Kota-Kota &
Kenangan—2
Ketika seseorang mengendarai kuda cukup lama melewati
kawasan liar, ia segera merasakan hasrat akan sebuah kota. Dan akhirnya ia
sampai di Isidora, sebuah kota di mana bangunan-bangunannya memiliki tangga
lingkar berlapis kerang-kerang laut, tempat di mana teleskop dan biola-biola
dibuat, di mana orang asing yang dihantui kebimbangan di antara dua perempuan
selalu berhadapan dengan yang ketiga, tempat arena adu ayam yang berubah
menjadi cekcok berdarah para petaruh. Lelaki itu sedang merenungkan semua ini
kala ia memimpikan sebuah kota. Dan Isidora, oleh karenanya, adalah kota yang
diimpikannya; dengan sebuah perbedaan. Kota yang diimpikan itu merefleksikan
dirinya sebagai seorang lelaki muda; ia tiba di Isidora saat berusia tua. Di
lapangan kota tersebut terdapat dinding di mana di sekitarnya orang-orang tua
duduk dan memperhatikan kaum muda berlalu-lalang; lelaki itu duduk sederet
dengan mereka. Hasrat telah menjadi kenangan.
Kota-Kota & Keinginan—1
Ada dua cara untuk menggambarkan kota Dorothea: kau
bisa menyebutkan bahwa ada empat menara aluminium muncul dari
dinding-dindingnya yang mengapit tujuh lawang, dengan jembatan-jembatan kerek
yang beroperasi pada musim semi yang merentang di atas parit, airnya memasok
empat kanal berwarna hijau yang melintasi kota, memecahnya menjadi sembilan
bagian, masing-masing dengan tiga ratus rumah dan tujuh ratus cerobong asap.
Dan mengingat bahwa gadis-gadis yang telah memasuki usia kawin di setiap
daerahnya menikah dengan pemuda-pemuda dari daerah lainnya sembari orang tua
mereka saling bertukar barang-barang yang selama ini dikuasai keluarga masing-masing
dalam sebuah sistem monopoli-minyak wangi, ikan-ikan penghasil telur, perangkat
navigasi, safir ungu-lalu dari fakta-fakta ini kau mulai dapat mengerti hingga
kau memahami segala yang kau kehendaki tentang kota ini di masa lalu, sekarang
dan yang akan datang. Atau kau dapat juga berkata, seperti kata sais unta yang
membawaku ke sana: “Aku datang ke sini di awal masa mudaku, pada suatu pagi, di
kala banyak orang bergegas menuju pasar, perempuan-perempuan bergigi indah
menatap langsung ke mata, tiga serdadu di pelataran meniup terompet, dan semua
roda berputar serta bendera warna-warni berkibar-kibar. Sebelum melihat itu
semua, aku hanya tahu padang pasir dan jalur-jalur kafilah. Di tahun-tahun
berikutnya, mataku memang kembali menerawang hamparan padang pasir dan
jalur-jalur kafilah; namun kini aku tahu bahwa jalan setapak ini hanyalah satu
dari sekian banyak jalan yang terbuka di hadapanku pada pagi hari itu, di
Dorothea."