-kertas yang jadi cetakannya, dengan bau dan beratnya dan dengan
keposesifannya di dalam genggaman tangan saya, buku-buku tersebut ditawan dan
dibawa ke dalam diri saya. Semasih buta aksara, saya telah menyiapkan diri bagi
buku-buku itu dan berkomitmen terhadap seluruh pembacaan, yang bisa saya
berikan terhadap buku-buku tersebut.
Kedua
orang tua saya pada dasarnya tak mampu membelikan saya banyak buku. Membeli
banyak buku-buku untuk saya merupakan suatu tekanan terhadap pendapatan ayah
yang hanya seorang pegawai paling muda di perusahaan asuransi yang masih belia,
tetapi ayah saya selama itu dengan kehati-hatian menyeleksi dan memesan
buku-buku, yang beliau dan ibu pikir, kami anak-anaknya akan berkembang. Kedua
orangtua saya membelikan kami buku-buku pertama bagi keperluan masa depan.
Selain
lemari buku di kamar tamu, yang selalu disebut sebagai “perpustakaan,” ada juga
di sana meja untuk ensiklopedia dan kamus tersimpan di bawah jendela di dalam
kamar makan. Di dalam kamar makan ini kami dibantu untuk belajar berdebat di
seputaran meja makan, yang di atasnya tergeletak the Unabridged Webster, the
Columbia Encyclopedia, Compton’s
Pictured Encyclopedia, the Lincoln
Library of Information, dan kemudian the
Book of Knowledge. Dan pada tahun ketika kami pindah ke rumah baru, kami
mempunyai ruangan untuk merayakan kejadian tersebut dengan memiliki edisi the Britannica teranyar tahun 1925, yang
ayah saya, wajah ayah selalu dengan sengaja menoleh ke masa mendatang, secara
pasti cenderung berpikir bahwa edisi tersebut merupakan edisi yang lebih baik
dibanding dengan edisi-edisi sebelumnya.
Di
“perpustakaan,” di dalam lemari buku bergaya mission[1],
dengan tiga pintu kaca bergaris-corak berlian, dengan kursi Morris ayah dan
lampu kaca yang teduh di atas meja, yang ada di samping lemari, terdapat
buku-buku, yang dapat segera saya mulai baca—dan saya telah membacanya, membaca
semua buku dengan cara serupa ketika buku-buku itu datang, lurus ke bawah
deretan buku, dari papan rak bagian atas ke bawah. Di situlah juga tersimpan
satu set buku Stoddard’s Lectures,
dalam semua kosa kata abad 19 terakhir dengan sketsa kehidupan para petani,
kepercayaan kuno, kebiasaan-kebiasaan dengan penyesuaian ilustrasi halftone[2]:
erupsi gunung Vesuvius, Venesia yang disirami sinar bulan, orang-orang gipsi
yang sepintas lalu terlihat lewat cahaya api unggun. Saya tidak tahu kala itu
petunjuk apa yang membuat buku-buku tersebut menjadi kemauan kuat ayah untuk
melihat seluruh dunia. Saya membaca langsung melalui jatuh hatinya beliau dari
jauh: the Victoria Book of the Opera,
dengan setiap sinopsis opera demi opera, dengan potret-potret kostum Melba,
Caruso, Galli-Curci dan Geraldine Farrar, yang beberapa suaranya bisa kita
dengar melalui Red Seal Records.
Ibu
membaca informasi secara sekunder; beliau tenggelam di dalam novel-novel
seperti seorang hedonis. Beliau membaca Dickens dengan spirit, seolah ingin
kawin lari dengan sang sastrawan. Novel-novel masa mudanya masih bersemayam di
dalam imajinasinya, selain Dickens, Scott dan Robert Louis Stevenson, ada juga Jane Eyre, Trilby, the Woman in White,
Green Mansion, dan King’s Solomon Mines. Nama Marie
Correlli telah dikeluarkan tetapi saya mengerti mengapa namanya menjauh dari
kegemaran ibu saya, yang hanya tetap memendam Ardath sebagai bentuk keloyalan. Pada saatnya ibu pun menyerap
dirinya di dalam karya-karya Galsworthy, Edith Wharton, paling utama adalah Joseph-nya Thomas Mann.
St. Elmo
tidak ada di rumah kami; saya kerap melihatnya di rumah orang lain. Novel
populer-liar Southern ini, di
dalamnya diceritakan mengenai nama Edna Earl dan nama tersebut merupakan asal
dari perkembangannya di dalam seluruh populasi kami. Nama-nama tersebut
merupakan nama seorang tokoh perempuan, yang berhasil membuat seorang laki-laki
tidak bermoral, yang mesum, berdosa dan seorang atheis-kekasih, St. Elmo, untuk
bersimpuh. Ibu saya mampu melupakan novel ini. Tetapi beliau ingat saran klasik
yang diberikan kepada para tukang tanam pohon mawar tentang bagaimana caranya
menyirami tanaman mereka tersebut dengan lumayan lama: “Take a chair and St.
Elmo!”
Kepada
kedua orangtua saya, saya berhutang dengan perkenalan dini saya dengan Mark
Twain. Kami memiliki satu set penuh karya Mark Twain dan satu set karya Ring
Lardner di dalam lemari buku dan karya-karya itulah yang kala itu menyatukan
kami semua: orangtua dan anak-anaknya.
Membaca
apa pun yang ada di depan saya terjadi ketika saya menemukan buku tua kumal
tanpa bagian belakang, yang merupakan milik ayah saya semasa beliau masih
kanak-kanak. Buku itu bertajuk Sanford
and Merton. Apakah masih ada orang yang mengenalinya, saya jadi ingin tahu?
Buku tersebut merupakan hikayat mengenai moral yang tersohor, yang ditulis
Thomas Day pada tahun 1780-an, tetapi namanya tidak disebutkan pada halaman
judul buku tersebut; hanya kemudian ada buku Sanford and Merton in Words of One Syllable, yang ditulis Mary
Godolphin. Hikayat tersebut mengisahkan seorang bocah laki kaya raya dan
seorang lagi miskin serta tuan Barlow, guru kedua bocah tersebut dan seorang
kawan bicara, yang di dalam wacana panjangnya memiliki pergantian adegan
dramatis—mara bahaya dan penyelamatan menimpa bocah kaya dan bocah miskin
secara berurutan. Hikayat tersebut mungkin saja hanya memiliki kata-kata dari
satu suku kata, tetapi salah satu dari kata-kata itu adalah “berkata”. Hikayat
ini diakhiri dengan bukan satu, tetapi dua moral dan keduanya diulir di atas
cincin: “Apa pun yang terjadi, lakukanlah apa yang seharusnya kau lakukan” dan
“jika kita ingin menjadi manusia hebat, pertama-tama kita harus belajar menjadi
manusia baik terlebih dulu.”
Buku
Sanford and Merton tidak memiliki
sampul depan, bagian belakangnya direkat dengan lembar-lembar kertas sisipan,
yang kini berubah menjadi berwarna keemasan dalam beberapa lapisan, dan
halaman-halamannya berbercak, berkerut dan menggeripis di sekitar pinggirannya;
ilustrasinya yang mencolok telah terlepas tetapi disimpan dan diletakkan di
bagian dalam. Saya memiliki perasaan bahkan ketika di masa kanak-kanak saya
yang lalai bahwa buku tersebut merupakan satu-satunya buku yang ayah miliki
ketika beliau masih seorang bocah. Ayah selalu memegang buku tersebut dan
bolehlah jadi ayah tertidur di atas buku, yang wajahnya tidak tertutup itu:
ayah kehilangan ibundanya ketika masih berumur tujuh tahun. Ayah saya tidak
pernah menandai buku miliknya, tetapi beliau membawa serta buku itu dari Ohio
ke rumah kami dan menyimpannya di dalam lemari buku.
Ibu
saya membawa dari West Virginia satu set karya Dickens; buku-buku itu juga
kelihatan begitu menyedihkan—buku-buku itu telah melewati bencana api dan air
ketika saya masih belum dilahirkan, dan beliau mengatakan kepada saya,
buku-buku tersebut berderetan di dalam lemari—sebagaimana yang kemudian saya
sadari, buku-buku itu menunggu saya.
Saya
dihadiahi, sejak dini dan tentu saya ingat, dengan buku-buku yang kemudian
menjadi milik saya, yang datang di hari ulang tahun atau di pagi hari perayaan Christmas. Sebenarnya, kedua orangtua
saya tidak mampu memberikan saya buku yang cukup. Mereka mesti banyak berkorban
untuk memberikan saya pada hari ulang tahun saya yang keenam dan ketujuh—Itu
sesudah saya menjadi seorang pembaca mandiri—satu set Our Wonder World, yang terdiri dari sepuluh jilid. Buku-buku
tersebut adalah buku-buku yang dibuat dengan indah, buku-buku berat, yang
dengannya saya akan berbaring di atas lantai di depan perapian di dalam kamar
makan, dan lebih sering lagi, jika dibandingkan dengan yang lainnya, adalah
jilid kelima: Every Child’s Story Book,
yang selalu saya pandang. Di dalam Every
Child’s Story Book tertera cerita dongeng – Grimm, Andersen, the English,
the French, “Ali Baba and the Forty Thieves”; Aesop dan Reynard the Fox; mitos
dan legenda, Robin Hood, King Arthur, dan St. George and the Dragon, bahkan
cerita sejarah Joan of Arc; keeksentrikan the
Pilgrim’s Progress, dan potongan panjang Gulliver. Seluruh kisah-kisah tersebut membawa ilustrasi klasiknya
masing-masing.
Saya
melokasikan diri saya sendiri di halaman-halaman buku itu dan saya bisa
langsung mengarah pada cerita dan gambar-gambar yang saya sukai; sangat
seringnya tentu “The Yellow Dwarf,” yang menjadi pilihan pertama, dengan
ilustrasi Yellow Dwarf, yang dibuat oleh Walter Crane, yang penuh warna dan
membuat tampilan Yellow Dwarf, yang dihimpit oleh ayam-ayam kalkun, jadi
menakutkan. Sekarang buku jilid lima itu telah usang, tanpa bagian belakang,
dan berantakan seperti buku ayah saya yang tidak beruntung Sanford and Merton. Lembaran halaman “Jumblies” karya Edward Lear
yang memang berharga terancam terlepas selama bertahun-tahun ini. Satu ukuran
kecintaan saya kepada Our Wonder World bahwa
untuk waktu yang lama saya ingin mengetahui jika saya mampu melewati bencana
api dan air sebagaimana yang ibu saya lakukan terhadap Charles Dickens; dan
hanya ada satu kenyamanan untuk memikirkan bahwa saya dapat saja meminta ibu
saya untuk melakukannya demi saya, anaknya.
Saya
meyakini, sayalah satu-satunya anak, yang mengetahui bahwa saya tumbuh dengan
harta berlimpah seperti itu di dalam rumah kami. Saya biasanya bertanya kepada
anak-anak lain: punyakah kalian Our
Wonder World? Dan saya mesti mengatakan kepada mereka bahwa memiliki The Book of Knowledge masih belumlah
cukup untuk dapat menggenggam sebatang lilin.
Saya
hidup penuh dengan rasa terima kasih kepada kedua orangtua saya lantaran mereka
telah mengenalkan kepada saya—dan sedini-dininya saya telah meminta hal yang
demikian, tanpa perlu membuat saya menunggu—ke dalam pengetahuan tentang kata,
ke dalam pembacaan dan pengejaan, melalui pengenalan aksara. Kedua orangtua
saya mengajarkannya kepada saya di rumah ketika saya belajar membaca, sebelum
saya mulai masuk sekolah. Saya juga meyakini bahwa aksara tidak lama lagi akan
dianggap sebagai bagian yang esensial dari perangkat untuk melakukan perjalanan
kehidupan. Pada zaman saya hal yang demikian menjadi dasar bagi ilmu
pengetahuan. Kalian belajar aksara seperti kalian belajar menghitung sampai
sepuluh, seperti kalian belajar kalimat “Now I lay me,”[3]
the Lord’s Prayer serta nama ayah dan
ibu kalian, alamat dan nomor telepon, dalam semua hal itu, berkaitan jika
kalian tersesat.
Kegemaran
saya terhadap aksara, bertahan dan berkembang karena pembacaannya, tetapi,
sebelumnya, dari melihat huruf-huruf itu sendiri di atas lembaran-lembaran
halaman. Di dalam buku-buku cerita milik saya, sebelum saya membacanya, saya
sudah merasa jatuh hati dengan huruf pertama yang memiliki ragam lekuk dan
terlihat memukau, yang digambar oleh Walter Crane di bagian kepala pada setiap
cerita dongeng. Di dalam frasa “Once upon in time,” aksara “O” di awal dihiasi
dengan seekor kelinci yang menggerakkan aksara tersebut seperti sebuah alat
jentera dan kaki kelinci tersebut ada di atas kembang-kembang. Ketika harinya
datang kepada saya, bertahun-tahun kemudian, tentunya, saya melihat Book of Kells, yang semua keimpresifan
aksaranya, huruf awalnya, dan kata-katanya memukau saya lebih dari ribuan kali
dan pencahayaan manuskripnya, warna keemasannya, memperlihatkan bagian dari
keindahan kata-katanya dan kekudusannya memang sudah tersemat sejak dari bagian
awal manuskrip.
[1] Desain
yang menekankan pada bentuk horisontal
dan vertikal yang simpel dan papan-papan
datarnya menonjolkan urat kayu.
[2] Reproduksi
foto atau gambar , yang memiliki variasi
warna kelabu atau warna, yang dihasilkan oleh titik-titik tinta terukur dengan
berbagai corak
[3] Kalimat
doa klasik ketika anak-anak ingin tidur, sejak abad 18