Cara Camus
menjelaskan absurditas (sesuatu yang tanpa alasan dan tanpa tujuan, namun ia
hadir begitu saja) melanjutkan intuisi nietzschean tentang realitas mentah
dunia ini yang mesti kita terima apa adanya tanpa lari mencari-cari “pegangan”
(dalam bentuk ide-ide fixed entah itu tuhan atau being itself). apa itu
absurditas menurut Camus?
Kita bisa
menelusurinya dari karya awal Camus tentang Caligula. Naskah drama itu
menggambarkan bahwa suatu ketika kaisar romawi ini me ngerti bahwa “manusia
mati, karena itu mereka tidak bahagia” (Caligula, babak i). dan ia ingin supaya
bawahan dan rakyatnya menangkap kesadaran scandaleux itu. Maka ia lalu
menggunakan kekuasaan absolutnya untuk bertingkah seperti dewa, menjalankan
apa-apa yang absurd. Ia menjadikan dirinya sang takdir: “saya bilang besok akan
ada kelaparan. kalian semua ta hu apa itu kelaparan: bencana. Jadi, besok di
tempat kita akan ada bencana … dan saya akan menghentikannya sesuka saya nanti…”
(babak ii). Tanpa alasan, tanpa tujuan, Caligula mengejawantahkan apa
itu absurditas: “akulah sampar,” kata nya lebih jauh (babak iv).20