Kukucup bibirmu yang menganga setengah basah
1
Aku takut pada malam
Sebab saat malam
Kau menjadi kegelapan bayang
Aku ingin meraba sekujur tubuhmu
Tetapi yang kudapati waktu
Dan aku mesti menanti
—sepenjang malam
Atau telah bermalam-malam
Atau telah berabad-abad
Sejak dua kita saling merindukan
Dan waktu belum kunjung sukutu
Waktumu dan waktuku
Di dalam waktu Ia, di dalam waktu
Di mana kita di antara jarak
Saat malam aku takut
Pada bayanganmu yang jadi gelap
Meski bagiku tubuhmu telanjang bulat
Dan aku ingin menyentuh
Seluruh duka hingga jiwamu
Bukankah katam
—semua milikku;
Dan waktu telah merenggutmu
Dariku—sejak berabad waktu
Sayangku, kapan kau datang padaku
Menjadi pagi, menjadi senyum
Menjadi cumbu dan nafsu
Menjadi segala yang kini
Hanya rindu tiada sukutu.
2
Aku takut pada malam
Sebab saat malam
Aku mudah kecewa
Tiada kan kau kira laranya
Bagaikan kota-kota hayalan
Yang menyimpan rapi
Segala rahasia dan cumbu
Kekacauan dan kebakaran
Dari atap-atap kata
Yang memadahkan
—semesta samsara
Jiwa-jiwa begitu penuh luka
Tetapi ia tak ingin berhenti
Mencari di gelap dan banjir
Hujan dan sunyi bukit-bukit
Atau semedi dalam diri
Hanya untuk menemu jiwanya
Kau takkan tahu rasanya
Berkalang rindu entah duka
Dari lara menantikan waktu
Untuk memeluk jiwamu
Dekap mendekap—dan rindu
Akan menjadi matahari pertama
Di pagi yang tak pernah kita tahu
Akan berwarna apa;
Sebab kita belum lagi menemu
Waktu untuk mencumbu
Segala lara dan duka juga rindu
Kita kedinginan dan nyaris sekarat
Hanya sejengkal dari nasib
Tapi sungguh cintaku
Akan menuntun jalan menuju
Kehariban cintamu
Yang berwarna kembang matahari.
3
Maka jika kau tak datang tepat pada waktuku
Jika kau tak menemu jalan padaku
Siapa kan mengabarkan
Lolongan sukmaku yang purba
Telah lama dipucuk kesunyian
Seperti meranggas saban subuh
Lara laranya dukanya duka
Dan dalam tidur tetap kuimpikan
Waktu dan perjalanan munju
Datang padaku kekasihku
Datang padaku dan sunggingkan
Senyum berabad yang kunantikan.
Sabiq Carebesth, 2026