Cara Terbaik agar Tidak Gagal Menulis Novel
Kecuali jika kau seorang Henry James, pikirkanlah kalimat pertama novelmu.
BY EDITORIAL TEAM GBJ
Apa yang sulit dengan kalimat
pertama hingga kau terjebak dengan itu. Segala hal yang lainnya akan mengalir
dari kalimat itu. Dan saat kau sudah menuliskan dua kalimat pertama,
pilihan-pilihanmu sudah menghilang.[1]
Benar sekali, dan kalimat
terakhir dalam sebuah karya adalah sebuah petualangan lain. Kalimat itu harus
membuka ceritanya. Ia harus membuatmu kembali dan mulai membaca dari halaman
pertama. Begitulah seharusnya, tapi itu tak selalu berhasil. Aku berpikir
tentang menuliskan sesuatu apa pun itu sebagai semacam tindakan yang berisiko
tinggi. Saat kau mulai membubuhkan kata-kata di atas kertas kau sedang
menghapus kemungkinan-kemungkinan.
Kecuali jika kau seorang Henry James. Kukira itu bagian dari dinamikanya. Aku memulai sebuah buku dan aku ingin membuatnya sempurna, ingin buku itu menghasilkan semua warna, ingin buku itu menjadi dunia itu sendiri. Sepuluh halaman berlalu, aku sudah menghancurkannya, membatasinya, membuatnya lebih sempit, merusaknya. Hal itu sangat mengecilkan hati. Aku membencinya pada saat itu. Setelah beberapa waktu aku tiba pada sebuah kesepakatan: baiklah, itu bukan buku yang ideal, itu bukan objek sempurna yang ingin kubuat, tetapi mungkin saja-jika aku terus melanjutkan dan menyelesaikannya-aku dapat memperbaikinya lain waktu. Mungkin aku bisa mendapatkan kesempatan lain. –Joan Didion[2]
[1] Letter
form the Editor: Majalah The Paris Review (2018) secara ekslusif menerbitkan The Writer’s Chapbook, sebuah jilid buku
yang berisi intisari-intisari dari rentetan wawancara dengan
pengarang-pengarang yang muncul di majalah tersebut sejak tahun 1953. Apa yang
ditulis kemudian adalah diskusi-diskusi para pengarang tentang proses awal dari
dunia kreatif dan menulis mereka, pengecambahan sebuah puisi, atau sebuah karya
fiksi. “Inspirasi” menjadi garis besar dalam rangkuman dari intisari pemikiran
para pengarang dunia tentang proses kreatif dan bagaimana mereka menulis pada
mulanya.
[2] Joan
Didion lahir di Sacramento pada tahun 1934 dan lulus dari Universitas
California, Berkeley, pada tahun 1956. Setelah lulus, Didion pindah ke New York
dan mulai bekerja untuk Vogue , yang kemudian mengantarkannya
pada karier sebagai jurnalis dan penulis. Didion menerbitkan novel
pertamanya, Run River , pada tahun 1963. Novel-novel Didion
lainnya termasuk Play It As It Lays (1970), A
Book of Common Prayer (1977), Democracy (1984),
dan The Last Thing He Wanted (1996).
Kumpulan esai pertama Didion, Slouching Towards
Bethlehem , diterbitkan pada tahun 1968, dan yang kedua, The
White Album , diterbitkan pada tahun 1979. Karya nonfiksi-nya
meliputi Salvador (1983), Miami (1987), After
Henry (1992), Political Fictions (2001), Where
I Was From (2003), We Tell Ourselves Stories In Order to Live (2006), Blue
Nights (2011), South and West (2017) dan Let
Me Tell You What I Mean (2021). Memoarnya, The Year of Magical
Thinking, memenangkan National Book Award untuk kategori Nonfiksi pada
tahun 2005.
Pada tahun 2005, Didion dianugerahi Medali Emas Akademi Seni
dan Sastra Amerika dalam bidang Sastra dan Kritik. Pada tahun 2007, ia
dianugerahi Medali Yayasan Buku Nasional atas Kontribusi Terhormat terhadap
Sastra Amerika. Sebagian dari kutipan Yayasan Buku Nasional berbunyi: “Sebagai
pengamat politik dan budaya Amerika yang tajam selama lebih dari empat puluh
lima tahun, perpaduan khas Didion antara prosa yang ringkas dan elegan serta
kecerdasan yang tajam telah menempatkan buku-bukunya dalam kanon sastra Amerika
serta kekaguman dari generasi penulis dan jurnalis.” Pada tahun 2013, ia
dianugerahi Medali Kemanusiaan Nasional oleh Presiden Barack Obama dan
Penghargaan Prestasi Seumur Hidup dari PEN Center USA.
Didion berkata tentang tulisannya: "Saya menulis sepenuhnya untuk mencari tahu apa yang saya pikirkan, apa yang saya lihat, apa yang saya saksikan dan apa artinya." Dia meninggal pada Desember 2021.
Galeri Buku Jakarta selalu memiliki misi ganda: untuk mempromosikan penulis yang paling menarik dan untuk mendukung pembaca yang ambisius dan ingin tahu. Kisah-kisah itu penting dan membawa para pembaca pada kedalaman dan kebermaknaan.