JUL. 22, 2026

Virginia Woolf: Terlalu Banyak Esai Personal—dengan karakter utama “keegoisannya”—Beredar

Hanya karena Kamu Mampu Menuliskannya, Bukan Berarti Kamu Harus Mempublikasikannya

Foto Penulis

By Marlina Sopiana

Sebentar-sebentar artikel muncul di internet, menjegal dunia literasi , memenuhi linimasa Facebook dan Twitter dengan opini kontroversial, tak berdasar, menyesatkan…. Itulah yang dibahas dalam tulisan Tolentino di New Yorker “The Personal-Essay Boom is Over”. Sebelum bekerja di New Yorker, Tolentino adalah editor Jezebel dan ia juga pernah bekerja di The Hairpin, keduanya merupakan laman website yang secara signifikan berkontribusi membiakkan bentuk tulisan yang disebut esai personal itu.[1]

Di tahun 1905, Virginia Woolf menulis esai yang penuh kejengkelan berjudul “The Decay of Essay Writing” yang di dalamnya ia mengeluhkan perkembangbiakkan esai personal melebih-lebihi bahan bacaan yang ada. “Seorang anggota keluarga hampir saja mendapat tugas resmi untuk berjaga di depan pintu ruang tengah dengan memegang pedang berapi dan harus memerangi pasukan yang datang menerobos,” begitu dia menulis. “Selebaran, pamflet, iklan-iklan, cetakan-cetakan majalah yang dibagikan secara cuma-cuma, dan karya literatur buatan teman-teman tiba melalui pos, diantar dengan kereta tunggal, lewat kurir-datang tanpa mengenal waktu di siang hari dan baru berhenti saat malam tiba, hingga meja makan di pagi hari hampir tertimbun lembaran-lembaran itu.”

Ketika pertama kali saya menemukan esai ini beberapa tahun lalu, usai membeli paket komplit karya-karya Woolf di Kindle seharga satu dolar, saya kira esai ini dimaksudkan sebagai satir, mula-mula saya mengartikannya sebagai sebuah pembelaan ala Woolfian atas hak perempuan untuk menulis. Akan tetapi saat saya lanjut membacanya, saya menyadari bahwa Woolf sungguh-sungguh menunjukkan kejengkelan bahwa terlalu banyak tulisan yang diproduksi. Pada waktu itu saya membuat catatan bahwa Woolf mungkin akan membenci internet, tapi saya lupa mengembangkannya menjadi sebuah esai yang potensial karena ada proyek lain yang mengalihkan imajinasi saya. Esai Tolentino lah yang membuat saya kembali mengingat catatan tentang Woolf itu hingga menyadari bahwa selang seabad keduanya berbincang dengan satu sama lain.

Woolf sempat menyebutkan age’s fiction dan perangkat literatur lainnya tapi dengan segera mengarah pada sumber sebagian besar lembaran yang ada di mejanya: esai personal. Dia mengatakan, benar bahwa esai personal pertama-tama ditulis oleh Montaigne, tapi esai personal telah menjadi perangkat literatur yang begitu populer hingga “kita merasa berhak untuk menjadikannya sebagai milik kita sendiri.”

Meski demikian, hanya karena begitu banyak esai personal ditulis bukan berarti bentuk tulisan itu benar-benar bagus sebagai literatur. Dia mengakui bahwa “keunikan format” esai mengambil bentuk dari beragam jenis tulisan, meskipun karakter tulisan jenis itu utamanya dicirikan oleh “keegoisannya”.

“Hampir semua esai dimulai dengan pengungkapan Saya yang besar-‘Saya kira,’ ‘Saya rasa,’-dan jika kamu sudah menggunakan kata itu, maka jelaslah bahwa kamu tidak sedang menulis sejarah atau filsafat atau biografi atau apa pun melainkan menulis sebuah esai, yang bisa jadi cerdas atau hebat, yang mugkin saja bergumul soal keabadian jiwa, atau malah membahas gejala rematik di bahu sebelah kirimu, tapi itu semata-mata sebuah pengungkapan opini pribadi.”

Pembaca bisa menyimpulkan bahwa gagasan Woolf atas esai yang absurd adalah tentang seseorang yang menulis perihal gejala rematik di bahu kirinya. Bagi Tolentino, yang paling absurd adalah seorang perempuan yang menulis tentang dirinya mengeluarkan segumpal bulu kucing dari vaginanya. Saya berandai-andai jika para editor di era Edwarian tidak terbelenggu hukum tentang kecabulan pada masanya, apakah mereka akan menerbitkan sebuah esai tentang vagina yang dipenuhi bulu kucing.

Woolf mengatakan bahwa zamannya tidaklah lebih egois dari era sebelumnya, akan tetapi orang sezamannya memiliki keunggulan dalam “ketangkasan manual mempergunakan pulpen.” Dia berpendapat bahwa berkembangbiaknya tulisan disebabkan oleh banyaknya orang yang bisa menulis dan mempunyai akses terhadap kertas dan pulpen.

“Tentu saja ada orang-orang hebat yang menggunakan medium ini dengan kesungguhan, karena ini cara terbaik mengejawantahkan inti dari pemikiran mereka. Tapi di sisi lain, ada terlalu banyak orang yang membuat kekeliruan fatal, dan membiarkan kegiatan mekanis menulis itu sendiri menggerakkan pikiran yang semestinya hanya bisa digerakkan oleh hal yang lebih mulia”

Dengan kata lain, orang-orang merasa bahwa selama mereka bisa menggerakkan pulpen di atas kertas, maka mereka mampu membuat karya tulisan. Tapi sebagaimana semua guru menulis akan memberitahumu di zaman ini, seperti halnya Woolf di masa itu, “tidak serta merta begitu.”

Woolf menulis bahwa salah satu konsukuensi dari membanjirnya tulisan-tulisan yang dipublikasikan ini adalah menumpulnya kritik seni. Kini siapa pun merasa mampu menyatakan bahwa mereka menyukai atau tidak menyukai sesuatu, kritik itu berubah menjadi “ocehan ramah-tamah di meja makan-yang dibungkus dalam bentuk esai.”

Jadi nampaklah bahwa gemeretuk yang muncul baru-baru ini atas menurunnya kualitas intelektual dari kritik seni merupakan sebuah kritik yang sudah diantisipasi Woolf pada tahun 1905.

Dia meminta jika orang hendak menulis esai, maka berhentilah membagikan opini mereka tentang karya seni dan sebagai gantinya, belajarlah untuk mengisahkan hal yang nyata tentang diri mereka di atas halaman itu. Dia memperingatkan bahwa masalah utama dalam autobiografi kontemporer dan tulisan sejenis itu adalah lenyapnya keberanian.

“Berhadapan dengan momok yang buruk tentang diri mereka sendiri, sang pemberani cenderung melarikan diri atau menyembunyikan matanya.” Bagi Woolf, inti kebobrokan esai personal adalah bahwa orang merasa mampu menulis tentang hal yang mereka hanya punya opini yang dangkal atasnya. Dan yang seharusnya dilakukan dalam esai personal yaitu-menceritakan kebenaran yang nyata tentang hidupnya sendiri-malah dihindari. Esai mengabaikan “nilai keutamaan yaitu kejujuran,” selagi penulis berlagak “paling tahu dan paling benar”.

Namun, satu abad kemudian, Tolentino mengatakan bahwa esai yang sungguh-sungguh menceritakan kebenaran tentang hidup seseorang telah berkontribusi mengisi sebuah genre yang kemudian menjadi tak terkontrol. Dan dia menekankan bahwa kebanyakan orang yang menulis esai personal semacam itu adalah perempuan yang hendak melakukan apa yang Woolf tuntut dari penulis sezamannya satu abad lalu: yaitu menghadapi momok buruk atas diri mereka sendiri, dan tanpa mengedipkan mata, tetapi dengan gagah berani menulis tentangnya. Masalah muncul ketika esai-esai itu berubah menjadi komoditas andalan situs-situs pemuat konten sebagai kelanjutan dari ledakan .com (penggunaan internet, pen), hal ini menciptakan kebutuhan harian bagi perempuan yang hendak menelanjangi jiwanya demi sebuah kerja sampingan dan sedikit uang. Banyak dari perempuan itu mungkin menganggap diri mereka sebagai penulis “serius” yang sedang memulai jejak karier, dengan melakukan apa yang dituntut bagi penulis: yaitu membangun portfolio. Tolentino mengatakan bahwa para editor-yang haus akan “klik” demi meningkatkan pendapatan-mengeksploitasi penulis-penulis naif dan menerbitkan material yang seharusnya disimpan dalam catatan jurnal pribadi ketimbang dibagikan dengan dunia internet yang merendahkan.

Meski banyak orang yang tidak menuai karier kepenulisan dari hal-hal yang telah mereka bagikan, beberapa penulis perempuan yang kita kagumi memulai karier mereka dengan menulis esai personal di internet. Bagi banyak orang, esai-esai personal itu-entah itu bercerita tentang hubungan yang kandas, kematian anggota keluarga, ataupun pengungkapan diri-menjadi cara untuk dikenal sebagai penulis.

Sementara para editor mau saja menerbitkan tulisan sampah jika tulisan itu mengandung kisah sensasional untuk diceritakan, ada juga editor yang bercerita bahwa mereka menemukan sejumlah penulis hebat yang menyanggupi permintaan mereka untuk menulis esai personal. Ini bagian yang diakui sendiri oleh Tolentino di akhir tulisannya, “Saya tersentuh dengan percakapan tentang kerapuhan. Saya tak pernah bosan berkenalan dengan gaya penulisan yang nampaknya muncul tanpa alasan kuat. Saya senang menyaksikan orang menyadari bahwa mereka punya hal untuk diceritakan.”

Masalahnya adalah sangat sedikit penulis yang menelanjangi dirinya di halaman internet mampu mengubah momen pengakuan di internet itu menjadi karier kepenulisan. Ini adalah salah satu masalah umum yang berkaitan dengan internet: ia memiliki kemarukan yang besar atas konten sehingga artikel yang membuatmu menangis pada suatu pagi langsung saja menghadirkan ekspektasi dalam diri pembaca bahwa ada esai-esai lain di luar sana mampu melakukan hal yang sama. Dan sementara sejumlah penulis membangun begitu banyak kesempatan melalui internet yang berbuah kontrak buku dan kesuksesan di bidang literatur, sebagian lainnya mungkin merasa mereka telah membiarkan dirinya menjadi rapuh sebagai bagian dari latihan menulis literatur, hanya untuk mendapati tulisannya dipergunakan sebagai bentuk hiburan murahan.

Baik Tolentino dan Woolf masing-masing berbicara pada para penulis di masanya. Woolf mendesak penulis untuk berhenti menulis buku dan ulasan-ulasan pertunjukkan yang payah dan menuangkan hal yang nyata ke dalam halaman ketika mereka menulis esai personal. Tolentino meminta penulis untuk berhenti menulis esai personal di mana si “Aku” dalam halaman itu tidak memiliki pengalaman yang berhubungan dengan struktur yang lebih luas dalam kehidupan kita. Jika penulis ingin menuliskan hal yang personal, seolah dia mengatakan, inilah saatnya kita memikirkan bagaimana pengalaman-pengalaman kita dibentuk oleh kekuatan-kekuatan seperti rasisme atau gender atau kelas yang mendistorsi bagaimana si “Aku” kita tunjukkan ke dunia.

Woolf tidak benar-benar menginginkan esai personal untuk lenyap, dia hanya ingin tulisan jenis itu menjadi lebih baik, dan Tolentino membuat argumen yang serupa. Esai personal harus berevolusi, kita hidup pada masa di mana pemerintah melibatkan dirinya ke dalam keputusan-keputusan personal yang berkisar mulai dari di mana anak kita bersekolah hingga apa yang seorang perempuan perbolehkan masuk vaginya. Hal-hal semacam ini masih layak untuk ditulis. Tapi kita perlu memperlakukan esai personal dengan martabat yang lebih tinggi dari sebelumnya. Ada kilasan kebenaran tentang kehidupan manusia yang tak terbatas yang semestinya ada dalam esai personal, tapi sungguh tak apa untuk tidak menerbitkan setiap halaman yang kamu tulis. Mengadaptasi Woolf ke dalam zaman kita ini: hanya karena kamu bisa mengetikkannya di komputermu tidak berarti kamu harus melakukannya. (*)


[1] Oleh Lorraine Berry | Penerjemah Marlina Sopiana | editor Sabiq Carebesth 


Marlina Sopiana

MARLINA SOPIANA

Neque laborum est voluptas nihil nesciunt voluptas. Officia nisi quia dolorem nisi praesentium ut debitis. Repellendus deleniti in quia at eveniet dolorem sequi eius.