Jakarta+
Vel ipsam temporibus nisi eos unde rerum vitae
19 July 2025
Hanya karena Kamu Mampu Menuliskannya, Bukan Berarti Kamu Harus Mempublikasikannya
Sebentar-sebentar
artikel muncul di internet, menjegal dunia literasi , memenuhi linimasa
Facebook dan Twitter dengan opini kontroversial, tak berdasar, menyesatkan….
Itulah yang dibahas dalam tulisan Tolentino di New Yorker “The Personal-Essay
Boom is Over”. Sebelum bekerja di New Yorker, Tolentino adalah editor Jezebel
dan ia juga pernah bekerja di The Hairpin, keduanya merupakan laman website
yang secara signifikan berkontribusi membiakkan bentuk tulisan yang disebut
esai personal itu.[1]
Di tahun
1905, Virginia Woolf menulis esai yang penuh kejengkelan berjudul “The Decay of
Essay Writing” yang di dalamnya ia mengeluhkan perkembangbiakkan esai personal
melebih-lebihi bahan bacaan yang ada. “Seorang anggota keluarga hampir saja
mendapat tugas resmi untuk berjaga di depan pintu ruang tengah dengan memegang
pedang berapi dan harus memerangi pasukan yang datang menerobos,” begitu dia
menulis. “Selebaran, pamflet, iklan-iklan, cetakan-cetakan majalah yang
dibagikan secara cuma-cuma, dan karya literatur buatan teman-teman tiba melalui
pos, diantar dengan kereta tunggal, lewat kurir-datang tanpa mengenal waktu di
siang hari dan baru berhenti saat malam tiba, hingga meja makan di pagi hari
hampir tertimbun lembaran-lembaran itu.”
Ketika
pertama kali saya menemukan esai ini beberapa tahun lalu, usai membeli paket
komplit karya-karya Woolf di Kindle seharga satu dolar, saya kira esai ini
dimaksudkan sebagai satir, mula-mula saya mengartikannya sebagai sebuah
pembelaan ala Woolfian atas hak perempuan untuk menulis. Akan tetapi saat saya
lanjut membacanya, saya menyadari bahwa Woolf sungguh-sungguh menunjukkan
kejengkelan bahwa terlalu banyak tulisan yang diproduksi. Pada waktu itu saya
membuat catatan bahwa Woolf mungkin akan membenci internet, tapi saya lupa
mengembangkannya menjadi sebuah esai yang potensial karena ada proyek lain yang
mengalihkan imajinasi saya. Esai Tolentino lah yang membuat saya kembali
mengingat catatan tentang Woolf itu hingga menyadari bahwa selang seabad
keduanya berbincang dengan satu sama lain.
Woolf
sempat menyebutkan age’s fiction dan perangkat literatur lainnya tapi dengan
segera mengarah pada sumber sebagian besar lembaran yang ada di mejanya: esai
personal. Dia mengatakan, benar bahwa esai personal pertama-tama ditulis oleh
Montaigne, tapi esai personal telah menjadi perangkat literatur yang begitu
populer hingga “kita merasa berhak untuk menjadikannya sebagai milik kita
sendiri.”
Meski
demikian, hanya karena begitu banyak esai personal ditulis bukan berarti bentuk
tulisan itu benar-benar bagus sebagai literatur. Dia mengakui bahwa “keunikan
format” esai mengambil bentuk dari beragam jenis tulisan, meskipun karakter
tulisan jenis itu utamanya dicirikan oleh “keegoisannya”.
“Hampir
semua esai dimulai dengan pengungkapan Saya yang besar-‘Saya kira,’ ‘Saya
rasa,’-dan jika kamu sudah menggunakan kata itu, maka jelaslah bahwa kamu tidak
sedang menulis sejarah atau filsafat atau biografi atau apa pun melainkan
menulis sebuah esai, yang bisa jadi cerdas atau hebat, yang mugkin saja
bergumul soal keabadian jiwa, atau malah membahas gejala rematik di bahu
sebelah kirimu, tapi itu semata-mata sebuah pengungkapan opini pribadi.”
Pembaca
bisa menyimpulkan bahwa gagasan Woolf atas esai yang absurd adalah tentang
seseorang yang menulis perihal gejala rematik di bahu kirinya. Bagi Tolentino,
yang paling absurd adalah seorang perempuan yang menulis tentang dirinya
mengeluarkan segumpal bulu kucing dari vaginanya. Saya berandai-andai jika para
editor di era Edwarian tidak terbelenggu hukum tentang kecabulan pada masanya,
apakah mereka akan menerbitkan sebuah esai tentang vagina yang dipenuhi bulu
kucing.
Woolf
mengatakan bahwa zamannya tidaklah lebih egois dari era sebelumnya, akan tetapi
orang sezamannya memiliki keunggulan dalam “ketangkasan manual mempergunakan
pulpen.” Dia berpendapat bahwa berkembangbiaknya tulisan disebabkan oleh
banyaknya orang yang bisa menulis dan mempunyai akses terhadap kertas dan
pulpen.
“Tentu saja
ada orang-orang hebat yang menggunakan medium ini dengan kesungguhan, karena
ini cara terbaik mengejawantahkan inti dari pemikiran mereka. Tapi di sisi
lain, ada terlalu banyak orang yang membuat kekeliruan fatal, dan membiarkan
kegiatan mekanis menulis itu sendiri menggerakkan pikiran yang semestinya hanya
bisa digerakkan oleh hal yang lebih mulia”
Dengan kata
lain, orang-orang merasa bahwa selama mereka bisa menggerakkan pulpen di atas
kertas, maka mereka mampu membuat karya tulisan. Tapi sebagaimana semua guru
menulis akan memberitahumu di zaman ini, seperti halnya Woolf di masa itu,
“tidak serta merta begitu.”
Woolf
menulis bahwa salah satu konsukuensi dari membanjirnya tulisan-tulisan yang
dipublikasikan ini adalah menumpulnya kritik seni. Kini siapa pun merasa mampu
menyatakan bahwa mereka menyukai atau tidak menyukai sesuatu, kritik itu
berubah menjadi “ocehan ramah-tamah di meja makan-yang dibungkus dalam bentuk
esai.”
Jadi
nampaklah bahwa gemeretuk yang muncul baru-baru ini atas menurunnya kualitas
intelektual dari kritik seni merupakan sebuah kritik yang sudah diantisipasi
Woolf pada tahun 1905.
Dia meminta
jika orang hendak menulis esai, maka berhentilah membagikan opini mereka
tentang karya seni dan sebagai gantinya, belajarlah untuk mengisahkan hal yang
nyata tentang diri mereka di atas halaman itu. Dia memperingatkan bahwa masalah
utama dalam autobiografi kontemporer dan tulisan sejenis itu adalah lenyapnya
keberanian.
“Berhadapan
dengan momok yang buruk tentang diri mereka sendiri, sang pemberani cenderung
melarikan diri atau menyembunyikan matanya.” Bagi Woolf, inti kebobrokan esai
personal adalah bahwa orang merasa mampu menulis tentang hal yang mereka hanya
punya opini yang dangkal atasnya. Dan yang seharusnya dilakukan dalam esai
personal yaitu-menceritakan kebenaran yang nyata tentang hidupnya sendiri-malah
dihindari. Esai mengabaikan “nilai keutamaan yaitu kejujuran,” selagi penulis
berlagak “paling tahu dan paling benar”.
Namun, satu
abad kemudian, Tolentino mengatakan bahwa esai yang sungguh-sungguh
menceritakan kebenaran tentang hidup seseorang telah berkontribusi mengisi
sebuah genre yang kemudian menjadi tak terkontrol. Dan dia menekankan bahwa
kebanyakan orang yang menulis esai personal semacam itu adalah perempuan yang
hendak melakukan apa yang Woolf tuntut dari penulis sezamannya satu abad lalu:
yaitu menghadapi momok buruk atas diri mereka sendiri, dan tanpa mengedipkan
mata, tetapi dengan gagah berani menulis tentangnya. Masalah muncul ketika
esai-esai itu berubah menjadi komoditas andalan situs-situs pemuat konten
sebagai kelanjutan dari ledakan .com (penggunaan
internet, pen), hal ini menciptakan kebutuhan harian bagi perempuan yang
hendak menelanjangi jiwanya demi sebuah kerja sampingan dan sedikit uang.
Banyak dari perempuan itu mungkin menganggap diri mereka sebagai penulis
“serius” yang sedang memulai jejak karier, dengan melakukan apa yang dituntut
bagi penulis: yaitu membangun portfolio. Tolentino mengatakan bahwa para
editor-yang haus akan “klik” demi meningkatkan pendapatan-mengeksploitasi
penulis-penulis naif dan menerbitkan material yang seharusnya disimpan dalam
catatan jurnal pribadi ketimbang dibagikan dengan dunia internet yang merendahkan.
Meski
banyak orang yang tidak menuai karier kepenulisan dari hal-hal yang telah
mereka bagikan, beberapa penulis perempuan yang kita kagumi memulai karier
mereka dengan menulis esai personal di internet. Bagi banyak orang, esai-esai
personal itu-entah itu bercerita tentang hubungan yang kandas, kematian anggota
keluarga, ataupun pengungkapan diri-menjadi cara untuk dikenal sebagai penulis.
Sementara
para editor mau saja menerbitkan tulisan sampah jika tulisan itu mengandung
kisah sensasional untuk diceritakan, ada juga editor yang bercerita bahwa
mereka menemukan sejumlah penulis hebat yang menyanggupi permintaan mereka
untuk menulis esai personal. Ini bagian yang diakui sendiri oleh Tolentino di
akhir tulisannya, “Saya tersentuh dengan percakapan tentang kerapuhan. Saya tak
pernah bosan berkenalan dengan gaya penulisan yang nampaknya muncul tanpa
alasan kuat. Saya senang menyaksikan orang menyadari bahwa mereka punya hal
untuk diceritakan.”
Masalahnya
adalah sangat sedikit penulis yang menelanjangi dirinya di halaman internet
mampu mengubah momen pengakuan di internet itu menjadi karier kepenulisan. Ini
adalah salah satu masalah umum yang berkaitan dengan internet: ia memiliki
kemarukan yang besar atas konten sehingga artikel yang membuatmu menangis pada
suatu pagi langsung saja menghadirkan ekspektasi dalam diri pembaca bahwa ada
esai-esai lain di luar sana mampu melakukan hal yang sama. Dan sementara
sejumlah penulis membangun begitu banyak kesempatan melalui internet yang
berbuah kontrak buku dan kesuksesan di bidang literatur, sebagian lainnya
mungkin merasa mereka telah membiarkan dirinya menjadi rapuh sebagai bagian
dari latihan menulis literatur, hanya untuk mendapati tulisannya dipergunakan
sebagai bentuk hiburan murahan.
Baik
Tolentino dan Woolf masing-masing berbicara pada para penulis di masanya. Woolf
mendesak penulis untuk berhenti menulis buku dan ulasan-ulasan pertunjukkan
yang payah dan menuangkan hal yang nyata ke dalam halaman ketika mereka menulis
esai personal. Tolentino meminta penulis untuk berhenti menulis esai personal
di mana si “Aku” dalam halaman itu tidak memiliki pengalaman yang berhubungan
dengan struktur yang lebih luas dalam kehidupan kita. Jika penulis ingin
menuliskan hal yang personal, seolah dia mengatakan, inilah saatnya kita
memikirkan bagaimana pengalaman-pengalaman kita dibentuk oleh kekuatan-kekuatan
seperti rasisme atau gender atau kelas yang mendistorsi bagaimana si “Aku” kita
tunjukkan ke dunia.
Woolf tidak benar-benar menginginkan esai personal untuk lenyap, dia hanya ingin tulisan jenis itu menjadi lebih baik, dan Tolentino membuat argumen yang serupa. Esai personal harus berevolusi, kita hidup pada masa di mana pemerintah melibatkan dirinya ke dalam keputusan-keputusan personal yang berkisar mulai dari di mana anak kita bersekolah hingga apa yang seorang perempuan perbolehkan masuk vaginya. Hal-hal semacam ini masih layak untuk ditulis. Tapi kita perlu memperlakukan esai personal dengan martabat yang lebih tinggi dari sebelumnya. Ada kilasan kebenaran tentang kehidupan manusia yang tak terbatas yang semestinya ada dalam esai personal, tapi sungguh tak apa untuk tidak menerbitkan setiap halaman yang kamu tulis. Mengadaptasi Woolf ke dalam zaman kita ini: hanya karena kamu bisa mengetikkannya di komputermu tidak berarti kamu harus melakukannya. (*)
[1] Oleh Lorraine Berry | Penerjemah
Marlina Sopiana | editor Sabiq Carebesth
19 July 2025
29 May 2026
06 October 2025
09 October 2025
27 November 2025