JUL. 25, 2026

The Odyssey bukan film perang, ia epik sastrawi di layar besar

Pertama-tama, anda bisa beranjak ke Bioskop, mengambil popcorn dan tertegun dengan filmnya. Pada dasarnya adaptasi dilakukan Christopher Nolan sama sekali bukan film perang—itu adalah karya sastra. Dan sebaiknya demikian.

Image
A hero’s journey … Matt Damon as Odysseus in The Odyssey. Photograph: Melinda Sue Gordon/Universal Pictures
Foto Penulis
By Galeri Buku Jakarta

Troya telah jatuh. Setelah 10 tahun perang, bangsa Yunani kembali ke tanah air mereka – tetapi rumah apa yang kini menanti mereka? Agamemnon harus kembali kepada istrinya, Clytemnestra, yang telah memendam amarahnya sejak ia mengorbankan putri mereka kepada para dewa untuk mendapatkan angin yang menguntungkan. Balas dendamnya tidak akan mengenal batas.

Sementara itu, Odysseus telah membuat marah dewa Poseidon dan dia dikutuk untuk mengembara di lautan, menghadapi monster-monster yang ganas dan dewa-dewa setengah dewa yang posesif saat dia berusaha kembali ke Ithaca dan istrinya yang sabar dan cerdas, Penelope.

Dirilisnya adaptasi film Christopher Nolan dari epik Yunani kuno ini telah membangkitkan hasrat baru untuk sebuah karya klasik lama.

Image

Panduan membaca

Kisah epik Odyssey tak terhindarkan membuat kisah itu kembali dibaca, didengar dan ditonton melalui banyak ragam akses dari buku, terjemahan, podcast, yang membuat dunia Homerik hadir kembali dengan lebih antusias.

Tetapi membaca karya megah dan klasik itu tidak ringan. Sebagian telah membacanya dan perlu beberapa kali untuk menyelesaikan membaca, atau tidak selesai sama sekali.

Namun, seperti Sirens, buku-buku sulit untuk tidak memiliki pengaruh pada kita. Adaptasi film terbaru mendorong banyak pembaca untuk untuk sekali lagi mencoba membaca Odyssey, dan sebagian dengan melakukan pendekatan baru.

Ioan Marc Jones dalam tulisannya untuk The Guardian mengatakan telah berbicara dengan para ahli klasik dan melakukan penelitian, dengan tujuan membuat hal-hal yang sulit diakses dapat diakses.

Untuk membaca Odyssey, katanya, mulailah dengan menghindari Odyssey. "Mulailah dengan kontekstualisasi" – pahami tema dan isi – kata Antony Makrinos, profesor asosiasi bidang klasik di UCL dan direktur Sekolah Musim Panas di Homer 2026, kepada saya. Dia mengirimkan daftar rekomendasi yang lengkap, dan saya mendapati diri saya berada di Britis Muesum, di tengah gelombang panas, belajar tentang peradaban Mycenaean dan Yunani kuno. Malam itu saya menenangkan diri dengan dokumenter Simon Armitage, Gods and Monsters: sebuah penilaian menarik tentang pahlawan kita yang penuh kekurangan.

Selain itu ada rekomendasi lain, dan cukup mengesankan, mendengarkan podcast “Instan Classics”, yang dipandu oleh Mary Beard dan Charlotte Higgins, terasa mudah dan menyenangkan. Antusiasme mereka menular, wawasan mereka memikat. Misalnya anda akan mendengar presenter mengatakan bahwa Odyssey karya Homer kemungkinan besar bukan ditulis oleh Homer, dan juga bukan sekadar tentang Odysseus. Menemukan bahwa buku ini mengantisipasi hampir tiga ribu tahun, dengan kecenderungannya pada non-linearitas dan referensi diri. Bahwa Odyssey adalah tentang perjalanan Odysseus kembali ke Ithaca, tapi juga merupakan kisah coming-of-age, travelogue, dan saga keluarga.

Saran lainnya, memilih terjemahan karya tersebut, yang tepat juga sangatlah penting. Rebecca Laemmle, profesor Sastra Yunani di Universitas Cambridge, merekomendasikan terjemahan baru oleh Daniel Mendelsohn. Makrinos, Beard, dan Higgins mendorong pembaca umum menuju terjemahan Emily Wilson.

Terjemahan Wilson terasa hidup. Bahasa Yunani asli mengandalkan metrum kompleks heksameter dactylic, tetapi Wilson memilih pentameter iambik, yang dikenal oleh pembaca Anglophone, yang menetapkan ritme yang menggerakkan. Ia menafsirkan ulang formula tersebut, menyimpang dari ortodoksi tradisi lisan namun menciptakan pengalaman membaca yang lebih mengundang.

Dengan konteks, terjemahan yang tepat, dan catatan contekan yang anda catat mengenai para tokoh, karakter, senjata dan alur, akan menemukan Odyssey jauh lebih mudah didekati. Tapi jika itu pun masih terasa sulit, rangkullah tradisi lisan. "Jika pengulangan ini membuat pembaca pertama kali tidak nyaman," jelas Laemmble, "mereka mungkin lebih mudah menerima saat dibacakan." Audiobook menghidupkan Odyssey, mengingatkan kembali ke bentuk aslinya. Puisi lisan Homer sering dinyanyikan dengan kecap, jika Anda punya satu cadangan, tapi Ian McKellen yang membacakan terjemahan Robert Fagles akan sangat cocok. Satu saran terakhir, yang berlaku untuk kehidupan dan Odyssey: hindari AI Micheal Caine.

Sebagaimana gambaran dalam film adaptasi Nolan, rasanya mengejutkan, modern, dan cepat. Odysseus adalah pahlawan besar yang penuh kekurangan, mampu melakukan banyak keputusan buruk. Buku 9–11 adalah badai, membawa kita melalui kisah-kisah terbesar yang pernah diceritakan. Antinous terbukti menyebalkan sepanjang zaman dan Buku 22 terasa sangat memuaskan, lalu suram. Dan mungkin saya sendirian, tapi saya benar-benar hancur oleh momen di Buku 17 ketika Argos si anjing mengenali Odysseus, mengibaskan ekornya dan Odysseus menangis karena tidak bisa menyapanya.

Menyelesaikan Odyssey bukanlah akhir dari petualangan. Epik ini adalah salah satu karya tertua dan mungkin terbaik dalam sastra dunia, dan para seniman tetap berdialog terus-menerus dengan teksnya.

Tapi pertama-tama, anda bisa beranjak ke Bioskop, mengambil popcorn dan tertegun dengan filmnya. Pada dasarnya adaptasi dilakukan Christopher Nolan sama sekali bukan film perang—itu adalah karya sastra. Dan sebaiknya demikian.


Galeri Buku Jakarta

GALERI BUKU JAKARTA

Ex sunt numquam aperiam voluptates aliquid ut consequatur. Quia consequuntur dolor deserunt consequatur quia incidunt. Non nihil voluptate exercitationem error quibusdam. Quisquam dignissimos quis architecto adipisci. Rerum nihil animi nihil officiis eius quia molestias.