John Berryman: Puisi Selalu Menemukan Jalannya Sendiri
Alasan mengapa Milton merupakan penyair terbesar Inggris kecuali untuk Shakespeare adalah karena otoritas dari pembelajarannya.
BY EDITORIAL TEAM GBJ
Pertanyaan yang muncul setelah The Dream Songs adalah bilamana aku akan berusaha menulis sebuah
puisi yang panjang lagi, dan kupikir itu tidak mungkin, jadi aku tidak berharap
untuk menulis bait-bait lagi.
Tapi tiba-tiba suatu hari di musim dingin tahun lalu
aku menuliskan satu baris: “I fell in love with a girl.” Aku memerhatikannya,
dan aku tak dapat menemukan ada yang salah dengan baris itu. Aku berpikir,
“Sial, hal itu nyata” Aku merasa, seperti seorang temanku mengatakan, “merasa
nyaman dengan hal itu.” Dan aku memerhatikannya sampai aku memikirkan sebuah
baris kedua, dan kemudian baris ketiga, dan kemudian baris keempat, dan jadilah
sebuah stanza. Tak berima. Dan semakin kuperhatikan, semakin aku menyukainya,
jadi aku menulis stanza kedua. Dan kemudian aku menulis lebih banyak stanza,
dan tahukah kau? Aku memliki sebuah lirik sajak, dan itu sangat bagus. Aku tak
pernah tahu aku memilikinya dalam diriku! Jadi, ketika hari berikutnya aku
menggubah sebuah stanza, mengubah beragam baris, disana sini, tapi segera
setelahnya hal itu terlihat klasik.[1]
Seklasik salah satu dari puisi-puisi Rubaiyat-tanpa
keniscayaan rima dan matra, tetapi dengan keniscayaan-keniscayaannya sendiri.
Kukira itu sebagus puisi-puisi awalku, dan beberapa dari mereka sangatlah
bagus; kebanyakan dari mereka tidak, tapi beberapa memang bagus. Lebih jauh,
baris-baris itu tidak mempunyai kemiripan dengan bait manapun yang pernah
kutulis seumur hidupku, dan lebih jauh lagi, subjeknya sama sekali baru,
benar-benar dan hanya tentang diriku sendiri. Tak ada yang lain. Sebuah subjek
dimana aku adalah seorang ahlinya. Tak ada seorang pun yang bisa membantahku.
Aku percaya dengan teguh atas otoritas dari
pembelajaran. Alasan mengapa Milton merupakan penyair terbesar Inggris kecuali
untuk Shakespeare adalah karena otoritas dari pembelajarannya. Aku sarjana di
bidang-bidang tertentu, tetapi subjek yang aku mempunyai otoritas penuh atasnya
adalah diriku, jadi aku menghapus semua kepura-puraan dan mulai bekerja. Dalam
lima atau enam minggu aku memiliki sesuatu yang tampak jelas sebagai sebuah
buku berjudul Love & Fame.
Aku memiliki dua puluh empat puisi dan bersiap untuk
mencetaknya, tetapi mereka semua sangat aneh, sangat tidak mirip karya-karyaku
sebelumnya, karena itu aku merasa sedikit khawatir. Aku mendapat dorongan dari
satu atau dua teman, tapi aku masih tak tahu apa yang harus dilakukan.
Aku sebelumnya sudah mengirimkan puisi pertama kepada
Arthur Crook di Times Literary
Supplement. Dia senang membacanya dan mengirimkanku sebuah contoh cetakan.
Aku, sebaliknya, merasa senang bahwa dia menyukainya, jadi aku mengoreksi
contoh cetakannya dan mengirimkannya lima puisi lagi-Aku tidak ingin puisi itu
tampil sendirian. Jadi dia mencetak keenamnya, yang mengisi satu halaman
penuh-sangat indah secara tipografi-dan ini semakin membesarkan hati.
Tapi aku masih tak yakin. Sementara itu, aku sedang
berada di rumah sakit. Aku seorang pencemas. Aku telah kehilangan sembilan
belas pon dalam lima minggu dan minum-minum banyak sekali-satu quart per hari.
Jadi aku meminta penerbitku di New York, Giroux, mengkopi selusin salinan, yang
aku kirimkan kepada teman-temanku diseluruh negeri untuk mendapatkan opini
mereka. Itu adalah hal yang aneh untuk dilakukan-Aku tak pernah mendengar orang
lain melakukannya-tapi aku melakukannya, mencari penguatan diri, konfirmasi,
menginginkan kritik, dan seterusnya, dan aku mendapat sejumlah kritik yang
sangat baik. Dick Wilbur memilih “Shirley & Auden”, salah satu lirik yang
paling penting di bagian pertama-beberapa sajak yang lain begitu ringan, dan
yang lainnya sangat ambisius- dan menjadikannya sengsara. Dan aku setuju-aku
mengadopsi hampir semua saran.
Aku juga mendapat sejumlah konfirmasi dan penguatan
diri, akan tetapi ada opini-opini yang lain juga. Edmund Wilson, yang
pendapatnya sangat aku hargai, mendapati buku itu tak punya harapan. Dia
mengatakan terdapat beberapa baris yang baik dan bait-bait yang menohok.
Bagaimana kau menyukainya? Itu seperti mengatakan kepada seorang perempuan
cantik, “Aku menyukai kuku kelingkingmu yang sebelah kiri; itu benar-benar
manis,” sementara perempuan itu berdiri telanjang bulat tampak seperti Venus.
Aku sangat terluka karena surat itu. Dan kemudian respon-respon yang lain
sangatlah aneh. Mark Van Doren, guruku, seorang teman lama dan seorang hakim
yang luar biasa bagi puisi, juga menulis. Aku lupa tepatnya yang dia katakan,
tapi dia sangat serius dengan buku itu. Dia mengatakan hal-hal seperti “orisinil,”
dan “akan berpengaruh”, dan “akan menjadi populer,” dan seterusnya, tapi “juga
akan ditakuti dan dibenci.”
Sungguh surat yang sangat mengejutkan! Aku membutuhkan
berhari-hari hingga aku terbiasa dengan surat itu, dan aku membutuhkan lebih
banyak hari lagi untuk memahami maksudnya. Tapi sekarang aku mengerti apa yang
yang dia maksud.
Sejumlah puisinya mengancam, sangat mengancam untuk
sebagian pembaca, tak ada keraguan untuk itu. Sebagaimana beberapa orang
menganggapku mengancam-berada dalam satu ruangan denganku membuat mereka gila.
Dan kemudian ada cukup banyak kecabulan dalam sajak-sajak itu juga. Dan ada
begitu banyak belas kasihan dalam sajak-sajak terakhir, yang akan mengganggu
banyak orang.
Kau tahu, negeri ini penuh dengan para ateis, dan mereka
benar-benar akan merasa diri mereka terancam oleh puisi-puisi itu. Majalah The Saturday Review mencetak lima dari
puisi-puisi itu, dan aku menerima banyak sekali surat tentang itu- lagi-lagi
menyampaikan opini yang sangat beraneka ragam.
Beberapa orang setulusnya hanya berterimakasih karena
aku memberitahu mereka bagaimana menempatkan apa yang mereka rasakan selama
bertahun-tahun. Dan ada orang-orang lain yang membencinya—mereka tak
menyebutnya tak tulus, tapi mereka hanya tak bisa memercayainya.
[1] Letter
form the Editor: Majalah The Paris Review (2018) secara ekslusif menerbitkan The Writer’s Chapbook, sebuah jilid buku
yang berisi intisari-intisari dari rentetan wawancara dengan
pengarang-pengarang yang muncul di majalah tersebut sejak tahun 1953. Apa yang
ditulis kemudian adalah diskusi-diskusi para pengarang tentang proses awal dari
dunia kreatif dan menulis mereka, pengecambahan sebuah puisi, atau sebuah karya
fiksi. “Inspirasi” menjadi garis besar dalam rangkuman dari intisari pemikiran
para pengarang dunia tentang proses kreatif dan bagaimana mereka menulis pada
mulanya.
Galeri Buku Jakarta selalu memiliki misi ganda: untuk mempromosikan penulis yang paling menarik dan untuk mendukung pembaca yang ambisius dan ingin tahu. Kisah-kisah itu penting dan membawa para pembaca pada kedalaman dan kebermaknaan.